belajar · berpikir · terinspirasi

Menulis Itu Hasil Olah Jiwa

“Saya kini yakin bahwa tulisan yang berhasil adalah tulisan hasil olah jiwa bukan olah pikiran semata. Penulis yang berhasil mempengaruhi pembaca adalah  penulis yang senantiasa mengolah jiwa dengan kata lain yang selalu mengasah kecerdasan emosi dan spiritualnya.”

teh ida


Berbagai ragam tulisan tersaji dalam buku-buku yang setiap hari kita lahap. Beraneka tulisan itu disajikan dengan apik, lengkap, sistematis, dan tersusun dengan indahnya.

Tapi, apakah bacaan yang tersaji itu sampai ke dalam hati kita, atau hanya sekelebatan dan tidak membekas.

Sebagai seorang pembaca, saya sering mengulang buku-buku di bagian yang menarik. Saya pun dengan sendirinya merasakan jiwa tulisan itu. Saya menikmati sebuah tulisan dalam buku dengan mengembangkan imajinasi saya.

Hal itu bisa terasakan sekali ketika membaca Ayat-Ayat Cinta. Ada beberapa bagian yang saya baca ulang. Di sana saya temukan manusia biasa dengan pribadi luar biasa. Selain itu, saya sangat merasakan masuk ke dalamnya dengan perlahan-lahan. Merasakan keindahan deskripsi yang disampaikan Kang Abik. Bahkan, novel ini pernah kami bahas pada kajian pekanan. Baru beberapa bab saja, kami menemukan banyak esensi dakwah yang patut ditiru.

Saya pun menangis dan tertawa ketika membaca Edensor dan Sang Pemimpi-nya Andrea Hirata. Saya benar-benar mengunyah tanpa hambatan apa-apa yang disampaikan. Mengajak saya berkelana, berpikir, kemudian bersyukur.

Sebelumnya, saya juga pernah membaca novel yang saya rasakan ditulis dari hasil olah jiwa Torey Hayden, seorang guru Sekolah luar biasa dengan anak-anak istimewa. Tak sampai hati membaca penderitaan mereka, hingga saya baru menamatkan 2 buku dari tiga seri.

———————

Menurut saya menulis adalah sebuah proses panjang. Bagaimana semua elemen dalam diri ikut berdesakan ingin menyampaikan banyak hal. Saya ingin menyampaikan dengan hati ini, hingga emosi ikut, dan pemikiran saya berusaha mengatur jalinan kata yang tepat.

Seringkali saya menulis dengan mengalir. Apa yang saya lihat, apa yang saya ingin sampaikan. Berbagai hal yang pernah jadi pengalaman, berkumpul bersama kejadian-kejadian dan kadang membuat saya tak kuat mengendalikan derasnya ide-ide yang berdesakan ke luar.

Saya sadar, saya masih belajar, mungkin hasil olah jiwa belum seberapa berhasil menyampaikan sesuatu secara lebih jelas dan lugas karena kadang terlalu banyak yang ingin saya sampaikan hingga tidak terfokus.

Tetapi kemudian saya ingat kata-kata Forester dalam Finding Forester, Tulis draft pertama dengan hati, kemudian otak…

Yah, saya harus menulis dengan hati… semoga bisa sampai ke hatimu

Inspring: setelah berkelana di MP seorang penulis, Teh Ida

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s