Tak Berkategori

Tetangga ooh.. Tetangga


Sabda Rasulullah SAW,
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangganya.”



Hari Ini dan Lima Tahun Lalu
Hari ini dan lima tahun yang lalu, mereka tak berbeda… mereka masih dengan ringan tangan membantu kami… tanpa diminta… tanpa pamrih…



Tanpa terasa tahun 2009 hadir kembali. Sudah banyak yang terjadi beberapa tahun belakangan. Banyak kejutan hidup. Banyak cita-cita dan mimpi. Banyak yang terjadi memberi berjuta arti.

Hari Ini
Hari ini aku menginjakkan kakiku di rumah setelah semalam menginap di rumah kakak perempuanku. Aku lihat pemandangan kerepotan di rumah. Yah, hari ini adalah syukuran pernikahan kakak laki-lakiku yang resepsinya dilaksanakan 14 Desember lalu di Banyumas. Ibu memang sudah merencanakan akan mengadakan acara syukuran kecil-kecilan. Beliau bermaksud mengabarkan kepada tetangga dekat ataupun saudara dekat di Jakarta tentang pernikahan kakak. Kakak dan istrinya sudah datang sejak Sabtu.

Saat itu aku melihat para tetangga yang turut repot di rumah. Memasak segala macam hingga bantu merapikan ruangan. Fiyuh, keadaan rumah terlihat sibuk, padahal ibu sudah meminta mpok yang dulu membantu di rumah kami untuk datang. Aku sendiri malah datang telat. Sengaja menginap di rumah kakak karena ada acara di Pondok Gede sebelumnya. Hehe, maaf ya, Bu.. aku ga mikir bakal repot gini… tahu gitu, aku pulangnya ke rumah malam itu…

Melihat pemandangan itu, ingatanku disadarkan pada peristiwa lima tahun silam saat terakhir kali bapak menghembuskan napasnya.

Lima Tahun Lalu
Pada bulan yang sama, tanggal 21.
Aku ingat malam itu, ketika kami pulang ke rumah dari RSCM, lewat tengah malam. Berbarengan dengan mobil yang membawa jenazah bapak. Aku lihat, beberapa anak muda membawa bendera kuning. Ketika sampai di rumah, kulihat keadaanya sudah rapi. Para tetangga berkumpul di gang rumah kami yang buntu. Kasur-kasur disiapkan di rumah kontrakan kakak saat itu yang letaknya masih satu gang dengan rumah kami. Mereka sempat menyuruh kami untuk istirahat di sana.

Paginya, makin banyak tetangga yang hadir di rumah kami. Mensholatkan dan mendoakan bapak bergantian. Aku, ibu dan kakakku tidak bisa tidur hingga pagi. Sambil terus menghubungi kakak laki-lakiku di Solo. Semenjak bapak koma, dia sangat sulit dihubungi.

Aku perhatikan para ibu-ibu beriringan menuju pasar. Entah kenapa itu menjadi tak biasa di mataku. Lalu, ada tenda di depan rumah, kursi-kursi. Tentunya bukan kami yang pesan. Tamu-tamu makin banyak berdatangan untuk melayat. Begitu juga teman-teman kuliahku. Bahkan, keluarga dari Solo dan sekitarnya pun datang. Tak lama, mbak Ita, tetangga kami menyodorkan nasi lengkap beserta lauk dan sayur kepadaku, kakak dan ibu.

Di rumah kakak juga disiapkan nasi, lauk pauk lengkap. Jadi, keluarga yang datang dari jauh bisa makan dan sejenak beristirahat di sana. Aku ketahui kemudian, semua yang menyiapkan adalah para tetangga. Hingga takziyah yang berlangsung tiga hari, kiriman makanan selalu datang. Saat ingin membayar biaya tenda, ternyata sudah ada yang membayarkan.

Sebelumnya, ketika diketahui bapak kecelakaan motor, beberapa tetangga meng-update berita tersebut dan menyiapkan banyak orang andai butuh banyak transfusi darah. Semua panik, semua khawatir, bahkan aku sempat diantar salah satu di antara mereka untuk ke Rumah Sakit.

Hari ini…
Aku melihat mereka lagi. Sibuk di sana-sini. Ikut memasak, dan menerima tamu hingga sore hari. Bedanya, dalam momen yang berbeda. Momen bahagia karena kakak telah menikah.

Ibu pernah memberi tahu, sekitar tahun 1983, keluarga kami pindah ke kompleks ini. Sebuah lingkungan yang terlalu mewah bagi kami dibanding tempat kami yang dulu di sebuah permukiman kumuh di bilangan Cempaka Putih. Merasakan banjir berkali-kali, hingga pernah kakak laki-lakiku nyaris hanyut.

Siapa mengira, 25 tahun lebih sudah kami ada di sini. Satu per satu tetangga mulai berganti. Tapi, hawa keakraban terus hadir. Dari mulai saling meminjam bumbu dapur, saling mengirimkan makanan hingga bantuan kecil sampai besar pada momen-momen tertentu. Tak terhitung kebaikan yang mereka beri. Sewaktu kakak perempuanku masih tinggal satu gang di sini, yang mengantar ke Rumah Sakit ketika dia akan melahirkan adalah tetangga dekat. Masih banyak lagi momen di keluarga kami yang melibatkan para tetangga.

Kini, setiap aku menemukan ujung gang rumah ini, aku selalu merasa berada di tempat yang nyaman. Tempat yang menjadi saksi masa kecil yang indah. Tempat yang menjadi saksi momen-momen sedih dan bahagia yang datang bergantian. Juga menjadi saksi bagi para tetangga yang punya begitu banyak cinta dan kasih sayang.

Tetangga memang tak beraliran darah. Bertemu dalam sebuah lingkungan yang sama. Merekalah orang terdekat dengan kita, yang hadir di kala duka dan suka. Subhanallah, kami merasakan keindahan bertetangga di sini.



Pondok Kelapa
4-6 Januari 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s