Tak Berkategori

Mengurai Benang Kusut

Aku masih mengingat ketika suatu hari aku mencoba mengurai benang kusut bernama masalah di hadapanku. Aku tak tahu mana ujung pangkalnya hingga berkali-kali aku menarik bagian yang salah hingga makin kusut. Bukan aku sendiri yang membuatnya menjadi kusut. Ada seorang sahabat yang ambil bagian di sana.

Aku berharap ketika itu, aku dan dia yang membuat benang itu kusut duduk berhadapan untuk bicara. Mengurai benang permasalahan kami bersama-sama.  Tapi, yang terjadi sungguh tak diharapkan. Dia yang ikut ambil bagian itu pergi begitu saja. Berkali-kali aku meminta untuk mengajak menyelesaikannya bersama-sama, tapi tak digubrisnya.

Tak berapa lama, dia hadir kembali, datang dengan senyuman, duduk di hadapanku dengan segala sapa riangnya. Sementara aku yang tak menduga kehadirannya, hanya bisa terdiam. Menatap mata dan wajahnya yang seolah tak pernah terjadi masalah di antara kami.

Beda halnya dengan seorang sahabatku yang lain. Aku dengannya terlibat adu argumen yang tak kunjung selesai. Dulu, aku berharap, masalah apapun dan dengan siapapun harus selesai. Tidak boleh ada ganjalan di hati lagi. Kami harus bicara. Hal itu berhasil untuk beberapa sahabatku. Tapi, kini rupanya aku ditunjukkan sesuatu yang lain. Tak semua masalah bisa diselesaikan dengan saling bicara. Saat itu, kami terus mempertahankan pendapat kami, cara kami dan memaksakan satu sama lain hingga tak lagi ditemukan titik terang. Jangankan titik terang, kami kemudian merasa tak saling mengenal satu sama lain.

Mereka memang berbeda, hanya aku yang sama. Aku dengan pola pikirku, mereka dengan pola pikir masing-masing. Ketika aku merasa tak dipedulikan ketika seorang meninggalkan dengan benang kusut di tangan. Seorang lain yang juga menciptakan benang kusut malah terus ribut denganku, kenapa benang ini menjadi kusut? Andai benang ini tidak kusut? Dan banyak lagi yang membuatku lelah menanggapinya.

Pada akhirnya aku hanya bisa terdiam. Mencoba berdialog dengan diriku sendiri. Sebenarnya apa yang sedang terjadi. Ini tentang apa? dan bagaimana aku bisa menyelesaikannya. Aku punya cara, dia punya cara, kami punya cara. Itu semua berbeda. Sekarang adalah bagaimana masing-masing dari kami punya sikap dan tidak menzalimi satu sama lain. Saling menghormati dan tidak memutus silaturahim.

Ketika aku merasa perlu menyelesaikan masalah dengan sahabatku yang pertama, aku mulai membuka pembicaraan. Membuat sebuah surat dan menyelesaikan. Yah, segalanya telah selesai walau menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu aku pinta jawabannya. Kami berteman baik, walau tak sama lagi seperti dulu. Waktu ikut ambil bagian untuk menghapus jeda di antara kami.

Sedangkan dengan sahabatku yang kedua, aku memilih untuk mengambil jarak cukup jauh. Kami tetap berteman hingga hari ini, tapi mengurangi frekuensi bicara agar tak ada lagi pertengkaran. Aku rasa, aku dan dia butuh waktu untuk berpikir. Bahwa tak semua bisa dipaksakan dan bagaimana memiliki sikap.

Satu yang aku pelajari dari kedua hal ini, kami semua butuh waktu. Entah sampai kapan itu. kadang waktu memang membunuh, tapi ada kalanya waktu juga mengobati. Bahkan waktu bisa hadir dalam wujud tangan-tangan yang merangkul agar silaturahim tak lagi berjarak..

*setiap orang berhak berubah dan kita harus menghormatinya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s