Selalu Ada Cerita

Blog Entry

Kalau ke rumah ini, berarti aku akan menemui ibu lebih awal.
Kalau ke rumah ini, berarti aku memang butuh bertemu ibu.
Kalau ke rumah ini, aku sudah sangat kangen dengan 4 bocah yang selalu ceria.Di tempat ini, rumah keduaku, tempat selalu ada cerita tentang kelucuan bocah-bocah itu.

Selain itu, rumah ini tak jauh dari tempat rapat untuk urusan pekerjaanku

Selain itu, akses kendaraan di dekat rumah ini begitu mudah.

Selain itu, kalau kau penat, tinggal lari saja ke berbagai toko buku yang tak jauh dari rumah ini

***

Fahmi sudah bisa bersepeda roda dua. Lucunya, sekali naik, mencari keseimbangan sebentar dan langsung bisa meluncur. Woow

Sepekan sebelumnya, abang alias Fikri yang sempat takut-takut belajar sepeda, juga sudah bisa naik sepeda roda dua.

“Bu lik, Mah ke kantor pos,” ujar Fahimah yang belum lama ke kantor pos, salah satu program dari TK-nya. Kemudian, ia menyanyikan lagu pak pos. Kembarannya, Fahmi juga ikut bernyanyi.
Ibu ikutan nimbrung. Kata ibu, sewaktu aku kecil, aku dan temanku menyanyikan lagu pak pos ketika pak pos yang saat itu masih bersepeda lewat gang kompleks kami.

Aku pun tak lupa juga menceritakan 2 keponakanku yang lain. Kinar yang makin gendut dan menyanyi ba ba ba. Karimah yang baru 1 1/2 bulan, tapi suka senyum-senyum ketika diajak bicara, dan sudah mulai mengoceh. Suaranya juga kencang kalau menangis.

Ketika tidur, abang Fikri menyuruhku tidur di kamarnya yang ada komputer. Biasanya, aku manfaatkan waktu tersebut untuk mengajak ngobrol dia. Dia suka bercerita tentang sekolahnya, teman-temannya. Nanti, kalau sudah malam, kadang aku tinggal. :D

Fahimah juga sering minta ditemani kalau tidur. Yah, aku jadi ingat, punya dongeng sendiri buat masing-masing mereka. Sudah lama, aku nggak cerita-cerita ke mereka, ya :D

Saat di sana, mereka akan tanya, bu lik nginap, gak? Bu lik mau ke mana? Bu lik jalan-jalan, yuk. Kapan kita jalan-jalan, ke toko buku.

Hayuuuuu :D
Naik becak ke toko buku, mampir makan di warung baso, hehe

Pada Malam Tanpa Bintang

Blog Entry

Memandang mata jernih itu
Seolah menginginkan kebenaran
Lewat pertanyaan demi pertanyaan yang mengusik…

Ada apa denganmu?

Sungguh, aku tahu ada sesuatu yang sepertinya membebani pikiranmu…

Sungguh, ada garis-garis kekecewaan

Ada tangis yang tak selesai
Ada marah yang tertahan

Jangan larut,
Pada sesuatu yang menyakitimu
Pada banyak hal yang menghalangimu

Jangan ikuti,
Sesuatu yang bukan kamu
Bukan dirimu yang kautahu, yang kaupahami

Jangan mau disesali
Jangan menyesali yang tak patut disesali ketika kamu sudah yakin mampu menjalani…

Jangan mau kalah dengan kepalsuan
Jangan menangis lagi untuk yang tak perlu kautangisi…

Jangan dengarkan kebusukan
Jangan hirup bebauan menyakitkan itu
Jangan lihat lagi…
Jangan menangis lagi,
Untuk sesuatu yang tak perlu kautangisi…

Lupakan
Segala hal yang memang perlu kaulupakan
Jangan biarkan mengisi ruang di hatimu

Lupakan segala prasangka itu
Lupakan…

Ingatkan…
Siapa dirimu…
bukan dengan ketakutan..
bukan dengan kemalangan…
Tapi dengan cinta-Nya

Bertahanlah
Seperti azzammu…

Bertahanlah…

Bertahanlah

Dan
Terus berusahalah…

Berjalanlah

Jangan menyerah…

— untuk sahabat,

Pada malam tanpa bintang —

Paranoid

Parno. Paranoid. Itulah satu kata yang menghantuiku, membuatku tak nyaman.

Berbagai berita tentang tindakan kriminal di angkutan umum, cerita-cerita ini dan itu menambah keparnoanku pulang malam hari ini. Belum lagi salah satu penumpang yang bercerita tentang temannya yang dipalak di depan Mall dekat terminal. Haduh.

Memang waktu sudah cukup malam, tapi biasanya angkutan ini masih cukup ramai peminatnya. Masalahnya adalah mereka turun di mana saja?

Entah kenapa, kali ini tak ramai penumpang, dan sebalnya mereka cepat turun. Sementara itu, rumahku nyaris ujung alias dekat pangkalan si angkot.

Hingga pada akhirnya, aku menjadi satu-satunya penumpang di angkot itu.
“Turun di mana, Mbak?”
“DKI,” jawabku menyebut nama kompleks yang lebih dikenal dengan sebutan itu.
Feeling-ku udah nggak enak kalau ditanya ‘turun di mana’. Kalau nggak mau dipindahin yaa, si abang sopir mau muter ke arah yang lebih cepat dan tidak melewati tempat-tempat tertentu. Alhamdulillah, aku cukup hafal daerah-daerah itu.
Nah, bener kan si sopir muter, ngebut, jalan terus, dan ketika ada 2 cowok mau naik, si sopir bilang, “Belakang aja.”
Degh, kenapa 2 calon penumpang itu nggak boleh naik dan angkot terus melaju. Aku bingung dan mulai parno. Aku mulai menggeser tempatku duduk.

Tiba-tiba, angkot berhenti di pinggir jalan. Hmm, ngetem? Tapi, kalau dia ngetem di sini, kenapa 2 calon penumpang itu nggak boleh naik?

Berbagai pikiran berkecamuk. Apa sopir ini janjian? Jadinya berhenti di sini. Apa dia tahu aku pegang HP, bawa laptop, apa ini itu? Dan lain sebagainya. Apa aku turun aja?

Ketika ada penumpang lain, dia pun bertanya, dan secara tersirat menolak penumpang. Tapi, si sopir masih cukup baik memberi tahu ke calon penumpang yang ternyata salah arah.

Aku bingung dan parno antara mau turun dan tentunya terus berdoa.

Kalau aku turun, si sopir kan udah tahu aku mau ke DKI. Aku nggak pengen dia tersinggung, selain juga masih ada keyakinan, aku tetap diantar sampai tujuan.

Kayaknya sih nggak ada masalah, tapi agak parno. Gelisah rasanya sampai si sopir bilang kepadaku akan dicarikan angkot dengan nomor yang sama. Ooooh, ya Allah. Astaghfirullah.

Jadi, bisa kusimpulkan bahwa si sopir akan pulang dan ia merasa bertanggung jawab mencarikan aku angkot lain dengan nomor yang sama. Dia juga tak mau dibayar, dan menyuruhku membayar ongkos ke angkot lain yang akhirnya tak lama lagi datang.

Tarik napas… Embuskan.

Akhirnya aku naik angkot yang distop si sopir baik hati itu.

Sepi, dan lagi-lagi aku jadi penumpang terakhir. Dan kembali si bapak sopir bertanya, “Turun di mana?” Fuuuh.

Alhamdulillah, makin menyadari rezeki dan nikmat bisa sampai rumah dengan selamat.

– aku lapar dan jalan udah pincang-pincang, tempat tukang nasi goreng itu selalu ramai dengan antrean, dan aku malas ngantre, apa lagi kaki lecet karena sepatu baru dari ibu, halah :p –

Yang masih di jalan, hati-hati, ya :)
Ma’assalamah
Yang sudah di rumah, selamat istirahat, ya
Ila liqo besok2 :D

Dari yang Pertama Hingga Keenam

Horeee, keponakanku yang keenam lahir normal dan sehat 27 Oktober lalu. Asyik, nggak jadi November, takutnya bapak-ibunya terinspirasi nama ‘Novi’ yang udah segudang di Indonesia ini. #eaaa #apasih :p

Aku ingat pada hari kelahiran si Karimah, aku diminta menjaga Kinar, kakaknya. Aku pun menjaganya dengan sepenuh jiwa, apa coba. :p
Aku sudah bersiap mau berangkat kursus sorenya setelah memandikan Kinar. Berarti aku meninggalkan ibu dan Kinar di rumah.
Akhirnya, aku nggak jadi berangkat, kasihan ibu, bakalan repot juga.
Kakak ipar dan abangku masih menginap di rumah bidan sampai besok.

Sepekan setelahnya, tepatnya hari Rabu, diselenggarakan akikahan. Nah, pas banget ada jadwal kuliah. Aku sudah mengatur agar tetap bisa kuliah walau akhirnya nggak jadi karena di rumah repot.

Ibu pun berujar, “Dari keponakan yang pertama sampai keenam, masih kuliah aja.”

Eh, beneran?
Aku pun mengingat-ingat.

Saat Fikri lahir itu 2002. Aku sedang kuliah D3 Poltek. Aku bolos hari itu setelah ikutan menjaga kakak perempuanku di RS.

Si kembar lahir 2006. Aku masih di kantor dan sudah izin untuk besok karena di jadwal awal akan disesar besok. Tapi, rupanya malah maju. Sepulang kerja, aku sempatkan kuliah. Nah saat itu, aku kuliah di Pesantren Terbuka. Aku baru bisa ke RS keesokannya menengok kakak dan si kembar karena ketika pulang kuliah, tak ada lagi jam besuk.

Fattah lahir 2008. Nah, hanya pas kelahiran dia, aku tak sedang kuliah :p

Sementara itu, saat Kinar lahir di 2010, aku sudah mengambil kuliah S1 di Al-Manar sebelumnya di tahun 2009.

Belum lama, saat Karimah lahir, aku yah jelas masih kuliah :p

Ahahaha, benar juga, ya, Bu. Dari keponakan pertama sampai keenam, aku masih kuliah aja :p

Menunggu

Lagi, aku tengah duduk di sini. Tempat yang bisa kusinggahi sebentar sambil mengerjakan segala macam dan menunggu.

Harusnya ia hadir sekitar pukul 5 sore sesuai jadwal kuliahnya. Tapi tampaknya ada kesibukan lain hingga ia belum ada di sini.

Kemudian, aku membatasi diriku sampai pukul 7 malam. Kalau sampai ia tak hadir juga, aku akan pulang.

Sekitar pukul 7 sebenarnya ada ekstrakurikuler, tapi tampaknya aku urung ikut kali ini.

Aku ingin pulang saja.
Laptop juga sudah mati. Sebagian pekerjaan sudah selesai, dan masih ada pekerjaan lain di rumah.

Kuharap, jalanan tak lagi padat hingga aku bisa cepat sampai rumah, karena aku di sini pun salah satunya menunggu waktu….

Menunggu jalanan agak lengang.

—–

Menunggu…
Menunggu hujan reda
Menunggu teman
Menunggu kuliah selanjutnya
Menunggu nasi goreng matang
Menunggu tak macet
Menunggu sampai tiba waktunya nanti…

Bukankah kita selalu menunggu?

Memiliki Toko

Memiliki Toko Dec 16, ’11 5:23 AM
for everyone

Salah satu cita-citaku adalah memiliki toko boneka, selain rumah baca dan obsesi lainnya, hehe.

Aku berencana, ketika berumah tangga suatu saat nanti, aku benar-benar bisa tetap tinggal di rumah. Mengerjakan pekerjaan secara freelance, mengajar, serta mengelola toko dan rumah baca.

*banyak maunya* :p

Ada gudang depan rumah ibuku yang isinya beraneka ragam barang. Asalnya ingin dibuat taman bacaan. Kakak sudah mengecat ruang kecil itu dengan warna ungu dan pink. Tapi, karena berbagai pertimbangan, tidak jadi.

Anggap saja rak-rak buku di ruang kerjaku jadi taman bacaan walau masih orang-orang tertentu dan keluarga yang bisa meminjamnya. Toh di sana juga biasanya para keponakan membaca buku, menggambar, mewarnai dan sesekali main komputer.

Jadilah gudang itu kembali menjadi gudang. Bedanya, gudang itu berwarna ungu dan pink :D

Hingga suatu hari, ibu memodali kami berjualan boneka. Yah, gudang kembali dirombak dan isinya sekarang adalah boneka-boneka.

Ow, salah satu keinginanku nanti akhirnya terwujud saat ini. Memang sudah sejak kakak berjualan boneka, aku juga ikutan.

Eh ya, aku pernah berjualan macam-macam semasa sekolah dan kuliah. Jualan boneka baru dimulai ketika aku SMU sampai D3. Hampir setiap hari, aku membawa tentengan besar ke kampus :D Ada juga mahasiswa2 yang mengambil boneka untuk dijual lagi. Aku pernah memanfaatkan ruang loker untuk ‘rapat’ pedagang #eaaa. Dan serunya, sekretariat hingga dosen juga membeli boneka-bonekaku :D

Selanjutnya, ketika aku lulus D3, aku tidak terlalu konsen jualan karena nggak ada modal, jualanku ya begitu-begitu aja. Bisa dibilang angot-angotan.

Sekarang jelas beda. Di toko ini, sudah dipajang beraneka ragam boneka. Beberapa waktu lalu, aku dan ibu memfotonya. Niatnya untuk di-upload di blog dan FB nanti, setelah pekerjaan dan urusan beres.

Kemudian, ibu juga menyuruhku mulai membuat spanduk, mencantumkan nomor HP/telepon agar kalau ada pembeli dan mendapati toko sedang tutup, bisa menelepon.
Yah, aku setiap hari masih keluar sesuai jadwal kuliah, kursus, rapat, dll.

Ibu juga memintaku bisa mengurus penjualan secara grosir dan eceran selain dijual online.

Alhamdulillah, belum lama upload, sudah ada yang pesan.

Alhamdulillah, ada teman yang membeli secara grosiran setelah sebelumnya bertanya-tanya dulu.

Beberapa hari ini, menambah aktivitas melayani pembeli di rumah setelah ini-itu. Membuka toko, mengambil barang di toko dengan meminjam motor kakak, dan menemukan pernak-pernik, dari mulai boneke rijek, boneka yang harus dijahit, rooling dor yang rusak, sementara harus berangkat kuliah, dan seru, deh ;)

Yah, moga bisa menjalaninya ;)

Pesan sponsor:
Insya Allah, sekalian launching mau promo. Promo kayak apa, lagi dirancang :D
Sementara, upload fotonya sih di FB, hehe. Pengen bikin blog juga, tapi belum tahu di mana. Pelan-pelan ;)

Mencari Solusi

“Nyicil motor gih, Nop,” ujar abangku suatu kali.
Aku nggak terlalu menanggapinya saat itu.

Hehe, sebelum-sebelumnya, aku sesekali minta anterin berangkat kuliah :D
Tapi, sejak ia sering berangkat kerja sekitar pukul 10 atau sekitar bakda zuhur, aku udah nggak bisa minta anterin lagi karena beda arah.

Aku masih enggan mencicil motor. Aku malas bikin SIM yang susah itu :p Aku puyeng lihat jalanan Jakarta yang ramai dan para pengendara yang banyak nggak sabaran, mengumpat, dll. Belum lagi, aku gampang nyasar. Ugh.

Kalau naik angkot kan, aku bisa hafalin jalan, walau mirip-mirip. Aku hanya tinggal duduk sambil baca buku, dan bisa tidur *teteubh.

Akan tetapi, keinginan mencicil motor kembali hadir ketika aku masih harus pulang malam yang kadang bikin aku ketar-ketir. Plus, kalau bawa motor kan bisa sekalian bawa dagangan, hehe *niat* :p

Dan, sejak itu, aku jadi meratiin motor-motor di jalan :D
Kayaknya H*n** sc**p* lucu juga, tapi waktu naik *i* aku agak gugup, karena nggak biasa pakai yang matic :D

Waktu belajar motor ketika SMP, aku pakai gigi :p sampai sekarang, kalau sesekali pinjem motor abangku ya si motor bergigi, hehe. Hmm, lihat nantilah.

Aku ceritakan hal itu ke kakak perempuanku kemarin. Aku bilang kalau cicilanku yang segambreng udah kelar, aku mau mencicil motor. Niatnya sih mau lewat dia aja nyicilnya, hehe. Aku tanya-tanya, sebulan berapa? Sambil mengingat-ingat pemasukanku yang berbeda tiap bulannya.

Aku juga ceritakan soal pengalaman pulang malam-malam naik angkot yang bikin aku parno.

Kakak perempuanku malah becandain aku.
Dia bilang pas lagi di angkot, ajak ngobrol abang sopirnya dengan bilang, “Abis pulang latihan karate, nih,” “Minggu depan, mau ujian naik tingkat ban item,” atau “Abis latihan nembak nih kaliber sekian,” dan segala obrolan lainnya.

Hadah, ini orang diajak serius juga -_-

Ujung-ujungnya, “Nikah aja, Nop,” biar ada yang antar-jemput. #eaaaa

Ketika di rumah kakak, ibu sepertinya sudah mendapat cerita dari kakakku soal niatku mencicil motor. “Nanti capek, bla bla bla bla.”

Yah, dulu pas aku bawa motor abangku ke kampus itu, aku emang nggak izin ibu. Aku baru bilang bawa motor setelah pulang, hehe. Izin ditarik setelah aku kena tilang :D

Ibu tampaknya tak merestui mengingat kadang aku suka ngerjain kerjaan hingga malam. Khawatir naik motor kecapean dan karena aku itu panikan dan tegang ketika bawa motor. Yah, kan ikutin arus aja, aku kalem, kok, kalau bawa motor. Masalahnya, pengendara motor-motor lain nggak kalem, ya *pisss :p

Pada akhirnya, ibu pun sama kayak kakak,
“Nikah aja,”

#eaaaaa

— menutup pembicaan soal motor untuk sementara –

-_-

Di Sini

Bukan tempat yang tepat untuk bekerja di sini. Anak kecil tak henti-hentinya berlarian di depanku.

Terus, mungkin bisa melimbungkan laptopku hingga jatuh. Tapi, mereka terus berlari.

Ini jelas bukan kafe, atau minimal ruangan yang nyaman untuk membaca, tapi di ruang inilah, tempat yang bisa kutemukan.

Yang pastinya, aku menyukai tempat ini.

Aku tidak sedang menyeruput kopi atau teh ketika membaca naskah-naskah ini atau memikirkan berbagai laporan yang sedang kupikirkan.

Aku meneguk jamu dan mengudap roti isi keju susu. Paling tidak itu mengurangi rasa kesalku tak ada lagi jadwal kuliah sore ini.

Buku setebal 700-an halaman juga menemaniku, dan buku ini juga menghiburku karena kami membahas salah satu tokoh dalam buku ini saat kuliah bakda ashar tadi. Mengingatnya lagi-lagi menghilangkan nyeri dan kesalku, hanya dapat 1 kuliah hari ini.

Sudah-sudah, aku tak ingin kesal atau menyesal, tetap ada yang bisa aku dapat hari ini.

Moga saja aku bisa mendapatkan beberapa halaman, beberapa cerita di tempat ini dan aku tinggal membuat laporan malam ini.

Ya ya ya, bukankah walau tak seperti kafe, yang masuk telingaku adalah suara bocah-bocah yang kurindukan yang berteriak bersama-sama, bernyanyi, mengucapkan doa, dan banyak lagi.
Termasuk teriakan, “Sayaaa.”

Yang pastinya, sekarang sudah cukup tenang karena para guru sudah mengendalikan mereka hingga tak ada yang berlari-lari.

Ya ya ya, aku lagi-lagi nostalgia, mengingat bocah-bocah di TPA tempatku mengajar, berlari-larian, melompat, saling iseng, ngambek hingga aku pernah menggendong salah satu dari mereka sampai rumah karena ia ngambek.

-catatan tak beraturan di Senin mendung-

PEDAGANG

Ketika berjalan menyusuri kompleks sambil menenteng tas kresek hitam besar, aku berpapasan dengan banyak orang. Ada seorang bapak penjual minyak, ia menggunakan sepeda yang bergerobak. Ada penjual bak plastik. Ia terus berteriak sambil memukul-mukulkan baknya, menberi isyarat kekuatan bak itu. Yah, memang kuat. Aku punya beberapa di rumah yang masih awet.

Naik angkot. Motor yang biasa ada di rumah, dipakai abangku. Pengen naik sepeda, hmm, belum biasa juga kalau harus menempuh lebih dari 2 kilo perjalanan. Belum lagi kalau bawaannya banyak, hehe, naruhnya piye? :D

Sesampai di toko kakak, aku menukar barang rijek dan mengambil beberapa barang yang salah satunya pesanan salah satu pengajar di tempat kursus :D Hehe, efek jadi sponsor di acara rihlah beberapa waktu lalu menuai hasil, halah. Paling tidak, di kampus sudah banyak yang tahu kalau aku pedagang boneka, hehe. Makin semangat berangkat, deh #eaaa

Aku pulang naik angkot sambil membawa 1 plastik besar isi boneka dan bantal. Kadang masih terpikir, akan diangkut atau tidak sama sopir angkot, ya :D Nggak terpikir naik ojek, karena akan menambah biaya :D

Alhamdulillah, diangkut.
Sebenarnya, semasa kuliah D3 dulu, aku juga udah sering bawa dagangan ke kampus. Satu tas berbahan karung warna putih yang cukup besar hampir selalu menemaniku. Perjalanan nggak tanggung-tanggung, hehe. Kadang naik kereta ekonomi, kadang naik bus patas. Sambung menyambung angkot dan atau dilanjutkan dengan bus kuning. Tak jarang, aku sudah menyiapkan ongkos dobel kalau-kalau bawaanku itu mengurangi jumlah penumpang yang diangkut. Aku lebih memilih mojok atau duduk di depan. Alhamdulillah, seingatku, selama itu cukup bayar 1 karena mungkin badanku yang kurus memberi keseimbangan dengan bawaanku yg besar, hehe #apahubungannya coba

Lucunya, ketika membawa boneka, ada aja yang menyapa. Dari mulai yang iseng, atau yang beneran niat beli, lho. Yah, di dalam angkot itu, ada seorang ibu yang membeli bear ukuran kecil. Pernah juga ketika aku jalan menyeberangi rel kereta di stasiun UI, ada juga yang beli boneka.

Sikap sopir angkot juga biasa aja, malah mencoba mengajak ngobrol, memberi space buat aku menaruh boneka-boneka itu ketika aku duduk di depan. Yah, setahuku memang masih banyak pedagang yang menggunakan sarana transportasi angkot, jadi hal itu biasa saja. Dibandingkan mereka, bawaanku belum seberapa.

Eh, tadi pas naik angkot, cowok yang duduk di depanku membantu meletakkan plastik besar itu di pojokan, tepat di hadapan dia. Dia juga nggak merasa risih, kelihatannya :D Hei dia memegangi plastik bonekaku. Apa dia mau beli, ya? #eaaa Aku diam saja. Toh dia nggak nanya, lagian kan ceritanya godhul bashar #eaaa

Sampai di rumah, di toko :D
Yuk mari mampir,

Belum sempat bikin promo, nih, insya Allah akhir tahun, ya via FB-nya Khansa Toys ;)

*foto toko
Nah di depannya itu plastik isi boneka dan bantal yang aku bawa ;)

[sharing] KEUTAMAAN ILMU

Bismillahirrahmaanirrahim.

Lagi mood untuk mindahin catatan kuliah ke sini, nih sekalian murojaah juga, hehe.
Tanggal 1 lalu, aku belajar Metodologi Studi Islam, nah kita membahas soal pentingnya Ilmu. Ada dalil yang mendasarinya, cek sendiri aja, ya ^_^ Kita belajar sama-sama.

Keutamaan Ilmu
1. Ilmu melembutkan jiwa

2. Ilmu merupakan cahaya yang menerangi jiwa
QS 22: 46
QS 13: 19

3. Ilmu menghadirkan kekhusyukan dan rasa takut kepada Allah swt.
QS 35: 28
QS 17: 107-109

4. Allah menyeru Rasulullah saw. agar meminta tambahan ilmu.
QS 20: 114

5. Mencari ilmu adalah jihad yang utama

6. Iri hati—tanpa disertai harapan agar nikmat tersebut hilang—hanya dibolehkan kepada orang yang mencari ilmu, ulama, dan orang kaya.

7. Memahami ilmu agama merupakan nikmat yang sangat agung.

8. Ilmu diutamakan sebelum beramal.

Ada sebuah nasihat indah soal menuntut ilmu
dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,
*

“Pelajarilah oleh kalian ilmu,
karena sesungguhnya mempelajarinya karena Allah adalah kekhusyukan;
mencarinya adalah ibadah;
mempelajarinya dan mengulangnya adalah tasbih;
membahasnya adalah jihad;
mengajarkannya kepada yang tidak mengetahuinya adalah sedekah;
mengamalkan, bagi orang yang sudah tahu itu, adalah pendekatan diri kepada Allah;
karena ilmu itu menjelaskan perkara yang halal dan yang haram;
menara jalan-jalannya ahlul jannah,
dan ilmu itu sebagai penenang di saat was-was dan bimbang;
yang menemani saat berada di tempat yang asing;
dan yang akan mengajak bicara di saat sendirian;
sebagai dalil yang akan menunjuki kita di saat senang dengan bersyukur dan di saat tertimpa musibah dengan sabar;
senjata untuk melawan musuh;
dan yang akan menghiasinya di tengah-tengah sahabat-sahabatnya.
Dengan ilmu tersebut, Allah akan mengangkat kaum-kaum, lalu menjadikan mereka berada dalam kebaikan, sehingga mereka menjadi panutan dan para imam;


jejak-jejak mereka akan diikuti;
perbuatan-perbuatan mereka akan dicontoh serta semua pendapat akan kembali kepada pendapat mereka.
Para malaikat merasa senang berada di perkumpulan mereka; dan akan mengusap mereka dengan sayap-sayapnya;

setiap makhluk yang basah dan yang kering akan memintakan ampun untuk mereka, demikian juga ikan yang di laut sampai ikan yang terkecilnya, dan binatang buas yang di daratan dan binatang ternaknya (semuanya memintakan ampun kepada Allah untuk mereka).

Karena sesungguhnya, ilmu adalah yang akan menghidupkan hati dari kebodohan dan yang akan menerangi pandangan dari berbagai kegelapan.

Dengan ilmu, seorang hamba akan mencapai kedudukan-kedudukan yang terbaik dan derajat-derajat yang tinggi, baik di dunia maupun di akhirat.

Memikirkan ilmu menyamai puasa;


mempelajarinya menyamai shalat malam;
dengan ilmu akan tersambunglah tali silaturahim,
dan akan diketahui perkara yang halal sehingga terhindar dari perkara yang haram.
Ilmu adalah pemimpinnya amal, sedangkan amal itu adalah pengikutnya,


ilmu itu hanya akan diberikan kepada orang-orang yang berbahagia;
sedangkan orang-orang yang celaka akan terhalang darinya.”

Wallahua’lam

Semoga bermanfaat ^_^

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.