Curhatan freelancer Ketika Rindu Ngantor

13 Agustus 2008 at 04:59 | In hikmah, kehidupan | 5 Comments

“Duh, ketiduran”

Jam di Handphone masih menunjukkan pukul 4 pagi. Iya, harusnya malam itu aku tidak tidur, kalau pun tidur tidak perlu sampai pukul 4. Ada deadline yang menunggu, yang harus aku rapikan dan print. Ada tagihan yang musti aku hitung. Ada janji hari ini dan banyak hal lain yang musti aku kerjakan.

***

Terkadang di kala menekuni pekerjaan, terbersit keinginan untuk kembali berkantor. Apalagi, ketika berada pada posisi butuh pertimbangan, bimbingan, ada yang harus dipikirkan dan banyak lagi. Apalagi, kalau tiba-tiba komputer ngadat, printer error, dan hanya bisa tanya sana, tanya sini…

Seringnya kakak perempuanku jadi “korban” dimintai pendapat karena ibu lebih sering bilang “nggak ngerti…” Tapi, ibu tetap yang no satu untuk urusan kepedulian dan perhatian… Two tumbs up for you, mom… ;)

Hehe, padahal konsekuensi freelancer, ya kerja sendiri dan mandiri.

***

Aku resign dari sebuah penerbit akhir tahun 2004. Awalnya karena aku mau meneruskan kuliah S1. Apa daya, nilaiku tak bisa dikonversi dan enggan kuliah lama (4 tahun, bo… D3 yang kemaren ga kepake sama sekali, hiks). Jadilah, aku cari “ilmu” yang lain, tapi tentunya aku harap bisa tetap bekerja di sebuah penerbit yang lebih dekat rumah (penerbit sebelumnya cukup jauh dan butuh waktu 3-4 jam perjalanan pulang balik). Rupanya, Allah berkehendak lain, ketika akhirnya aku diterima di sebuah pesantren terbuka (semacam mahad) dan punya jadwal kuliah yang nanggung (berangkat dari rumah pukul 2.00, pulang pukul setengah 9 malam, sudah termasuk perjalanan), aku masih bisa tetap bekerja.

Alhamdulillah, dua bulan sebelum aku mulai kuliah, penerbit tempat aku bekerja dulu, menjadikan aku outsourcer untuk layout isi buku, sesuai dengan pekerjaanku terdahulu. Kalau tidak salah, order pertama itu Februari 2005 dan pembuatan nota pertama Maret 2005 dengan nama Khansa’Kreatif. Sebenarnya nama Khansa ingin aku gunakan untuk nama pena kalau aku menulis nanti, tapi rupanya aku belum menulis-nulis, jadilah aku pakai nama ini untuk usaha jasa desain dan editing dengan filosofi yang terus kupegang untuk cita-citaku. Berjalannya waktu, ketidaksengajaan ini terus berlanjut, ditambah, ada rekan semasa kuliah yang juga memakai jasaku. Jadilah, aku mengurus dua proyek buku. Dari mulai cari illustrator dan desainer cover, memilah naskah, mengedit, membuat kata pengantar, sinopsis dan mengumpulkan hingga jadi. Mengatur waktu pengerjaan proyek, menghitung biaya dan banyak lagi. Hingga, ketika salah satu buku akan naik cetak, aku sakit hampir sebulan.

Sebagai freelancer, kalau tak bekerja, aku tak dapat uang, dan tentunya tidak ada tunjangan. Tapi, Allah mahabaik, aku mendapat full gratis pengobatan dan perawatan karena saat itu wabah demam berdarah (Februari 2006). Sejak itu, aku selalu ingat untuk makan dan istirahat. Yup, dengan kerja freelance begini, aku harus terbiasa ditekan deadline, ditambah lagi kerja dengan penerbitan yang punya timeline sendiri. Yah, tidak hanya outsourcer, sewaktu aku masih bekerja di penerbit, aku pun beberapa kali bawa pekerjaan ke rumah dan lembur di hari Sabtu.

***

Ketika rindu berkantor, Allah mewujudkan impianku di Tahun 2005. Aku dapat tawaran bekerja lagi setelah pengajuan proposal kerja sama. Saat itu klien sudah lumayan. Hampir tiap bulan ada pemasukan dan catatannya sendiri kadang membuatku berpikir, kerja, kuliah jalan terus, nilai lumayan, hingga karena sakit, aku harus rela menjadi peringkat terbuncit di kelas. Down pastinya, tapi pekerjaan kembali menjadi pelarian… Aku pun mulai sibuk lagi. Bekerja kantor tiga kali sepekan, kuliah sore hingga malam dan bekerja di rumah. Lelah pastinya, tapi aku merasa senang,walau kadang ada amanah dan kuliah pesantren yang terbengkalai. Hingga hari ini tugas akhirku yang idealis tak kunjung selesai. Bandel, nih… :( .

Hmmm, masa menganggur bakda lulus D3 sekitar 4 bulan menjadi pengalaman yang tidak mengenakkan. Aku benar-benar stres dan tak ingin lagi mengalami masa itu hingga aku ingin terus bekerja…

Aku nikmati masa-masa ngantor. Makan siang bareng, kerja bareng hingga ritmenya pun mulai melelahkan. Dua atau tiga kali aku harus pulang di atas pukul 12 malam. Masuk angin, magh, diare jadi langganan lagi. Terlebih aku suka lupa makan, lupa istirahat dan lupa waktu. Setahun berlalu, keadaan perusahaan tampaknya juga tak memungkinkan aku terus berada di sana. Pekerjaan di rumah pun sering bentrok hingga aku mulai kehilangan salah satu klien. Masalah dengan tim juga menambah pertimbangan untuk resign. Yah, bulan Mei 2007, aku resmi resign lagi setelah setahun ngantor. Aku berpikir, rasanya terlalu lelah untuk berada di atas dua perahu. Walau kadang keadaannya saling mendukung, tak jarang juga saling berbenturan.

Aku kembali ke rumah. Saat itu, aku masih memiliki tim khusus. Lagi-lagi, ada cobaan baru, dengan resign-nya aku dari kantor, otomatis, posisiku berbeda dengan dua partnerku. Berkali-kali menyatukan visi dan misi, tapi tak jua bertemu. Isi kepalaku makin beda dan keadaan merongrong aku. Aku jelas-jelas mendapatkan uang hanya dari kerjaan freelance, gayaku beda, cara kerjaku beda, keadaan benar-benar tidak sama. Salah satu partner tidak bisa produktif setelah menikah dan hamil. Pekerjaan di kantornya sendiri juga sudah cukup banyak. Lagi-lagi timpang. Akhirnya, sampai pada keputusan kami berpisah. Nama Khansa’Kreatif kini hanya aku yang menyandangnya. Tapi, alhamdulillah, persahabatan kami jalan terus dan hingga kini aku masih tetap bekerja sama dan sering bertukar pikiran dengan mereka. Dini, ade… kalian benar-benar sahabat yang terbaik :)

Yah, begitu banyak yang terjadi hingga hari ini. Kadang rindu berkantor terobati saat aku mengantar pekerjaan ke tempat klien. Bahkan aku pun pernah kerja di tempat karena beberapa hal. Rindu terobati ketika makan siang bareng, lembur bareng, dan bisa bertukar pikiran. Teman-teman yang ngantor begitu solid dan seru. Kayaknya, enak aja, biasa kerja sendiri dan hanya ditemani winamp, bisa rame-rame dengan teman-teman.

Hmmm, tapi terlepas dari semua itu aku bersyukur, di ruangan 3 x 3 yang hanya tertutup tirai sudah menjadi tempat beraneka ragam aktivitasku. Bekerja, belajar, membaca, menulis, membuat buletin sekolah dan segala aktivitas yang memang kuinginkan ketika aku memutuskan bekerja di rumah.

Aku bisa menikmati pagi di depan rumah, menghirup udara segar, bersepeda sambil mencari sarapan pagi dan tak perlu terburu-buru di tengah kemacetan Jakarta. Yah, syukur itu nikmat karena menurutku, merupakan sebuah pilihan berkantor di mana saja, di rumah atau di perusahaan… tinggal bagaimana kita menyikapi, menjalani, dan menikmatinya. :)


*Sebuah tulisan untuk memotivasi diri dan berusaha untuk tetap optimis

~syukur itu nikmat
nikmatnya bersyukur

~semangatkan hidupmu
hidupkan semangatmu

Antologi Puisi & Kisah Inspiratif : MENGGENGGAM CAHAYA

2 Agustus 2008 at 17:57 | In hikmah, kehidupan, terinspirasi | Leave a Comment
Tags: , ,
Antologi Puisi & Kisah Inspiratif : MENGGENGGAM CAHAYA

Karya : Komunitas Sekolah Kehidupan

Sebuah Persembahan Cinta Antologi Sekolah
Kehidupan

Penulis : Komunitas Sekolah-Kehidupan.com
Cetakan : Pertama, Juli 2008
Penerbit : Sekolah Kehidupan
Tebal : 190 halaman
Harga : Rp. 25,000/buah

Dalam proses pembelajaran diri para insan yang arif dalam menjalani kehidupannya di dunia ini, penuh dengan berbagai warna, berbagai kisah, berbagai tantangan, berbagai pengalaman, yang penuh hikmah di baliknya, yang hanya bisa dilihat melalui hati dan jiwa yang bening. Jiwa yang senantiasa diliputi oleh cahaya Tuhan. Cahaya yang senantiasa tergenggam dalam setiap niat dan usaha. Cahaya yang menggulirkan cinta. Karena hidup adalah anugerah, hidup adalah kesempatan, hidup adalah cinta.

Semangat berkarya dan beramal yang telah mengilhami para anggota komunitas Sekolahkehidupan.com untuk menerbitkan karya-karya sahabat SK/MPers/Netters yang berserakan di dunia maya.

Buku yang merangkum 19 kisah inspiratif dan 31 puisi yang ditulis oleh sebagian besar anggota komunitas Sekolahkehidupan.com merupakan salah satu ruang untuk mengambil hikmah-hikmah yang tersembunyi dalam setiap peristiwa kehidupan dan mengambil pelajaran daripadanya.

“Buku ini bukan hanya inspiratif,
tapi juga menyemai banyak motivasi dan perenungan.
Tak salah bila disebut Sekolah Kehidupan”

Melvy Yendra, penulis, editor, scriptwriter

“Hidup adalah suatu rangkaian proses yang berulang. Dari satu generasi ke generasi, mulai dari terciptanya dunia, serta Adam dan Hawa. Selama dunia belum kiamat, maka sekolah kehidupan akan tetap ada. Tinggal kita saja yang harus menentukan. Ingin memanfaatkannya atau tidak.”

Sinang Bulawan
The Founder

********
Insya Allah akan diluncurkan pertama kali pada perayaan milad Sekolah Kehidupan yang kedua pada Ahad, 27 Juli 2008.

Buku ini dapat diperoleh pada:

1) Stan bazaar milad SK yang kedua di Situ Gintung, Ciputat, pada Ahad 27 Juli 2008

2) Pemesanan dapat dilakukan secara online melalui
GERAI BUKU ONLINE
CP. Epri Tsaqib 08161123323 atau

Sahabat-sahabat yang turut ambil bagian dalam mewujudkan Buku Antologi Sekolah Kehidupan “Menggenggam Cahaya”:
Penyunting : Beni Jusuf, Catur Sukono, Retnadi Nur’aini
Pewajah sampul : Listya Arsianti
Penata letak : Novi (Khansa’ Kreatif)

Penulis (dalam urutan abjad):
Ain Nisa, Andhini Putri, Asma Sembiring, Arham Kendari, Arrizki Abidin, Azwar Nazir, Benny Oktaviano, Bu Has, Catur Catriks, Candrawali, Dani Ardiansyah, Divin Nabb, Dyah Zakiati, Epri Tsaqib, Febty Febrianti, Fely Hilman, Hasan Bisri BFC, Hamasah Putri, Inna Putri, Ichen Zr, Jenny Jusuf, Lia Octavia, Lilyani Taurisia, Lanny Megasari, Listya Arisanti, Lukman Hadi, Meyla Farid, Nera Andiyanti, Novi Khansa, Nia Robie’, Nana S, Penuliz Mizteriuz, Rtenadi Nur’aini, Regantini Salsabila, Rachmad Jr, Syafa’atus Syarifah, Setta, Siu Elha, St Fatimah, Sayyid Madany Syani, Sunu Hadi, Sismanto, Wildan Fikri, Yudhi Mulianto, Yoyong.

Kata Pengantar : Sinang Bulawan
Kata Penutup : Teha Sugiyo

Ulasan Buku Non Fiksi Islam: La Tahzan for Broken Hearted Muslimah by Rinurbad

2 Agustus 2008 at 17:55 | In hikmah | 2 Comments
Tags: ,
ReviewReviewReviewReview Ulasan Buku Non Fiksi Islam: La Tahzan for Broken Hearted Muslimah by Rinurbad

Category: Books
Genre: Literature & Fiction
Author: Asma Nadia dkk
Penerbit: Lingkar Pena Publishing House
Tebal: 214 halaman
Cetakan: I, April 2008
Beli di: Tisera, Jatos
Harga: Rp 38.000,00
Skor: 7,9

Sebelumnya, Lingkar Pena Publishing House (LPPH) pernah menerbitkan
buku-buku seputar pengalaman berurai air mata karena cinta. Sebut saja
Galz Please Don’t Cry, Bidadariku Bukan Untukku, dan Jatuh Bangun
Cintaku. Kisah-kisah nyata dalam La Tahzan for Broken Hearted Muslimah
ini serupa tapi tak sama dengan JBC, bedanya JBC diperuntukkan pembaca
remaja dan lebih kental nuansa keremajaannya.

Setelah membaca seluruh isi buku, berikut beberapa esai yang
meninggalkan kesan amat spesial bagi saya:

1. My Stupid Love at First Sight (Dewi Rieka). Lagi-lagi Dedew
menunjukkan kemahirannya berkocak-ria. Setting di Palembang yang
membuatnya lain dari kisah-kisah cinta remaja pada umumnya kian
melengkapi keelokan tulisan ini. Seraya menuai hikmah, saya
tergelak-gelak dari awal sampai akhir. Dedew mengajak kita
menertawakan diri sendiri dengan segala keluguan dan kenekadannya.
Salah satu istilah yang menempel dalam benak saya adalah sebutan Dewi
Meranggas. Di sini Dedew bertutur lebih lancar dibandingkan esai
satunya, Jatuh Cinta Berjuta Rasanya.

2. Erlang (Intan Arifin). Semenjak menyimak behind the scene-nya
menurut Mbak Intan sendiri di milis pembacaanadia, saya sudah
terdorong untuk membaca esai ini lebih dulu. Tepatlah jika pengalaman
Mbak Intan diletakkan paling muka. Saya trenyuh, terhanyut dalam
keelokan pemaparannya, keterbukaannya yang lembut, sehingga halaman
demi halaman ternikmati tanpa merasa letih karena panjangnya cerita.

3. Cintaku Putus Nyambung (Dyotami). Saya menyukai tulisannya yang
senantiasa segar seperti yang dituangkan Dyo dalam The Real Dezperate
Housewives dahulu. Ada semangat dalam kisah ini. Salah satu yang
menjadikan buku La Tahzan for Broken Hearted cocok dikonsumsi wanita
dewasa maupun remaja.

4. Keping-keping Puzzle (Novi Khansa’). Nopi bukan hanya sukses
menjiwai struktur tulisan khas buku-buku Mbak Asma, tetapi bercerita
dengan lirih tanpa merintih-rintih. Ibarat tangisan, airmata yang
tumpah tak sampai membanjiri lantai. Pemaparan kesedihan yang
proporsional dan relevan dengan judulnya. Membuat saya membayangkan
cinta yang berserakan (karena pecah).

Selebihnya, para kontributor mengisahkan kegagalan masing-masing.
Pengalaman teman yang gagal taaruf berkali-kali, terjebak cinta pada
lelaki beristri, bertepuk sebelah tangan, atau dibiarkan terkatung
tanpa keputusan jelas. Semua mengandung pelajaran betapa cinta kadang
mampu membutakan akal sehat dan ditutup dengan uraian Mbak Asma
berikut hadits-hadits yang sesuai.

Kekurangan buku berkaver indah ini adalah banyaknya salah cetak. Di
flap sampul depan sudah tampak nama Dedew menjadi
Dewi Rieke. Pada profil penulis, misalnya, judul-judul karya tidak
dimiringkan. Huruf besar-kecil pun kerap terlewat. Namun yang paling
mengganggu adalah akhir tulisan Dian Ibung yang tampak belum
selesai karena kalimat menggantung ‘Betapa Indahnya Ramadhan ketika
aku menyiapkan sahur untuk suami dan anak-anak..’(halaman 27).

Secara keseluruhan, La Tahzan for Broken Hearted Muslimah menawarkan
aneka rasa dalam kegagalan cinta dan memperoleh teman hidup idaman.
Merangkum duka, membuat merinding, menggeleng-geleng dan
mengangguk-angguk pada saat berdekatan. Sebuah buku yang patut dibaca
berulang-ulang.


Salam,
Rini Nurul Badariah
http://rinurbad.multiply.com
http://sinarbulan.multiply.com

Mereka yang membuatku tersenyum :)

2 Agustus 2008 at 17:43 | In keluarga | Leave a Comment
Tags:

Muhammad Khoirul Fikri (Fikri, Iki, Bo-Q, abang)

Fahimah Nur Ilmi (Mah, Fahimah, cantik :P )

Muhammad Fahmi Khoiri (Mi, Fahmi, ganteng :P )

Muhammad Fattah Khoirullah (Ata, bulet, dede)

Tak Akan Pernah Mati

2 Agustus 2008 at 17:38 | In hikmah, kehidupan, keluarga | Leave a Comment
Tags:

Akhir masa kuliah, 2003

Tergopoh-gopoh saya berjalan menuju rumah kami. Sederhana, tapi penuh arti. Sebuah rumah yang dengan jerih payah seorang bapak bisa kami huni. Membuka pagar rumah, biasanya saya dapati sepeda motor bapak di sana. Pintu rumah akan terbuka dan terpampang jelas ruang tamu. Tidak ada yang menarik dalam rumah kami. Bahkan tak ada pajangan foto keluarga. Tapi, di sana ada sebuah meja tulis. Di balik meja itu, duduk seorang yang usianya sudah lebih dari setengah abad.

Di tangannya sebuah pulpen atau pensil. Di hadapannya, ada buku-buku, kertas, kalkulator, benda apa saja yang bisa mendukung tulisannya. Posisi meja tulis dan bapak yang berada di baliknya terlihat jelas ketika saya longokkan kepala ini.

”Assalamu’alaykum” hari masih sore ketika saya pulang dari Depok. Sebenarnya saya ngekos di daerah Pindok Cina, tapi untuk beberapa semester, saya memilih pulang. Bapak meminta saya untuk membantu mengetikkan naskahnya. Bapak terlampau tua untuk bisa hapal tombol-tombol kibord komputer. Bapak justru lebih terbiasa menggunakan mesin tik.

Saya dapati senyuman sumringah di sana. Walau alisnya yang begitu tebal menyiratkan kegalakannya. Kumisnya yang biasa saja, entah kenapa mengurangi image ”galak” di wajah bapak. Hmm, untuk sementara, laki-laki berkumis yang saya sukai cuma bapak, hehehe :D .

”Oleh-oleh” ujar bapak melihat saya menenteng seplastik gorengan yang saya beli tak jauh dari rumah kami. Cuma ini, tapi bapak senang… Memang sudah beberapa kali, ketika pulang ke rumah dan masih sore, saya sempatkan untuk membeli gorengan. Entah, apa yang bapak pikirkan, dia selalu senang dengan kehadiran oleh-oleh itu, walau tak semua beliau makan.

Padahal, untuk urusan oleh-oleh, bapak juaranya. Ketika pulang kerja, ada saja yang bapak bawa. Dari mulai beberapa pasang sendal perempuan, pakaian, makanan. Tak jarang, bapak memanggil kami ketika membawa makanan enak.

***

Saya tengah mengikuti pelajaran siang itu di sebuah SMU, ketika seseorang mengetuk pintu kelas kami. Bapak meminta izin, menjemput saya di sekolah. Bukan untuk sebuah kebutuhan mendesak, bukan untuk bepergian atau jalan-jalan atau bukan karena ada kabar buruk. Tapi, untuk sebuah keperluan yang bisa dibilang penting, yaitu membuat KTP. Bapak mengantar saya mengurus KTP di kelurahan dekat rumah kami, yang juga tak jauh dari sekolah saya. Lucu atau memalukan, entahlah. Pada usia yang terbilang dewasa, 17 tahun, untuk bikin KTP, masih dibantu bapak. :D

Hmm, apa karena saya anak manja? Atau karena saya tidak juga mandiri. Sebagai anak bungsu, bisa dibilang curahan kasih sayang mengalir kepada saya. Hingga kakak perempuan saya yang pertama adalah pembela sejati di tengah rengekan saya dijahili orang (maklumlah, sewaktu kecil, saya adalah objek paling lemah untuk dibikin nangis orang :D ). Dia akan berada di garda depan untuk berantem dengan siapapun yang mengganggu saya.

Ingatan saya pun sampai ketika masih SMP, saya tak diperbolehkan untuk mengunjungi saudara saya di Tanjung Priok dengan ”menakut-nakuti” saya akan tindakan kekerasan yang terjadi di mana-mana. Tapi begitu besar, perlahan tapi pasti, bapak mulai menyerahi beberapa tanggung jawab ke saya. dari mulai membayar kredit rumah, menabung, ngantri membayar telepon. Mengantar buku ke sekolah-sekolah saat kami mempunyai toko buku.

Semua itu pun tak terjadi begitu saja. Bapak akan mengawalinya terlebih dahulu, memberi contoh kepada saya. Di sini tempat menabung, ini formulirnya, di sini bank tempat membayar telepon. Kamu naik kendaraan ini untuk ke sana, kemudian yang ini, dll. Hingga, masalah kesehatan. Sewaktu SMU saya pernah harus bolak-balik Rumah sakit untuk check up. Tentu saja diawali dengan terlebih dahulu, bapak mengantar saya, menemani saya ketika diambil darah dan mengambil obat di apotik khusus pengguna Askes. Selanjutnya saya pun dilepas. Tidak hanya itu. Untuk urusan saya mengikuti lomba mengarang antar sekolah, bapak yang membimbing dan mengajari saya hingga kemudian saya mewakili tingkat kelurahan. Ketika saya mengikuti lomba baca puisi saat 17an, bapak juga yang membuatkan teksnya.

Aah, begitu teraturnya, hingga sering luput dari ingatan saya. Secara tidak langsung, bapak menyuruh kami untuk mandiri, tapi selalu memberi contoh dan membimbing. Tapi, entah kenapa di masa-masa saya beranjak dewasa, saya justru melihat bapak sebagai sosok yang otoriter, keras, galak, dan tidak menyenangkan. Kami semua harus ikut aturan beliau. Dari A sampai Z. Dari mulai sekolah mana kami harus mendaftar hingga memilih jurusan.

Saya pun pernah pada taraf kecewa, sebal dan membangkang. Merasa bapak kolot dan kurang pengertian hingga masa-masa itu hadir. Masa di mana saya memilih sendiri tempat kuliah, masa akhirnya saya bisa bebas tinggal ngekos di Depok. Masa saya tak perlu ikut terlalu banyak aturan beliau. Saya merasa bebas untuk sementara waktu. Bebas dalam arti saya boleh sesuka hati tak datang kuliah, atau mungkin hadir 15 menit sebelum dosen ke luar. Saya juga bisa saja tidak pulang ke kos tanpa orang rumah mengetahuinya.

Tapi, siapa sangka, kebebasan itu tak sepenuhnya saya nikmati. Tanpa terpaksa, saya tetap melaporkan keadaan saya yang nyaris masuk aliran tak jelas, keikutsertaan saya di seminar muslimah, dan cerita-cerita lain yang akan membuat saya terdiam. Ternyata, saya masih sangat membutuhkan beliau. Saya tetap masuk dalam wewenang beliau, dan tak bisa sembarangan. Beban nilai memuaskan dan IP yang baik, kembali membawa saya untuk ada di dekatnya. Hingga, salah satu hal pertama yang saya lakukan setelah ke luar sidang tugas akhir adalah menelepon bapak. Saya lulus… dapat nilai B.

***

Januari 2004

Saya memandangi wajah bapak. Tubuhnya kini telah terbungkus kain kafan. Menangis? Jangan tanyakan itu… berember-ember mungkin sudah saya keluarkan air mata ini. Belum lagi saya mendapat tugas menghubungi saudara dan kerabat bapak untuk berita duka ini karena mungkin saya dianggap lebih kuat. Yah, saya mampu berjalan ke pasar untuk beli peniti ketika teras depan akan dijadikan tempat memandikan jenazah bapak. Saya masih mampu mencari-cari kamper dan saya masih dalam keadaan sehat, tanpa pingsan di sini. Hanya saja saya tak sanggup tidur dan makan.

Satu setengah bulan silam. Saya masih melihat senyum itu. Bapak dan ibu berjalan beriringan, tersenyum sumringah menghadiri wisuda saya. Mereka berpakaian dengan motif batik yang sama. Rupanya itu jadi momen terakhir kebersamaan kami hingga bapak mengalami kecelakaan motor yang merenggut nyawanya. Menghempaskan banyak harapan dalam diri saya.

Penyesalan pernah mengecewakan, membantah hingga diam-diam saya ke luar dari pekerjaan membuat saya terpuruk. Seolah hari-hari selanjutnya begitu suram. Saya sempat sakit, menangis-nangis di malam-malam rindu pada bapak. Bapak seperti hilang, padahal baru pagi itu bapak menyerahkan naskah ke saya. Baru tadi pagi bapak senyum. Rasanya, baru kemarin bapak menggendong saya dari lantai atas rumah kami. Atau, ketika kami mengobrol dari A hingga Z. Atau ketika kami shalat berjamaah. Baru kemarin rasanya bapak mengajak saya jalan-jalan, naik kuda. Membawakan kue, oleh-oleh dan memberikan bunga ketika saya wisuda. Baru kemarin…. rasanya. tapi kini dia seperti menghilang… Kini yang bisa saya pandangi hanya nisan bertuliskan namanya.

Selama berbulan-bulan saya masih terus mengingatnya. Kadang tiba-tiba teringat dan menangis. Bahkan, ketika saya diberi kesempatan terindah dari-Nya untuk menunaikan ibadah di tanah suci pada bulan Ramadhan, di tahun yang sama meninggalnya bapak. Saya selalu merasa ditemani. Saya merasa bapak ada di dekat saya. Hingga pada keputusan, saya harus banyak belajar sekembali ke tanah air dan Allah mewujudkannya dengan saya diterima di sebuah pesantren terbuka di Jakarta Pusat.

Lagi-lagi, saya dihadapkan untuk terus mengingatnya.

***

Dari ujung jalan itu, saya akan sambangi rumah kami. Suasana sore yang saya sukai sejak dulu. Rumah ini ada di jalan buntu, tak banyak kendaraan hilir mudik. Beberapa anak kecil tengah bermain. Mbak-mbak khadimat mengejar-ngejar sambil menyuapi nasi. Saya lewati mereka dengan perasaan bahagia. Mau ke mana pun saya pergi, pasti kembali ke sini. Ke rumah yang begitu banyak menyimpan mimpi, cita dan harapan saya. Sudah 25 tahun lebih saya ada di sini. Sempat berpindah rumah dalam satu gang dan kemudian menetap.

Ketika langkah ini memasuki rumah, kenangan itu kembali. Bapak menanti saya di sini.

Ruangan itu kini memang berbeda. Setelah bapak meninggalkan kami, seting rumah kami dirombak. Memang tak ada pernyataan apapun dari ibu. Meja tulis bapak dibawa kakak ke tokonya. Ruang makan dirombak, disatukan dengan ruang tamu. Tak ada lagi pemandangan bapak sedang menulis di balik meja tulisnya. Segalanya diubah. Tapi, tetap ada sesuatu yang tertinggal. Kenangan indah bersamanya.

***

Hingga bertahun-tahun kemudian saya memilih untuk bekerja di rumah. Tak jauh dari tempat bapak menulis, saya tengah mendesain buku, me-retouch gambar, menulis esai, puisi ataupun cerpen. Di sini, di tempat yang tak jauh, saya rasakan semangat bapak menulis puluhan naskah buku sekolah di saat yang sama. Di malam-malam syahdu saat saya belajar membaca dan menulis, saat kami bertukar pikiran tentang politik, saat saya mulai menunjukkan tulisan saya, puisi-puisi yang tak pernah sekalipun saya publikasikan saat beliau masih ada.

Terkadang, ketika saya harus bergulat dengan mata kuliah yang berat, bahasa arab yang susah, hafalan yang tak maju-maju. Ketika, saya menemukan begitu banyak buku yang saya butuhkan untuk kuliah di lemarinya. Tiba-tiba satu demi satu buku itu hadir, dan saya cuma bisa terbengong-bengong. Ataupun ketika saya mendapat order buku yang menarik atau ketika saya usai membuat tulisan, dan banyak lagi. Rasanya saya ingin bercerita pada bapak.

”Pak.. pak..,

Tapi akhirnya saya hanya akan diam. Berandai-andai, bapak ada di dekat saya hingga akan mengalir 1001 satu kisah akan cita-cita dan hobi yang sama. Pertimbangan-pertimbangan dan penilaian yang akan saya butuhkan. Hhh… hingga tangis saya mengalir. Kangen…

Hingga, saya mulai menyadari… kalau bapak memang telah pergi, tapi saya yakin beliau tetap di sini. Di hati ini. Cinta, perhatian dan semangat yang tak akan pernah mati.


23 Juni 1949-21 Januari 2004

Saya persembahkan untuk Almarhum Bapak…

Cintanya takkan pernah pudar

Semangatnya kan selalu membara

*foto ketika aku diwisuda

episode demi episode

2 Agustus 2008 at 17:36 | In ibu, keluarga | Leave a Comment

Suasana malam begitu syahdu dan hening. Aku pikir aku sudah siap dalam kondisi ini. Ketika segala sesuatu sudah dipersiapkan sejak beberapa bulan lalu. Tapi, rupanya aku tetap kaget dan memulai untuk beradaptasi kembali. Ini memang bukan yang pertama. Episode baru terus bergulir seiring waktu. Ini sudah yang ke sekian kalinya. Mengajakku mengatur ritme dengan sebaik-baiknya.

Rumah ini sudah jadi saksi, berbagai episode dalam kehidupan kami. Perginya kami sesaat ketika kuliah di luar kota. Kembalinya kami di sini. Meninggalnya bapak. Pernikahan kakak perempuanku hingga lahir satu demi satu generasi baru yang memanggilku dengan sebutan “bule”.

Tahun berlalu tanpa terasa. Tanpa aku sadari, begitu banyak yang aku dapatkan. Tanpa aku sadari, seharusnya aku banyak bersyukur dengan episode-episode yang aku lalui. Mengingat, banyak hal yang tak terprediksi dalam hidup ini. Meninggalnya bapak secara mendadak memang jadi pukulan berat bagi kami. Selama kurang lebih enam bulan menganggur, sempat membuatku hilang semangat hingga saat-saat itu. Hingga akhirnya, kesibukanku bekerja dan kuliah mengisi hampir seluruh waktu dalam hidupku. Kegiatan yang aku datangi dan banyak lagi.

Berbagai kejadian yang membuatku kemudian tersenyum dan menyadari. Apakah aku bisa dibilang dewasa, ketika satu demi satu memutuskan banyak hal penting dalam hidupku? Mengingat, aku sempat bingung, memilih jurusan IPA atau IPS ketika SMU. Apakah dengan memutuskan kembali ke rumah, adalah jadi ukuran keputusan terbesar dalam hidupku? Hingga kadang, aku pun terus berkutat dengan waktu. Berusaha mengejar ketertinggalan.

Mereka memberi dorongan, ibu memfasilitasi aktivitas dan pekerjaanku. Rumah tidak hanya menjadi tempatku berteduh. Sebagian besar aktivitasku ada di sini. Hampir tiap malam, ibu menemaniku, menghidangkan secangkir kopi atau teh. Ketika kepenatan melanda, aku bisa langsung ke lantai atas dan mendapati tiga bocah lucu yang tertawa renyah. Hari-hari yang tak akan pernah tergantikan. Detik, menit dan jam yang akan selalu aku rindukan hingga episode itu berakhir.

Terhitung dari dua pekan yang lalu, setelah persiapan lebih dari enam bulan. Alhamdulillah, kakak dan keluarganya sudah bisa menempati rumah sendiri. Tak begitu jauh. Masih bisa disambangi dua atau tiga angkutan umum. Tak sampai satu jam, sudah sampai di sebuah rumah penuh jendela yang menyejukkan.

Lalu bagaimana dengan rumah ini? Persiapan-persiapan keuangan, sedikit demi sedikit telah aku pikirkan. Otomatis, aku dan ibu menempati rumah ini. Pembiayaan yang biasanya sebagian besar dikelola kakak, harus beralih ke aku dan ibu. Termasuk dalam hal pengelolaan rumah.

Saat itu, aku pikir, aku akan jalani episode ini dengan ibu. Mungkin ibu akan lebih santai, dan bisa menghabiskan waktu lebih banyak denganku. Aku pikir, secara langsung atau tidak langsung, dengan egoisnya aku mengharapkan ibu terus bersamaku… tapi, ternyata tidak….

Konsekuensi yang aku terima adalah aku di sini tanpa ibu. Kondisi yang benar-benar belum aku persiapkan. Aku bisa saja, kapan saja bertemu ibu. Tapi, aku punya aktivitas yang harus aku kerjakan di rumah ini. Aku merasa bertanggung jawab mengurus rumah ini dan banyak lagi. Sementara itu, aku hanya akan bertemu ibu sepekan sekali. Kesannya cengeng ya? Hmmm, bagaimana ya? Bisa dibilang, aku anak paling dekat dengan ibu. Aku tak pernah benar-benar berpisah dari ibu. Ketika kuliah, walau kos aku sering pulang. Dalam jangka tiga tahun kuliah pun, aku selingi dengan pulang balik.

Mengalah? Keadaan kakak benar-benar sangat repot. Belum lama dia baru saja melahirkan bayi. Selain itu ada Fikri yang baru masuk SD dan si kembar Fahimah dan Fahmi yang berusia dua tahun… Aku memang harus mengalah, tapi jujur, aku merindukan kebersamaan dengan ibu. Mimpi-mimpiku ketika bisa kembali beraktivitas bersama. Jujur, keadaan ini benar-benar belum aku persiapkan. Aku kangen ibu…

Alhamdulillah, untuk sementara kakak laki-lakiku yang di Solo ada di sini. Menambah warna dalam hidupku dengan kesabaran, kecuekan dan banyak hal yang bisa mengimbangiku. Secara tidak langsung, kakak “memaksa” aku untuk belajar masak. Yah, tiap hari kami butuh makan, tapi tak mungkin untuk terus jajan. Kejadian-kejadian lucu dan seru yang mewarnai hidupku, sejenak melupakan “kemelowan” aku “ditinggal” ibu ;) . Menikmati hari-hari yang berubah… Menyiapkan secangkir teh, kopi, atau energen setiap pagi. Coba-coba memasak ini dan itu. Hingga kakak pun menjadi “kelinci percobaan” menikmati masakanku yang mungkin rasanya tak jelas…

Lucunya, kakak tak pernah menghina dan melecehkan aku. Dia memakan “semampunya” masakanku :D , memuji kalau memang enak (mungkin karena lapar :P ) dan sekaligus mengingatkanku untuk makan tiga kali sehari karena aku kadang lebih suka ngemil. Hmmm, dengan begini, memang aku jadi lebih perhatian ke banyak hal yang awalnya aku jalani karena “mau ga mau”. Tapi, insya Allah, kini aku jalani karena aku ingin menikmati episode ini dengan kembali memunguti hikmah-hikmah dan menyemai rasa syukur.

Mengajarkanku untuk tidak terus-terusan berkutat dengan pekerjaan dan aktivitas tetek bengek yang kadang membuatku lupa. Agar aku lebih perhatian pada tanaman di depan rumah atau kondisi rumah yang berantakan. Aku ingin, ketika begitu besar ibu mengamanahkan padaku, dia percaya, kalau aku mampu memegangnya. Tak lagi membuat ibu sedih dan cemas tapi senang… karena aku bisa terus menjadi lebih baik… ;)

Hmmm, bu… moga aku bisa menjalani episode ini dengan lebih baik… :)

Cinta, rindu, kangen dan sayang, yang tak bisa hanya lewat telepon… tapi hati ini begitu yakin, ibu selalu mengharapkan yang terbaik buat kami semua…

Luv u mom, kapan mau nyobain masakan Nopi? :D

Yuk, sekolah ;)

2 Agustus 2008 at 17:31 | In Tak Berkategori | Leave a Comment
Tags:

Banyak hal yang aku sukai ketika masuk sekolah untuk yang pertama kali. Aku pakai baju baru, tas baru, dan ada banyak buku baru. Tentunya juga akan bertemu teman baru, walau tentunya aku masih malu-malu.

Aku teringat ketika pulang dari PRJ (kalau tidak salah) membawa tas baru. Aku senang akan masuk sekolah. Aku senang akhirnya di usia 5 ½ tahun aku diterima di Sekolah Dasar. Walau sempat juga tetanggaku mengambilkan formulir TK dan aku menempati posisi cadangan di SD tersebut. Kakak perempuanku malah sempat bilang kalau aku tidak diterima di sekolah itu. Hiks, aku lupa sudah menangis atau belum hingga akhirnya ibu yang melihat langsung di papan pengumuman kalau aku diterima sebagai cadangan. Entah karena umurku masih kurang atau karena aku belum pernah TK.


Saat masuk SD, aku belum bisa membaca dan berhitung. Aku hanya tahu masuk sekolah dan sekolah adalah tempat yang menyenangkan. Yah, aku hanya tahu bergaya. Lengan kemejaku aku gulung, tak lupa, aku mainkan jambul rambutku. Padahal, nilai pertamaku pada saat itu 6. Yang, penting aku bisa gaya, jadi anak sekolah… halah…

Setelah itu, selama sebulan, bapakku yang juga guru SD mengajari aku membaca. Alhamdulillah, hari itu datang juga…


“DAIKI” adalah kata pertama yang aku baca. Daiki adalah merek sepeda mini punya kakakku. Aku ingat saat itu, hampir seisi rumah heboh. ”Nopi bisa baca… woooy,” hehehe :D . Bapak sempat tanya, apa tulisannya kecil atau besar dan tulisannya kecil, jadi itu berarti, aku bisa baca beneran. :D

Seingatku, saat itu aku sempat merasa aneh. Kenapa mereka begitu senang dan heboh, ya. Padahal kan biasa aja. Yup, aku cukup lemot saat itu. Aku tak menyadari, dengan aku bisa baca aku berarti tak perlu menutup mata ketika melihat tulisan di televisi atau di jalan-jalan. Aku jadi tak perlu malu ketika pakdeku mengetes bacaanku. Hehe, jadi malu, waktu belum bisa baca, aku pernah di test untuk membaca tulisan MONDE di kaleng kue. Aku tahu huruf-huruf itu. M-O-N-D-E, tapi aku tak bisa merangkainya hingga yang ke luar dari mulutku adalah: KUE, EMPING. Aku menafsirkan bacaan itu sesuai isi dari kaleng kue itu. Saat itu, aku benar-benar jadi bahan tertawaan, fiyuh…

***


Ketika meninggalkan jejakku pertama kali di sekolah ini, rasanya ada sesuatu yang beda. Aku bukannya orang yang sering bergaul dengan komunitas maya. Kalaupun, iya, itu lebih banyak teman-teman semasa kuliah atau teman kerja. Aku hanya iseng-iseng untuk klik join di sekolah ini ketika membaca kalau sekolah tersebut mengadakan lomba menulis. Yups, awal aku menjejakkan kaki ini karena aku ingin ikut lomba menulis. Dari dulu, aku suka menulis, tapi betapa sulitnya tersalurkan ketika bekerja. Tapi, entah kenapa, sejak mulai merasakan duduk di kelas. Aku begitu betah. Wah banyak sekali teman baru.



Satu demi satu aku mulai belajar. Awalnya, aku hanya berkenalan, moga dengan begitu, keberadaanku bisa dilihat. ”Eh, aku baru nimbrung, nih di sini, eh ada aku, murid baru yang senang nulis.” Tiba-tiba di pojok kelas sudah ada satu temanku, yang aku kenal di komunitas lain. Selain sekolah di sini, mengenyam pendidikan di luar sana. Wah, subhanallah. Akhirnya, satu demi satu, aku mulai tak malu-malu lagi mengenalkan diri. Walau hanya lewat jendela maya, aku sering menanyakan pelajaran pada mereka. Beberapa kali juga aku mencoba menunjukkan hasil karyaku. Betapa seringnya aku terkagum-kagum membaca tulisan teman-temanku. Kadang ingin menangis dan kadang ingin tertawa. Ada keinginan dari hati ini untuk bertemu dengan orang-orang di balik tulisan itu.

Kopdar hari ulang tahun eska di Kuningan adalah momen pertama aku bertemu wajah-wajah yang begitu ramah dan hangat. Mereka hadir dari penjuru mata angin, bahkan ada yang datang dari Yaman. Sekalian pulang kampung rupanya. Ayo, duduk-duduk… hhh, seperti di kelas benaran saja, tapi memang… Walau baru pertama kali bertemu, rasanya kami sudah saling mengenal, rasanya begitu hangat dan menyenangkan. Memang seperti sahabat dekat, yang ke kantin sekolah bareng, yang saling meminjam catatan, atau nyontek pe-er, halah.

Satu demi satu kopdar aku ikuti. Acara open house di bogor, yang mengawali berdirinya kepengurusan eska. Hingga, akhirnya raker dan halal bi halal di Lembang. Aku jadi teringat ucapan seorang sahabat dari Surabaya. ”Kita tuh kayak acara keluarga, ya…” Yups, keluarga besar Eska yang tengah merasakan persahabatan yang begitu kuat.

Atau ketika, kopdar-kopdar tak resmi seperti pernikahan, ke toko buku bareng, belajar nulis bareng, makan bareng, jalan bareng, atau iseng-iseng ikut rapat salah satu eska daerah. Aku merasakan ikatan kekeluargaan dan kedekatan memberi banyak arti.

***

Selama di sekolah ini, aku mendapatkan begitu banyak pengalaman berharga. Ada yang indah, sedih, lucu dan menyenangkan. Sering aku membuatku berpikir, ini seperti miniatur kehidupan. Sekolah ini berisi begitu banyak manusia, manusia tangguh, pintar, cerdas dan selalu saling membagi. Dari setiap pengalaman yang dituangkan dalam bentuk tulisan sering membuatku tertegun lama, kemudian berpikir. Betapa rasa syukur itu sangat nikmat. Rasa syukurku tentunya menemukan gerbang sekolah ini. Duduk di sini, bertemu teman-teman yang baik, yang tanpa menggurui, memberi begitu banyak manfaat bagi aku pribadi.

Begitu banyak yang sering membuatku berdecak kagum kemudian senang. Dari sekolah ini, aku kenal dengan banyak orang luar biasa. Aku kenal seorang gadis Aceh yang ceria ataupun cah Malang yang lucu, yang mempercayakan perjalanannya di Jakarta kepadaku. Padahal, kalau mereka tahu track record-ku, huuu, ”Cukup sekian dan terima kasih” :D . Tapi, mereka percaya, kalau aku bisa membawa mereka ke tempat yang dituju. Terima kasih, ya ;)

Di sini aku bertemu banyak para guru yang bijaksana. Ada para bapak yang baik hati. Para bunda yang penuh dengan cinta. Para abang, mas, mbak yang mengayomi dan tak jarang juga menjadi tempat konsultasi. Atau bertemu dengan teman sepantaran atau lebih muda dariku yang enerjik, ceria dan penuh dengan ambisi.

Lagi-lagi, aku akan berdecak kagum, ketika aku diamanahkan mengurusi donasi buku dari sahabat-sahabat di kelas. Banyak email, sms, pesan via YM yang datang. Mereka, dengan tulus memberikan harta berharganya (begitu cintanya aku pada buku, hingga itu menjadi harta berharga bagiku ;) ). Apalagi, setelah kemudian, donasi buku diteruskan untuk kembali disumbangkan ke tempat-tempat yang membutuhkan. Paket-paket kembali berdatangan dan tiba-tiba rekening tabunganku terus bertambah dari para relawan yang juga tak segan menyumbangkan uangnya. Hhhh, jujur, aku benar-benar terharu… kalian baik banget, sihhhhh :D (sambil nengok kardus isi donasi buku).

Bulan Mei lalu, tepat setahun aku bergabung di sekolah ini. Sekolah tanpa batas dan menjadi salah satu tempat aku membagi dan menerima banyak hal.

Satu hal lagi membuatku bersyukur karena bisa mengenali tiap huruf dan angka-angka, karena dengan begitu aku bisa membaca. Membaca kehidupan pada sebuah sekolah tercinta. Yang kehadirannya menyenangkan dan keberadaannya memberi warna hidupku. Memberikan cinta yang begitu besar… dari orang-orang luar biasa…. karena dengan begitu aku terus belajar pada kehidupan…


Belajar Kehidupan

Saya tengah terduduk di sebuah kursi dalam ruang

Menatap satu per satu wajah

Membiarkan diri hanyut dalam berbagai kisah

———————

Saya tertawa…

Tertawa kecil,

Hampir tergelak… kemudian terbahak

Ups…

Saya segera menutup mulut saya

Kemudian

Tiba kepada saya sebuah surat

Ucapan “terima kasih”

Atas rasa dan ekspresi saya…

Senyuman kembali tersungging

Kursi saya bergeser ke sebuah tempat

Di sana saya disuguhkan

Ketangguhan, heroisme, perjuangan…

Hingga saya kemudian berteriak…

“SEMANGAT, ya terus SEMANGAT”

Wajah-wajah pahlawan itu menatap saya

Melihat saya yang tengah berdiri, melompat, dan

Mengepalkan tangan saya…

Mereka tersenyum

Senyuman mereka

Mengalir ke aliran darah saya…

Mengobarkan semangat dan harapan saya…

Tapi, tiba-tiba saya limbung

Saya jatuh terduduk di kursi saya…

Sakit, tapi hanya sedikit

Saya biarkan saja rasa sakit itu

Hingga saya menangis

Merasakan kesedihan…

Merasakan kepiluan

Mereka…

Air mata saya jatuh satu-satu

Tapi saya tak mampu berbuat…

Tak mampu membantu…

Saya ingin memeluk mereka

Saya ingin katakan

Mereka tak sendiri…

Hanyut dalam rasa sedih…

Kemudian kursi saya didorong

Sebuah pintu mulai terbuka

Sekumpulan orang tengah duduk, berdiri

Ada yang berbincang

Ada yang membaca buku

Ada yang di hadapan komputer

Satu kesamaan yang ada pada diri mereka

Seulas senyum diberikan bagi siapa saja

Yang melewati pintu itu

Sambutan hangat yang tak lepas

Pelukan cinta dan sayang…

Di sebuah sekolah kehidupan

(5 Oktober 2007)



Yee, semangaaaaaaaat

Dipersembahkan dengan penuh cinta untuk sekolahku, sekolah kehidupan 

*foto: acara2 eska resmi atau tidak resmi (jalan2 :D )

MAAF

2 Agustus 2008 at 17:25 | In belajar, berpikir, hikmah, ibu, kehidupan | Leave a Comment

Maaf, menjadi kata-kata yang sulit, seolah harus mengeluarkan berjuta energi untuk mengucapkan susunan 4 huruf itu M-A-A-F, terlebih lagi jika harus ada syarat… terlebih lagi kalau mungkin kita tak merasa bersalah… terlebih mungkin, kita butuh pengakuan.

Maaf, tapi…
Maaf, tapi…

Iya, dimaafin, tapi
Iya, aku memaafkanmu, tapi…

Apa dengan meminta maaf kita mengalah?
Apa dengan meminta maaf kita jadi orang yang kalah…
entahlah…

Aku ga mau jadi manusia menang dalam perdebatan. Aku hanya manusia yang tak ingin terus disalahkan, tapi aku masih manusia kerdil yang punya tingkat ego berlipat-lipat, hingga, butuh waktu untuk bisa berkata MAAF.

Aku ingin memulai lagi dengan indah, walau kejadian demi kejadian tak mungkin mudah terlupakan, atau justru menjadi label yang sangat memalukan.

Yah, aku harus memulai dengan 4 huruf itu. Bukan karena takut kalah, bukan karena harus mengalah, bukan… tapi karena itu kata-kata yang harus kuucapkan…

MAAF…

setiap kata, mungkin ada khilaf
setiap tindakan, mungkin ada yang menyebalkan
setiap janji, terselip ingkar
setiap amanah, mungkin ada yang terlupakan
setiap rasa di hati, mungkin ada prasangka…

dari lubuk hati terdalam…
aku minta maaf

jelang Ramadhan, sebulan lagi…
moga kita bisa meraih kemenangan di bulan yang hakiki…

*dengan penuh cinta, ibu
kuberuntung memiliki dirimu…

cara saya untuk bahagia

2 Agustus 2008 at 17:22 | In belajar, hikmah, ibu, kehidupan, keluarga | Leave a Comment

Ada banyak cara untuk bisa bahagia. Ada banyak cara untuk memberi hadiah kepada diri sendiri. Ada banyak cara untuk menikmati hidup. Ada banyak cara untuk tersenyum sama halnya, banyak cara juga untuk menangis.

***

Ritme hidup terus berganti. Episode-episode baru harus tayang. Detik dan jam tak menunggu kita yang hanya terdiam, tertidur dan hanya meratap.

Saya dengan segala keegoisan yang ada dalam diri ini. Saya dengan segala aktivitas yang kadang membuat lelah. Saya dengan orang-orang tercinta di sekitar saya. Saya bisa menjadi orang yang sangat mengecewakan. Saya bisa menjadi orang yang keras kepala. Saya bisa menjadi orang yang sangat ketakutan. Saya bisa menjadi orang yang ingin dimengerti, tapi tak mampu mengerti… Saya yang egois…

Tapi, sekali lagi saya beruntung. Beruntung memiliki sebuah keluarga yang mengerti, mengasihi dan menyayangi. Tak akan terhitung berjuta “pelajaran” yang saya dapatkan. Rasa syukur yang teramat dalam ketika mereka mau memaafkan kata-kata, tindakan kekeraskepalaan sifat yang saya miliki dan kekacauan yang saya buat.

***

Sepertinya mentari tak begitu terik siang itu. 1500 lembar lebih naskah yang saya bawa, tentunya tetap berat, hanya saja, saya menikmati. Termasuk menikmati perjalanan panjang Pondok Kelapa-Bekasi-Fatmawati-Cipete-Kampung Melayu-Pondok Kelapa. (Hehe, seperti kernet saja :P ). Terlelap sesaat, menatap matahari yang menyengat, mengingat kulit wajah sangat sensitif dan berakibat wajah memerah, memutih, seperti bendera  :D . Tapi, tak perlu saya hiraukan.

***

Yah, saya bahagia, ketika akhirnya terucap kata maaf dari bibir ini untuk ibu, menyalami tangannya dan panas mata ini ingin menangis. Ingin memeluk, dan katakan pada seluruh dunia, “Ibu adalah yang terbaik di dunia, bersyukur aku lahir dari rahimmu … Maafkan atas khilafku, Ibu… moga tak lagi aku menyakiti relung hatimu…” Tapi nyatanya, saya hanya bisa menangis. “Maafin nopi, ya Bu…”

Yah saya bahagia, ketika walau hanya lewat SMS, saya mampu meruntuhkan keegoisan saya, kekeraskepalaan saya, meminta maaf kepada kedua kakak saya, atas segala kekacauan yang saya buat. Aaaah, rasanya malu mengingat begitu banyak kebaikan yang mereka beri. Konflik itu ada, tapi saya benar-benar mengacau… Terbalas SMS dengan sangat arif dan lagi-lagi membuat saya tersenyum.

Yah, saya bahagia karena mampu melawan kebodohan sikap saya. Saya bahagia, ketika berkali-berkali ditemani SMS sobat-sobat yang baik hati, dering telepon dan tawa renyah saudari saya. Saya bahagia hingga saya ikut bersenandung mendengar lagu di toko buku itu.

Dan menurut saya, saya harus memberi hadiah untuk diri saya karena saya bisa meminta maaf. Selain juga karena naskah yang menjadi pikiran itu, terselesaikan. Karena lelah fisik dan hati kemarin-kemarin hari ini terobati… Terpilihlah, satu buku buat Iki tersayang dan satu buku indah untuk saya.

Yah, yah… bahagia…

Mungkin kalau ada kamu, temanku di sini, aku bisa saja mentraktir, hehehe :P , sayangnya hari itu saya tak banyak bertemu sahabat-sahabat :D

Sempat mengabarkan kepada seorang sahabat akan “kepulihan” diri saya, sambil mengingat utang saya padanya dan dibalas dengan jawaban isengnya :D

…. Btw, hari ini semua orang keliatan cakep, dong, hehehe

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.