Si Penulis

19 Januari 2008 at 14:53 | In bapak, kehidupan, keluarga, kenangan | 5 Comments


Dari dulu memang aku suka sekali menulis. Setiap pengalaman yang hadir dalam hidupku, ingin sekali aku tulis. Setiap membaca buku yang menarik, aku juga ingin menulis. Setiap kebahagiaan dan kesedihan selalu ingin kutulis. Tak aneh jika aku punya banyak buku diari, dan ketika membacanya, aku bisa tertawa-tawa. Sayangnya, aku pernah membakar dan merobek-robek salah satu diariku. Kalau bisa pakai mesin waktu, aku akan larang diriku membakar diari-diari itu.

Aku tidak pernah merasa ada keturunan dalam hobi menulisku ini. Yah, aku hanya suka menulis. Tak perlu ditelusuri kan aku dapat “bakat” ini dari mana? Atau kadang memang aku yang tidak menyadari. Ketika mengikuti lomba mengarang mewakili sekolah sewaktu SD, bapak begitu mendukungku dan mengajari banyak hal kepadaku, hingga akhirnya meraih juara harapan 1 dan mewakili tingkat kelurahan dan kalah. Mungkin hanya sampai di situ karir menulisku karena setelah itu aku hanya menjadikan menulis sebagai hobi saja.

Bapak masih terus mendukungku ketika aku mulai menulis macam-macam dan menyuruhku mengirimkan tulisan itu. Tapi, aku tidak terlalu tertarik dan mulai menyukai hal lain.

Di balik dukungan yang bapak berikan. Aku sering tak menyadari dengan baik dan memang tidak begitu tahu secara mendalam kalau bapak adalah penulis. Baru setelah aku beranjak besar, aku mulai mengikuti sepak terjang beliau dalam meniti karir sebagai penulis. Bapak ditawarkan menulis buku sekolah. Berkali-kali naskah bapak ditolak hingga akhirnya diterima dan bisa dibilang Best Seller. Sebagian besar dari hasil royalti bisa memberangkatkan haji ibu dan bapak pada tahun 2000.

Kegigihan dan dukungan keluarga sangat berperan. Waktu itu bapak sempat akan menyerah karena naskah yang ketiganya, tak juga diterima, tapi ibu terus mendukung dan memotivasi bapak. Aku ingat ketika ibu mengajakku ke toko buku membeli buku-buku rujukan. Pendidikan yang ibuku jalani itu rendah, hanya setingkat SMP, tapi daya nalar dan kepekaan, dan kepeduliannya cukup tinggi. Dari sana bapak terus merevisi dan alhamdulillah, akhirnya diterima.

Aku sedikit ikut dan tenggelam dalam rutinitas menulis bapak. Menggambar binatang asal-asalan sampai nama aku dan abangku tercantum dalam salah satu dialog di buku. Ketika buku itu terbit, tak terkira gembiranya kami. Kubuka lembaran demi lembaran dan terlihat ada sebuah perjuangan di sana.

Itu adalah salah satu buah manis yang didapat dari menulis. Ternyata, di balik itu ada perjuangan bapak yang tak kalah getirnya. Ketika aku masih kecil, bapak juga pernah diminta untuk menulis buku sekolah. Ada 12 buku untuk satu mata pelajaran dari kelas 1 sampai kelas 6 jilid A & B. Setelah jadi, naskah tersebut diambil dan tidak ada tanda terima. Setelah sekian lama, baru naskah itu dibeli dengan harga yang tidak pantas dan diterbitkan atas nama orang lain.

Memang itu juga kesalahan dari pihak bapak, tapi terlihat jelas sekali kalau penerbit itu memang tidak mempunyai itikad baik. Yah, itu masa lalu yang dijadikan pelajaran oleh bapak dan ibu.

Tahun berlalu, setelah menunaikan ibadah haji, bapak kembali ditawari menulis buku. Saat itu aku sudah kuliah di sebuah politeknik, program studi penerbitan. Tentunya bukan kebetulan, dan itu sudah jalan yang diberikan Allah kepadaku. Aku mulai menjadi asisten bapak. Aku digaji untuk mengetikkan naskah beliau dan sedikit-sedikit membantunya mengedit. Aku bekerja dengan beliau. Salah satu pengalaman yang berharga, walau kadang aku sempat malas dan ngambek. Tapi, banyak hal bisa kutemukan. Kegigihan dan kerja keras beliau memang tak tertandingi.

========

21 Januari, empat tahun lalu bapak menghembuskan napasnya yang terakhir setelah koma beberapa jam. Beliau mengalami kecelakaan motor dan meninggal di IGD RSCM karena mati batang otak. Sebelum berangat menjalani aktivitasnya, bapak meninggalkan naskah tulisan tangan untuk aku ketik.

Ada beberapa buku yang tak lagi terbit karena butuh revisi. Tapi, ada juga buku yang revisinya diteruskan oleh kakak.

Yang menakjubkan sekaligus rasa syukur kami adalah hingga hari ini royalti bapak masih terus mengalir. Bahkan, berimbas pada cucu-cucunya yang belum pernah melihat wajah mbah kakungnya.

Hmm, aku hanya bisa tertegun, bangga sekaligus kagum. Di saat aku kadang enggan menulis, tak percaya diri, ada semangat dari seorang yang hingga hari ini masih sering kurindukan.

Aku punya figur si penulis. Aku rasakan getar semangatnya dalam dadaku. Kegigihan, keuletan, perjuangannya… Subhanallah

Si penulis itu bapakku… Darul Muna

IBU

10 Januari 2008 at 23:55 | In ibu, puisi | 3 Comments

sejuta kata
semiliar makna
tak akan sanggup ungkapkan rasa padamu

wajahnya selalu ceria
senyumnya menyejukkan…
tawanya menghangatkan…
pelukannya mengobati luka

seperti tak ada beban
seperti tanpa masalah…

IBU
tak sanggup aku berkata…
anakmu ini begitu tak tahu diri

IBU…
rasanya kau itu bidadari
atau jelmaan putri dari kayangan…

IBU
bisakah aku sepertimu

Perempuan Pembawa Luka

10 Januari 2008 at 23:55 | In fiksi, terinspirasi | Leave a Comment

Semalam saya sedang berjalan di sebuah negeri. Dari luar saya melihat negeri itu, saya tertarik memasukinya, walau ada rasa takut dan khawatir.

Saya susuri jalan itu, tampak sebuah taman yang indah. saya takjub, tapi kenapa begitu suram, ya? Saya hampiri seorang wanita yang tengah duduk di bangku taman.

“Hai..”
sapaan saya tak dijawab. dia sibuk dengan satu boks yang dibawanya. Terus melongok boks itu.

“Hai…”saya ulangi sapaan saya kepadanya dengan lebih keras.

“Eh, maaf,” jawabnya.

Saya menatap wajahnya yang sendu, muram tanpa semangat.

“Maaf, kenalkan, saya…” ucapan saya terpotong ketika melihat tangan wanita itu penuh luka.

“Biarkan saja” ujarnya ketika saya tampak khawatir melihat tangan itu.

“Saya Reina” uajrnya mengulurkan tangannya yang penuh luka.

“Saya Funny” ujar saya.

Wanita itu tersentak mendengar nama saya. Menatap saya dengan lekat. Diam dan kemudian tertegun lama.

“Ada yang salah dengan nama saya?” ujar saya

“Kamu pasti bukan dari negeri ini. Namamu penuh dengan kebahagiaan, tubuhmu begitu segar, wajahmu sangat ceria sesuai dengan namamu” ujar dia.

“Iya, saya bukan dari negeri ini, tapi entah kenapa saya ada di sini, kereta kuda membawa saya ke sini.”

“Yah, kalau begitu… pergilah, khawatir dirimu terluka.”

“Terluka?” Yah memang saya sedang terluka, sakit… sakit sekali.

“Kalau kau lama di sini, lukamu tak akan bisa sembuh, di sini adalah negeri Luka, semua orang di sini akan terluka. Tak ada lagi senyum, yang ada hanya luka. Dan tahukah kamu? Luka itu akan terus ada selama kamu ada di sini.”

“Saya juga penuh luka. Luka karena cinta… Mungkin ini yang membawa saya ke sini.” ujar saya mencoba mereka-reka kejadian tadi malam. Saya baru saja jatuh sakit, pingsan dan tiba-tiba kereta kuda itu membawa saya ke sini.

Wanita itu mengusap air mata saya.

“Kita sama…” ujar dia

“Tapi, kau tak akan mampu lebih lama di sini”

***
“Hei, Reina… lihat luka saya sudah tak ada lagi… terima kasih, ya.. saya sudah tak perlu di sini lagi” ujar saya pagi itu ketika terbangun di rumah mungil milik Reina.

“Pergilah…”

“Tapi… bagaimana dengan kamu? Sampai kapan kamu di sini?”

“Saya akan tetap di sini, Fun… Luka saya sudah terlalu dalam…”

“Tapi.. kau saja bisa membantuku menyembuhkan luka yang aku miliki, tapi kenapa kamu tak bisa menyembuhkan lukamu sendiri…?”

“Hmm…” Reina tersenyum kecut, tampak luka di sekitar bibirnya…

Aah……untuk berbicara saja sudah melukainya… apalagi untuk bercerita.

“Terima kasih, tapi sepertinya tak ada gunanya…

***

Saya meninggalkan negeri penuh luka. Meninggalkan Reina, Perempuan Pembawa Luka. Terbersit di otak saya bagaimana dengan hanya bercerita kepadanya, luka saya sembuh. Teringat, perhatian Reina ketika menyuguhkan secangkir kopi dan menyalakan perapian, membiarkan diri saya terus menangis dan bercerita. Dia terus dan terus mendengarkan saya, walau luka di tangannya, di kaki dan kepalanya terus saja mengusik saya. Luka saya makin menghilang dan kering… tapi lukanya terus di sana.

“Reina…, wanita itu bernama Reina” ujar saya kepada bunda.

“Reina, wanita pembawa luka”

“Bunda tahu?”

“Bunda tahu.. karena dia adalah dongeng di negeri penuh luka…” ujar bunda

“Funny, bacalah kisah ini…

***

Nama saya Reina, perempuan pembawa luka. Saya ada wanita yang tak pernah mengerti akan dunia penuh luka hingga kini saya tinggal di sebuah negeri penuh luka. Hingga akhirnya saya terperangkap dalam negeri ini. Semoga bukan untuk selamanya.

    Saya dibilang sensitif, ya benar.. saya sangat sensitif. Perkataan orang-orang bisa melukai saya kalau saya tak sanggup menjawab argumen mereka. Saya akan menangis, sambil berharap luka itu segera sembuh, tapi apa yang terjadi, luka saya terus membesar, dan tak sanggup lagi saya mengolesinya dengan obat. Saya terus terluka.

    Setiap hari saya menangis membawa boks catatan luka dan berharap saya bisa bertemu orang yang membuat luka saya, tapi apa yang terjadi orang tersebut tak kunjung datang dan saya sendiri malah terus melukai orang dengan wajah saya yang buruk. Saya bodoh, saya ingin menyembuhkan luka tapi saya terus menerus menyakiti yang lain.

    Bagaimana saya menyembuhkan luka ini?

    Orang-orang datang menghampiri saya, menceritakan luka-luka mereka. Tapi, tak ada yang sanggup mengobati luka itu. Saya terus terluka… Saya tak sanggup jalani hidup ini dengan penuh luka. Saya tak mengerti kenapa saya teru terluka. Apa ada yang salah dengan diri saya.

***

Saya susuri kembali jalan itu. Saya harus menemui Reina. Saya harus membantu dia. Tapi, bunda mengejar saya dari belakang

“Funny, kalau kau sedang tidak terluka, akan sulit menemui Reina…”

“Lalu bagaimana bunda…? Saya ingin menemui wanita itu. Tidak bisa selamanya dia di sana”

“Kirimkan surat padanya, lukiskan cinta dan asa…”

“Bagaimana surat itu bisa sampai?”

“Dengan cinta dan sayangmu padanya, dan biarkan merpati itu membawanya hingga gubuk Reina”

    ***

    Dear Reina…
    Pertemuan denganmu membuat saya tersadar, kalau saya hidup di antara orang-orang terkasih, mereka dengan tulus dan perhatiannya kepada saya. Bunda adalah no 1 untuk saya, Paman Robert, Syeila, Marisa… dan semua orang di sekeliling saya.

    Tapi, kenapa mereka justru tak sanggup obati luka saya ketika hati tercabik-cabik cinta dari laki-laki itu. Mereka tak sanggup menghibur saya hingga saya sampai ke negeri penuh luka dan bertemu denganmu.

    Reina….
    Entah bagaimana, saya jadi terpikir terus dirimu. Melihatmu, saya seperti melihat sesuatu yang hilang yang seharusnya ada pada dirimu. Reina…. kenapa kau tidak buang saja boks penuh luka dan biarkan segalanya selesai… Kalau kau masih menunggu dia yang melukaimu, sampai kapan kau bertahan dengan luka-lukamu itu….

    Reina…
    Bukankah kita masih memiliki Tuhan? Bukankah dia yang bisa menyembuhkan luka, temuilah dia….

    Di malam kita bertemu, aku sadar aku memiliki Tuhan, hingga aku merasa pertemuan kita adalah takdir. Kuingat itu sambil terus berzikir kepada-Nya, hingga luka di tubuhku mengering dan hilang.

    Reina…
    Maafkan aku bila mengguruimu… Aku hanya ingin kau tak lagi menyandang nama perempuan pembawa luka, tapi perempuan berhati mulia…
Kau sanggup membantuku dan yang lain menyembuhkan luka, mengingat kebesaran-Nya…

***

“Bunda, kenapa ada orang jahat di dunia?”
“Bunda, kenapa bunda menangis?”
“Bunda, kenapa Kak Funny pernah tak lagi bersama Kak Drew?”
“Bunda….”

Pertanyaan Marisa kepada Bunda….

“Sayang, berapa banyak hadiah yang kau dapat ketika kau ulang tahun?”
“Sayang, kapan terakhir ibu guru memberimu sebatang cokelat?”
“Sayang, kapan terakhir kamu melihat Funny menangis?”

“Bunda, ada sedih ada bahagia… Marisa mengerti, Bunda…”

Saya terdiam, bagaimana mungkin di dunia yang ada sedih, ada bahagia ini, ada seorang bernama Reina yang terus terluka. Bathinku rasanya tak sanggup menjawabnya.

“Cinta… sayang, ingatlah cinta kepada-Nya” bunda seperti mengerti apa yang saya pikirkan.

***

Funny, tahukah kau, kini saya sudah tidak tinggal di negeri penuh luka, tapi di negeri bahagia. Kemarin ketika saya mengambil surat darimu, saya menemukan sebuah petunjuk untuk membawa boks penuh luka itu ke sebuah tempat.

    Di sana saya menemukan mesin semacam ATM dan saya masukkah memori luka saya. Satu..satu… hingga beratus luka yang saya miliki. Ketika saya ingin meninggalkan mesin itu. Saya disodorkan sebuah boks yang besar sekali dan ketika saya buka saya mendapatkan cahaya yang kemilau….saya mendapati sebuah surat:

          Reina, perempuan pembawa luka…
di setiap luka yang kau bawa… ada berjuta hikmah yang kau dapat, andai kau tahu dan kau mengerti… Lukamu mungkin tak sanggup kau sembuhkan sendiri, atau disembuhkan orang lain… Tapi, lukamu akan sembuh bila kamu mau berbagi dengan Tuhanmu…  Dia Sang Penyembuh Luka. Ingatlah Dia, di kala kau bahagia dan bersedih… insya Allah, lukamu akan mengering dan hilang…
         
        Lupakan mereka yang terus kau cari untuk sembuhkan lukamu… Lupakan mereka… yang harusnya kau cari adalah orang-orang yang kau lukai… minta maaflah… sayang…

       Kini jangan biarkan orang-orang melukaimu… Jangan… Tinggalkan mereka. Biarkan mereka. Ingatlah orang-orang seperti Funny, Happy, Don’t Worry, Special…karena kamu adalah wanita yang spesial…

Selamat hadir di negeri bahagia…

*Kala mengingat luka, segala kebahagiaan seperti tertelan lautan, tapi sadar kalau bahagia akan hadir, luka pupus tak berbekas…
*Kamu mau memilih terluka terus hingga ujung waktu atau berjalan mengobati luka dan meraih bahagia

Wanita

10 Januari 2008 at 23:54 | In puisi | Leave a Comment
jadi wanita apa adanya
jadi wanita seadanya

tapi, jadilah wanita seutuhnya

wanita si pemilik cinta
wanita nan bahagia
wanita pemberi asa

bukan wanita hina
bukan wanita tak punya malu

jadilah wanita…..
wanita solehah
perhiasan,
bidadari
ibu…

Menulis Mengobati Saya

10 Januari 2008 at 23:53 | In berpikir, menulis | Leave a Comment

Saya tak pernah bisa meninggalkan aktivitas ini walau tak ada fasilitas bernama komputer atau laptop.

Saya sadar benar kalau saya tak bisa tidak untuk menulis. Batin yang rasanya menderita, hati yang sakit bisa terobati dengan menulis dan terus menulis. Obat yang mungkin tidak langsung mengobati rasa sakit, sendi-sendi yang pegal ataupun luka yang terus meneteskan darah, tapi menulis memberi efek obat yang perlahan, tapi pasti.

Menulis membuat beban di pundak berkurang sedikit. Menulis mengajak saya untuk berpikir. Menulis membangkitkan nurani saya untuk sadar, kalau tak ada gunanya lagi saya harus kecewa.

Huah.. berulang kali saya membayangkan diri saya yang tengah sakit hati memikirkan orang yang telah mengecewakan diri saya. Berulang kali saya menangis dan menangis menyesalkan sikapnya yang tak saya mengerti. Saya lelah… karena tak jua lagi mendapat jawaban. Hingga akhinya saya menulis. Mengurai benang permasalahan yang ada. Mengingat apa saja yang membuat saya menangis, sakit sekaligus marah…

Membaca kembali perenungan saya, membaca ulang diari saya… hingga akhirnya saya temukan jawaban pada puisi, esai, tulisan-tulisan saya yang lain.

Menulis bisa menjadi obat untuk masa kini dan masa datang. Menulis mengajak saya untuk terus berpikir, menganalisis keadaan, memacu adrenalin saya, mengingat berbagai memori yang terekam di otak saya, baik yang senang, bahagia, sedih, berkesan, memalukan dan banyak hal…

Menulis mengobati saya.

Walau dalam tiap tulisan tidak seluruhnya menggambarkan permasalahan saya, paling tidak saya tahu history kenapa saya bisa menulis seperti itu, saya mengerti mengapa saya harus menulis, saya sadar tulisan itu akan berguna satu saat nanti.

Saya ingin terus menulis… untuk saya dan semoga berguna untuk semua.

 

*12.57 AM, 18 oktober 2007

 

Secangkir kopi rasa mocca, segelas teh hangat dan air putih yang berisi setengah

10 Januari 2008 at 23:52 | In ibu, keluarga, terinspirasi | Leave a Comment


Hari ini saya kembali dibangunkan dengan secangkir kopi rasa mocca buatan ibu. Sudah dua hari ini, ibu menyuguhkan secangkir kopi itu ke saya. Kalau kemarin, karena saya pulang sudah malam setelah silaturahim ke klien Khansa.

Sedangkan hari ini, saya kelelahan karena begadang. Saya tak pernah meminta ibu untuk melakukan semua itu, tapi ibu tak pernah berhenti melakukan semua itu. Tidak hanya pada saya, tapi juga kepada kedua saudara saya, pun kakak ipar saya.

Perhatian ibu begitu besar. Sebesar cintanya dan sayangnya. Entah samudra yang mana yang sanggup menampung miliaran cintanya itu.

Akhirnya, menjelang siang saya tertidur, ibu membangunkan saya sambil mengingatkan ada pekerjaan yang harus saya kerjakan. Fiyuh, lelah. Segelas teh hangat kemudian terhidang di dekat meja tulis saya. Ibu… lagi…lagi…

Saya nikmati secangkir teh hangat itu tidak dengan menyambi di depan komputer, tapi saya menyingkir sesaat dari ruang kerja saya menuju kursi panjang di ruang tamu rumah saya yang sederhana. Nikmat, hangat… sehangat cinta yang ibu berikan.

Kembali memulai pekerjaan. Ibu menghampiri, menaruh sebuah jeruk di atas meja tulis, dia hanya berkata, ”Nanti gelasnya ganti” sambil menunjuk gelas yang berisi air putih yang masih berisi setengah.

Jarang sekali terucap, kata cinta atau sayang darinya… tapi, seringkali tidakan-tindakan ibu yang sederhana membuat diri saya malu dan berpikir. Cinta tak perlu dikatakan karena bisa hanya sampai di bibir. Cinta itu ibu ungkapkan dengan kasih dan sayangnya kepada kami.

Ibu tak pernah meminta banyak ke saya.

Tidak lebih, tidak kurang. Tak ada yang diharap kecuali kebahagiaan untuk kami.


Spesial untuk IBU...

KEHILANGAN

10 Januari 2008 at 23:50 | In berpikir, kesedihan, teman, terinspirasi | 4 Comments


 
Beberapa waktu lalu saya mengalami tiga kehilangan dalam waktu berdekatan. Kehilangan yang dialami orang terdekat saya atau orang yang keberadaanya di dekat saya. Kehilangan yang sebenarnya. Kehilangan nyawa dan materi.
 
Kehilangan pertama
Hari itu, seorang teman mengirim pesan lewat YM,
Win: Nov, anaknya mas umar meninggal, dah tau?
Me : Belum, innalillahi
Win: barusan aja deh
……………………
 
Padahal baru tadi pagi, sepulang dari menginap, saya mau mampir ke kantor lama saya, bertemu dengan rekan saya waktu di kantor. Tapi, ketika menelepon, teman saya yang lain, mengabarkan kalau mas Umar ke rumah sakit. Saya pikir, dia mengantar isitrinya yang check-up, karena kandungannya sudah memasuki bulan ke -8, tapi nggak tahunya, hari itu juga Yus, istri mas Umar melahirkan dan anaknya meninggal.
 
Saya benar-benar speechless, tak mamapu bicara, tak kuasa rasanya ingin menghibur seorang mas Umar. Seorang rekan yang baik, bijaksana dan selalu membantu orang.  Saya dan Win tahu benar, bagaimana mas Umar yang baik. Dia selalu meluangkan waktu untuk orang-orang terdekatnya. Selalu siap sedia ketika dimintai pertolongan. Dari mulai hal yang kecil hingga besar. Dari mulai urusan jaringan di kantor sampai pembelian mesin faks. Kami juga sedikit  tahu bagaimana perjuangan mas Umar saat ingin menikah dan bagaimana akhirnya mereka menikah. Kami juga mengemal, Yus istinya yang bekerja sambil kuliah. Mereka pasangan yang begitu baik dan ramah. Siapa yang menyangka harus melewati cobaan ini. Padahal yus diharapkan memberikan cucu pertama bagi keluarganya, tapi apa mau dikata.
 
Beberapa hari kemudian, mas Umar OL, saya yang menganggap dia sebagi rekan kerja sekaligus kakak awalnya agak sungkan utuk menegur mas Umar. Saat itu dia memasang foto bayi. Miris melihatnya. Saya pikir, itu foto bayi yang dia search dari google, tapi setelah ditanya itu adalah foto anaknya. Cantik dan lucu.. dia juga mengirimkan 2 foto itu ke saya
Me    : “mas umar, kok bisa?”
Umar : ”bisa apa”
Me    : ”bisa tegar”
Umar : ”harus, nopi”
 
Saya tertegun lama dan rasanya ingin menangis. Memang sih di YM, saya ga tahu ekspresi wajah mas Umar pas saya tanya hal itu.  Tapi, saya ingat benar dia memang sosok yang tegar dan insya Allah bisa menerima cobaan itu.
 
Saya juga ingat, bagaimana dulu ketika masih kuliah, kedua tangannya pernah putus dibacok orang yang ingin merampok sepeda motornya. Dia solat subuh dalam keadaan tangan putus dan alhamdulillah, atas pertolongan Allah, tangannya bisa kembali disambung walau tidak berfungsi seperti semula. Bekas sambungan tangannya pun masih terlihat. Selain, itu, jari-jarinya kaku, hanya beberapa jari yang bisa dia gunakan untuk mengetik. Dia bercerita ke saya bagaimana dia pernah bermimpi pada saat-saat kritis dia hingga akhirnya dia sadar. Dan yang membuat saya makin salut adalah, dengan keterbatasan fungsi tangannya, dia mampu menjadi desainer grafis yang handal.
 
Yah, hingga hari ini, a masih mas Umar yang sama, yang dengan baik hatinya membantu saya ketika saya membutuhkan file untuk mendesain. Di masih sama, dengan kondisi saat ini.
 
 
Kehilangan kedua
Tak berapa lama jedanya, tetangga saya kehilangan motornya tanpa ada yang mengetahui. Kompleks kami sebenarnya cukup aman hingga banyak orang yang menaruh kendaraan di luar atau pun tidak menggembok pagar rumah, tapi siapa yang sangka justru kenyamanan dan keamanan membuat kami lengah. Jadilah, malam itu tetangga kami kehilangan motornya. Dilaporkan polisi pastinya, tapi hingga hari ini saya tak mendengar kabar motor itu ditemukan.
 
Sebenarnya orang di rumah tersebut sudah merasa ada hal yang aneh di luar. Tapi, menganggap itu hanya kucing, sampai ahirnya tahu motornya hilang. Apra tetangga pun heboh. Kami pun langsung mulai waspada dan mawas diri.
 
Kehilangan yang ketiga
Sewaktu mabit di sebuah masjid sebelum ramadhan, ada seorang akhwat yang kehilangan HP-nya. Di tempat yang mulia itu terjadi pencurian dan kami sama sekali lengah. Padahal seingat saya, saya pun agak santai menaruh barang-barang, termasuk HP. Ketika tidur pun saya memegang hp saya, karena menyetel jam bangun untuk QL. Alhamdulillah, HP saya aman. Sedangkan ada satu orang di antara kami yang pada saat tidur berdekatan kehilangan hp-nya dan itu adalah Hp pertamanya.
—————————-
 
Begitu banyak saya ditunjukkan berbagai fenomena, salah satunya kehilangan. Saya pun pernah mengalami hal yang sama, pernah juga kehilangan.
 
Saya mungkin tak bisa membantu mengurai rasa sedih mas Umar dengan bilang, mas saya juga sedih waktu bapak meninggal atau saya ga bisa bilang ke tetangga saya, dahulu kami juga pernah kehilangan blue gas elpiji dagangan kami ketika kami lengah menutup pagar, atau saya ga bisa bilang ke teman saya itu, saya juga pernah lho kehilangan HP dan saya tahu rasanya.
 
Yah, walau hampir mirip, saya ga bisa bilang, saya tahu apa yang kamu rasakan atas kehilangan itu…
 
 

PAGAR

10 Januari 2008 at 23:49 | In berpikir, terinspirasi | Leave a Comment


saya sedang berada di sebuah halaman…
saya tengah memperbaiki pagarnya

ada sedikit lumut yang mengotori pagar
saya bersihkan hingga bekasnya tak nampak…
ada sedikit karat yang saya amplas…
dan ada sedikit lowong di pagar yang saya berusah tutup rapat…

kenapa bagian ini bisa rusak dan bolong
atau bagian lain yang berkarat tampaknya harus diamplas

saya perhatikan baik-baik
hingga saya mengingat kejadian demi kejadian…

Hmm, tampaknya pagar saya kurang kuat
untuk mengendalikan berbagai terjangan dari alam

tampaknya pagar itu mesti saya cat
dan beberapa bagian benar-benar tidak bisa dipakai, harus saya ganti
tak guna lagi amplas, lap, air dan sikat…
saya ganti saja…

berhari-hari…
waktu terlewati,
saya masih terus memperbaiki pagar itu

kadang hujan, melunturkan catnya
kadang badai, menggoyahkan pagar itu

saya termangu di sudut pagar…
terdiam sesaat memerhatikan pagar itu makin rusak

ketika hari begitu cerah
saya bangkit pergi
meninggalkan pagar itu
tapi, tak lupa menuliskan
“DILARANG MELEWATI PAGAR INI”

saya melewatinya dengan perasaan kusut
hari ini harus saya ganti pagar itu

saya berjalan…
hingga menemukan sebuah tempat indah
“DI SINI DIJUAL PAGAR YANG KOKOH”

saya tersenyum..
“saya ingin membeli pagar yang kokoh” kata saya kepada seorang laki-laki berwajah ramah

“pagar yang mana yang kamu inginkan?” tanya dia

“saya ingin pagar yang kokoh, yang tetap kuat, walau diterjang badai, hujan, petri sekalipun…”jawab saya

“satu lagi, pagar itu tidak akan pernah rusak oleh karat, tidak bolong, tidak kena lumut…”
dia terdiam menatap saya

“saya memang menjual pagar yang kokoh…, tapi saya tak menjamin, ketika pagar itu sudah dipasang akan terus selamanya kokoh, kalau tidak kamu jaga secara baik” jawabnya

“tapi…” ucapan saya tergantung

“selama kamu tak menjaga pagar kamu… tidak mencat, tidak membersihkan dan tidak berusaha melihat dengan baik kerusakan di pagar kamu, kekokohannya akan hilang… dan pengaruhnya adalah rumah kamu akan di datangi banyak hal yang kamu tidak sukai”

saya terdiam…

selama ini saya berpikir, pagar saya sudah cukup untuk memagari rumah saya. saya jarang menengok keadaan pagar itu hingga beberapa hal yang tak saya inginkan masuk ke rumah saya. halus sekali… awalnya mereka merusak dengan adanya karat dan lumut, kemudian pagar itu berlubang dan mereka masuk ke halaman. beberapa bahkan saya temui sudah duduk di ruang tamu saya. awalnya, saya tak mengapa, tapi tiba-tiba mereka merusak perabotan di rumah saya. lampu pecah, kursi terbolak-balik. butuh waktu yang lama hingga mereka pergi, atau kadang masih terdiam di sudut ruangan. dan butuh waktu yang lama juga ketika saya merapikan rumah saya hingga saya sadar, pagar saya memang telah rusak….
“pantas, begitu mudah mereka masuk….”
yups, saya memang tidak menjaga dan merawat pagar saya. saya lupa kapan terakhir mencatnya.

kemudian saya berkata
“baik, saya mengerti… saya ingin membeli pagar kokoh dengan kualitas yang baik”

“Ok… satu pesan saya, rawatlah… maka akan terasa damai rumahmu nanti.”

“terima kasih”

kini, saya sedang duduk di halaman. perhatian saya tak lepas dari pagar itu. kokoh  dan kuat, tapi tak menghalangi hal-hal yang baik yang datang pada saya karena pagar itu mempunyai sinyal khusus ketika ada yang menghampiri.

kemarin sempat ada benda aneh yang ingin melewati pagar itu, dan hampir terbuka dan saya langsung menghampiri…
“jangan biarkan….”ucapan saya terpotong ketika pagar itu menutup rapat… dari kejauhan saya lihat benda aneh itu pergi…
syukurlah

tak berapa lama
sebuah paket lolos masuk melewati pagar itu
isinya sesuatu yang indah…
isinya begitu menggugah..
isinya menyenangkan hati saya…

sumber gambar: www.astudio.id.or.id

malamnya menangis, paginya tersenyum

10 Januari 2008 at 23:49 | In puisi | Leave a Comment

rasanya hangat..
rasanya pilu…

setetes demi setetes
luruhkan sepi…

Allah… harapku,
tangisku malam ini

luruhkan
dengki, cemas, takut…
marah… gagal…

tangisku malam ini
kan kuganti senyumku di pagi ini…

seperti malam yang kan berganti siang, bahagia kan berganti sedih, tangisku kan berganti senyum.

bukankah Allah tahu benar kemampuan hamba-Nya…
bukankah nikmat kelengangan bisa kudapat setelah lelah mengais hidup…
bukankah makin terdesak makin aku hargai waktu

bukankah aku jadi tahu siapa diriku…
bukankah aku terus bersyukur pada-Mu….

Ibu…
tangisku malam ini
bukan karena cabikan hati, tapi karena malangnya aku mengais waktu…

tangisku malam ini
bukan karena luka hati yang menganga, tapi karena jalan hidup tak bertepi

tangisku menyadarkanku…
akan segala yang fana, semu, sempit, pahit…

namun… di sana aku mampu tegak…
menatap cakrawala…
mengenggam mimpi… menjemput bahagia…

tangisku… jangan kau khawatirkan lagi
karena senyumku pada sang mentari

 

 

*cukup bagiku Allah…

……..sepenggal rasa kangen

10 Januari 2008 at 23:48 | In kenangan, puisi | Leave a Comment

Tak terasa….

baru kemarin
kudengar
alunan al quran nan indah
memukau
mengajakku
untuk tetap duduk…..
walau desir angin
walau panas terik….
tak terasa…..
di hadapanku…..
kabah….
kiblat solatku
tak sudi
ku beranjak…..
menatap keagunganMu ya Rab……
Ya Allah….
ku ingin sekali kembali
ke masa itu…..
aku yang kecil ini
dengan ribuan manusia………
ratusan
jutaan
dari belahan
bumi Allah
berkumpul
bersua
aku rindu….
……..sepenggal rasa kangen
Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.