belajar · hikmah · ibu · kehidupan · keluarga

cara saya untuk bahagia

Ada banyak cara untuk bisa bahagia. Ada banyak cara untuk memberi hadiah kepada diri sendiri. Ada banyak cara untuk menikmati hidup. Ada banyak cara untuk tersenyum sama halnya, banyak cara juga untuk menangis.

***

Ritme hidup terus berganti. Episode-episode baru harus tayang. Detik dan jam tak menunggu kita yang hanya terdiam, tertidur dan hanya meratap.

Saya dengan segala keegoisan yang ada dalam diri ini. Saya dengan segala aktivitas yang kadang membuat lelah. Saya dengan orang-orang tercinta di sekitar saya. Saya bisa menjadi orang yang sangat mengecewakan. Saya bisa menjadi orang yang keras kepala. Saya bisa menjadi orang yang sangat ketakutan. Saya bisa menjadi orang yang ingin dimengerti, tapi tak mampu mengerti… Saya yang egois…

Tapi, sekali lagi saya beruntung. Beruntung memiliki sebuah keluarga yang mengerti, mengasihi dan menyayangi. Tak akan terhitung berjuta “pelajaran” yang saya dapatkan. Rasa syukur yang teramat dalam ketika mereka mau memaafkan kata-kata, tindakan kekeraskepalaan sifat yang saya miliki dan kekacauan yang saya buat.

***

Sepertinya mentari tak begitu terik siang itu. 1500 lembar lebih naskah yang saya bawa, tentunya tetap berat, hanya saja, saya menikmati. Termasuk menikmati perjalanan panjang Pondok Kelapa-Bekasi-Fatmawati-Cipete-Kampung Melayu-Pondok Kelapa. (Hehe, seperti kernet saja :P). Terlelap sesaat, menatap matahari yang menyengat, mengingat kulit wajah sangat sensitif dan berakibat wajah memerah, memutih, seperti bendera 😀. Tapi, tak perlu saya hiraukan.

***

Yah, saya bahagia, ketika akhirnya terucap kata maaf dari bibir ini untuk ibu, menyalami tangannya dan panas mata ini ingin menangis. Ingin memeluk, dan katakan pada seluruh dunia, “Ibu adalah yang terbaik di dunia, bersyukur aku lahir dari rahimmu … Maafkan atas khilafku, Ibu… moga tak lagi aku menyakiti relung hatimu…” Tapi nyatanya, saya hanya bisa menangis. “Maafin nopi, ya Bu…”

Yah saya bahagia, ketika walau hanya lewat SMS, saya mampu meruntuhkan keegoisan saya, kekeraskepalaan saya, meminta maaf kepada kedua kakak saya, atas segala kekacauan yang saya buat. Aaaah, rasanya malu mengingat begitu banyak kebaikan yang mereka beri. Konflik itu ada, tapi saya benar-benar mengacau… Terbalas SMS dengan sangat arif dan lagi-lagi membuat saya tersenyum.

Yah, saya bahagia karena mampu melawan kebodohan sikap saya. Saya bahagia, ketika berkali-berkali ditemani SMS sobat-sobat yang baik hati, dering telepon dan tawa renyah saudari saya. Saya bahagia hingga saya ikut bersenandung mendengar lagu di toko buku itu.

Dan menurut saya, saya harus memberi hadiah untuk diri saya karena saya bisa meminta maaf. Selain juga karena naskah yang menjadi pikiran itu, terselesaikan. Karena lelah fisik dan hati kemarin-kemarin hari ini terobati… Terpilihlah, satu buku buat Iki tersayang dan satu buku indah untuk saya.

Yah, yah… bahagia…

Mungkin kalau ada kamu, temanku di sini, aku bisa saja mentraktir, hehehe😛, sayangnya hari itu saya tak banyak bertemu sahabat-sahabat😀

Sempat mengabarkan kepada seorang sahabat akan “kepulihan” diri saya, sambil mengingat utang saya padanya dan dibalas dengan jawaban isengnya😀

…. Btw, hari ini semua orang keliatan cakep, dong, hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s