belajar · fiksi · hikmah · kehidupan · terinspirasi

Doakan Dinda, ya



 

Dinda membuka sebuah pesan dari inboks Hp-nya. ”Mbak aku boleh ikutan organisasi XXX, ga?” isi pesan itu dari mantan binaannya yang telah berkuliah.

 

Dinda hanya tersenyum membacanya. Tersenyum karena organisasi XXX sama sekali tidak berbahaya. Senyumannya juga karena pertanyaan ini adalah pertanyaan ke sekian kali dari binaanya yang sama. Sebelumnya, dia pernah meng-sms Dinda kalau  pernah dimintai data oleh kakak kelasnya demi kepentingan Rohis kampus.

 

Funny namanya, memang lucu dan ”fun” orangnya seperti nama yang disandangnya.

Alhamdulillah, Funny lulus dengan nilai memuaskan dan diterima di sebuah universitas negeri di Semarang.

 

Yah memang, semenjak Funny dan teman-temannya lulus, Dinda selalu mewanti-wanti mereka agar tidak terjebak dengan berbagai macam aliran. Apalagi, kerap banyak aliran-aliran beredar di kampus-kampus. Perekrut aliran sesat itu memanfaatkan keingintahuan dan ghiroh keislaman para mahasiswa baru.

 

Hal ini pernah menjadi pengamatan yang mendalam bagi Dinda. Belum lama Dinda diminta mengisi kajian tentang aliran sesat bersamaan dengan penerimaan mahasiswa baru. Semalaman Dinda mencari sumber-sumber pada aliran tertentu yang merebak di kampus mana pun. Penelusuran via internet kemudian kembali membuka mata Dinda yang telah lama tak bersentuhan dengan dakwah kampus. Kalaupun iya, itu sudah sangat jarang.

 

Walau akhirnya tidak jadi mengisi kajian tersebut. Mengingat keadaan mahasiswa baru yang terlihat letih, akhirnya Dinda memilih memberi materi penyemangat menyambut bulan Ramadhan. Tapi, beberapa bundel sempat Dinda bawa setelah mencetak dari informasi yang Dinda dapat dari internet. Fiyuh, padahal baru satu aliran yang dicari, bagaimana kalau banyak.

 

Semenjak masih kuliah, Dinda memang kerap berburu informasi yang berbau aliran-aliran sesat. Bukan tanpa alasan Dinda berbuat demikian. Ada banyak hal yang melatarbelakangi hingga kemudian Dinda membeli buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia karya Hartono Ahmad Jaiz.

 

Dinda sangat ingin tahu mengenai aliran yang berkembang di Indonesia karena Dinda nyaris terjeblos pada salah satu aliran tersebut. Hanya karena hidayah dan pertolongan Allah, Dinda bisa terselamatkan dengan mudahnya, tanpa rongrongan dan tanpa ancaman, walau tetap harus ada yang dikorbankan.

 

Bermula dari keakraban Dinda dengan teman satu jurusan di kampusnya. Rasa dahaga Dinda tentang pengetahuan agama terjawab setelah kehadiran Nadira. Nadira mengajak Dinda menghadiri sebuah kajian di sebuah masjid kampus. Di sana mereka belajar hadis dan ternyata tidak hanya Dinda, tapi ada Dewo, Risa, Ratih dan Maya, teman-teman satu kampus Dinda dan Nadira.

 

Segalanya begitu menyenangkan dan berbeda dengan kajian pada umumnya. Dinda dan teman-teman berkumpul dalam satu lingkaran. Laki-laki dan perempuan tanpa hijab. Kadang bercanda, kadang gelak tawa mewarnai. Tapi, ternyata justru itu kejanggalan awal yang Dinda rasakan. Perasaan itu Dinda tepis hingga Dinda mulai menjalani pertemuan demi pertemuan. Dinda tahu pemateri kajian adalah mahasiswa pintar di kampus yang sama. Wah hebat, pikir Dinda saat itu.

 

Hari berganti hari, ketika akhirnya Dinda mendapatkan buku dari Maya. Buku itu berisi hadis-hadis bertuliskan arab, tanpa ada tulisan Indonesia sama sekali. Kecuali, bagian halaman akhir yang merupakan nama lembaga. Sebelumnya, Nadira tak pernah cerita nama lembaga yang mewadahi kajian ini. Hmm, karena ketidaktahuan dan kenaifannya, Dinda malah berburu lembaga itu. Dinda nyaris ingin mendatangi lembaga tersebut yang ternyata memiliki cabang dekat tempat tinggal Dinda.

 

Sungguh keterbukaan merupakan sesuatu yang patut disyukuri Dinda hingga hari ini. Keinginan itu Dinda sampaikan kepada orang tua Dinda ketika makan malam bersama. Ayah Dinda yang mendengar keinginan Dinda untuk masuk ke dalam lembaga itu, memperingatkan Dinda dan menceritakan sepak terjang aliran tersebut. Hmm, memang dasar Dinda yang keras, bukannya menuruti perkataan ayahnya, tapi tetap kekeh untuk masuk ke dalam lembaga itu.

”Aku kan cuma belajar aja, ga masuk”

”Nanti kamu bisa terpengaruh” ujar Ayah Dinda.

 

Pembicaraan itu tidak lagi berlanjut. Dinda kembali ke kosnya dan ayah Dinda jarang mengungkit lagi masalah itu. Ayah Dinda percaya, Dinda sudah besar, sudah dewasa, sudah tahu yang mana yang mesti dipilih. Bukan tanpa perhitungan, ayah Dinda membolehkan Dinda, anak bungsunya untuk berkuliah di luar kota. Ayah Dinda tahu benar, segalanya butuh proses untuk itu. Terlebih lagi, Dinda adalah anak yang terbuka dan tak akan mengkhianati kepercayaan dari orangtuanya.

 

Lama waktu berjalan, Dinda lupa persisnya hingga Dinda menjadi tahu tentang aliran tersebut. Aliran itu sudah lama hadir, turun temurun dari orangtua, tidak menyukai boneka, menganggap kafir orang di luar aliran tersebut. Kalau ada orang yang datang ke rumah orang tersebut, maka bekas tempat duduknya, akan dipel, dibersihkan. Baru itu saja yang Dinda ketahui tentang aliran tersebut.

 

Perasaan Dinda sempat was-was bila waktunya kajian pekanan tiba dengan aliran tersebut. Alhamdulillah, Dinda mendapat jalan keluar. Pada waktu yang sama, Dinda mendapat jadwal mengajar di organisasi kampus. Selain itu, pelan tapi pasti, Dinda mulai menjauhi Nadira. Memang berat terasa, tapi Alhamdulillah, segalanya begitu mudah tanpa menimbulkan kecurigaan.

 

Dinda mundur teratur dan mulai berhati-hati dengan gerak-gerik Nadira dan teman-teman lain. Dinda sempat berpesan kepada teman-teman dekat Dinda yang juga dekat dengan Nadira untuk berhati-hati. Jujur saja, Dinda memang main belakang karena Dinda tak bisa berkata langsung dengan Nadira. Dinda memilih mengajak teman-teman untuk mewaspadai gerakan Nadira. Entah, Nadira tahu apa tidak keadaan itu.

Berjalannya waktu, Dinda mulai mendengar teman-teman lain mulai ada yang didekati anak kampus. Kali ini beda aliran. Dinda siap sedia mendengar curhatan teman-teman mengenai aliran sesat. Alhamdulillah, teman-teman dekat Dinda tidak terpengaruh aliran aneh tersebut.

 

Semenjak kerja, hanya sesekali Dinda mendengar tentang seorang teman yang diduga sudah masuk aliran tersebut. Hingga suatu hari Dinda mendengar cerita dari Nera. Nera merasa takut karena di kantornya, bila tidak ikut pengajian di kantor akan dikeluarkan. Sementara itu, Nera tahu kalau pengajian tersebut menganut aliran sesat yang berhubungan erat dengan Nadira.

 

Dinda masih ingat ketika menerima telepon Nera yang menangis, ketika harus dihadapkan pilihan untuk ikut pengajian dan atau keluar dari pekerjaan. Dinda mendengarkan curhatan Nera. Alhamdulillah, kalau memang harus ada yang dikorbankan, akhirnya Nera memilih untuk mengundurkan diri dari kantor tersebut. Ada perasaan lega menyelimuti hati Nera dan Dinda. Yah, walau harus berkorban untuk mengais rezeki, paling tidak, Nera tak perlu mengikuti pengajian yang punya misi tertentu itu.

 

Dinda jadi banyak belajar dengan adanya aliran-aliran tersebut. Dinda jadi makin ingin tahu dan berharap tak ada lagi bibit generasi Islam yang terpleset seperti Dinda. Oleh karena itu, Dinda berkali-kali mewanti-wanti binannya untuk waspada, dan menceritakan segala sesuatu pada Dinda. Untuk sementara, ada sekitar 5 orang yang masih terpantau oleh Dinda. Selebihnya mereka tak begitu aktif menceritakan keadaan kampus mereka.

 

Salah satu rencana Dinda adalah mulai terlibat aktif di pembinaan dakwah sekolah. Dari sana Dinda akan coba mengajak mereka untuk waspada pada gerakan perekrutan yang memakai nama Islam. Selain itu, Dinda akan aktif memantau dakwah jurusan di kampus.

 

Salah satu kajian yang ingin Dinda sampaikan adalah bagaimana mewaspadai aliran dan gerakan sesat. Dinda ingin mengajak adik-adiknya di sekolah dan di kampus berpikir secara rasional dan logikal ketika dihadapkan pada tawaran-tawaran memasuki sebuah lembaga yang mengatasnamakan diri Islam.

 

Seperti halnya, harus menebus dosa dengan menyetor sejumlah uang. Menyembunyikan identitas gerakan, pertemuan-pertemuan di tempat-tempat tertentu yang tidak diketahui.

 

Memang pada awalnya, aliran-lairan tersebut tidak langsung membuka diri, tapi paling tidak kita bisa bersikap kritis. Bukankah keingintahuan dan ghiroh seorang pemuda pada Islam adalah salah satu bentuk sikap kritis mereka.  

 

Bisa dibilang para siswa dan mahasiswa yang direkrut adalah mereka yang melek Islam dan ingin belajar secara mendalam. Mereka belum tahu benar tentang Islam dan masih meraba-raba. Ghiroh itu dimanfaatkan oleh para perekrut aliran. Wallahu’alam, kalau maksud para perekrut adalah untuk kebaikan di mata mereka, tapi sebenarnya justru melenceng jauh.

 

Doakan Dinda bisa memulai kembali dan meneruskan beberapa hal yang telah direncanakan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s