Posted by: novikhansa on: 1 Desember 2009
Awalnya sempat agak-agak GR, nih pas menjelang hari H, hehe… Soalnya kan teman sebelumnya dikasih surprise pas di kantornya. Jangan-jangan aku juga dapat surprise, hehe… tapi, sepekan itu benar-benar hari yang melelahkan. Kerja, kuliah, ujian, dan banyak lagi. Campur aduk, uy, jadi ga ada tempat yang namanya GR, hehe
Apalagi, pas tanggal 13nya, aku bener-bener kewalahan. Keujanan, pegel-pegel karena rumah becek, alias bocor, uy, dan numpuknya kerjaan rumah. Belum lagi, sebenarnya aku punya surprise sendiri buat keluarga. Hehehe, kekeh banget kali ini surprise buat keluarga harus bisa bener-bener surprise
Selama sepekan itu juga aku hunting barang-barang untuk semua. Ibu, mbak pipit n suaminya, F4 dan mbak-mbaknya. Untuk kakak yang lagi di Kediri juga.
Sebenarnya, untuk keluarga udah dianggap biasa, ini udah yang kedua atau ketiga kalinya gitu, tapi bedanya sekarang aku kan udah pisah rumah sama mereka, jadi kupikir semoga surprise ini benar-benar bisa surprise… eeeeeh, ga tahunya malah aku yang dapat surprise
Malam itu, aku ikut kakak ke rumahnya di Pondok Gede. Entah kenapa walau merasa agak aneh… karena kok kesannya ibu itu maksa banget. Kudu, harus, wajib malam itu juga ke Pondok Gede. Pake acara ngajak masak malam-malamlah, inilah, itulah, tapi dasar capek curiganya juga ga dilanjut.
Anehnya lagi, kok di meja makan banyak gelas dan aqua, ya? Tapi kakak berkelit karena emang biasanya ada banyak gelas dan aqua di atas meja. Hmm, ya udahlah…
aku cuma cape dan pengen tidur aja. Aku ga curiga ketika mbak Pipit nyuruh aku masuk kamar Fikri untuk nyalain kompi dan cek emailnya.. Aku juga ga curiga-curiga amat pas Fikri dipindah ke kamar belakang. Biasanya, kalau nginap aku tidur sama bocah yang satu itu di kamarnya.
Masih sempat ngutek-ngutek FB, email, dan lain-lain. Ambil kasur sebentar dan ngutek-ngutek kompi lagi. Ga mau mikir macam-macam walau sebelumnya sempat terpikir, kalaupun mau kasi surprise paling juga pagi-pagi, tapi emang dasar lelah, capek… uy…jadi ga kepikiran lagi. Mbak pipit bolak balik nengok dari pintu sambil bilang dia mau bikin susu buat Fattah…. sampai dia manggil-manggil, tapi ga pake acara nengok pintu… Mau ga mau aku bangkit dan buka pintu.
Taraaaaaaaaaaaaaaaaaaa…
ada segerombolan, halah, ada empat wajah penuh cinta… hihihi membawa kue ultah dengan lilin menyala.
Benar-benar ga nyangka, uy, kaget banget, kayak mimpi…. dan tanpa sadar aku teriak kencang banget. Untung aja, bocah-bocah pada ga bangun, hehe… sampe dengkulku lemas dan terduduk di atas kasur. Selanjutnya, aksi corat coret pun berlangsung. Aduuuh, masih kaget muncul jam 12 malam, eh pake acara dicoret-coret lagi
Di keluarga, sebenarnya ga ada yang namanya ulang tahun, bapak ga gitu suka ngerayain, aku sih suka-suka aja, hehe… Ulang tahun berarti makan-makan… jadi, surprise-surprise kayak gitu ga ada, hehe… Aku aja yang suka bikin surprise ke keluarga… tapi kok kayaknya mereka biasa aja
kecuali tentunya surprise-surprise yang aku ceritain karena kedodolanku, hehehe…
Setelah, seru-seruan, kami menuju dapur dan menyantap bakso dan rendang buatan ibu di lantai atas… Hayah, hayah, bener kan gelas-gelas dan aqua yang banyak tuh karena mau ada tamu. Mereka ngerjain aku dan kerja sama dengan ibu dan mbak Pipit… Eleh-eleh… biasanya juga saling cerita, eh diem-dieman aja…
Yang ga kalah serunya, sekitar jam 1 malam, kami berlima meluncur ke Puncak, masjid At-Taawun. Solat bagi yang solat. Makan jagung, sekuteng, indomie, ngeteh, apa ngopi? dan tentunya menikmati kesejukan di puncak, menikmati matahari terbit dengan indahnya.
Sekitar pukul 6 pagi, meluncur kembali ke rumah dan sempat-sempat beli balon di jalan
Subhanallah…
Seneng banget….
Makasi banyak, ya semuaaaaa ![]()
Luv u all…
dan saatnya surprise untuk keluarga di rumah…
Posted by: novikhansa on: 17 November 2009
Saya tak percaya dengan tanggal sial, keramat, klenik dan hal lainnya. Jadi, tulisan ini tak ada hubungannya dengan bau-bau itu, hehe. Ini hanya pengalaman saya sepanjang tanggal 13 November. Salah satu hari yang tak terlupakan bagi saya.
Dari pagi saya memang sudah meniatkan mencuci baju, beres-beres rumah dan kemudian ke kantor dan kuliah. Hari sudah siang ketika saya berangkat ke kantor. Dasar norak kali, ya, saya mencuci baju yang banyak ditambah handuk-handuk, alat sholat, dll yang membuat saya kelelahan, padahal masih banyak agenda yang harus saya kerjakan. ~_~ Maklum mesin cuci baru, baru nyicil maksudnya *_*
Saya hanya mampir sebentar mengambil naskah dan menyerahkan CD dan segera meluncur, berangkat kuliah. Ujian tengah semester hari terakhir. Terpikir untuk praktis naik ojek, tapi mengingat jumlah rupiah dalam tas yang pas-pasan, saya coba-coba mencari alternatif angkutan sambil meng-SMS teman saya. Moga bisa telat ~_^
Gelisah pastinya, tegang juga hingga lupa makan. Sambil membaca bahan ujian berulang-ulang. Sudah diulang dari kemarin-kemarin, tapi ya tetap aja yang nyangkut nggak banyak,
hehe.
Saya perhatikan jalan terus, hingga masih jauh dari tujuan saya berdiri. Agak lupa kalau harus lewat jalan yang tak biasa. Hingga ketika saya turun dari Patas, dengan suksesnya saya menjatuhkan tas selempang saya ke jalan raya yang padat. Saat itu saya membawa dua tas. Satu tas selempang dan satunya kantong isi naskah. Kantong isi naskah aman, tas selempang melayang… “Kok dibuang,” ujar si kernet. Heh, bukan dibuang, Pak, tapi jatuh… jatuh nggak sengaja, karena saya lupa menyelempangkan tas saya ke bahu *_*
Saya cuma bisa memandangi tas saya meluncur ke bawah dan tergeletak di atas jalan raya. Melihatnya terlindas mobil. Saya segera turun dari bus, berlari dan menyetop mobil belakangnya dan memungut tas saya dan segera menyebrang. Hmmm, alhamdulillah kondisi jalan raya sedang merayap, kalau nggak, nggak tahu nasib tas saya beserta isinya. Lemas, pastinya, tapi saya masih bisa memeriksa isi tas yang kotor dan melihat HP saya terbuka. Alhamdulillah, tidak rusak… Baru saya ketahui kemudian, kancing tas rusak dan gantungan kunci yang ada dalam tas hancur. *_*
Sambil menenteng tas yang masih kotor, saya susuri jalan menuju kampus dengan perasaan beraneka ragam. Sempat membuat ‘rusuh’ kelas dengan cerita sedikit pengalaman saya. Teman-teman sempat mengkhawatirkan hingga kemudian kami kembali tenggelam dalam soal-soal ujian.
Ujian selesai, saya harus pulang. Sempat mengambil uang di sebuah ATM dan kembali menyusuri jalan. Belum hujan, masih rintik-tintik, tapi tak lama kemudian hujan deras mengguyur. Saya berlari ketika menyebrang jalan dan berteduh. Hujan makin deras hingga ketika ada patas, saya nekat berbasah kuyup agar bisa menaikinya. Hari itu memang hujan cukup deras, banyak air menggenang di mana-mana, dingin.
Dengan keadaan basah kuyup saya masih sempat mampir ke sebuah toko. Ada keperluan yang harus saya beli. Tak disangka di sana saya malah mendapat kenalan baru. Dian namanya, mahasiswa semester satu di sebuah kampus yang bekerja sampingan sebagai penjaga toko. Kami saling cerita banyak hal. Lucunya hal itu bermula dari bros angklung yang saya pakai. Dia tertarik dan ketika saya katakan tentang Sekolah Kehidupan, dia makin tertarik dan banyak bertanya.
Akhirnya, saya sampai rumah. Masih ada satu ember cucian yang harus saya bilas dan tentunya menjadi dua ember yang harus saya jemur. Lelah pastinya, hingga ketika ingin menjemur pakaian saya menemukan sebuah kenyataan baru *halah, lebay. Air menggenang di ruang tengah lantai atas rumah saya. Cukup banyak dan membuat basah kasur yang ada di atas lantai. Tugas menanti kembali, mengepel dan berusaha mengeringkan lantai ~_~. Aduh, mak… saya lupa, ada masalah dengan saluran air di balkon rumah. Kalau hujan deras kami harus antisipasi untuk membendung air kalau nggak mau air itu masuk ke dalam.
Fuuuuuuuuh… seolah tak selesai, tak lama kemudian, motor yang harusnya saya bawa ke toko tak jua mau nyala mesinnya. Mungkin karena jarang dipakai dan dia kedinginan, halah *_* Yang jelas malam itu, saya dan kakak saya terus men-starter motor, menggoes, ah entah istilahnya apa, tapi tak jua mesinnya menyala hingga tetangga saya menolong dan mesin motor pun menyala. Meluncur dengan indahnya menuju toko… masih tersisa gerimis malam itu.
Alhamdulillah, segalanya selesai. Setelah menaruh motor, saya dan kakak saya meluncur menuju Pondok Gede. Menyusuri malam tanpa bintang setelah hujan mengguyur dengan derasnya Jakarta dan sekitar. Saya hanya ingin tidur malam itu, hingga… saat pergantian hari sebuah kejutan istimewa datang… ^_^
Posted by: novikhansa on: 31 Oktober 2009
Beberapa waktu lalu, aku pernah menyesali sebuah pertemuan. Pertemuan yang menurutku merombak banyak hal yang telah direncanakan. Berharap lebih baik aku tak perlu mengetahui semua itu dan udeh, deh ga usah ketemu, halah… Intinya, pertemuan itu bagai kunci yang menyibak segalanya yang dulu tertutup *biar kesannya misterius
Hingga suatu hari… *biar kesannya kayak jalan cerita yang seru, halah.
Entah kenapa sore itu, ada yang berbeda, kami berempat masih betah di ruang kelas. Aku dan salah satu temanku ingin melunasi pembayaran kuliah sebelum UTS dua pekan lagi. Dua yang lain sedang berbincang-bincang. Mereka adalah teman kuliahku sekarang. Usia yang terpaut jauh, tak menghalangi kami untuk bisa sharing, bercerita, bertukar pikiran, dan banyak lagi.
Hmmmm, aku pun coba mengingat-ingat beberapa hal. Sudah semenjak tahun 2005, aku mau mengambil kursus tahsin di tempat ini. Aku juga sempat berminat kursus bahasa Arab. Tapi, saat itu, aku diterima di tempat lain. Hingga 2007, aku selesai kuliah di BIK (selesai doank, lupa ngerjain tugas akhir?
). Aku pun masih mencari tempat belajar untuk melanjutkan. Mungkin di sini, seperti kata temanku, atau di sana, guru ngajiku belajar di sana, atau di mana, kek. Tapi, ternyata tidak…
Di tengah kenekatan, spontan, tapi pasti, aku berkuliah di sini. Mendadak, ga juga, sih. Dipikir mateng? Hmmm, iya, sampai 2 tahun,
, tapi aku hanya merasa aneh saja. Banyak sekali tempat yang lebih dekat, lebih murah (mungkin) atau tempat yang lebih bagus, tapi aku kembali ke sini. Tempat yang dulu pernah aku datangi dan inginkan. Bertemu dengan mereka. Masih kuingat jelas mbak-mbak, para ummahat, atau yang seusia atau lebih muda denganku dalam satu ruang kelas.
Aku bertemu mereka dengan segala kisah dan perjuangan hidup yang membuatku berdecak kagum. Ini pasti takdir, dipertemukan dengan mereka.
Baru kali ini aku merasakan kuliah dengan beragam usia yang terlampau jauh. Sewaktu di Poltek, paling hanya terpaut satu atau dua tahun. Ketika di BIK, yang tidak terlalu jauhlah. Di sini, tebak? (seneng banget sih main tebak-tebakan
). Usia kami terpaut jauh. Coba bayangkan, aku sekelas dengan seorang ibu yang usia anaknya sudah 24 tahun… atau aku sekelas dengan seorang akhwat yang “harusnya” bisa aja dia ambil kuliah setahun yang lalu.
Aku juga bertemu dengan para ummahat (ibu rumah tangga) lain. Mahasiswa yang lagi nyusun skripsi, bu guru, dan banyak lagi. Termasuk bertemu dengan para ikhwan yang ada di kelas sama, yang dipisahkan dengan hijab.
Intinya, takdir… akhirnya di sini kami dipertemukan. Akhirnya, mau aku ke mana juga, aku di sini. Kembali ke sebuah tempat, walau jauh, walau suka telat datang, tapi aku di sini. *mengucapkannya sambil ketak-ketok meja*
Hmm, lalu, kenapa juga aku harus menyesal akan sebuah pertemuan yang tak diduga dan tak aku inginkan beberapa waktu lalu… Bukankah, dengan tersibaknya segala hal *yang tadinya misterius
* aku makin mengerti. Allah menunjukkan banyak pelajaran dan hikmah dari keajadian-kejadian ini…
Hmmm, lalu?
Yah, apapun bentuknya, pertemuan, perpisahan, jalan hidup manusia, kita harus yakin kalau Allah lebih mengetahui yang terbaik buat kita…
*untuk teman-teman akhwat di STIDA 1 Siang ![]()
Seneng deh ketemu sama kalian
Posted by: novikhansa on: 29 Oktober 2009
Masa-masa kuliah saya jalani dengan menyenangkan. Kuliah, kerja di rumah membantu bapak, jualan boneka, hingga saatnya harus berjibaku dengan tugas akhir. Alhamdulillah, lulus tepat waktu, walau ikutan sidang kedua dan isi tugas akhir yang sempat dirombak sana sini.
Ketika lulus, yang ada di pikiran saya adalah, saya bekerja sebagai editor di sebuah penerbit. Alhamdulillah, sebelum diwisuda saya diterima sebagai sektretaris redaksi merangkap editor di penerbit buku sekolah. Di tempat ini juga saya melakukan praktik industri dan penelitian.
Seharusnya hal ini menjadi sesuatu yang menyenangkan. Lulus, bekerja dan menikmati karir saya. Tapi, ternyata tidak. Saya akui saya bisa menjadi sangat idealis, tapi juga spontan. Tanpa pikir panjang, saya resign. Kenapa? Karena yang ada di otak saya adalah, ketika saya keluar dari sebuah tempat, bukan karena dapat pekerjaan lain, tapi karena saya memang ingin keluar. Jadi, dengan terjun bebas, saya resign setelah sebelumnya mengikuti test di tempat lain. Padahal ya di tempat tersebut belum tentu saya diterima, hehe…
Tebak? Saya tidak diterima di tempat yang baru dan tak mungkin kembali ke tempat yang lama. Saya berpikir keras, kenapa saya tidak bisa bersabar sedikit saja dalam hal ini. Perasaan merasa bersalah saya makin merongrong mengingat bapak begitu bangganya saya bisa langsung diterima kerja.
Tidak berapa lama, awal tahun 2004 menjadi titik balik kehidupan saya. Bapak menghembuskan napasnya untuk yang terakhir kali di ruang IGD RSCM. Sebelumnya bapak sempat koma setelah mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Matraman. Hal ini menjadi pukulan berat bagi saya. Saya sempurna menjadi pengangguran. Saya merasa nggak sanggup menyelesaikan amanah mengetikan naskah terakhir bapak. Menangis dan menangis didera perasaan bersalah.
Pada tahun itu juga saya mengubah paradigma berpikir saya. Sedikit “menyebrang”, alhamdulillah, kemudian saya diterima di sebuah penerbit Islam sebagai layouter. Di kampus dulu memang dipelajari juga soal desain dan layout, tapi saya tidak begitu tertarik. Saya merasa saya lebih minat dan lebih mampu bekerja sebagai editor dibanding desainer atau layouter. Tapi, siapa sangka, perlahan tapi pasti saya pun melakoni semuanya…
Posted by: novikhansa on: 28 Oktober 2009
Tersenyum-senyum saya membaca dua tulisan sahabat di sebuah milis yang saya ikuti. Ini tentang mimpi, cinta-cita, dan pilihan.
Menengok sebentar ke belakang, apa saja yang sedang dan kemarin saya lakukan. Apa saja mimpi dan cita-cita saya. Dinamis, melompat-lompat, meledak, dan penuh kejutan.
Entah sejak kapan, saya sudah memproklamirkan diri saya untuk menjadi seorang guru. Yah, saya ingin sekali menjadi guru sebagaimana halnya profesi bapak saya. Dari SD, SMP hingga SMU saya masih ingin jadi guru. Di SMU lebih spesifik lagi, guru ekonomi. Yah, saya suka akuntansi dan ekonomi. Nilainya juga lumayan. Untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu saya memilih jurusan Pendidikan Ekonomi dan Akuntansi di UNJ dan UNS pada UMPTN (entah namanya apa sekarang
). Saya gagal UMPTN. Saat kuliah di Politeknik, sempat ingin dobel di PGTK-SD. Berpikir ulang, aaah ga jadi, aaah…
Ketika bekerja di 2004, sempat terpikir untuk lanjut S1. Ekonomi Syariah, entah kenapa tertarik saja
. Waktu kuliah diprediksi 4 tahun dengan waktu Sabtu-Ahad. Saya memilih mundur. Hingga pada tahun yang sama, entahlah, saya sempat ingin melirik STEI di Rawamangun, tapi lagi-lagi saya mundur. Kali ini lebih ke soal biaya.
Kuliah di Politeknik tak pernah benar-benar saya inginkan. Bisa dibilang saya cuma ingin belajar, atau daripada nganggur. Saya lupa, persisnya. Yang jelas ini hal baru buat saya. Dari dulu saya tak berminat kuliah di Depok, lingkup UI atau apalah, tapi justru di sini saya menemukan banyak hal.
Saya kemudian menikmati semuanya. Kuliahnya, organisasinya hingga usaha sampingan saya, berjualan boneka. Lingkungan kampus yang sepi, memang. (dulu: kampus satu area dengan kantor Pusgrafin), tapi entah kenapa sedikitnya populasi mahasiswa TGP saat itu membuat saya nyaman, solid, dan senang. Kalaupun ingin keramaian dan keindahan bisa ke UI. Toh, saya kos di dekat UI. Kampus utama Politeknik juga di dalam UI, walau saya ke sana jarang sekali. Seingat saya, saya ke sana hanya untuk ambil beasiswa, mengajukan keringanan. demo, hehe, dll
. Kuliah saya saat itu paling mahal dibanding kedua kakak saya. Selalu coba cari info kalau-kalau ada beasiswa, mengajukan keringanan sampai kudu jualan sana-sini, hehe… Tugas kuliah yang bejibun, belum lagi biaya desain yang ga murah atau tugas makalah yang selalu ada.
Semua benar-benar berubah sekaligus membuka mata saya lebih lebar. Bukankah saya sudah teramat dekat dengan dunia buku. Sejak saya masih SD, selain mengajar, bapak berjualan buku sekolah, bisa dibilang agen, hingga akhirnya harus gulung tikar Aaah, kalau mengingat ini, mungkin tak bisa dilupakan masa jaya berjualan buku sekolah, tak bersisa sedikit pun buku-buku sekolah saat ini. Persaingan yang ketat dan perang diskon saat itu memang “meruntuhkan” banyak toko buku sekolah.
Selain berjualan buku, bapak mulai menulis. Oooh, tidak, bapak telah menulis sejak lama, bahkan sejak saya belum lahir. Yah, tampaknya bapak makin rajin menulis, menyusun buku, hingga bukunya lahir setelah berjibaku dengan naskah ditolak, gagal, dan banyak lagi… Hal ini tak akan terlupa karena, dari sanalah sebagian besar dana yang digunakan bapak dan ibu naik haji pada tahun 2001.
Perlahan tapi pasti ilmu yang saya dapatkan sangat-sangat berguna sebelum saya lulus kuliah. Menjadi asisten penulis adalah profesi yang saya jalani di samping jualan boneka. Penulis itu adalah bapak saya sendiri.
Tanpa sadar saat itu saya merajut mimpi baru. Menjadi seorang penulis dan bekerja di dunia perbukuan. Mencintai sebuah profesi yang hingga kini sangat saya sukai.
Untuk bapak yang selalu menginspirasi
Posted by: novikhansa on: 24 Oktober 2009
Beberapa waktu lalu, pasca gempa di Padang, walikota Gaza mengunjungi Padang untuk menyalurkan donasi dari warga Palestine.
Mendengar hal itu, aku dan teman-teman benar-benar terharu. Subhanallah, bener-bener speechless rasanya. Penderitaan saudara-saudara kita di sana lebih menyedihkan, tapi masih ingat dengan kita yang ada di sini.
Berkaitan dengan hal itu, mbak Lulu menginformasikan juga ke beliau kalau teman-teman MP sempat berjualan pin Palestine beberapa waktu lalu dan menyalurkannya via KNRP (Komite Nasional Rakyat Palestine) Ramadhan lalu.
Beliau kemudian meminta dibuatkan kenang-kenangan pin Palestine, tapi plus ada tulisan “Indonesia”. Beliau bermaksud membagikan ke saudara-saudara kita di Palestine. Asumsiku sih, mau nunjukin kalau Indonesia itu cinta banget sama Palestine.
Akhirnya, aku pun request ke pembuat pin untuk membuat pin Palestine sebanyak 200 pcs, dengan desain yang sama, tetapi dalam desain itu ada tulisan “Indonesia”-nya dan atau ada bendera merah-putihnya. Berkali-kali sms-smsan hingga akhirnya jadi… Alhamdulillah.
Setelah menceritakan hal itu sama mbak Pipit, dia pun menitipkan boneka Fahimah. Awalnya, ingin dibordir tulisan “Palestine” atau apalah, tapi ga sempet. Jadinya, di boneka Fahimah itu aku sematkan pin Palestine.
Yup, sebelum walikota Gaza balik ke Palestine, pin dan boneka Fahimah sudah bisa diserahkan ke beliau di bandara. Aku dan beberapa teman ga sempet ikutan ke bandara siang itu.
Tapi, dapat oleh-oleh foto dari mbak lulu. Mbak lulu dan suaminya mengantar beliau ke bandara. Mbak Lulu juga sempet cerita kalau walikota Gaza begitu terharu hingga berkaca-kaca menerima sekantong pin Palestine dan boneka Fahimah cinta Paletine.
Aku mendapat oleh-oleh dari sang walikota, pin Palestine yang dilepas langsung dari jasnya…
Waaah, terharu banget, deh… makasi banyak… makasi juga mbak lulu
foto 1: Pin Palestine
foto 2: Fahimah ke Palestine ![]()
foto 3: Walikota Gaza dan Pak Oke (suaminya mbak Lulu) w/ Fahimah dan pin palestine ![]()
foto 4: Pin Palestine dari walikota Gaza for me
Posted by: novikhansa on: 19 Oktober 2009


Ramadhan kembali menyapa. Ramadhan hadir memberi warna. Aaaah, indahnya Ramadhan penuh cinta…
Ada bapak tukang tambal ban, tukang cukur yang di sela-sela menunggu pelanggan tengah mengaji, tukang somay, tukang loak, ibu penjual minuman, petugas kebersihan dan lain-lain yang dipilih secara acak dengan rute yang telah dibagi dan ditentukan oleh penanggung jawab. Selain itu karena masih tersisa dana, bingkisan juga dibagikan ke bagian anak kelas 3 di RSCM.
Panitia juga mendapat bagian untuk membagikan ke warga yang sekiranya layak menerima di lingkungan rumah masing-masing. Aku masih ingat ketika pagi-pagi sekitar pukul 3-4, aku keluar rumah setelah mendengar suara pak Hansip memukul tiang listrik setiap satu jam sekali. Memanggil beliau dan memberikan dua bingkisan untuk dia dan temannya yang memang bertugas di kompleks kami. Awalnya, sih mau keluar pukul satu malam, tapi kayaknya kurang sopan, deh
Alhamdulillah, dari target pribadi, walau tak tercapai semuanya, aku masih bisa menikmati itikaf ngalong di masjid (datang malam, pulang pagi
). Seperti biasa, sambil menikmati pemandangan kalimalang yang ramai dengan pemudik berkendaraan motor, aku berangkat ke masjid. Seru aja, memerhatikan para pejuang mudik itu. Sangat mudah mengenali mereka, dari mulai bawaan yang cukup banyak, konvoi bareng, sampai mengenakan aksesoris seperti lampu tambahan yang kelap-kelip, bendera dan lain sebagainya.
Hmmm, Ramadhan yang berbeda, menikmati setiap waktu seolah selalu berkesan. Menikmati kesendirian ketika sahur dan buka puasa dalam rangka menantang diri untuk bisa tetap tinggal di rumah dan mandiri. Menjalani kegiatan-kegiatan yang diusahakan tidak menguras fisik, mencoba untuk menyeimbangkan dengan pekerjaan, kuliah dan urusan rumah tangga. Tidak selamanya bisa diatasi, tapi paling tidak, ada banyak hal yang bisa menjadi pelajaran dan PR ke depan untuk bisa lebih baik lagi.
Sweet Ramadhan…
Moga kita kembali bertemu di tahun depan…



Posted by: novikhansa on: 29 September 2009
Pagi yang cerah. Hari yang menyenangkan dengan sarapan lontong sayur dan senda gurau pagi bersama ibu. Lengkap dengan datangnya bingkisan lebaran dari salah satu klien, yang sebelumnya dititipkan tetangga saat kami mudik pada hari kedua lebaran hingga Jumat lalu.
Entah kenapa, hari itu hati begitu ringan, lega dan menyenangkan. Ada banyak rencana di kepala untuk aku kerjakan hari ini. Tidak mendesak, santai saja, tapi dipastikan akan menyenangkan.
Pukul setengah 10 lewat aku sudah berada di terminal Blok M. Hari itu aku dan sahabatku akan silaturahim ke rumah seorang sahabat yang sudah lama tak kami jumpai sejak menikah dua tahun lalu.
Sesosok perempuan berjilbab hitam dengan senyum sumringah tak lama kemudian menghampiriku. Aku sudah mengenalnya sejak kuliah, kami sekelas tiga tahun, kemudian masih tetap keep in contact hingga bekerja, sempat bikin usaha bareng bertiga dengan sahabat yang akan kami datangin hingga berpisah tapi tetap bisa bersahabat.
Rencananya setelah membeli hantaran berlebaran, kami bermaksud memberi kejutan kepada sahabat kami itu, tapi ternyata…
“Gue udah pulang ke rumah mertua gue” ujarnya
“Lho katanya siang?â€
“Iya, jam 8, kalau emak-emak jam segitu udah siang. Paginya tuh jam3″
GUBRAK
Akhirnya kami yang sudah terlanjur naik metromini ke arah Radio Dalam turun dan kembali ke terminal Blok M.
Setelah itu, kami menaiki bus ke arah Slipi sesuai petunjuknya. Teman seperjalananku yang biasanya tahu jalan, tampaknya juga tidak begitu tahu, hehe. Aku yang biasanya mengandalkan dia untuk ‘ditemukan’ ketika ‘hilang’ di daerah Blok M juga cuma bisa bingung dan mencoba mengikuti dengan baik petunjuk-petunjuk yang agak-agak membingungkan. Akhirnya setelah menaiki bus, kopaja, dan bajaj, sampailah kami di sebuah rumah yang asri. Sahabat kami menyambut dengan senyum sumringahnya. Kangen.
Kami berbincang seru soal pekerjaan dan banyak hal. Tidak terasa usia anak sahabat kami itu sudah satu tahun lebih. Tidak menyangka sahabat kami yang satu ini sudah menjadi ibu. Memerhatikan sikap pasangan suami istri yang lucu. Hehe… yah kami mengenal keduanya saat bekerja di sebuah penerbit Islam. Kami berempat satu almamater di sebuah kantor, hehe.
Sebuah pertemuan indah yang menyisakan banyak hal. Sahabatku masih sama, tapi dia berubah jabatan, menjadi seorang istri dan ibu dari gadis ciliknya yang lucu. Punya segambreng aktivitas yang mungkin tak pernah diduga sebelumnya. Punya cerita menarik perihal anak dan kegiatan rumah tangganya.
Setelah menikmati jamuan makan siang dan solat, tidak berapa lama kami pamit pulang. Awalnya, aku dan sahabatku yang lain di SMA janjian ingin ke rumah guru-guru SMA, tapi tiba-tiba temanku membatalkan karena ada urusan lain. Tak masalah, justru aku masih bisa silaturahim ke tempat lain yang tak jauh dari rumah sahabatku ini. Ada rencana lain menari-nari di kepalaku.
Aku sempatkan mampir ke salah satu supermarket sambil menelepon “target†silaturahimku. Kali ini surprisenya ga boleh gagal
. Aku berbasa-basi berbincang dengannya, memastikan dia ada di rumah, hehe. Aku mencoba mandiri untuk tak bertanya arah rumah sahabatku itu, tapi tetap meng-sms sahabat yang lain walau tidak ada bantuan berarti, hehe… Tapi, tring… aku ingat, kata kuncinya adalah sebuah pasar.
Yah, Pasar Kopro. Insya Allah kalau dari situ aku ingat rumahnya. Ada tiga supir mikrolet yang aku tanya hingga aku pun akhirnya sampai di sebuah rumah disambut sang ayah bayi yang sedang berbahagia
Agak lama aku di sana. Memerhatikan bayi cantik bernama Zahra. Berbincang seru soal kelahirannya pada Ramadhan lalu. Pasangan suami istri yang kompak, hehe… Melihat pemandangan mereka tengah memandikan dan memakaikan baju untuk bayi cantik mereka. Aktivitas yang tiada henti. Belum lagi sebelumnya Zahra pipis, ee
. Mengingatkanku ketika masih tinggal bareng kakak dan keluarganya. Secara alami mereka terlihat pandai mengurus bayi pertamanya.
Setelah solat dan sempat makan (makan lagi????
) aku pun pamit pulang. Aaah, lagi-lagi aku menemukan banyak pelajaran indah dari mereka. Sambil ditemani tiga sahabat Eska yang sedang siaran di radio, aku menaiki mikrolet menuju pulang.
Dua keluarga kecil yang aku temui hari ini memberi sebuah pelajaran kehidupan. Entah kenapa, aku merasa hariku lengkap. Menyusuri tiap jalan yang aku lalui, menaiki berbagai angkutan umum sambil melahap komik yang aku bawa menemani perjalananku hari ini.
Alhamdulillah, aku sudah sampai dekat rumah ketika kumandang azan Maghrib. Melewati taman dan jalan yang selalu menyenangkan buatku hingga sampai di sebuah rumah yang nyaris berada di ujung gang.
Yeah, lovely Sunday.
Terimakasih Allah
*untuk dua keluarga kecil yang berbahagia
**untuk para ibu yang menyediakan makan
, hehe… Kenapa tiap gue ke rumah lo makan mulu, sih, No.. gw kan malu
(malu apa mau
)
*** untuk ADE, teman seperjalanan ![]()
Posted by: novikhansa on: 3 September 2009
Ramadhan kali ini berbeda. Aku coba menantang diriku untuk bisa tetap stand by di rumah sendiri. Memang, sih sudah lebih dari setahun aku menjadi penghuni tetap rumah ini. Ibu hanya sepekan atau dua pekan sekali pulang ke rumah ini. Abangku dan istrinya, yang sempat menghuni rumah ini, sedang tinggal di Kediri untuk sementara waktu. Keluarga kakak di Pondok Gede hanya sesekali menginap di rumah ini.
“Nanti, bulan Puasa tinggal di Pondok Gede aja, ya” ujar ibu suatu kali hingga sempat mengulang di kesempatan lain. Ibu tampaknya mengkhawatirkanku.
“Nggak, di rumah aja.” Berkali-kali juga aku menolak. Aku katakan kalau aku tetap akan bertandang ke Pondok Gede sesekali, tapi tidak untuk tinggal full selama sebulan. Ada banyak pertimbangan.
***
Akhirnya, ibu pun menyetujui. Aku sendiri coba menantang diriku untuk bisa mengatur semuanya. Dari mulai urusan bangun sahur, pekerjaan, kegiatan Ramadhan, targetan pribadi, sampai kuliah tambahan yang harus aku ikuti selama bulan Ramadhan. Aku juga harus bisa me-manage keadaan agar aku tak mengulang kisah Ramadhan tahun lalu. Bayangkan saja, aku hanya sanggup puasa enam hari dan terkapar karena sakit sekitar setengah bulan hingga akhirnya lebaran.
Sempat ibu menyarankanku untuk menyewa pembantu di rumah, tapi aku menolak. Tidak ada budget untuk bayar pembantu dan kebutuhannya. Selama ini, aku harus membayar kebutuhan rumah dan lain-lain. Untuk kebutuhan makan, ibu masih terus memberi asupan. Seperti membelikan beras sekarung dan kebutuhan lain yang juga disesuaikan dengan kondisi keuanganku yang naik turun
Selain itu, aku juga harus belajar disiplin. Kapan saatnya aku mencuci, mengepel, memasak, menyiram tanaman dan banyak lagi dengan keadaanku yang fleksibel. Beda sekali dengan kondisi di Pondok Gede yang tinggal makan, tinggal pakai baju, tinggal kerja karena semua kebutuhan sudah diurus ibu dan kedua pembantu di rumah itu.
“Aku harus bisa” itu tekadku. Insya Allah bisa. Aku ingin menjadikan momentum Ramadhan awal dari lembaran baru hidupku dengan berbagai komitmen yang harus aku jalani. Tahun ini telah memberi begitu banyak pelajaran padaku hingga aku harus mengkaji ulang berbagai hal dalam peta hidupku.
***
Jelang Ramadhan hadir, ibu mengajakku belanja. Belanja kebutuhan selama Ramadhan. Dari mulai susu, sereal, makanan siap goreng, seperti sosis, kentang, nugget sampai camilan-camilan berupa biskuit, dan lain-lain. Termasuk sabun cuci dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Hehe, segala kebutuhan telah terpenuhi. Aku insya Allah makin siap. Selain itu ibu juga mewanti-wanti banyak hal.
***
Dua hari pertama Ramadhan aku lewatkan bersama ibu dan keluarga kakak di Pondok Gede. Aku hanya ingin melewati sahur dan buka puasa bareng keluarga di awal Ramadhan itu. Pada Ahadnya aku pamit, berbekal kelengkeng seplastik dan memulai hari baru. Mengikuti tiga kegiatan di hari itu berlanjut menjalani hari-hari di bulan Ramadhan.
Mulai memasak nasi, menggoreng lauk, menikmati makan sahur dan tak lupa meminum susu juga meminum vitamin sambil ditemani TV ataupun laptop yang menyala. Hmm, rasanya sih sepi, tapi seru juga. Yang biasanya tinggal makan ketika sahur, aku harus masak nasi dulu, menggoreng apa yang bisa digoreng, membuat susu dan hal lain. Nggak jarang ada yang gosong atau kurang matang, tapi harus tetap dinikmati
.
Ketika berbuka puasa pun nuansanya beda. Menyiapkan makanan-makanan pembuka yang dibeli dari dekat rumah. Memilih dari A-Z jenis makanan, tapi harus sadar dengan kondisi sendiri dan tidak saling berbagi. Hehehe, nggak enak deh buka puasa sendirian. Untungnya, ada beberapa kegiatan buka puasa bareng teman atau bareng adik-adik TPA yang mengikuti rangkaian acara Ramadhan. Jadinya, selalu ada suasana baru yang seru. Dari mulai tukeran jelly sampai nontonin adek-adek yang berebut sisa risol yang jadi favorit hari itu.
Berlanjut, aku musti mulai merapikan rumah, mencuci. Sempat kelelahan dan keadaan rumah tidak bertahan lama. Maksudnya, beberapa hari rapi, tapi ketika ada deadline, berantakan lagi. Akhirnya, cuma bisa loncat-loncatan ga keruan membereskan ini dan itu. Belum lagi akhirnya mulai bosan dengan menu yang ada. Mulai membeli hingga akhirnya mulai kangen dengan masakan ibu.
***
Apapun keadaanya, aku harus menikmati dan menjalani dengan senang hati. Bukankah segalanya berproses, hehe. Semoga Ramadhan kali ini bisa kupetik kembali berbagai pelajaran hidup. Menerima dengan bijak segala hal yang telah terjadi dan terus berusaha lebih baik lagi. Aamiin
SEMANGAT
~~14 Ramadhan 1430 H
Bakda Sahur dengan menu makanan yang lagi-lagi agak gosong
Posted by: novikhansa on: 31 Agustus 2009
ketika awan berarak meninggalkanku…
ketika bulan menatapku murung
bintang-bintang menjauh
meninggalkan pekatnya langit
gelap
jangan pernah kalah
dengan hal semu
kefanaan yang menjaring asa-asa
ketakutan yang memalukan
Sepi…
tak ingin menangis
akan dunia…
manusia…
karena tak ada beda kita dengannya
Ramadhanku…
jadikan indah hadirmu
perbaikan atas hidup dan kehidupanku
tak ingin lagi aku kehilangan keutamaanmu…
Ramadhanku…
bahagiaku akan jumpa kembali denganmu
menikmati tiap detiknya
menikmati indahnya
Komentar Terakhir