Jeda

Inilah jeda. Ketika semangat meluap dan aku menjalaninya dengan berjuta asa. Terdiam pada keputusan demi keputusan yang semakin tak memuaskan. Melempar harapan-harapan dan meluapkan kemarahan pada logika dan perasaan.

Inilah jeda. Ketika akhirnya aku memilih menepi dan pergi. Mengalah, tapi bukan berarti mati. Hanya sangat enggan bersua pada harapan dan marah pada banyak alasan yang diumpat oleh perasaan dan ditentang sang logika.

Inilah jeda. Ketika aku memilih bergumul dengan naskah demi naskah agar tak lagi mampu marah dan gelisah. Biarlah aku dalam jeda, mengukir mimpi yang lain sesaat setelah aku tinggalkan sejenak mimpi masa depan dengan perih.

Inilah jeda. Ketika aku sulit menerima. Ketika usia makin beranjak dan terus berlari. Ketika usia yang hanya bilangan tahun pun jadi alasan. Akan anehkah dunia, usia… panjangnya jilbab, aktivitas, hingga mungkin paras. Ada alasan demi alasan yang akan terus mewarnai. Hingga kemudian, akan hadir pertanyaan lagi… apa tak lagi bisa berkompromi atau memang sudah harga mati.

Aku ingin berkompromi pada satu masa demi masa. Aku jujur, aku tak selalu bisa, dan memilih mundur. Betapa susah menerima dengan mudah. Tapi, ada kala aku memaksa diri berkompromi, jauh dari apa yang aku ingini, tapi kemudian aku jatuh dari tempat yang tak ingin kulewati.

Sudahlah. Toh, aku sedang dalam sebuah ruang  jeda, menyimpan kemarahanku yang entah untuk siapa. Aku yang mengetahui siapa diriku, tapi tentunya Dia yang Mahatahu. Aku hanya bermohon, ini caraku dalam sebuah jeda. Aku tahu tak ingin terlarut, tapi aku ingin dalam jeda lebih lama sebentar. Aku ingin kembali hadir nanti dalam dunia asa dalam keadaan damai. Inilah jeda… yang ingin kumanfaatkan selagi aku bisa.

Ini bukan soal dendam dan kemarahan. Ini hanya sebuah jeda agar aku mampu menerima segala bentuk alasan.

Jeda… inilah jeda, kawan,

biarkan aku di sini. Biarkan saja

jika kauingin menemani

duduklah di sini

di sampingku

kita dengarkan kicauan burung itu

kita nikmati semilir angin

tarik napasmu

embuskan…

lupakan sejenak harap dan cemas

bertafakur akan nikmat-Nya

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 98 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: