fiksi · terinspirasi

[dua sahabat] Pembicaraan Sunyi


 

 

Dua orang sahabat kali ini kembali bertemu di sebuah taman yang indah. Setiap seminggu sekali, mereka akan bertemu di tempat yang sama, di jam yang sama. Di sana di sebuah bangku taman yang menghadap danau.


Sisi belakang bangku adalah taman bermain. Letaknya di balik pohon. Ada pagar yang mengelilinginya.

 

Dari pukul sembilan pagi hingga ashar menjelang, bahkan bisa hingga azan maghrib. Mereka tak pernah meninggalkan bangku taman itu, kecuali waktu sholat menjelang. Untuk makan pun seringkali mereka tetap memilih duduk di bangku taman itu.

 

Keduanya sering membawa bekal. Setiap jenis makanan yang ada dibagi dua. Ada roti, coklat silverqueen, kue sus, kue black forest, ubi, singkong,  tempe goreng hingga nasi goreng gosong…

 

Bangku taman itu saksi persahabatan mereka berdua. Bagaimana setiap pekan mereka bertemu. Hanya sekadar bercerita, diam menatap danau atau hanya sekadar tahu kalau mereka baik-baik saja.

 

Dengan keduanya bertemu dan berada di sisi mereka. Itu saja sudah membuat mereka lega dan senang.

 

”Bagaimana kabar kamu?” pertanyaan standar itu tak pernah mengawali pertemuan mereka.

 

Genggaman tangan, bersalaman, mencium pipi kemudian duduk. Posisi yang sama tanpa perubahan.

 

Kemudian mereka diam.

 

Kadang ada yang membaca buku, mengeluarkan laptop dan menulis, atau hanya memotret setiap sudut taman yang indah dan danau yang menyejukkan.

 

———

 

Ketika salah satu dari mereka mulai menangis, yang satunya lagi mulai mendekat dan menggenggam tangan sahabatnya.

 

Sahabat yang satunya tidak bercerita, tetapi terus menangis…

Kemudian sahabatnya memberi segulung tisu dan membiarkan dia menangis…

 

Tidak ada aktivitas apapun selain itu.

 

Tak lama, si sahabat yang menangis pun memberikan sebuah surat.

Diam…. 

 

Tetes demi tetes air mata…

 

Si sahabat hanya membaca tulisan itu, tapi terus menggenggam tangan sahabatnya. Ada kilatan kemarahan dan sedih hingga ia menyadari, wanita rapuh di sampingnya tidak butuh kemarahan, tidak butuh nasehat palsu, dia hanya butuh kekuatan….

 

Dipeluknya sahabatnya itu.

 

Kelegaan mengeluarkan air mata di hadapan sahabatnya, membuat dirinya kini merasa lebih baik. Pelukan dari si sahabat memberi kehangatan yang tak ternilai….

 

 

————-

 

Setelah tangis itu usai. Sang sahabat pun pergi. Sesaat kemudian dua mangkuk es krim sudah ada di tangannya.

 

Tetap tanpa perkataan apapun memberikannya kepada si sahabat yang masih mengusap kedua pipinya yang basah.

 

Sahabat menerima es krim coklat vanila dan melahapnya.

 

 

——————–

 

Hingga ashar menjelang. Mereka hanya duduk di sana. Tangisan tak ada lagi. Si sahabat yang menangis kini tengah sibuk dengan laptopnya. Menulis berbagai hal dalam hidupnya. Menulis kisah persahabatan yang indah.

 

Sementara, si sahabat yang satu lagi tengah membaca buku ”The Secret”. Merasa memperoleh kekuatan baru untuk bisa berpikir positif. Ingin membendung tangis sambil bertahan dari kecamuk perasaan.

 

Si sahabat sadar ada yang tengah terjadi dalam kehidupan sahabatnya. Diletakkan laptop itu, diperhatikannya sahabatnya yang tengah membaca buku. Satu halaman itu tak pernah dibalik, matanya tak melihat buku, tapi menerawang. Ada air yang menggenang di sudut matanya. Sepertinya berusaha ditahan, tapi tak mampu.

 

Si  sahabat sadar, sahabatnya mulai memerhatikan perilakunya.

 

Kemudian kedua pasang mata itu bertemu. Sebuah amplop kini sudah berpindah tangan.

 

Isinya diagnosis penyakit jantung yang diderita sahabatnya.

 

Si sahabat berpikir. Lagi-lagi masalah yang dimiliki tak seberapa dibanding dengan masalah sahabatnya. Tapi, lagi-lagi, dia lebih kuat dari dirinya.

 

……………………………………………………………..

 

 

 

 foto: http.bp2.blogger.com

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s