Titik Ordinat

 

Senin pagi sekitar pukul lima, saya ke luar dari kamar. Sebuah senyuman dari ibu menyambut saya. Pagi itu ibu baru sampai dari Solo, setelah dari jumat kemarin ibu pulang kampung untuk menghadiri wisuda abang saya.

 

Saya tahu ibu masih lelah saat itu, tapi dengan wajahnya yang ceria ibu bercerita banyak tentang wisuda abang saya. Pun, ketika salah satu keponakan saya bangun, ibu menyambut ajakan bermain dengannya, hingga ketiga bocah di rumah bangun.

 

Saya ingat, bagaimana ”hebohnya” kami ketika ibu ingin pulang kampung. Saya, mbak dan kakak ipar saya menyesuaikan jadwal ada di rumah. Mbak saya akan mengantar pesanan boneka lebih pagi dan kemudian mengantar ibu ke tempat bus berangkat. Sementara itu, saya yang rencanya membantu acara pelatihan, urung hadir karena harus stand by menjaga 3 keponakan saya. Kakak ipar saya tidak ikut pergi ke banten pada jumat-sabtu. Saya sendiri, mengambil jatah pergi dari rumah hanya pada hari sabtu.

 

Isi rumah kami banyak. ada 6 orang dewasa. Dua diantaranya adalah khadimat. Tapi, begitu ibu berangkat ke Solo, kami sempat panik. Keadaannya saat itu, di toko mbak sedang ramai, saya punya beberapa acara dan beberapa pekerjaan.


Padahal sesuatu yang biasa, kalau ibu  ingin pulang ke kampung, apalagi ada momen wisuda abang saya. Tapi, tetap saja heboh, hehehe

 

Ibu, di rumah kami adalah titik ordinat. Beliau adalah penghubung di antara kami. Sentral dari segala aktivitas yang kami jalani. Ketika ibu pergi, berarti sentral sedang tidak hadir. Dan itu membuat beberapa kegiatan harus di re-schedule.

 

Segala hal yang terjadi di rumah, sebagian besar diketahui oleh ibu. Tanpa disuruh atau tidak, kami akan bercerita. Atau ibu akan angkat bicara bila mulai melihat kejanggalan di antara kami. Bisa dibilang, tak ada yang bisa bohong kepada ibu. Semuanya akan luluh seiring sikap dan perlakuannya kepada kami.

 

Ibu juga pencipta perdamaian di antara kami. Penghubung kalau di antara kami ada konflik. Ibu harusnya menerima nobel untuk hiruk pikuk yang terjadi di antara kami semua. hehehe

 

Ibu, adalah manajer buat saya. Beliau sering mengingatkan pekerjan saya. juga, manajer buat mbak saya. beliau begitu peduli pada bagaimana kami mengais rezeki setiap harinya.

 

Beliau tempat Konsultasi segala jenis masalah. Dari masalah pekerjaan, kuliah, pertemanan, dan lain-lain. Juga tempat konsultasi mbak dan abang saya.

 

Jadi, ketika ibu pergi sesaat saja, rasanya sangat kurang. Mungkin kalau saya yang meninggalkan rumah untuk satu hari, plus menginap, tidak terlalu berpengaruh, tapi kalau ibu yang cuma pergi sebentar, pasti sudah ada banyak yang merasa kehilangan.

 

Titik ordinat itu kini tengah tertidur lelap bersama salah satu cucunya. Melihat senyum dan mengingat kasihnya adalah harta tak ternilai buat kami :)

 

Luv u much Ibu

 

About these ads

Satu komentar (+add yours?)

  1. hmcahyo
    Jan 27, 2008 @ 14:18:43

    pertamax :))
    gmn? lamaran nulis dengan pak shodiq dibalas nggak?
    saya dibalas tuh..

    salam

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 95 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: