Tak Berkategori

Freelancer dan Beban yang Tak Terpisahkan

”Sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok.
Apapun beban yang ada di pundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa.” (Steven Covey)

Akan ada banyak orang yang berusaha melakukan hal tersebut, meninggalkan beban pekerjaan di kantor dan kembali ke rumah tanpa beban. Menjadikan rumah sebagai tempat beristirahat, tempat refreshing dan bercanda tawa bersama keluarga.

Bagaimana dengan pekerja rumahan. Para freelancer yang menjadikan rumah sebagai ”kantor”. Segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan bercampur jadi satu juga dengan segala hal yang berhubungan dengan urusan rumah.

***


Sore itu harusnya sudah bukan jam kerja. Walau aku bukanlah pekerja kantoran, jam kerja juga cukup berpengaruh buatku. Para klien biasanya menghubungiku pada hari kerja dan jam kerja, kecuali untuk pekerjaan yang memang butuh waktu cepat dan ada beberapa hal yang harus diperbincangkan dan bisa dibilang jarang.

Aku menerima sebuah SMS, tidak panjang, tapi mengena, tentang sebuah perintah dari klien untuk merevisi naskah yang dua hari sebelumnya telah aku kirim via kurir. Aku yang baru bisa bernapas lega sore itu, hanya terkaget membaca tulisan itu. Bagaimana tidak, naskah tersebut sudah berkali-kali revisi. Aku sudah mengulang dan terus mengulang hingga akhirnya semua di-burning dan dikirim ke redaksi, tapi kenapa harus ada revisi lagi. Selain itu, perlu diketahui naskah ini kejar tayang (hehe, kayak sinetron, ya :D).

Selanjutnya, diskusi demi diskusi yang tidak adem mengiringi sore yang bukan jam kerja. Menambah beban moral setelah aku mengatur kembali jadwal pekerjaan hari ini. Menambah daftar beberapa hal yang tadinya di luar rencana. Kembali memulai pekerjaan dari awal, setelah kekesalan menumpuk dan energi terkuras untuk memikirkan hal itu. Efeknya, urusan rumah tangga jadi terbengkalai.

***


Seorang teman yang pernah merasakan menjadi freelancer dan pekerja kantoran bercerita, kalau dia tak bisa hidup tanpa rutinitas. Dia tak biasa kerja tidak teratur. Dia menginginkan kerja yang pasti dijalani tiap hari. Teman saya itu seorang desainer grafis, ilustrator dan layouter. Ilustrasinya sudah mejeng di banyak buku, desainnya juga, dan belakangan dia juga merambah ke dunia layout. Dia mulai bosan dengan pekerjaan sebagai freelancer yang tampaknya setengah hati dia jalani. Dia lebih suka berkantor dan jelas pekerjaanya.

Sementara aku, pekerjaan freelancer, sudah nyaris lima tahun aku jalani. Diselingi dengan bekerja part time di kantor selama setahun (Mei 2006-Mei 2007) hingga akhirnya aku memilih untuk stand by di rumah. Aku memulai kembali dari awal pernak-pernik menjalani pekerjaan sebagai freelance. Sempat membuat tim dengan beberapa teman hingga akhirnya aku memilih bekerja terpisah, walau tetap bekerja sama pada waktu-waktu tertentu.

Seringkali, ketika memperkenalkan diri, orang yang baru aku temui akan menilai pekerjaanku. Betapa nyamannya kerja di rumah, tak perlu berebut naik bus atau menghadapi macet yang tak ada habisnya di Jakarta dan bisa kapan saja berhenti sejenak ketika jenuh melanda.



Eits, jangan salah. Bekerja dari rumah tak sepenuhnya menyenangkan, apalagi bagi orang yang terbiasa dengan rutinitas. Dengan freelance, pekerjaan tak menentu. Terkadang ada dengan deadline yang berdekatan, tapi tak jarang juga sepi hingga berbulan-bulan. Salah satu solusinya adalah menabung, karena walau proyek atau order sepi, pengeluaran tiap bulan sudah pasti, hehe…😀

Belum lagi, antara rumah dan pekerjaan seperti tanpa batas. Tak jarang pekerjaan harus dijalani ketika weekend tiba. Di saat orang lain tengah bersantai di rumah dan meninggalkan beban pekerjaan di kantor, si freelancer tengah berkutat dengan pekerjaan yang tak kunjung selesai. Pada hari kerja, juga harus stand by dihubungi klien hingga akhirnya sepekan full dengan segala hal yang berbau pekerjaan.

Alhamdulillah, aku mulai terbiasa dengan hal itu. Hmm, palingan yang tak bisa menerima adalah teman-teman yang tak biasa dengan hal tersebut. Lha, liburan kok kerja. Bahkan, berkali-kali ketika aku harus keluar kota saat weekend, aku tak lupa membawa laptop, hehe. Ini bisa diukur sebagai workaholic ga, ya? Hehe.

***


Selain freelancer harus siap mengorbankan waktu weekend-nya, mengingat kutipan di awal tulisan, si freelancer kebingungan meletakkan ”beban” pekerjaannya di mana? Karena lingkup kantornya ada di rumah juga.

Awalnya, aku memang tak terlalu memikirkan hal tersebut. Aku biarkan beban pekerjaan itu bercampur jadi satu dengan urusan rumah. Toh, ini konsekuensi yang harus aku jalani sebagai pekerja rumahan. Sampai akhirnya, pekerjaan rumah terbengkalai dan efeknya adalah ketidaknyamanan dalam bekerja.

Lagi-lagi aku kembali diingatkan untuk menata kembali semuanya dengan baik. Apapun memang bisa menjadi beban, apalagi soal pekerjaan, tapi aku berharap semuanya bisa terselesaikan dengan baik…

Mau pilih jadi freelancer? Pekerja kantoran? Parttimer? Silakan! Selama nyaman menjalaninya😉

Dilarang iri-irian karena boleh jadi rumput tetangga yang tampaknya hijau, bisa begitu kering ketika kita yang merawatnya, hehe…

SEMANGAAAAAAAAT🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s