Yuk, sekolah ;)
2 Agustus 2008 at 17:31 | In Tak Berkategori | Leave a CommentTags: eska
Banyak hal yang aku sukai ketika masuk sekolah untuk yang pertama kali. Aku pakai baju baru, tas baru, dan ada banyak buku baru. Tentunya juga akan bertemu teman baru, walau tentunya aku masih malu-malu.
Aku teringat ketika pulang dari PRJ (kalau tidak salah) membawa tas baru. Aku senang akan masuk sekolah. Aku senang akhirnya di usia 5 ½ tahun aku diterima di Sekolah Dasar. Walau sempat juga tetanggaku mengambilkan formulir TK dan aku menempati posisi cadangan di SD tersebut. Kakak perempuanku malah sempat bilang kalau aku tidak diterima di sekolah itu. Hiks, aku lupa sudah menangis atau belum hingga akhirnya ibu yang melihat langsung di papan pengumuman kalau aku diterima sebagai cadangan. Entah karena umurku masih kurang atau karena aku belum pernah TK.
Saat masuk SD, aku belum bisa membaca dan berhitung. Aku hanya tahu masuk sekolah dan sekolah adalah tempat yang menyenangkan. Yah, aku hanya tahu bergaya. Lengan kemejaku aku gulung, tak lupa, aku mainkan jambul rambutku. Padahal, nilai pertamaku pada saat itu 6. Yang, penting aku bisa gaya, jadi anak sekolah… halah…
Setelah itu, selama sebulan, bapakku yang juga guru SD mengajari aku membaca. Alhamdulillah, hari itu datang juga…
“DAIKI” adalah kata pertama yang aku baca. Daiki adalah merek sepeda mini punya kakakku. Aku ingat saat itu, hampir seisi rumah heboh. ”Nopi bisa baca… woooy,” hehehe
. Bapak sempat tanya, apa tulisannya kecil atau besar dan tulisannya kecil, jadi itu berarti, aku bisa baca beneran.
Seingatku, saat itu aku sempat merasa aneh. Kenapa mereka begitu senang dan heboh, ya. Padahal kan biasa aja. Yup, aku cukup lemot saat itu. Aku tak menyadari, dengan aku bisa baca aku berarti tak perlu menutup mata ketika melihat tulisan di televisi atau di jalan-jalan. Aku jadi tak perlu malu ketika pakdeku mengetes bacaanku. Hehe, jadi malu, waktu belum bisa baca, aku pernah di test untuk membaca tulisan MONDE di kaleng kue. Aku tahu huruf-huruf itu. M-O-N-D-E, tapi aku tak bisa merangkainya hingga yang ke luar dari mulutku adalah: KUE, EMPING. Aku menafsirkan bacaan itu sesuai isi dari kaleng kue itu. Saat itu, aku benar-benar jadi bahan tertawaan, fiyuh…
***

Ketika meninggalkan jejakku pertama kali di sekolah ini, rasanya ada sesuatu yang beda. Aku bukannya orang yang sering bergaul dengan komunitas maya. Kalaupun, iya, itu lebih banyak teman-teman semasa kuliah atau teman kerja. Aku hanya iseng-iseng untuk klik join di sekolah ini ketika membaca kalau sekolah tersebut mengadakan lomba menulis. Yups, awal aku menjejakkan kaki ini karena aku ingin ikut lomba menulis. Dari dulu, aku suka menulis, tapi betapa sulitnya tersalurkan ketika bekerja. Tapi, entah kenapa, sejak mulai merasakan duduk di kelas. Aku begitu betah. Wah banyak sekali teman baru.

Satu demi satu aku mulai belajar. Awalnya, aku hanya berkenalan, moga dengan begitu, keberadaanku bisa dilihat. ”Eh, aku baru nimbrung, nih di sini, eh ada aku, murid baru yang senang nulis.” Tiba-tiba di pojok kelas sudah ada satu temanku, yang aku kenal di komunitas lain. Selain sekolah di sini, mengenyam pendidikan di luar sana. Wah, subhanallah. Akhirnya, satu demi satu, aku mulai tak malu-malu lagi mengenalkan diri. Walau hanya lewat jendela maya, aku sering menanyakan pelajaran pada mereka. Beberapa kali juga aku mencoba menunjukkan hasil karyaku. Betapa seringnya aku terkagum-kagum membaca tulisan teman-temanku. Kadang ingin menangis dan kadang ingin tertawa. Ada keinginan dari hati ini untuk bertemu dengan orang-orang di balik tulisan itu.

Kopdar hari ulang tahun eska di Kuningan adalah momen pertama aku bertemu wajah-wajah yang begitu ramah dan hangat. Mereka hadir dari penjuru mata angin, bahkan ada yang datang dari Yaman. Sekalian pulang kampung rupanya. Ayo, duduk-duduk… hhh, seperti di kelas benaran saja, tapi memang… Walau baru pertama kali bertemu, rasanya kami sudah saling mengenal, rasanya begitu hangat dan menyenangkan. Memang seperti sahabat dekat, yang ke kantin sekolah bareng, yang saling meminjam catatan, atau nyontek pe-er, halah.
Satu demi satu kopdar aku ikuti. Acara open house di bogor, yang mengawali berdirinya kepengurusan eska. Hingga, akhirnya raker dan halal bi halal di Lembang. Aku jadi teringat ucapan seorang sahabat dari Surabaya. ”Kita tuh kayak acara keluarga, ya…” Yups, keluarga besar Eska yang tengah merasakan persahabatan yang begitu kuat.
Atau ketika, kopdar-kopdar tak resmi seperti pernikahan, ke toko buku bareng, belajar nulis bareng, makan bareng, jalan bareng, atau iseng-iseng ikut rapat salah satu eska daerah. Aku merasakan ikatan kekeluargaan dan kedekatan memberi banyak arti.
***

Selama di sekolah ini, aku mendapatkan begitu banyak pengalaman berharga. Ada yang indah, sedih, lucu dan menyenangkan. Sering aku membuatku berpikir, ini seperti miniatur kehidupan. Sekolah ini berisi begitu banyak manusia, manusia tangguh, pintar, cerdas dan selalu saling membagi. Dari setiap pengalaman yang dituangkan dalam bentuk tulisan sering membuatku tertegun lama, kemudian berpikir. Betapa rasa syukur itu sangat nikmat. Rasa syukurku tentunya menemukan gerbang sekolah ini. Duduk di sini, bertemu teman-teman yang baik, yang tanpa menggurui, memberi begitu banyak manfaat bagi aku pribadi.
Begitu banyak yang sering membuatku berdecak kagum kemudian senang. Dari sekolah ini, aku kenal dengan banyak orang luar biasa. Aku kenal seorang gadis Aceh yang ceria ataupun cah Malang yang lucu, yang mempercayakan perjalanannya di Jakarta kepadaku. Padahal, kalau mereka tahu track record-ku, huuu, ”Cukup sekian dan terima kasih”
. Tapi, mereka percaya, kalau aku bisa membawa mereka ke tempat yang dituju. Terima kasih, ya
Di sini aku bertemu banyak para guru yang bijaksana. Ada para bapak yang baik hati. Para bunda yang penuh dengan cinta. Para abang, mas, mbak yang mengayomi dan tak jarang juga menjadi tempat konsultasi. Atau bertemu dengan teman sepantaran atau lebih muda dariku yang enerjik, ceria dan penuh dengan ambisi.
Lagi-lagi, aku akan berdecak kagum, ketika aku diamanahkan mengurusi donasi buku dari sahabat-sahabat di kelas. Banyak email, sms, pesan via YM yang datang. Mereka, dengan tulus memberikan harta berharganya (begitu cintanya aku pada buku, hingga itu menjadi harta berharga bagiku
). Apalagi, setelah kemudian, donasi buku diteruskan untuk kembali disumbangkan ke tempat-tempat yang membutuhkan. Paket-paket kembali berdatangan dan tiba-tiba rekening tabunganku terus bertambah dari para relawan yang juga tak segan menyumbangkan uangnya. Hhhh, jujur, aku benar-benar terharu… kalian baik banget, sihhhhh
(sambil nengok kardus isi donasi buku).
Bulan Mei lalu, tepat setahun aku bergabung di sekolah ini. Sekolah tanpa batas dan menjadi salah satu tempat aku membagi dan menerima banyak hal.
Satu hal lagi membuatku bersyukur karena bisa mengenali tiap huruf dan angka-angka, karena dengan begitu aku bisa membaca. Membaca kehidupan pada sebuah sekolah tercinta. Yang kehadirannya menyenangkan dan keberadaannya memberi warna hidupku. Memberikan cinta yang begitu besar… dari orang-orang luar biasa…. karena dengan begitu aku terus belajar pada kehidupan…
Belajar Kehidupan
Saya tengah terduduk di sebuah kursi dalam ruang
Menatap satu per satu wajah
Membiarkan diri hanyut dalam berbagai kisah
———————
Saya tertawa…
Tertawa kecil,
Hampir tergelak… kemudian terbahak
Ups…
Saya segera menutup mulut saya
Kemudian
Tiba kepada saya sebuah surat
Ucapan “terima kasih”
Atas rasa dan ekspresi saya…
Senyuman kembali tersungging
Kursi saya bergeser ke sebuah tempat
Di sana saya disuguhkan
Ketangguhan, heroisme, perjuangan…
Hingga saya kemudian berteriak…
“SEMANGAT, ya terus SEMANGAT”
Wajah-wajah pahlawan itu menatap saya
Melihat saya yang tengah berdiri, melompat, dan
Mengepalkan tangan saya…
Mereka tersenyum
Senyuman mereka
Mengalir ke aliran darah saya…
Mengobarkan semangat dan harapan saya…
Tapi, tiba-tiba saya limbung
Saya jatuh terduduk di kursi saya…
Sakit, tapi hanya sedikit
Saya biarkan saja rasa sakit itu
Hingga saya menangis
Merasakan kesedihan…
Merasakan kepiluan
Mereka…
Air mata saya jatuh satu-satu
Tapi saya tak mampu berbuat…
Tak mampu membantu…
Saya ingin memeluk mereka
Saya ingin katakan
Mereka tak sendiri…
Hanyut dalam rasa sedih…
Kemudian kursi saya didorong
Sebuah pintu mulai terbuka
Sekumpulan orang tengah duduk, berdiri
Ada yang berbincang
Ada yang membaca buku
Ada yang di hadapan komputer
Satu kesamaan yang ada pada diri mereka
Seulas senyum diberikan bagi siapa saja
Yang melewati pintu itu
Sambutan hangat yang tak lepas
Pelukan cinta dan sayang…
Di sebuah sekolah kehidupan
(5 Oktober 2007)
Yee, semangaaaaaaaat
Dipersembahkan dengan penuh cinta
untuk sekolahku, sekolah kehidupan 
*foto: acara2 eska resmi atau tidak resmi (jalan2
)
No Comments Yet »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.