bapak · kehidupan · keluarga · kenangan

Si Penulis


Dari dulu memang aku suka sekali menulis. Setiap pengalaman yang hadir dalam hidupku, ingin sekali aku tulis. Setiap membaca buku yang menarik, aku juga ingin menulis. Setiap kebahagiaan dan kesedihan selalu ingin kutulis. Tak aneh jika aku punya banyak buku diari, dan ketika membacanya, aku bisa tertawa-tawa. Sayangnya, aku pernah membakar dan merobek-robek salah satu diariku. Kalau bisa pakai mesin waktu, aku akan larang diriku membakar diari-diari itu.

Aku tidak pernah merasa ada keturunan dalam hobi menulisku ini. Yah, aku hanya suka menulis. Tak perlu ditelusuri kan aku dapat “bakat” ini dari mana? Atau kadang memang aku yang tidak menyadari. Ketika mengikuti lomba mengarang mewakili sekolah sewaktu SD, bapak begitu mendukungku dan mengajari banyak hal kepadaku, hingga akhirnya meraih juara harapan 1 dan mewakili tingkat kelurahan dan kalah. Mungkin hanya sampai di situ karir menulisku karena setelah itu aku hanya menjadikan menulis sebagai hobi saja.

Bapak masih terus mendukungku ketika aku mulai menulis macam-macam dan menyuruhku mengirimkan tulisan itu. Tapi, aku tidak terlalu tertarik dan mulai menyukai hal lain.

Di balik dukungan yang bapak berikan. Aku sering tak menyadari dengan baik dan memang tidak begitu tahu secara mendalam kalau bapak adalah penulis. Baru setelah aku beranjak besar, aku mulai mengikuti sepak terjang beliau dalam meniti karir sebagai penulis. Bapak ditawarkan menulis buku sekolah. Berkali-kali naskah bapak ditolak hingga akhirnya diterima dan bisa dibilang Best Seller. Sebagian besar dari hasil royalti bisa memberangkatkan haji ibu dan bapak pada tahun 2000.

Kegigihan dan dukungan keluarga sangat berperan. Waktu itu bapak sempat akan menyerah karena naskah yang ketiganya, tak juga diterima, tapi ibu terus mendukung dan memotivasi bapak. Aku ingat ketika ibu mengajakku ke toko buku membeli buku-buku rujukan. Pendidikan yang ibuku jalani itu rendah, hanya setingkat SMP, tapi daya nalar dan kepekaan, dan kepeduliannya cukup tinggi. Dari sana bapak terus merevisi dan alhamdulillah, akhirnya diterima.

Aku sedikit ikut dan tenggelam dalam rutinitas menulis bapak. Menggambar binatang asal-asalan sampai nama aku dan abangku tercantum dalam salah satu dialog di buku. Ketika buku itu terbit, tak terkira gembiranya kami. Kubuka lembaran demi lembaran dan terlihat ada sebuah perjuangan di sana.

Itu adalah salah satu buah manis yang didapat dari menulis. Ternyata, di balik itu ada perjuangan bapak yang tak kalah getirnya. Ketika aku masih kecil, bapak juga pernah diminta untuk menulis buku sekolah. Ada 12 buku untuk satu mata pelajaran dari kelas 1 sampai kelas 6 jilid A & B. Setelah jadi, naskah tersebut diambil dan tidak ada tanda terima. Setelah sekian lama, baru naskah itu dibeli dengan harga yang tidak pantas dan diterbitkan atas nama orang lain.

Memang itu juga kesalahan dari pihak bapak, tapi terlihat jelas sekali kalau penerbit itu memang tidak mempunyai itikad baik. Yah, itu masa lalu yang dijadikan pelajaran oleh bapak dan ibu.

Tahun berlalu, setelah menunaikan ibadah haji, bapak kembali ditawari menulis buku. Saat itu aku sudah kuliah di sebuah politeknik, program studi penerbitan. Tentunya bukan kebetulan, dan itu sudah jalan yang diberikan Allah kepadaku. Aku mulai menjadi asisten bapak. Aku digaji untuk mengetikkan naskah beliau dan sedikit-sedikit membantunya mengedit. Aku bekerja dengan beliau. Salah satu pengalaman yang berharga, walau kadang aku sempat malas dan ngambek. Tapi, banyak hal bisa kutemukan. Kegigihan dan kerja keras beliau memang tak tertandingi.

========

21 Januari, empat tahun lalu bapak menghembuskan napasnya yang terakhir setelah koma beberapa jam. Beliau mengalami kecelakaan motor dan meninggal di IGD RSCM karena mati batang otak. Sebelum berangat menjalani aktivitasnya, bapak meninggalkan naskah tulisan tangan untuk aku ketik.

Ada beberapa buku yang tak lagi terbit karena butuh revisi. Tapi, ada juga buku yang revisinya diteruskan oleh kakak.

Yang menakjubkan sekaligus rasa syukur kami adalah hingga hari ini royalti bapak masih terus mengalir. Bahkan, berimbas pada cucu-cucunya yang belum pernah melihat wajah mbah kakungnya.

Hmm, aku hanya bisa tertegun, bangga sekaligus kagum. Di saat aku kadang enggan menulis, tak percaya diri, ada semangat dari seorang yang hingga hari ini masih sering kurindukan.

Aku punya figur si penulis. Aku rasakan getar semangatnya dalam dadaku. Kegigihan, keuletan, perjuangannya… Subhanallah

Si penulis itu bapakku… Darul Muna

5 thoughts on “Si Penulis

  1. Ass Wr Wb

    Nov,
    Ternyata buah jatuh memang tak jauh-jauh dari pohonnnya, bakat menulismu warisan dari Bapak..

    Semoga buku dan tulisan beliau menjadi amal jariah yang terus mengalir dan tak putus bagi Almarhum..

    Tetap semangat, Buhas juga satu dari anak yang mencintai figur Bapak,punya memori masa kecil yang indah terhadap beliau

    Salam
    BuHas

  2. assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

    yupz benar tuh buah jatuh ga jau dari pohonya, kalo mba novi bakat nulis dari bapaknya, kalo bu has ga tau soalnya ga di tulis tu speskasinya. kalo aku apa ya?? o ia kayaknya sifat kerasnya (tapi kalo aku keras kepala bukan keras pendirian hehehehe🙂 )… kalo suruh berobat buandelnya minta ampun kalo belum masuk RS aja ga berobat … itu kata temen2 (tapi mener sih)
    kok ngomongnya ngelantur gini ya?!?!

    o ia mba novi, aku ijin silaturahim blog liat-liat n baca artikelmu. ya itung-itung sambil blajar cara gaya penulisanya juga.

    salam kenal
    wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

    wassalam

  3. @sapta
    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    salam kenal jusa
    semoga bermanfaat🙂

    @arif rahman lubis
    wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    salam silaturahim

    *baru balas😀
    baru mulai lagi konek dengan WP lebih baik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s