Tak Berkategori

Menjadi Diri Sendiri

Saya tatap langit-langit ruang kerja saya. Tak ada yang berubah, semuanya masih sama. Ada lampu yang menerangi ruangan. Saya tatap lagi dinding di sekelilingnya. Ada kalender harian, foto-foto, kipas angin, cermin, foto masjid Nabawi yang diletakkan kakak saya di ruang ini, gambar karikatur Bintang Eska, yang kalau melihatnya membuat saya tersenyum-senyum, hehe…

Lalu saya lihat kembali sisi belakang lemari buku peninggalan almarhum bapak. Lemari ini sebagai pembatas antara ruang kerja saya dan ruang tamu yang juga merangkap ruang makan. Di balik lemari itu terdapat kalender, foto-foto lagi, kalender satu tahun, tempat alat-alat, dan tempelan-tempelan, mulai dari bukti transfer sampai tagihan PAM, gantungan kunci sampai lambang jurusan tempat saya dulu berkuliah.

Inilah ruangan saya, mewakili pribadi saya yang penuh dengan warna, tapi ternyata masih terus mencari banyak warna….

***

Saya terhenyak membaca email seseorang. Email itu bukan untuk saya, tapi untuk sahabat baiknya. Kebetulan saya harus membacanya. Memang, email ini juga bukan tentang saya. Tapi, dalam email ini ada saya sebagai figuran. Figuran yang dipandang sebelah mata, entah kenapa? Figuran yang ternyata tidak cukup baik menjadi seorang dengan kostum yang telah dilabeli masyarakat.

Apakah diri saya salah? Apakah saya terlalu berlebihan? Sambil berpikir kalau saya hanya ingin menjadi diri sendiri.

***

Apa yang dilihat pada saat momen tertentu, tak bisa mewakili keseluruhan pribadi orang tersebut. Terserah kalau ingin menilai. Segalanya berjalan mengikuti laju proses pendewasaan.

Saya selalu percaya sebuah proses. Saya percaya setiap kita ingin menjadi lebih baik dalam menjalani hidup. Proses itu pun tak selamanya berjalan mulus, tak selamanya disetujui. Saya percaya juga proses itu tak instan.

***

Waktu berjalan seiring dengan segala hal yang tengah terjadi. Saya masih menjadi seorang perempuan dengan sifat saya yang kadang pembangkang, ekspresif dan terlalu bersemangat. Bisa meledak-ledak dalam satu kesempatan, tapi bisa juga “metal” (melow total :p) dalam kesempatan lain. Yang jelas saya masih menjadi diri saya yang berusaha menjalani proses dalam sebuah koridor.

Berbagai hal datang silih berganti. Berbagai kesempatan mengajak saya untuk ambil bagian, hingga saya pun mulai memilah. Memilah berbagai kegiatan yang membuat diri saya nyaman, mengenal orang-orang baru di sekeliling saya.

Tapi semua itu tak selamanya harus saya jalani dengan senyum. Penilaian orang kerap membuat saya bingung dan bimbang. Apalagi ada harapan-harapan tertentu dengan kata ”harus” yang tak membuat saya nyaman. Ketika saya tak mau, maka saya tak akan jalani. Konsekuensinya memang saya jauh dari mereka dan lebih memilih berada di tempat lain, yang memberi saya kenyamanan, tanpa perlu jaim dan menahan ekspresi saya.

Tak jarang sifat saya yang ekspresif berbenturan dengan orang-orang yang sama-sama sensitif. Protes-protes yang keluar dari mulut saya, tak jarang merenggangkan sebuah hubungan walau akhirnya waktu menjawab.

Saya masih harus banyak belajar.

***

Saya selalu merasa, tak ada gunanya jaim, yang ada adalah adaptasi, bukan juga jadi bunglon. Intinya ya jadi diri sendiri. Berani bilang ”ya”, ”tidak” dan bersabar menjalani sebuah proses kehidupan.

Buat apa saya peduli dengan penilaian orang yang memojokkan saya. Yang hanya memandang saya sebelah mata. Yang menilai dari satu sisi saja. Buat apa saya menjelaskan kalau saya ABCD, tapi bukan EFGH. Saya cukup jadi diri sendiri. ”Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu”

Aaah, tapi ternyata, keinginan saya hanya menumbuhkan rasa egois dan kebencian saya pada sebagian orang. Orang-orang yang dengan sengaja men-judge saya, menilai saya dari sisi mereka.

Lalu, saya harus bagaimana? Saya tidak nyaman dengan keadaan. Saya juga ingin menjadi orang yang lebih baik. Saya juga cuma manusia yang punya banyak sekali kekurangan. Jadi, saya harus bagaimana? Hehehe, seperti remaja kemaren sore aja😛

Butuh perenungan panjang, hingga akhirnya saya kembali ”melihat” diri saya. Apa adanya diri saya hingga saya hanya ingin menjadi diri sendiri. Seorang manusia yang ingin terus belajar🙂.

Ada kalanya sikap cuek itu perlu, seperti halnya sikap peka dan peduli sesama🙂

don’t judge a book by it’s cover

don’t judge a man by his writing

don’t judge a woman by her writing

Maafkan atas kekhilafan saya sama selama ini… Lagi-lagi, saya masih banyak belajar🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s