berpikir · kehidupan · teman

Ketika Disapa Masalah

Setiap orang punya masalah. Hanya orang gila dan orang mati
yang tidak punya masalah.

Kutipan yang entah aku temukan di mana. Yah, namanya orang hidup itu pasti punya masalah, entah bentuk masalahnya seperti apa. Ada yang berat, kecil, sedang. Bergantung juga bagaimana kita menyikapi masalah-masalah itu.

Entah apa yang terjadi belakangan ini. Aku panik, bingung, kejar sana, kejar sini. Aku pikir ketika aku memutuskan kuliah lagi, aku akan memulainya dengan baik, membayangkan tekadku yang sudah mantap. Kelegaaan akhirnya bisa memulai belajar lagi setelah sekian lama jeda. Tapi, ternyata tidak, beruntun berbagai hal terjadi. Tumpukan masalah beberapa waktu lalu mencuat, berbarengan dengan adaptasi yang ternyata tidak mudah.

Pada pekan pertama kuliah, godaan demi godaan untuk bolos begitu besar. Pekerjaan yang diatur sedemikian rupa, terkadang tidak sesuai rencana. Panik, menangis, dan bingung. Sementara, di sini aku sendiri mengurus berbagai urusan rumah dari A-Z. Semua tumpang tindih. Seolah berkejaran minta diurus. Satu saja ditinggalkan, masalah baru menanti.

Menangis. Memohon, mencari solusi. Haruskah ada pembantu di rumah ini? Haruskan aku selesaikan masalah kemarin-kemarin yang mencuat lagi dengan kemarahan? Haruskah aku kaji ulang kuliahku? Haruskah aku negosiasi dengan klien atas kesulitan pekerjaan tidak biasa yang aku hadapi? Haruskan aku marah? Minder? Ketika kemampuanku dipertanyakan di kampus, sementara di tempat ini aku dibutuhkan? Haruskah aku tinggalkan amanah yang sedang kujalani? Sementara, tumpukan tugas kuliah sudah menanti…
Blank… Blank…

Hingga aku dihadapkan pada suatu hari yang tidak biasa.
SMS dari seorang sahabat yang memohon doa karena sedang ditimpa masalah keluarga yang pelik.

SMS lain datang, ayah seorang sahabat masuk ruang ICU

SMS lain datang, ayah seorang sahabat yang masuk ICU meninggal dunia…

SMS lain datang, seorang sahabat kecelakaan motor saat berangkat kerja, kakinya patah dan dirawat di rumah sakit.

Aku mencoba menelepon satu demi satu, hingga yang terdengar di telingaku adalah tangis dan pilu. Tapi tetap ada sepercik harapan untuk bisa mengatasi, menyelesaikan, dan menerima kenyataan.

Mencoba mendengar dan berempati atas kesulitan sahabat yang entah bagaimana aku bisa membantu. Hanya doa yang bisa kupinta, agar urusannya dipermudah… Seorang sahabat yang biasanya lebih sering menjadi pendengar sahabat lainnya. Seorang sahabat yang tak ingin menyusahkan orang lain atas kesulitan yang dihadapinya.

Mencoba berempati, merasakan kesulitan yang tengah mereka hadapi. Tapi, yang ada aku hanya mampu menangis. Kegetiran kehilangan orang tercinta menjadi hal yang traumatis buatku. Membayangkan wajah sahabat yang binar matanya indah harus kehilangan ayahanda tercinta membuatku tak tahan untuk terus menangis.

Mendengar suara sahabat yang menahan sakit, setelah operasi karena kecelakaan dan kakinya patah. Mencoba menghibur, mengingat hadiah ulang tahun yang belum sempat tersampaikan untuknya. Terdengar harapan untuk bertemu bersama sahabat-sahabat lain. Dia masih mampu bercerita, bersyukur keadaanya sudah membaik daripada kemarin.

Aaaah, betapa piciknya aku dengan tumpukan masalah yang tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Masalah yang sebenarnya bisa aku atasi satu demi satu. Masalah yang tidak harus kehilangan nyawa, kesakitan, dan kekhawatiran.

Betapa naifnya aku yang tidak segera mencari solusi, malah diam dan tak mampu bergerak. Menjalani hari seolah mengalir begitu saja, padahal aku harus membuat keputusan, me-manage ulang waktuku, mengkaji pekerjaanku, kuliahku, rencana hidupku. Bukankah Allah tidak akan mengubah suatu kaum, hingga kaum itu mengubah dirinya sendiri. Yah, aku harus terus berusaha. Aku harus bisa menjalani semua yang sudah aku putuskan, pilih, inginkan, terima, dan jalani dari hidup ini.

Aku harus bisa menyikapi masalah demi masalah dengan sebaik mungkin. Melupakan berbagai hal yang mengganggu pikiran dan membuang energi. Menata ulang berbagai hal yang sedang dan baru saja aku jalani. Bersemangat meraih cita-cita dan membuka mata selebar-lebarnya untuk sebuah harapan dan impian.

Bismillah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s