hikmah · kehidupan

Curhatan freelancer Ketika Rindu Ngantor

“Duh, ketiduran”

Jam di Handphone masih menunjukkan pukul 4 pagi. Iya, harusnya malam itu aku tidak tidur, kalau pun tidur tidak perlu sampai pukul 4. Ada deadline yang menunggu, yang harus aku rapikan dan print. Ada tagihan yang musti aku hitung. Ada janji hari ini dan banyak hal lain yang musti aku kerjakan.

***

Terkadang di kala menekuni pekerjaan, terbersit keinginan untuk kembali berkantor. Apalagi, ketika berada pada posisi butuh pertimbangan, bimbingan, ada yang harus dipikirkan dan banyak lagi. Apalagi, kalau tiba-tiba komputer ngadat, printer error, dan hanya bisa tanya sana, tanya sini…

Seringnya kakak perempuanku jadi “korban” dimintai pendapat karena ibu lebih sering bilang “nggak ngerti…” Tapi, ibu tetap yang no satu untuk urusan kepedulian dan perhatian… Two tumbs up for you, mom…😉

Hehe, padahal konsekuensi freelancer, ya kerja sendiri dan mandiri.

***

Aku resign dari sebuah penerbit akhir tahun 2004. Awalnya karena aku mau meneruskan kuliah S1. Apa daya, nilaiku tak bisa dikonversi dan enggan kuliah lama (4 tahun, bo… D3 yang kemaren ga kepake sama sekali, hiks). Jadilah, aku cari “ilmu” yang lain, tapi tentunya aku harap bisa tetap bekerja di sebuah penerbit yang lebih dekat rumah (penerbit sebelumnya cukup jauh dan butuh waktu 3-4 jam perjalanan pulang balik). Rupanya, Allah berkehendak lain, ketika akhirnya aku diterima di sebuah pesantren terbuka (semacam mahad) dan punya jadwal kuliah yang nanggung (berangkat dari rumah pukul 2.00, pulang pukul setengah 9 malam, sudah termasuk perjalanan), aku masih bisa tetap bekerja.

Alhamdulillah, dua bulan sebelum aku mulai kuliah, penerbit tempat aku bekerja dulu, menjadikan aku outsourcer untuk layout isi buku, sesuai dengan pekerjaanku terdahulu. Kalau tidak salah, order pertama itu Februari 2005 dan pembuatan nota pertama Maret 2005 dengan nama Khansa’Kreatif. Sebenarnya nama Khansa ingin aku gunakan untuk nama pena kalau aku menulis nanti, tapi rupanya aku belum menulis-nulis, jadilah aku pakai nama ini untuk usaha jasa desain dan editing dengan filosofi yang terus kupegang untuk cita-citaku. Berjalannya waktu, ketidaksengajaan ini terus berlanjut, ditambah, ada rekan semasa kuliah yang juga memakai jasaku. Jadilah, aku mengurus dua proyek buku. Dari mulai cari illustrator dan desainer cover, memilah naskah, mengedit, membuat kata pengantar, sinopsis dan mengumpulkan hingga jadi. Mengatur waktu pengerjaan proyek, menghitung biaya dan banyak lagi. Hingga, ketika salah satu buku akan naik cetak, aku sakit hampir sebulan.

Sebagai freelancer, kalau tak bekerja, aku tak dapat uang, dan tentunya tidak ada tunjangan. Tapi, Allah mahabaik, aku mendapat full gratis pengobatan dan perawatan karena saat itu wabah demam berdarah (Februari 2006). Sejak itu, aku selalu ingat untuk makan dan istirahat. Yup, dengan kerja freelance begini, aku harus terbiasa ditekan deadline, ditambah lagi kerja dengan penerbitan yang punya timeline sendiri. Yah, tidak hanya outsourcer, sewaktu aku masih bekerja di penerbit, aku pun beberapa kali bawa pekerjaan ke rumah dan lembur di hari Sabtu.

***

Ketika rindu berkantor, Allah mewujudkan impianku di Tahun 2005. Aku dapat tawaran bekerja lagi setelah pengajuan proposal kerja sama. Saat itu klien sudah lumayan. Hampir tiap bulan ada pemasukan dan catatannya sendiri kadang membuatku berpikir, kerja, kuliah jalan terus, nilai lumayan, hingga karena sakit, aku harus rela menjadi peringkat terbuncit di kelas. Down pastinya, tapi pekerjaan kembali menjadi pelarian… Aku pun mulai sibuk lagi. Bekerja kantor tiga kali sepekan, kuliah sore hingga malam dan bekerja di rumah. Lelah pastinya, tapi aku merasa senang,walau kadang ada amanah dan kuliah pesantren yang terbengkalai. Hingga hari ini tugas akhirku yang idealis tak kunjung selesai. Bandel, nih…😦.

Hmmm, masa menganggur bakda lulus D3 sekitar 4 bulan menjadi pengalaman yang tidak mengenakkan. Aku benar-benar stres dan tak ingin lagi mengalami masa itu hingga aku ingin terus bekerja…

Aku nikmati masa-masa ngantor. Makan siang bareng, kerja bareng hingga ritmenya pun mulai melelahkan. Dua atau tiga kali aku harus pulang di atas pukul 12 malam. Masuk angin, magh, diare jadi langganan lagi. Terlebih aku suka lupa makan, lupa istirahat dan lupa waktu. Setahun berlalu, keadaan perusahaan tampaknya juga tak memungkinkan aku terus berada di sana. Pekerjaan di rumah pun sering bentrok hingga aku mulai kehilangan salah satu klien. Masalah dengan tim juga menambah pertimbangan untuk resign. Yah, bulan Mei 2007, aku resmi resign lagi setelah setahun ngantor. Aku berpikir, rasanya terlalu lelah untuk berada di atas dua perahu. Walau kadang keadaannya saling mendukung, tak jarang juga saling berbenturan.

Aku kembali ke rumah. Saat itu, aku masih memiliki tim khusus. Lagi-lagi, ada cobaan baru, dengan resign-nya aku dari kantor, otomatis, posisiku berbeda dengan dua partnerku. Berkali-kali menyatukan visi dan misi, tapi tak jua bertemu. Isi kepalaku makin beda dan keadaan merongrong aku. Aku jelas-jelas mendapatkan uang hanya dari kerjaan freelance, gayaku beda, cara kerjaku beda, keadaan benar-benar tidak sama. Salah satu partner tidak bisa produktif setelah menikah dan hamil. Pekerjaan di kantornya sendiri juga sudah cukup banyak. Lagi-lagi timpang. Akhirnya, sampai pada keputusan kami berpisah. Nama Khansa’Kreatif kini hanya aku yang menyandangnya. Tapi, alhamdulillah, persahabatan kami jalan terus dan hingga kini aku masih tetap bekerja sama dan sering bertukar pikiran dengan mereka. Dini, ade… kalian benar-benar sahabat yang terbaik🙂

Yah, begitu banyak yang terjadi hingga hari ini. Kadang rindu berkantor terobati saat aku mengantar pekerjaan ke tempat klien. Bahkan aku pun pernah kerja di tempat karena beberapa hal. Rindu terobati ketika makan siang bareng, lembur bareng, dan bisa bertukar pikiran. Teman-teman yang ngantor begitu solid dan seru. Kayaknya, enak aja, biasa kerja sendiri dan hanya ditemani winamp, bisa rame-rame dengan teman-teman.

Hmmm, tapi terlepas dari semua itu aku bersyukur, di ruangan 3 x 3 yang hanya tertutup tirai sudah menjadi tempat beraneka ragam aktivitasku. Bekerja, belajar, membaca, menulis, membuat buletin sekolah dan segala aktivitas yang memang kuinginkan ketika aku memutuskan bekerja di rumah.

Aku bisa menikmati pagi di depan rumah, menghirup udara segar, bersepeda sambil mencari sarapan pagi dan tak perlu terburu-buru di tengah kemacetan Jakarta. Yah, syukur itu nikmat karena menurutku, merupakan sebuah pilihan berkantor di mana saja, di rumah atau di perusahaan… tinggal bagaimana kita menyikapi, menjalani, dan menikmatinya.🙂


*Sebuah tulisan untuk memotivasi diri dan berusaha untuk tetap optimis

~syukur itu nikmat
nikmatnya bersyukur

~semangatkan hidupmu
hidupkan semangatmu

5 thoughts on “Curhatan freelancer Ketika Rindu Ngantor

  1. Aku jg pekerja lepas yg bekerja dr rumah, baru menikah blm punya anak. Hari ini aku bangun pagi dan luar biasa kangen sama suasana rame di kantor. Pagi-pagi ngantri beli bubur ayam yg enak dkt kantor (yg kalau telat datang aja udah habis), makan siang rutin saling nanya “mau makan di mana?”lalu ada teman gosip, pulang kantor ada teman lembur (huhu pdhl aku benci lembur tp skrg rindu juga). Aneh ya.. Aku sadar ini ujian mental sih. Kerjaan freelance memang bikin rada gelisah pas lagi masa kosongnya ya? Haha bukannya bikin istirahat malah jadi pikiran. Sekarang aku jg lg mencoba memulai usaha lain yg lebih tetap yg bisa bikin aku lebih berkarya lg dr rumah, semoga cepat berlalu keinginan sebar lamaran kerja lagi ini🙂

  2. nice, teh!
    intinya: nikmatilah pekerjaan dimanapun qta berada…

    *yg belajar ngantor (kerja praktek), tapi ternyata masi ngerasa blom nyaman🙂

  3. @dc
    jadi freelancer emang banyak tantangannya🙂
    kadang emang bikin down, pas lagi mood ga beres, tapi moga lebih bikin semangat untuk ters berkarya🙂

    @chie
    hayyyyo semangat ya, chie🙂

  4. smngt Mbk…. suka banget sm tulisan ini, mewakili saya🙂, dulu sebelum nikah saya full kerja baik di rumah maupun di luar n jg sempet nulis, trus waktu dah menikah dan ikut suami sempat nganggur 2 bulan rasanya stress banget, hingga akhirnya dapat kerja lagi yg deket rumah (sampek skarang)….

    tp setelah sy pikir2, mo kerja di mana saja bagi sy yg penting ridho suami, trus kalau masalah ilmu kuliah g kepakek? Insya Allah terpakai kok🙂 walau dalam skala yg kecil,

    tetep semangat mbak!!!!!!!!!!!

    suatu saat nanti saya ingin bekerja dari rumah dan uang yang bekerja buat saya he2…ya apalagi kalau udah punya anak🙂

    1. waaah, seru, ya…🙂

      Iya, keridoan dari suami penting, ya mbak, jadinya ngejalaninnya pun enak🙂

      semangat, mbak
      moga yang terbaik untuk mbak Mio🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s