berpikir · hikmah · job · kehidupan

Melihat Mereka: Ketika Saya Tak Mampu Bersyukur & Takut Melangkah

Hari itu saya berangkat lebih pagi ke tempat klien di daerah Jatinegara Kaum. Tampilan saya benar-benar tak biasa untuk kunjungan ke tempat klien. Saya hanya mengenakan kaos, rok santai, kerudung langsung plus sendal jepit. Hanya ke tempat tersebut saya berpenampilan seperti itu karena tempat yang saya datangi tidak menuntut saya secara langsung atau tidak untuk berpakaian rapi.

Tempat yang saya datangi adalah sebuat penerbit kecil milik teman saya. walau kecil, mereka telah menerbitkan 20 buku. Wow…

 

———————————————————————

 

Jam sudah menunjukkan pukul 08.30 pagi ketika saya sampai di rumah kontrakan sederhana yang dihuni sebuah keluarga. Pasangan suami istri dan seorang putri kecil yang usianya baru menginjak 6 bulan.

 

Kemacetan membuat saya menghabiskan waktu sekitar 1 ½ jam untuk mencapai tempat tersebut. ”Wah padahal dari rumah jam 7 kurang, lho” ujar saya. Abis kalau tidak melakukan pembelaan diri, dikiranya nanti saya kebablasan karena ketiduran di bus lagi… hehehe.

 

Di tempat ini saya biasa mengantarkan naskah hasil editan atau layout. Penerbitnya milik teman saya, Amin dan istrinya, Lita. Mereka berdua telah merintis penerbitan sejak masih bekerja di sebuah majalah Islam anak-anak di daerah Jakarta Timur. Buku pertama yang diterbitkan adalah buku doa untuk anak-anak. Sudah cetak ulang hingga 4 kali dan lebaran kemarin telah habis diborong. Wow…

 

Saya sedikit tahu perkembangan penerbitan mereka hingga mereka juga menangani distribusi untuk buku terbitan sendiri dan buku-buku penerbit lain. Awalnya mereka menyambi bekerja, kemudian, mereka sempat difasilitasi pengusaha bakmi, kemudian benar-benar berdiri sendiri. Salut…

 

Mereka memiliki karyawan untuk bagian penagihan dan memiliki beberapa outsourcer untuk layout, editing dan desainer cover dan salah satunya adalah saya.

 

Hari itu saya mengantar file naskah dan koreksian milik mantan diplomat yang tebalnya 600 halaman lebih. Entah apa yang terjadi, file yang saya kirim sempat tidak bisa dibuka, dan ada beberapa input koreksian yang salah. Alhamdulillah, segalanya bisa diatasi kemudian.

 

Saya sering berlama-lama ketika mendatangi tempat ini. Selain hanya sebuah rumah tanpa ada mekanisme pemeriksaan KTP, ngisi daftar tamu, atau pemeriksaan berlapis-lapis ketika ingin mendatangi klien yang kerjanya di gedung-gedung tinggi, tempat ini begitu nyaman dan ramah bagi saya. ketika kelaparan kemarin, sang tuan rumah membuatkan mi rebus yang enak dan saya bisa berlama-lama mengobrol tentang bebagai hal. Mulai dari urusan bisnis sampai dakwah. Saya dan amin sama-sama aktif di rohis kampus.

 

Sering juga saya menjadikan Amin dan lita sebagai teman diskusi di kala saya butuh share tentang usaha saya, seperti hari ini. Entah angin dari mana, atau kekecewaan pada diri saya, saya seperti mulai enggan dan malas mengembangkan  usaha saya. Tiba-tiba saya menjadi terpuruk dan jatuh karena teleh megecewakan klien saya. Saya jadi rindu kerja di kantor, saya rindu gajian… Rasanya lelah, tiap bulan ketar-ketir mikirin pengeluaran rutin, sedangkan pemasukan datang tidak bebarengan. Selain itu, saya juga lelah dengan tanggung jawab yang saya emban dalam tim.

 

Hal itu kemudian saya tepis begitu melihat dengan mata saya sendiri pada perjuangan mereka merintis karir tapa menyerah. Pernah ditipu, pernah bermasalah, dan banyak lagi… Apalagi begitu melihat Lita yang sibuk mengurusi faktur-faktur dan menceramahi karyawannya, sementara anaknya ada dipangkuan. Salut sekali lagi buat Lita yang tanpa umahat. Bekerja di rumah sebagai istri juga mitra kerja bagi suaminya.

 

Belakangan ini, mereka juga menyewa sebuah tempat, tidak jauh dari rumah untuk gudang penyimpanan buku-buku. Mengingatkan saya, pada kehidupan semasa almarhum bapak masih ada di akhir tahun 90-an. Rumah kami penuh dengan buku sekolah. Setiap hari sales berdatangan, setiap hari kami mengepak buku untuk dikirim, setiap hari rumah berantakan. Kegigihan yang tak terkatakan melihat bapak dan ibu bekerja keras bagi kehidupan kami. Biar kami bisa sekolah, bisa kuliah, biar bisa mencicil rumah dan banyak lagi.

 

Amin dan Lita, Ibu dan Almarhum bapak, kedua pasangan yang nyaris mirip. Bekerja keras bersama untuk keluarga. Rasanya, saya akan sangat malu sekali, mengingat diri saya yang mudah menyerah hanya karena persoalan yang saya buat sendiri dan bisa diperbaiki.

 

Tiiiiin…

Sebuah mobil karimun datang. Mbak saya baru pulang dari toko bonekanya. Isi mobil kecil itu penuh dengan boneka yang akan dikirim ke tempat pelanggannya. Hmmm.. lagi-lagi saya malu. Mbak saya susah payah tiap hari, mondar-mandir ke pabrik boneka, antar barang, ambil barang, kadang sendiri, kadang bersama suaminya, memikirkan desain untuk boneka atau bantal agar bisa bersaing di pasar. Belakangan, berjualan via internet.

 

Saya tercenung mengingat mereka. Ada rasa malu karena saya seperti tak mampu bersukur dan takut melangkah. Usaha saya ini sudah saya rintis 2 tahun lebih, diselingi kuliah dan kerja kantoran. Saya benar-benar baru fokus sekitar 6 bulan. Ketika saya memutuskan fokus, order berdatangan. Alhamdulillah, saya bisa memulai mencicil CPU, HP, membeli barang-barang keperluan dan menabung.

 

Kenapa saya harus terpuruk karena masalah yang saya buat sendiri. Begitu banyak orang yang bekerja keras, begitu banyaknya orang yang susah mencari duit. Saya duduk di sini, tinggal bekerja, segala fasilitas telah tersedia setelah sedikit demi sedikit melengkapinya. Ada dukungan dari keluarga yang awalnya belum bisa menerima dan terus menyarankan kerja kantoran. Saya ada di sini, di ruangan yang saya klaim sebagai ruang kerja saya, didukung ibu saya, difasilitasinya. Semuanya begitu mudah. Semuanya tersedia, apalagi yang saya khawatirkan, toh rezeki di tangan Allah…

 

Cukup bagi saya melihat mereka. Melihat kerja keras mereka. Mengingatkan kembali pada visi dan misi, serta tujuan saya untuk bekerja di rumah. Mengingatkan saya pada nama tim yang saya sandang, Khansa’Kreatif. Saya ingin menjadi seorang ibu (suatu saat nanti) yang memiliki para mujahid/ah seperti Khansa’, tapi bisa tetap kreatif dengan bekerja di rumah.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s