hikmah · kehidupan · keluarga

Tak Akan Pernah Mati

Akhir masa kuliah, 2003

Tergopoh-gopoh saya berjalan menuju rumah kami. Sederhana, tapi penuh arti. Sebuah rumah yang dengan jerih payah seorang bapak bisa kami huni. Membuka pagar rumah, biasanya saya dapati sepeda motor bapak di sana. Pintu rumah akan terbuka dan terpampang jelas ruang tamu. Tidak ada yang menarik dalam rumah kami. Bahkan tak ada pajangan foto keluarga. Tapi, di sana ada sebuah meja tulis. Di balik meja itu, duduk seorang yang usianya sudah lebih dari setengah abad.

Di tangannya sebuah pulpen atau pensil. Di hadapannya, ada buku-buku, kertas, kalkulator, benda apa saja yang bisa mendukung tulisannya. Posisi meja tulis dan bapak yang berada di baliknya terlihat jelas ketika saya longokkan kepala ini.

”Assalamu’alaykum” hari masih sore ketika saya pulang dari Depok. Sebenarnya saya ngekos di daerah Pindok Cina, tapi untuk beberapa semester, saya memilih pulang. Bapak meminta saya untuk membantu mengetikkan naskahnya. Bapak terlampau tua untuk bisa hapal tombol-tombol kibord komputer. Bapak justru lebih terbiasa menggunakan mesin tik.

Saya dapati senyuman sumringah di sana. Walau alisnya yang begitu tebal menyiratkan kegalakannya. Kumisnya yang biasa saja, entah kenapa mengurangi image ”galak” di wajah bapak. Hmm, untuk sementara, laki-laki berkumis yang saya sukai cuma bapak, hehehe😀.

”Oleh-oleh” ujar bapak melihat saya menenteng seplastik gorengan yang saya beli tak jauh dari rumah kami. Cuma ini, tapi bapak senang… Memang sudah beberapa kali, ketika pulang ke rumah dan masih sore, saya sempatkan untuk membeli gorengan. Entah, apa yang bapak pikirkan, dia selalu senang dengan kehadiran oleh-oleh itu, walau tak semua beliau makan.

Padahal, untuk urusan oleh-oleh, bapak juaranya. Ketika pulang kerja, ada saja yang bapak bawa. Dari mulai beberapa pasang sendal perempuan, pakaian, makanan. Tak jarang, bapak memanggil kami ketika membawa makanan enak.

***

Saya tengah mengikuti pelajaran siang itu di sebuah SMU, ketika seseorang mengetuk pintu kelas kami. Bapak meminta izin, menjemput saya di sekolah. Bukan untuk sebuah kebutuhan mendesak, bukan untuk bepergian atau jalan-jalan atau bukan karena ada kabar buruk. Tapi, untuk sebuah keperluan yang bisa dibilang penting, yaitu membuat KTP. Bapak mengantar saya mengurus KTP di kelurahan dekat rumah kami, yang juga tak jauh dari sekolah saya. Lucu atau memalukan, entahlah. Pada usia yang terbilang dewasa, 17 tahun, untuk bikin KTP, masih dibantu bapak.😀

Hmm, apa karena saya anak manja? Atau karena saya tidak juga mandiri. Sebagai anak bungsu, bisa dibilang curahan kasih sayang mengalir kepada saya. Hingga kakak perempuan saya yang pertama adalah pembela sejati di tengah rengekan saya dijahili orang (maklumlah, sewaktu kecil, saya adalah objek paling lemah untuk dibikin nangis orang :D). Dia akan berada di garda depan untuk berantem dengan siapapun yang mengganggu saya.

Ingatan saya pun sampai ketika masih SMP, saya tak diperbolehkan untuk mengunjungi saudara saya di Tanjung Priok dengan ”menakut-nakuti” saya akan tindakan kekerasan yang terjadi di mana-mana. Tapi begitu besar, perlahan tapi pasti, bapak mulai menyerahi beberapa tanggung jawab ke saya. dari mulai membayar kredit rumah, menabung, ngantri membayar telepon. Mengantar buku ke sekolah-sekolah saat kami mempunyai toko buku.

Semua itu pun tak terjadi begitu saja. Bapak akan mengawalinya terlebih dahulu, memberi contoh kepada saya. Di sini tempat menabung, ini formulirnya, di sini bank tempat membayar telepon. Kamu naik kendaraan ini untuk ke sana, kemudian yang ini, dll. Hingga, masalah kesehatan. Sewaktu SMU saya pernah harus bolak-balik Rumah sakit untuk check up. Tentu saja diawali dengan terlebih dahulu, bapak mengantar saya, menemani saya ketika diambil darah dan mengambil obat di apotik khusus pengguna Askes. Selanjutnya saya pun dilepas. Tidak hanya itu. Untuk urusan saya mengikuti lomba mengarang antar sekolah, bapak yang membimbing dan mengajari saya hingga kemudian saya mewakili tingkat kelurahan. Ketika saya mengikuti lomba baca puisi saat 17an, bapak juga yang membuatkan teksnya.

Aah, begitu teraturnya, hingga sering luput dari ingatan saya. Secara tidak langsung, bapak menyuruh kami untuk mandiri, tapi selalu memberi contoh dan membimbing. Tapi, entah kenapa di masa-masa saya beranjak dewasa, saya justru melihat bapak sebagai sosok yang otoriter, keras, galak, dan tidak menyenangkan. Kami semua harus ikut aturan beliau. Dari A sampai Z. Dari mulai sekolah mana kami harus mendaftar hingga memilih jurusan.

Saya pun pernah pada taraf kecewa, sebal dan membangkang. Merasa bapak kolot dan kurang pengertian hingga masa-masa itu hadir. Masa di mana saya memilih sendiri tempat kuliah, masa akhirnya saya bisa bebas tinggal ngekos di Depok. Masa saya tak perlu ikut terlalu banyak aturan beliau. Saya merasa bebas untuk sementara waktu. Bebas dalam arti saya boleh sesuka hati tak datang kuliah, atau mungkin hadir 15 menit sebelum dosen ke luar. Saya juga bisa saja tidak pulang ke kos tanpa orang rumah mengetahuinya.

Tapi, siapa sangka, kebebasan itu tak sepenuhnya saya nikmati. Tanpa terpaksa, saya tetap melaporkan keadaan saya yang nyaris masuk aliran tak jelas, keikutsertaan saya di seminar muslimah, dan cerita-cerita lain yang akan membuat saya terdiam. Ternyata, saya masih sangat membutuhkan beliau. Saya tetap masuk dalam wewenang beliau, dan tak bisa sembarangan. Beban nilai memuaskan dan IP yang baik, kembali membawa saya untuk ada di dekatnya. Hingga, salah satu hal pertama yang saya lakukan setelah ke luar sidang tugas akhir adalah menelepon bapak. Saya lulus… dapat nilai B.

***

Januari 2004

Saya memandangi wajah bapak. Tubuhnya kini telah terbungkus kain kafan. Menangis? Jangan tanyakan itu… berember-ember mungkin sudah saya keluarkan air mata ini. Belum lagi saya mendapat tugas menghubungi saudara dan kerabat bapak untuk berita duka ini karena mungkin saya dianggap lebih kuat. Yah, saya mampu berjalan ke pasar untuk beli peniti ketika teras depan akan dijadikan tempat memandikan jenazah bapak. Saya masih mampu mencari-cari kamper dan saya masih dalam keadaan sehat, tanpa pingsan di sini. Hanya saja saya tak sanggup tidur dan makan.

Satu setengah bulan silam. Saya masih melihat senyum itu. Bapak dan ibu berjalan beriringan, tersenyum sumringah menghadiri wisuda saya. Mereka berpakaian dengan motif batik yang sama. Rupanya itu jadi momen terakhir kebersamaan kami hingga bapak mengalami kecelakaan motor yang merenggut nyawanya. Menghempaskan banyak harapan dalam diri saya.

Penyesalan pernah mengecewakan, membantah hingga diam-diam saya ke luar dari pekerjaan membuat saya terpuruk. Seolah hari-hari selanjutnya begitu suram. Saya sempat sakit, menangis-nangis di malam-malam rindu pada bapak. Bapak seperti hilang, padahal baru pagi itu bapak menyerahkan naskah ke saya. Baru tadi pagi bapak senyum. Rasanya, baru kemarin bapak menggendong saya dari lantai atas rumah kami. Atau, ketika kami mengobrol dari A hingga Z. Atau ketika kami shalat berjamaah. Baru kemarin rasanya bapak mengajak saya jalan-jalan, naik kuda. Membawakan kue, oleh-oleh dan memberikan bunga ketika saya wisuda. Baru kemarin…. rasanya. tapi kini dia seperti menghilang… Kini yang bisa saya pandangi hanya nisan bertuliskan namanya.

Selama berbulan-bulan saya masih terus mengingatnya. Kadang tiba-tiba teringat dan menangis. Bahkan, ketika saya diberi kesempatan terindah dari-Nya untuk menunaikan ibadah di tanah suci pada bulan Ramadhan, di tahun yang sama meninggalnya bapak. Saya selalu merasa ditemani. Saya merasa bapak ada di dekat saya. Hingga pada keputusan, saya harus banyak belajar sekembali ke tanah air dan Allah mewujudkannya dengan saya diterima di sebuah pesantren terbuka di Jakarta Pusat.

Lagi-lagi, saya dihadapkan untuk terus mengingatnya.

***

Dari ujung jalan itu, saya akan sambangi rumah kami. Suasana sore yang saya sukai sejak dulu. Rumah ini ada di jalan buntu, tak banyak kendaraan hilir mudik. Beberapa anak kecil tengah bermain. Mbak-mbak khadimat mengejar-ngejar sambil menyuapi nasi. Saya lewati mereka dengan perasaan bahagia. Mau ke mana pun saya pergi, pasti kembali ke sini. Ke rumah yang begitu banyak menyimpan mimpi, cita dan harapan saya. Sudah 25 tahun lebih saya ada di sini. Sempat berpindah rumah dalam satu gang dan kemudian menetap.

Ketika langkah ini memasuki rumah, kenangan itu kembali. Bapak menanti saya di sini.

Ruangan itu kini memang berbeda. Setelah bapak meninggalkan kami, seting rumah kami dirombak. Memang tak ada pernyataan apapun dari ibu. Meja tulis bapak dibawa kakak ke tokonya. Ruang makan dirombak, disatukan dengan ruang tamu. Tak ada lagi pemandangan bapak sedang menulis di balik meja tulisnya. Segalanya diubah. Tapi, tetap ada sesuatu yang tertinggal. Kenangan indah bersamanya.

***

Hingga bertahun-tahun kemudian saya memilih untuk bekerja di rumah. Tak jauh dari tempat bapak menulis, saya tengah mendesain buku, me-retouch gambar, menulis esai, puisi ataupun cerpen. Di sini, di tempat yang tak jauh, saya rasakan semangat bapak menulis puluhan naskah buku sekolah di saat yang sama. Di malam-malam syahdu saat saya belajar membaca dan menulis, saat kami bertukar pikiran tentang politik, saat saya mulai menunjukkan tulisan saya, puisi-puisi yang tak pernah sekalipun saya publikasikan saat beliau masih ada.

Terkadang, ketika saya harus bergulat dengan mata kuliah yang berat, bahasa arab yang susah, hafalan yang tak maju-maju. Ketika, saya menemukan begitu banyak buku yang saya butuhkan untuk kuliah di lemarinya. Tiba-tiba satu demi satu buku itu hadir, dan saya cuma bisa terbengong-bengong. Ataupun ketika saya mendapat order buku yang menarik atau ketika saya usai membuat tulisan, dan banyak lagi. Rasanya saya ingin bercerita pada bapak.

”Pak.. pak..,

Tapi akhirnya saya hanya akan diam. Berandai-andai, bapak ada di dekat saya hingga akan mengalir 1001 satu kisah akan cita-cita dan hobi yang sama. Pertimbangan-pertimbangan dan penilaian yang akan saya butuhkan. Hhh… hingga tangis saya mengalir. Kangen…

Hingga, saya mulai menyadari… kalau bapak memang telah pergi, tapi saya yakin beliau tetap di sini. Di hati ini. Cinta, perhatian dan semangat yang tak akan pernah mati.


23 Juni 1949-21 Januari 2004

Saya persembahkan untuk Almarhum Bapak…

Cintanya takkan pernah pudar

Semangatnya kan selalu membara

*foto ketika aku diwisuda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s