fiksi · terinspirasi

Perempuan Pembawa Luka

Semalam saya sedang berjalan di sebuah negeri. Dari luar saya melihat negeri itu, saya tertarik memasukinya, walau ada rasa takut dan khawatir.

Saya susuri jalan itu, tampak sebuah taman yang indah. saya takjub, tapi kenapa begitu suram, ya? Saya hampiri seorang wanita yang tengah duduk di bangku taman.

“Hai..”
sapaan saya tak dijawab. dia sibuk dengan satu boks yang dibawanya. Terus melongok boks itu.

“Hai…”saya ulangi sapaan saya kepadanya dengan lebih keras.

“Eh, maaf,” jawabnya.

Saya menatap wajahnya yang sendu, muram tanpa semangat.

“Maaf, kenalkan, saya…” ucapan saya terpotong ketika melihat tangan wanita itu penuh luka.

“Biarkan saja” ujarnya ketika saya tampak khawatir melihat tangan itu.

“Saya Reina” uajrnya mengulurkan tangannya yang penuh luka.

“Saya Funny” ujar saya.

Wanita itu tersentak mendengar nama saya. Menatap saya dengan lekat. Diam dan kemudian tertegun lama.

“Ada yang salah dengan nama saya?” ujar saya

“Kamu pasti bukan dari negeri ini. Namamu penuh dengan kebahagiaan, tubuhmu begitu segar, wajahmu sangat ceria sesuai dengan namamu” ujar dia.

“Iya, saya bukan dari negeri ini, tapi entah kenapa saya ada di sini, kereta kuda membawa saya ke sini.”

“Yah, kalau begitu… pergilah, khawatir dirimu terluka.”

“Terluka?” Yah memang saya sedang terluka, sakit… sakit sekali.

“Kalau kau lama di sini, lukamu tak akan bisa sembuh, di sini adalah negeri Luka, semua orang di sini akan terluka. Tak ada lagi senyum, yang ada hanya luka. Dan tahukah kamu? Luka itu akan terus ada selama kamu ada di sini.”

“Saya juga penuh luka. Luka karena cinta… Mungkin ini yang membawa saya ke sini.” ujar saya mencoba mereka-reka kejadian tadi malam. Saya baru saja jatuh sakit, pingsan dan tiba-tiba kereta kuda itu membawa saya ke sini.

Wanita itu mengusap air mata saya.

“Kita sama…” ujar dia

“Tapi, kau tak akan mampu lebih lama di sini”

***
“Hei, Reina… lihat luka saya sudah tak ada lagi… terima kasih, ya.. saya sudah tak perlu di sini lagi” ujar saya pagi itu ketika terbangun di rumah mungil milik Reina.

“Pergilah…”

“Tapi… bagaimana dengan kamu? Sampai kapan kamu di sini?”

“Saya akan tetap di sini, Fun… Luka saya sudah terlalu dalam…”

“Tapi.. kau saja bisa membantuku menyembuhkan luka yang aku miliki, tapi kenapa kamu tak bisa menyembuhkan lukamu sendiri…?”

“Hmm…” Reina tersenyum kecut, tampak luka di sekitar bibirnya…

Aah……untuk berbicara saja sudah melukainya… apalagi untuk bercerita.

“Terima kasih, tapi sepertinya tak ada gunanya…

***

Saya meninggalkan negeri penuh luka. Meninggalkan Reina, Perempuan Pembawa Luka. Terbersit di otak saya bagaimana dengan hanya bercerita kepadanya, luka saya sembuh. Teringat, perhatian Reina ketika menyuguhkan secangkir kopi dan menyalakan perapian, membiarkan diri saya terus menangis dan bercerita. Dia terus dan terus mendengarkan saya, walau luka di tangannya, di kaki dan kepalanya terus saja mengusik saya. Luka saya makin menghilang dan kering… tapi lukanya terus di sana.

“Reina…, wanita itu bernama Reina” ujar saya kepada bunda.

“Reina, wanita pembawa luka”

“Bunda tahu?”

“Bunda tahu.. karena dia adalah dongeng di negeri penuh luka…” ujar bunda

“Funny, bacalah kisah ini…

***

Nama saya Reina, perempuan pembawa luka. Saya ada wanita yang tak pernah mengerti akan dunia penuh luka hingga kini saya tinggal di sebuah negeri penuh luka. Hingga akhirnya saya terperangkap dalam negeri ini. Semoga bukan untuk selamanya.

    Saya dibilang sensitif, ya benar.. saya sangat sensitif. Perkataan orang-orang bisa melukai saya kalau saya tak sanggup menjawab argumen mereka. Saya akan menangis, sambil berharap luka itu segera sembuh, tapi apa yang terjadi, luka saya terus membesar, dan tak sanggup lagi saya mengolesinya dengan obat. Saya terus terluka.

    Setiap hari saya menangis membawa boks catatan luka dan berharap saya bisa bertemu orang yang membuat luka saya, tapi apa yang terjadi orang tersebut tak kunjung datang dan saya sendiri malah terus melukai orang dengan wajah saya yang buruk. Saya bodoh, saya ingin menyembuhkan luka tapi saya terus menerus menyakiti yang lain.

    Bagaimana saya menyembuhkan luka ini?

    Orang-orang datang menghampiri saya, menceritakan luka-luka mereka. Tapi, tak ada yang sanggup mengobati luka itu. Saya terus terluka… Saya tak sanggup jalani hidup ini dengan penuh luka. Saya tak mengerti kenapa saya teru terluka. Apa ada yang salah dengan diri saya.

***

Saya susuri kembali jalan itu. Saya harus menemui Reina. Saya harus membantu dia. Tapi, bunda mengejar saya dari belakang

“Funny, kalau kau sedang tidak terluka, akan sulit menemui Reina…”

“Lalu bagaimana bunda…? Saya ingin menemui wanita itu. Tidak bisa selamanya dia di sana”

“Kirimkan surat padanya, lukiskan cinta dan asa…”

“Bagaimana surat itu bisa sampai?”

“Dengan cinta dan sayangmu padanya, dan biarkan merpati itu membawanya hingga gubuk Reina”

    ***

    Dear Reina…
    Pertemuan denganmu membuat saya tersadar, kalau saya hidup di antara orang-orang terkasih, mereka dengan tulus dan perhatiannya kepada saya. Bunda adalah no 1 untuk saya, Paman Robert, Syeila, Marisa… dan semua orang di sekeliling saya.

    Tapi, kenapa mereka justru tak sanggup obati luka saya ketika hati tercabik-cabik cinta dari laki-laki itu. Mereka tak sanggup menghibur saya hingga saya sampai ke negeri penuh luka dan bertemu denganmu.

    Reina….
    Entah bagaimana, saya jadi terpikir terus dirimu. Melihatmu, saya seperti melihat sesuatu yang hilang yang seharusnya ada pada dirimu. Reina…. kenapa kau tidak buang saja boks penuh luka dan biarkan segalanya selesai… Kalau kau masih menunggu dia yang melukaimu, sampai kapan kau bertahan dengan luka-lukamu itu….

    Reina…
    Bukankah kita masih memiliki Tuhan? Bukankah dia yang bisa menyembuhkan luka, temuilah dia….

    Di malam kita bertemu, aku sadar aku memiliki Tuhan, hingga aku merasa pertemuan kita adalah takdir. Kuingat itu sambil terus berzikir kepada-Nya, hingga luka di tubuhku mengering dan hilang.

    Reina…
    Maafkan aku bila mengguruimu… Aku hanya ingin kau tak lagi menyandang nama perempuan pembawa luka, tapi perempuan berhati mulia…
Kau sanggup membantuku dan yang lain menyembuhkan luka, mengingat kebesaran-Nya…

***

“Bunda, kenapa ada orang jahat di dunia?”
“Bunda, kenapa bunda menangis?”
“Bunda, kenapa Kak Funny pernah tak lagi bersama Kak Drew?”
“Bunda….”

Pertanyaan Marisa kepada Bunda….

“Sayang, berapa banyak hadiah yang kau dapat ketika kau ulang tahun?”
“Sayang, kapan terakhir ibu guru memberimu sebatang cokelat?”
“Sayang, kapan terakhir kamu melihat Funny menangis?”

“Bunda, ada sedih ada bahagia… Marisa mengerti, Bunda…”

Saya terdiam, bagaimana mungkin di dunia yang ada sedih, ada bahagia ini, ada seorang bernama Reina yang terus terluka. Bathinku rasanya tak sanggup menjawabnya.

“Cinta… sayang, ingatlah cinta kepada-Nya” bunda seperti mengerti apa yang saya pikirkan.

***

Funny, tahukah kau, kini saya sudah tidak tinggal di negeri penuh luka, tapi di negeri bahagia. Kemarin ketika saya mengambil surat darimu, saya menemukan sebuah petunjuk untuk membawa boks penuh luka itu ke sebuah tempat.

    Di sana saya menemukan mesin semacam ATM dan saya masukkah memori luka saya. Satu..satu… hingga beratus luka yang saya miliki. Ketika saya ingin meninggalkan mesin itu. Saya disodorkan sebuah boks yang besar sekali dan ketika saya buka saya mendapatkan cahaya yang kemilau….saya mendapati sebuah surat:

          Reina, perempuan pembawa luka…
di setiap luka yang kau bawa… ada berjuta hikmah yang kau dapat, andai kau tahu dan kau mengerti… Lukamu mungkin tak sanggup kau sembuhkan sendiri, atau disembuhkan orang lain… Tapi, lukamu akan sembuh bila kamu mau berbagi dengan Tuhanmu…  Dia Sang Penyembuh Luka. Ingatlah Dia, di kala kau bahagia dan bersedih… insya Allah, lukamu akan mengering dan hilang…
         
        Lupakan mereka yang terus kau cari untuk sembuhkan lukamu… Lupakan mereka… yang harusnya kau cari adalah orang-orang yang kau lukai… minta maaflah… sayang…

       Kini jangan biarkan orang-orang melukaimu… Jangan… Tinggalkan mereka. Biarkan mereka. Ingatlah orang-orang seperti Funny, Happy, Don’t Worry, Special…karena kamu adalah wanita yang spesial…

Selamat hadir di negeri bahagia…

*Kala mengingat luka, segala kebahagiaan seperti tertelan lautan, tapi sadar kalau bahagia akan hadir, luka pupus tak berbekas…
*Kamu mau memilih terluka terus hingga ujung waktu atau berjalan mengobati luka dan meraih bahagia

One thought on “Perempuan Pembawa Luka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s