Malam

29 April 2008 at 19:52 | In berpikir, hikmah, terinspirasi | Leave a Comment
Blog Entry

Ketika malam menyapa…

Kurasakan sayup-sayup bisikan

Dimanakah dirimu?

Ingin ke mana kau pergi?

Apa lelah jadi hantu tidurmu?

Berbagai Pertanyaan menelusup…

Bicara penuh keingintahuan

Bicara memburu…

Mengajakku terdiam sesaat

Kupandangi dinding-dinding sepi

Kudapati mimpi-mimpi…

Kemarin sore…

Seolah hanya jadi catatan pengantar tidur

Agar tak lelah kuberpikir

Agar keringat tak bergulat dengan emosi jiwa…

Malam…

Sudah malam…

Tapi aku masih terjaga meratap mimpi…

Aku lelah

Setelah sepuluh kilo berlari

Berjam-jam memohon…

Berhari-hari menangis

Malam…

Sampai kapan pun

Kau pasti akan hadir…

Mengajakku memeluk mimpi

Menyadarkanku pada sebuah arti

Aaaah…

Lagi-lagi ku lelah…

Bergumul dengan otak, jiwa dan emosi…

Terkekeh dapati diri kehilangan mimpi

Bagai runtuh istana pasirku…

Bagai runtuh mata hatiku…

Tidaaak…

Malam, jangan tinggalkan aku…

Aku tak mau terkungkung sepi

Nikmati mentari…

Tanpa aku membuka catatan malam…

Semoga Aku Bisa Memulai Lagi

23 April 2008 at 14:51 | In Tak Berkategori | Leave a Comment


“Mbak udah masuk magrib, ya” tanya tukang ojek kepadaku.

”Ga tahu, udah kali” jawabku

Saat itu aku tengah naik ojek menuju rumahku setelah mengambil pekerjaan di sebuah kantor di bilangan Cipete. Aku memang biasa menggunakan transportasi ojek dari tempat aku turun dari bus. Lebih praktis dan cepat, dengan keadaan jalanan Jakarta yang tiap detiknya tak bisa diduga. Macet dan macet.

Motor mulai memasuki kompleks perumahan. Terlihat beberapa orang mengenakan pakaian koko dan sarung tengah berjalan. Tapi, aku tak mendengar suara azan. Mungkin sudah, mungkin belum. Tepat ketika motor berhenti di depan masjid, aku turun dan membayar kepada tukang ojek tersebut. Suasana masjid tampak ramai dengan orang yang berwudhu dan sholat.

”Pas banget” ujarnya.

Kemudian, kulihat dia memasuki halaman masjid. Sementara, aku malah berbelok. Yah, rumahku, tepat di belakang masjid. Hanya beberapa langkah jarakku dengan masjid.

Rasanya ada suatu yang berat. Kenapa aku pulang, bukannya ikut belok dan sholat di sana. Kenapa aku merasa jauh dari tempat yang begitu dekat ini. Aku terus berjalan dan menunduk. Rasanya, hatiku ingin berada di sana, tapi keengganan mengajakku pulang. Toh, aku bisa sholat di rumah. Toh, aku baru pulang dan pakaian aku sudah kotor dan berbagai alasan yang tak juga membuatku merasa benar melakukan hal itu. Lho, bukannya tukang ojek itu lebih kotor pakaiannya, terkena debu dan asap yang menjadi makanan sehari-harinya. Bukankah, aku hanya pergi sebentar.

Katanya memang, wanita sebaiknya sholat di rumah, tapi bukankah lebih nyaman dan syahdu ketika melaksanakan sholat di masjid. Aku biasa ke mana-mana sendiri. Ke mall, toko buku, kantor-kantor klien. Tapi, kenapa aku harus enggan pergi ke masjid yang hanya beberapa langkah dari rumahku. Aku lebih sering sholat di rumah. Itu pun tidak selalu tepat waktu. Aku akan kembali disibukkan dengan perkerjaanku yang menanti. Tak jarang, aku memilih menunda waktu sholatku karena pekerjaanku belum juga selesai. Astaghfirulloh… aku ternyata memang makin jauh dengan-Mu ya Allah…

Padahal, beberapa tahun lalu ketika aku diberi kesempatan untuk umroh dit anah suci, hampir setiap waktunya sholat 5 waktu, aku selalu melaksanakannya di masjid. Bahkan hingga pernah beberapa kali tidak kebagian tempat dan berdesak-desakan. Bahkan ketika tahu aku datang terlambat. Tapi, ketika di tanah air, hanya awalnya saja aku mulai menerapkan sedikit-sedikit, hingga ditelan waktu. Bahkan ketika sholat taraweh, aku lebih memilih sholat di rumah karena enggannya berdesak-desakan dan tidak dapat tempat. Astaghfirulloh, aku makin jauh dengan-Mu…

Kenapa aku merasa dtunjukkan oleh-Nya. Diingatkan oleh-nya, betapa aku mulai tak lagi berada dekat dengan-Nya.

***

Rasanya tak kuasa kutahan air mata ini hingga aku kemudian memasuki rumah. Kutahan diriku untuk tidak menyalakan komputer di ruang kerjaku. Aku ingin diriku tak diburu dengan bekerja dan bekerja. Menyalakan komputer sebelum sholat sering membuatku mengingat berbagai pekerjaan yang harus aku lakukan. Aku segera beres-beres dan terdengar iqomah dari masjid. Aku putuskan untuk sholat di rumah saja. Mungkin nanti ketika azan Isya berkumandang.

Bimbang rasanya hingga kudengar azan Isya berkumandang. Berbagai perasaan berkecamuk. Kalau ke mesjid, aku musti pakai kaos kaki, aku musti buru-buru. Belum lagi alasan-alasan lain yang seolah menambah keenggananku ke mesjid. Padahal, suara azan itu begitu dekat, dekat sekali.

Hingga terdengar iqomah, aku masih di rumah. Aku pun mencari alat sholat dan kaos kaki. Setelah berwudhu, kukenakan alat solat dan kaos kaki. Aku buka pintu, sudah rokaat kedua rupanya. Aku mantapkan kaki ini untuk melangkah. Ya Allah, semoga aku bisa memulainya kembali… Ya Allah, semoga aku bisa istiqomah menjalaninya. Amiin

Akhir Cerita

23 April 2008 at 14:48 | In berpikir, hikmah, kehidupan | 1 Comment

Aku suka bagian akhir cerita itu. Aku akan diam dan menghayatinya, menikmatinya, sambil mengusap air mataku karena terharu. Aku biarkan diriku tersenyum dalam damai. Aku biarkan diriku merasakan indahnya cinta, damainya kasih dan bahagianya mengakhiri setiap episode dengan sempurna.

***

Pada awal cerita memang banyak ditemukan kerumitan. Banyak hal yang mengagetkan dan di luar dugaan. Di kepalaku selalu timbul banyak pertanyaan hingga tengah cerita.

Kemudian, satu-satu mulai menunjukkan wujudnya. Satu-satu mulai mengaku telah membangun dinding yang tebal di sana, mengecat tembok yang satu lagi, merusak pagar, dan menaruh paku di halaman hingga ban mobil kempes.

Aku masih terdiam saat itu, tapi perasaanku ingin marah. Sebuah tangan menyentuh pundakku. Kutatap wajah teduhnya, seperti tersirat sebuah kata di sana, sabar…

Yah, kemudian segalanya berjalan sesuai skenario. Semua terpaku, tertegun, menatap kebahagiaan, mimpi dan cita-cita yang digantungkan bocah-bocah kecil itu. Pelangi nan indah mewarnai layar di hadapanku.

Aku menarik napasku perlahan-lahan. Kubiarkan diriku terbang mengawang, menghirup udara segar, kemudian tersenyum. Kini, aku telah sampai bagian akhir cerita.

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.