Posted by: novikhansa on: 9 Agustus 2009
Beberapa hari lalu ketika sedang beres-beres, saya menemukan banyak kertas. Di antara berkas, kertas, catatan-catatan itu, saya menemukan puisi-puisi. Puisi yang saya tulis ketika SMU dan kuliah D3.
Pengemis
tangan menengadah
meminta belas kasih
hidup bersusah payah
demi anak dan istri
mengais sampah di trotoar
berharap sesuatu bisa tercapai
bagai anjing liar
berbeut, meraih seongok bangkai
hati yang pedih
tersayat pisau yang perih
haruskan menderita
tanpa kasih dan cita
(kayaknya sih bikinnya tahun 98, entah terinspirasi dari mana dan bagaimana, kata2nya hiperbolis yak
)
========
Pergi 21 Des 98
nggak dikira
nggak dinyana…
dirinya telah pergi
tanpa seikat janji
jasadnya tertutup kain
wajahnya terlukis senyum
masa kecil kukenal kamu
saling bercanda dan berbagi
ketika kutatap wajahmu
tak bisa kutahan tangis ini
(tahun 98, setelah kematian teman kecilku…di usianya yang terbilang muda..kalau ga salah saat itu aku kelas 2 SMU, sedih, deh… sebelum aku berangkat aku lihat dulu jasad dia… duh…hiks2, setelah itu, kayaknya aku juga bikin cerpen ttg dia, tapi ga tahu ke mana. Kami ber3 lumayan akrab…Oh, iya.. cerpen JANGAN PERNAH PULANG, terinspirasi dari dia… moga yang terbaik buatnya)
======
Perjalanan barumu
Kau di sana
terpisah jarak dan waktu
untuk berkelana
mengenali pribadimu
semenjak kau di sana
banyak kejadian menerpa
hingga kau menyadari
pentingnya jadi diri sendiri
selintas waktu
semenjak peristiwa itu
kau mengawali kisahmu
dengan sesuatu yang baru
banyak cerita dalam suratmu
kebanggaan atas hal yang baru
yang kau temui dalam duniamu
dunia baru yang bisa menuntunmu
kini ku hanya bisa berucap
kata cinta tulus dari bibir ini
karena segala yang kauperbuat kini
jadi dorongan hidupku
doa untukmu selalu kulantunkan
agar hidupmu di rantauan
tetap membawamu dalam kebaikan
selalu kunanti surat itu
selalu kutunggu dering telepon darimu
walau hanya sedikit sapaan
dan perkataan yang selalu memberikanku dorongan
Terimakasih, kak
(puisi ini untuk mas Agun yang ada di Solo)
(aku lupa bikinnya kapan, yang jelas, puisi ini sempat menghuni book file-ku ketika kuliah D3. Puisi udah aku cut pada bagian2 yang ga penting, hehe.. pengulangan, dll
. Ini satu-satunya puisi yang aku ketik, selebihnya tulisan tangan semua.
Selain menemukan puisi ini, aku juga menemukan surat-surat dari dia. Dulu belum ada HP, jadi kita surat-suratan. Aku punya boks yang berisi surat-surat, kartu lebaran dll dari saudara maupun teman)
=========
Puisi ini Tanpa judul 
Aku butuh uluran tangan
mengajakku menuju jalan-Nya
bukan hanya sekadar ajakan mesra
aku butuh kata-kata
untaian hikmah dalam kalimat yang indah
untuk memberi setetes embun dahaga jiwa ini
aku hanya manusia satu
aku tak hidup sendiri
diri ini tak akan mampu
meraba, melangkahi tapak-tapak jalan kehidupan
aku tidak ingin sendiri
wahai teman,
aku sudah beratus bahkan beribu kilo
berjalan, berlari
mencari “sesuatu” yang mampu kugenggam
banyak manusia,
menyapa, menawarkan
kebahagiaan, kesenangan, cinta
tapi yang kudapat hanya sepi
diam, hampa, tak bernilai
aku ingin kau
jadi temanku, pendamping jiwaku
merapatkan barisan suci
menuju perjuangan abadi
(aku juga lupa kapan bikin ini, seingatku masih kuliah, seingatku waktu itu kan lagi aktif gituh, deh di ADK dan kemudian ada salah satu temanku yang baca yang meminta puisi ini. Aku baru sadar kalau ini ttg pasangan gitu ya kayaknya? aku juga ga ngerti kenapa bikin ini, hehee, kok penafsiranku rada aneh, ya
, aku lagi kenapa ya saat itu, jangan-jangan terinspirasi alam bawah sadar, huehhehe )
==============
AKU
Pasir membentang di negeri Arafat
banyak jalan menuju ke selat
bolehkah kanda menumpang
di kapal pengaduan
Ku bertemu sang pemerhati
yang denganku membuka diri
perhatian dan dorongan
membuat suatu ikatan
Sering kau menyesali nasib
Jangan
Biarlah itu terjadi
sebab yang lama nusnah dan yang baru pasti datang
kau dengar kisahku
melukiskan jalan yang bercabang
persimpangan menghentikan jalanku
kudengar bunyi genderang
kau yang menabuhnya
petunjuk jalan itu
membenarkan langkahku
agar ku tidak terantuk
Maafkan aku wahai sahabat!
bantulah diriku yang kikir
kikir karena benih cinta
(Puisi ini bukan tulisanku, tapi tulisan salah satu sahabatku jaman kuliah. Ini balasan puisi yang aku kasih ke dia. Ditulis dengan tulisan script-nya, hehe dan ada tanggalnya 2 April 2001)
Lucu aja sih kadang kalau lagi beberes, suka menemukan “harta terpendam” gini. Apalagi kalau pas baca kok kayaknya jadi terkenang masa dulu, hehehe
, sama lucu aja, kok bisa-bisanya aku melow atau norak gitu, hehehe
Komentar Terakhir