Hai kawan

24 Agustus 2009 at 05:52 | In Tak Berkategori | 2 Comments

Hai kawan

Apa kabarmu hari ini?

Rasanya sudah lama kita tak bertukar kabar…

Rasanya jarak itu makin jauh…

Rasanya…

Aku masih melihat dirimu baik-baik saja…

Lewat untaian kata yang kau tulis

Kalimat-kalimat yang kau torehkan…

Walau beberapa kali aku melihat dirimu

Tak benar-benar baik-baik saja…

Aku seperti melihat dirimu yang tengah menangis

Duduk di pojokan meratapi nasib

Bimbang,

lelah dalam kebimbangan yang kamu buat sendiri

Galau,

galau yang memang kau lukis sendiri di kanvas perjalanan hidupmu

Ketika aku tanyakan hal itu

Kau tak pernah mau menjawab..

Kamu lebih memilih diam…

Menganggap aku tak pernah bertanya

Entah kau anggap aku ini apa?

Kau lebih memilih berbicara hal lain

Hal yang menurutku tak ubahnya basa-basi…

Sudah begitu jelas segala hal

Ketika tabir tersibak

Ketika kita membuat sebuah keputusan dalam kesempatan

Ketika kita harus memilih sebuah jalan…

Ketika aku melihat banyak hal yang menyadarkan

Ketika…

Lalu, aku bertanya pada diriku

Buat apa aku tanyakan kegalauanmu itu?

Aaah, harusnya apa peduliku padamu

Tapi, kawan…

Aku ingin sekali ini jelas…

Aku tak ingin terganggu dengan apa yang kau torehkan…

Aku tak suka bermain kata-kata dengan masalah ini

Aku tak ingin menduga dan menyimpan prasangka

Aku hanya ingin tahu

Apakah keadaan “kita” sudah baik-baik saja

Atau haruskah aku kembali “pergi” dari dirimu kawan?

Karena terkadang menurutku itu lebih baik…

Aaah, lagi-lagi apa peduliku…

Kau hanya diam

Kau tak lagi beri kesempatan aku untuk bicara…

Bicara untuk kebaikan kita…

Kalau aku harus pergi

Aku akan pergi…

Aku benar-benar baik-baik saja hari ini

Aku sudah kembali kuat

Menapaki jalan yang memang harus aku jalani

Aku bahagia, begitu besar tercurah

Kasih dan cinta keluarga dan sahabat…

Walau aku pernah begitu lelah mencari berjuta jawaban

Dari segudang tanya

Meminta segala macam jenis pendapat

Meminta mereka memahami apa mauku

Tapi, lagi-lagi…

Aku sadar

Mataku makin terbuka lebar

Jadi

Jangan kau khawatirkan diriku

Justru khawatirkan dirimu yang terus terkurung dalam kegalauan

Kebimbangan yang kau buat sendiri

Lalu, daripada aku bingung, risih…

aku juga harus buat keputusan

Tak peduli lagi dengan apa yang kau torehkan

Tak peduli lagi kau bicara apa

Yah, mungkin

Aku memang harus lebih banyak lagi

untuk tidak peduli pada dirimu, kawan…

Tingkah kekanakanmu

Kegalauanmu

Kenaifanmu…

Aaah, sudahlah…

Ternyata benar pepatah seorang teman,

“mari kita tidak peduli”

Pada hal yang memang tak ingin dipedulikan

Kepingan Kisah yang Masih Menjadi Pelajaran…

19 Agustus 2009 at 17:17 | In Tak Berkategori | 2 Comments

Ketika dalam perjalanan pulang kuliah, sebuah SMS masuk ke ponselku:

Aku terharu membaca cerpen keping-keping puzzle. Ngena banget di hati

Sebelumnya, aku dan seorang teman kuliah, berbincang-bincang seru tentang komunitas, kepenulisan, dan lain-lain. Hingga akhirnya aku menyebut salah satu buku keroyokanku. Sebenarnya terkadang agak malu juga menyebut bagian dari judulnya, yakni “brokenhearted”. Berarti kisah di dalamnya adalah tentang patah hati… Iyalah, masak patah tulang :P

Tak disangka, temanku itu menyahut dan bilang: “aku punya buku itu” Haaa, hehehe, spontan kaget, sambil tertawa… Temanku mengatakan baru sebagian dia membaca isi buku itu. Dia juga sempat menanyakan aku memakai nama pena apa di buku itu. Perbincangan makin seru hingga, temanku mengingat penggalan kisah yang aku ceritakan di sana. “Itu kisah nyata?” ujarnya. Pertanyaan dari orang ke sekian setelah membaca kisah itu.

Aku mungkin tak perlu menceritakan tentang apa kisah di buku itu. Standarlah, tentang patah hati, hehe… Tapi patah hati yang bagaimana? Hal itulah yang kemudian dijawab oleh temanku. Katanya cerita itu mewakili kisah yang memang dialami banyak perempuan. Selanjutnya, temanku pun berkisah yang nyaris mirip dengan apa yang aku alami. Aaaaaah…

***

Aku pikir orang yang meng-SMS itu adalah temanku yang tadi mengobrol. Konon katanya, setelah bertemu denganku dia ingin membaca ulang ceritaku di dalam buku itu. Lho, perasaan belum lama kami berpisah karena beda arah pulang, kok langsung SMS. Aku segera membalas sambil tersenyum-senyum. Mau ngeledekin, nih… Hingga kemudian aku telepon si pengirim SMS itu. Aku sudah merasa itu adalah temanku. Ponsel temanku itu sempat rusak, nomor barunya belum kusimpan. Hingga kemudian, suara lain menyahut. Oow, salah orang, hehe… :D

Ternyata, si pengirim SMS adalah salah satu temanku di komunitas lain. Kenapa jadi pas gini, sih?

Belum lama, aku menerima email senada. Seorang anak sekolah yang membaca kisahku juga di buku keroyokan itu. Baru sempat aku balas sekali hingga anak itu pun mulai curhat tentang masalahnya.

Aaah, kisah itu kan sudah lama, tapi ternyata masih menjadi pelajaran. Ternyata banyak yang mengalami hal yang sama denganku.

Yah… memang tak berapa lama setelah buku itu terbit pun, aku beberapa kali dihubungi via email, YM, blog oleh orang yang membaca kisah itu. Hehe, lucu aja. Mereka yang tak mengenalku, tak sungkan menceritakan kisahnya dan kemudian kami pun berbagi. Pengalaman yang tak menyenangkan tapi justru mencairkan sebuah persahabatan baru.

Bahkan beberapa bulan lalu, ada seorang teman dari luar kota yang meng-add aku via YM untuk berkenalan. Lagi-lagi karena dia membaca kisah itu. Kami mulai kontak intens via email, kemudian via telepon, SMS hingga FB. Berlanjut sebuah persahabatan yang tak diduga sebelumnya.  Banyak hal yang kami bagi kemudian dan tidak hanya tentang kisah itu.

Selain dia, ada sahabat lain yang sudah aku kenal dekat pun mau berbagi kisah kepadaku setelah membaca tulisan itu. Hingga kini, kami masih saling dukung dalam banyak hal. Mengikatkan sebuah persahabatan indah.

Kepingan-kepingan yang dulu berserakan dan begitu menyakitkan, ternyata hingga kini masih menjadi pelajaran. Buatku, buat siapapun yang membacanya. Selain itu, aku juga mendapat begitu banyak persabahatan dari sana.

Mengenal pribadi-pribadi yang tangguh yang terus melangkah untuk bisa survive menjalani hidup. Yup, the show must go on.

ANTARA SEPEDA DAN MOTOR

18 Agustus 2009 at 17:23 | In Tak Berkategori | Leave a Comment

PRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT….

Akhirnya, kena, deh

setelah perjalanan kuliah bolak-balik dengan mengendarai motor, hari itu aku kena razia. Hiks…

Saat itu  blank, yang terpikir kok bisa-bisanya polisi segini banyak nangkring di jalan ini. Jalan yang sudah biasa aku lewati ketika berangkat kuliah. Kalau pulang jalurnya beda lagi, hehe…

Kenapa kejadian razia itu datang ketika aku sedang terbutru-buru. Jam kedua aku harus presentasi, tas penuh dengan laptop, fotokopian, dll yang berat, serta jam sudah menunjukkan pukul 1 lewat. Padahal masuk kuliah pukul 1 :D , hehe…

Sampai di kelas, aku lemas. Syukurnya, sang dosen baru masuk kelas. Itu pun dosen pengganti, dosen utama tak bisa hadir. Tapi, emang dasar dari awal ga konsen, kepalaku menerawang entah ke mana saat kuliah.

Sempat curhat ke teman kalau aku baru saja kena razia… Pertanyaan standar… “emangnya ga punya SIM” dan cuma bisa aku jawab “Emang” :D dan akan berbalas kata: “Pantesss”, hehe…

Padahal sebelumnya, sempat mengobrolkan daerah mana aja yang rawan polisi, hehe :D dan memang beberapa kali aku menghindari si polisi di jalan. Rasanya deg-deg gimana gitu kalau lihat polisi, hehe… *lebai, ga, sih :D

***

“Emangnya umur berapa, sih?” tanya salah satu teman beberapa hari setelah kejadian dan topik razia masih jadi perbincangan hangat

“17 tahun” jawabku iseng

“Ooooh” ujar temanku percaya… :D konon katanya melihat wajahku yang masih imut-imut ini, hihihi… *dilarang protes, ini kisah nyata :D

Huaaaa, angka 1-nya diganti 2, bu :D

Di lain kesempatan, seorang teman dengan polosnya bertanya

“Lo kan naik sepeda, kok bisa kena tilang?”

GUBRAKS

Naik sepeda dari Pondok Kelapa-Rawamangun? Bisa gempor tuh kaki, belum lagi, apa bannya bisa bertahan, hehe…

Tapi, wajar juga, sih, temanku ini lebih ngeh lihat aku naik sepeda dibanding naik motor. Aku lebih memilih naik sepeda ke suatu tempat yang sebenarnya bisa lebih cepat dengan naik motor.

ANTARA SEPEDA DAN MOTOR

Aku baru bisa naik sepeda dan menjalankannya itu sekitar kelas 5 SD. Telat ya? Emang. Teringat mitos saat belajar naik sepeda itu, kalau belum jatuh, belum bisa… Alhamdulillah, aku ga perlu memercayai mitos itu sampai akhirnya bisa meluncur dengan sepeda. Saking senangnya mata pun ditutup, hehe.. *senang apa norak, sih? :P

Kalau mengendarai motor, kira-kira aku bisa jalanin itu sekitar kelas 2 SMP, saat bapak membeli motor bebek. Wuiiih, yang ini lebih seru, tentunya tanpa mitos harus nabrak atau jatuh dulu, hehe…

Suatu hari, ketika aku merasa sudah bisa menggunakan motor, aku pergi ke rumah teman yang agak jauh. Temanku pun mengajak jalan-jalan hingga akhirnya sadar bensin habis. Aku memboncengi temanku memberanikan diri menjelajahi jalan yang agak besar. SURPRISE… tepat di belakangku, bapak dengan motornya ikut mengantri beli bensin juga… Oow aku ketahuan, hehe…

Sebenarnya agak-agak takut juga, sih, tapi saat itu, aku ga kena omel :D . Bapak justru membayarkan bensin yang aku beli. Selanjutnya, alhamdulillah, untuk ke beberapa tempat bapak sudah cukup percaya.

Selanjutnya, ketika beranjak besar aku sendiri tidak begitu tertarik melakukan perjalanan jauh dengan motor. Wuiih, jalanan terlalu seram, belum lagi, di motor jelas-jelas ga bisa tidur, kecuali kalau dibonceng kali, ya, hehe.. So, aku juga enggan membuat SIM sampai razia kemarin. Ibu sudah tak mengizinkan lagi aku memakai motor abangku sebelum aku punya SIM. hiks :(

So, saat ini yang masih menemaniku adalah sepeda mini biru yang aku beli setahun lalu. Sepeda mini yang telah menemaniku belanja, jajan, muter-muter kompleks. Selama jarak masih memungkinkan dengan mengendarai sepeda, aku lebih memilih memakai sepeda walau harus berdampingan dengan motor dan mobil… aku akan minggir-minggir…

Syukurnya, lingkungan kompleks perumahan menunjang para pengguna sepeda. Tak jarang, ketika berjalan-jalan dengan sepeda, aku berpapasan dengan pengguna sepeda lain. Paling banyak adalah anak-anak, hehe… Pernah juga malah balapan sama murid TPA-ku, hehe…

Sudah Saatnya

17 Agustus 2009 at 23:12 | In Tak Berkategori | Leave a Comment

Rasanya memang berat dan tak mudah ketika akhirnya aku memutuskan melepas amanah ini. Amanah yang sudah aku jalani bertahun-tahun. Sudah menjadi salah satu warna dalam hidupku.

Mereka duniaku, mereka banyak memberi pelajaran kepadaku.

Tapi, apakah selamanya aku di sana? Bukankah segalanya harus meningkat, berubah dan perlu perbaikan. Banyak jiwa muda yang seharusnya ada di sana. Banyak dari mereka yang juga harus diberi kesempatan.

Apalagi, aktivitasku terus bergulir. Banyak hal juga yang harus aku kerjakan.

Aaah, berat… apalagi melihat wajah mereka yang penuh semangat.

Tapi, lagi-lagi aku bertanya? Sampai kapan ini berlanjut. Menjadi orang yang seolah-olah bisa diandalkan, walau tak jarang juga kerap mengecewakan…

Hmm…

Yah, setelah memikirkannya, merenungkannya… sudah saatnya, aku tinggalkan pijakanku di sana. Sudah ada yang menemani mereka. Sudah ada yang mengawasi mereka. Sudah ada yang menopang mereka… dan banyak lagi.

Aku tak pergi sepenuhnya, tapi tetap di sini dengan sesekali memberi bantuan jika aku mampu.

Sudah saatnya, yang lain diberi kesempatan untuk sebuah ladang amal bernama sekolah…

Sudah saatnya, aku memikirkan sesuatu yang bisa tetap aku lakukan… walau aku tak lagi berada di sana…

Ada Harapan dan Waktu

17 Agustus 2009 at 16:32 | In Tak Berkategori | Leave a Comment

Setiap sedang menunggu bus di pinggir jalan, saya selalu berpikir dan berharap bus yang saya tunggu akan hadir, walau saya mesti berlama-lama menanti. Saya terus menatap kejauhan mobil-mobil yang berlalu lalang, terus melihat dan terus… sampai akhirnya saya melihat di kejauhan sebuah angkot/bus yang akan saya naiki. Kadang, angkot itu sudah terisi penuh sehingga ga jadi saya naiki.

Sewaktu di terminal pun sama, saya menatap terus jalur bus… lama menunggu. Akhirnya, saya coba mencari alternatif angkutan umum. Kalau yang saya tunggu tak kunjung hadir, kenapa terus menunggu. Saya kan bisa mendapatkan angkutan lain yang sama-sama membawa saya ke tempat tujuan. Kemudian,  saya mencoba mencari alternatif bus dengan bertanya kepada teman saya.

Atau ketika saya ingin membeli 1 rim kertas di tempat foto kopi. Ketika saya datang, tempat itu lumayan ramai, yang melayani hanya 2 orang. Mereka sibuk memfoto kopi. Sementara saat itu saya hanya ingin membeli kertas 1 rim dan spidol. Saya melihat di sana tidak ada harapan untuk dilayani cepat, karena begitu banyak foto kopian yang sedang dikerjakan dan tak ada gelagat dari pegawai foto kopi  untuk bertanya keperluan saya. Dan saya sendiri enggan untuk mulai memesan. Saya ga mau menyelak sebelum dipersilakan. Setelah beberapa waktu saya memilih pergi dan mencari tempat lain dari pada menunggu. Mungkin saya akan mendapatkan kertas dan spidol itu, tapi sampai berapa lama menunggu dan itu tidak pasti, padahal saya bisa mengerjakan banyak hal lain.

Sama halnya ketika saya mencoba sesuatu yang baru, di sana ada sebuah harapan sehingga saya mencobanya.

Seperti halnya ketika saya mencoba untuk ikut UMPTN, saya memprediksi diri saya bisa diterima di UNJ atau UNS. Ada harapan yang saya tanamkan dan keyakinan untuk meraihnya. Apalagi, ketika saya menghitung passing grade, nilai saya tercapai. Tapi, siapa yang menyangka, saya tak diterima. Harapan itu pupus.

Coba saya tahu terlebih dahulu kalau saya ga bakal diterima SPMB, saya pasti enggan mencoba, tapi saya ga tahu dan saya punya harapan dan tentunya saya tak menyesali hal itu.

Saya belajar dan menilai langkah-langkah saya ketika mencoba suatu hal. Kadang saya berhasil, kadang saya gagal. Tapi, dari sana saya belajar untuk mencoba dan terus mencoba karena ada harapan di sana. Lain halnya ketika saya melihat tak mungkin lagi menemukan harapan di sana. Saya memilih untuk mundur. Tentunya dengan berbagai perhitungan dengan mencari tahu.

Di setiap hal ada harapan…

Semua hal bisa juga diperhitungkan.

Tapi, segalanya kembali kepada-Nya

Mohon yang terbaik dari-Nya.

The Show Must Go On

14 Agustus 2009 at 03:16 | In Tak Berkategori | Leave a Comment

hadapi saja hidup ini

perjalanan kisah satu

menuju kisah lain

terangkai pada satu kata

perjuangan…

gapai mimpi dan segala cita

raih bintang di langit

walau harus berlari

bahkan melompat…

jalani saja…

dengan

ikhtiar,

doa,

tawakal…

skenario dari-Nya tak akan tertukar

setiap benang kusut pasti ada ujungnya

setiap masalah pasti ada solusinya…

kembali kepada-Nya…

berserah diri kepada-Nya…

jauhkan prasangka

pikiran negatif yang mengotori

tataplah mentari

tersenyum…

hidup ini indah…

SEMANGAT

the show must go on :)

MERDEKA

17-8-2009

Tidak Semuanya Tentang Hal Itu

12 Agustus 2009 at 01:37 | In Tak Berkategori | Leave a Comment

Hmm, kenapa ya, sensitif sekali dengan kata cinta, terlebih cinta di sini adalah cinta kepada lawan jenis.

Hmm, apa karena memang masanya, sudah waktunya?

Tapi, kadang agak gemas juga karena apa yang ditulis seolah selalu dikaitkan dengan cinta… cinta… cinta… apalagi cinta kepada lawan jenis…

Ahh, kawan, picik sekali kamu, tak semua yang aku bahas di sini tentang kisah cinta lawan jenis…

Lagian, melow bener, sih bahasannya itu… :D

Hmm, lagian, selama belum ada ikatan yang bernama pernikahan, cinta antara lawan jenis, bukan apa-apa, malah mungkin ga ada gunanya. Kata yang satu itu cuma ungkapan kosong, kalau hanya mampu keluar dari bibir saja, tanpa ada usaha…

Cinta kan universal, kawan…

Jadi, jangan selalu kau anggap aku selalu bicara cinta yang itu, karena aku juga punya banyak cinta dari keluarga dan sahabat :)

apa yang harus kutangisi

11 Agustus 2009 at 12:50 | In puisi | Leave a Comment

apa yang bisa kutangisi

apa yang bisa membuatku sedih

apa yang harus aku tangisi?

ketika awan berarak meninggalkanku…

ketika bulan menatapku murung

bintang-bintang menjauh

meninggalkan pekatnya langit

gelap

jangan pernah kalah

dengan hal semu

kefanaan yang menjaring asa-asa

ketakutan yang memalukan

Sepi…

Dari Minder, Jadi Mundur?

11 Agustus 2009 at 08:46 | In berpikir | Leave a Comment

Topik belakangan ini adalah MINDER.

Soal Belajar

Entah kenapa, penyakit yang satu itu menggelayuti diriku. Ketika masuk kuliah pertama kalinya, aku langsung menciut di balik meja. Minder. Kenapa aku minder? Karena aku merasa tak punya apapun di sini. Kemampuanku bisa dibilang nol besar. Walau sebelumnya aku pernah kuliah di pesantren terbuka, ternyata sudah banyak yang hilang dari otak. Sudah banyak yang terlupakan.Sementara itu, aku bertemu dengan wajah-wajah yang konon sudah berpengalaman atau punya latar belakang ilmu yang cukup bagus.

Aku mengajar TPA. Kemampuan membaca Al-Qur’anku biasa saja, hingga akhirnya ada test di kampus, kalau masih banya kekurangan di sana-sini. Lalu akankah aku minder? Jujur, aku malu dan khawatir. Aku yang mengajar TPA ini ternyata punya kemampuan rendah di kelas. Aku juga khawatir, kalau-kalau apa yang aku ajarkan kurang dan salah-salah… Sampai aku memikirkannya terus.

Ada bagian dari diriku menuntut mundur, tapi ada bagian dari diriku bertoleransi atas kemampuanku. Masak sih aku tega ninggalin anak-anak bermata jernih hanya karena keegoisanku? Nggak, kan? Bukankah aku justru harus lebih banyak belajar agar aku bisa terus mengajar?

Yah, aku ga mau lari, karena aku ksatria  :)

Biar kata kemampuanku masih seadanya, aku ga mau minder, aku harus belajar… dan mengajari mereka apa yang telah aku ketahui.

Soal Jodoh

Ada cerita soal ini.

Untuk yang kedua kalinya, sebut saja May, dia  bertemu dengan orang yang minder… Minder entah kenapa? Minder entah karena bertemu sosok May? Seorang wanita biasa.

May kecewa untuk hal yang satu ini.

Kasus pertama yang dialami May. Banyak kejanggalan, walau tetap, sih ada kata minder di situ. Sebut saja si Dewa, yang enggan menyatakan perasaan dan meminta May untuk taaruf karena minder. Padahal, kata Dewa, dia telah menyimpan perasaan kepada May cukup lama. Mereka berteman baik, seperti sahabat.

Tapi, Dewa minder untuk bilang perasaannya itu karena merasa dia bukan siapa-siapa… Lah, emangnya May siapa? pikir May saat itu. Kasus ini mirip Fahri kepada Nurul di AAC. Lalu, berbagai hal terjadi hingga ketika segalanya sudah terlambat. Kunci pertama yang menjadi pembuka banyak kejadian yang melelahkan bagi May dan Dewa adalah minder.

Oh, ya, lain soal kalau “minder” hanya dijadikan alasan atau kambing hitam, ya…

Kasus kedua, Arga tidak mengenali May, mungkin hanya tahu sedikit dari kawan yang menjodohkannya. Atau dari tulisan-tulisan May.  Tapi langsung minder ketika mengetahui identitas May. May identik dengan kata alim, fanatik, dll dengan tampilannya saat ini.

Kecewa lagi…

=============

Minder lawan dari tidak percaya diri.

Minder dengan efek yang baik akan membuat si penderita bangkit agar bisa mengalahkan penyakit yang satu itu.

Minder dengan efek tidak baik, memilih mundur dan tak berjuang… dan itu tidak ksatria…

Aku memilih berjuang, walau kemampuanku saat ini memang belum seberapa…

Bukankah dari angka nol akan bergulir jadi satu, dua, kemudian, tiga, empat dan seterusnya

Harus Dilewati..

10 Agustus 2009 at 08:42 | In Tak Berkategori | 2 Comments

Sebenarnya bukan kebencian dan kemarahan yang ingin aku simpan… Tapi entah kenapa, rasanya aku harus melewati masa itu. Masa ketika rasa sakitku begitu besar kepada seorang yang cuma bisa “lari”. Aaah, tak ada bedanya dengan orang yang dulu… Ironis, padahal dia yang dulu menasehatiku. Sekarang dia yang “sengaja” atau “sadar” bersikap begitu padaku.

Sudahlah… melelahkan. Menghadapi keanehan, sikap, yang sengaja dipertunjukkan, tapi ketika ditanya lari dan lari lagi. Lalu, apa gunanya buat aku.  Yang hanya ingin memastikan. O ow apa gunanya…?

Seharusnya sekarang adalah, apa peduliku. Mau dia bertingkah seperti apa… Itu terserah dia… Hmm, butuh proses sih untuk bisa menerima keadaan ini semua. Mungkin ini adalah  tahapannya. Prosesnya. Walau sebenarnya, keadaan ini ga enak… Gimana enaknya, rasanya muak :P

Hmmm, terpikir dengan tulisan masa lalu, yang jadi pelajaran buat orang lain.. Apakah akan tetap jadi pelajaran andai mereka tahu kalau dia yang menasehati tidak jauh berbeda…

Aaah, dunia, kehidupan, apapun bisa terjadi, tak ada yang abadi. Seperti halnya perasaan kesalku di hari ini…

Banyak hal yang harus kukerjakan…

SEMANGAT :)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.