hikmah · kesedihan

Jejak


 
Rabu pagi saya mendengar kabar yang mengejutkan…
Seorang mantan diplomat yang bukunya saya layout dan proof, meninggal dunia pukul 05.00 pagi.
 

————————-

Jejaknya masih terasa di sini. Di beratus halaman-halaman yang saya layout…
Dalam cerita-ceritanya yang tersusun di novel sejarah dirinya.
 
Jejaknya masih sangat terasa sekali dalam hati saya.
Bagaimanapun hubungan saya, beliau dan teman saya selaku pihak penerbit tak hanya sebatas hubungan kerja.
 
Kami punya hubungan lebih, (itu yang saya rasakan) ketika mendengar secara dekat proses penulisan naskah 500 halaman itu… , bagaimana beliau membeli sebuah mobil dari Beograd, rumah pertamanya, bertemu dengan anak Vietnam, anak perempuannya yang merantau ke Amerika.
 
Foto-foto yang tersusun di buku itu. Cerita-ceritanya… semuanya masih terekam dalam memori saya hingga saya seperti merasa kehilangan bapak saya sendiri…
 
Naskah tebal itu belum naik cetak ketika beliau meninggal dunia.
 
Semuanya berkelebat membuat saya tak tahan untuk tidak menitikkan air mata.
 
 
Tiba-tiba teringat kembali kepada Bapak saya yang juga penulis. Sebelum berangkat dan kecelakaan di jalan raya, beliau masih sempat menitipkan naskah untuk saya ketik. Belum sempat terselesaikan, bapak sudah meninggalkan kami.
 
 

Mereka sama… meninggalkan jejak ketika berpulang ke-hadirat-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s