Tak Berkategori

puisi-puisi yang tercecer

Beberapa hari lalu ketika sedang beres-beres, saya menemukan banyak kertas. Di antara berkas, kertas, catatan-catatan itu, saya menemukan puisi-puisi. Puisi yang saya tulis ketika SMU dan kuliah D3.

Pengemis
tangan menengadah
meminta belas kasih
hidup bersusah payah
demi anak dan istri

mengais sampah di trotoar
berharap sesuatu bisa tercapai
bagai anjing liar
berbeut, meraih seongok bangkai

hati yang pedih
tersayat pisau yang perih

haruskan menderita
tanpa kasih dan cita

(kayaknya sih bikinnya tahun 98, entah terinspirasi dari mana dan bagaimana, kata2nya hiperbolis yak :D)

========

Pergi 21 Des 98

nggak dikira
nggak dinyana…
dirinya telah pergi
tanpa seikat janji

jasadnya tertutup kain
wajahnya terlukis senyum

masa kecil kukenal kamu
saling bercanda dan berbagi
ketika kutatap wajahmu
tak bisa kutahan tangis ini

(tahun 98, setelah kematian teman kecilku…di usianya yang terbilang muda..kalau ga salah saat itu aku kelas 2 SMU, sedih, deh… sebelum aku berangkat aku lihat dulu jasad dia… duh…hiks2, setelah itu, kayaknya aku juga bikin cerpen ttg dia, tapi ga tahu ke mana. Kami ber3 lumayan akrab…Oh, iya.. cerpen JANGAN PERNAH PULANG, terinspirasi dari dia… moga yang terbaik buatnya)

======

Perjalanan barumu

Kau di sana
terpisah jarak dan waktu
untuk berkelana
mengenali pribadimu

semenjak kau di sana
banyak kejadian menerpa
hingga kau menyadari
pentingnya jadi diri sendiri

selintas waktu
semenjak peristiwa itu
kau mengawali kisahmu
dengan sesuatu yang baru

banyak cerita dalam suratmu
kebanggaan atas hal yang baru
yang kau temui dalam duniamu
dunia baru yang bisa menuntunmu

kini ku hanya bisa berucap
kata cinta tulus dari bibir ini
karena segala yang kauperbuat kini
jadi dorongan hidupku

doa untukmu selalu kulantunkan
agar hidupmu di rantauan
tetap membawamu dalam kebaikan

selalu kunanti surat itu
selalu kutunggu dering telepon darimu
walau hanya sedikit sapaan
dan perkataan yang selalu memberikanku dorongan

Terimakasih, kak
(puisi ini untuk mas Agun yang ada di Solo)

(aku lupa bikinnya kapan, yang jelas, puisi ini sempat menghuni book file-ku ketika kuliah D3. Puisi udah aku cut pada bagian2 yang ga penting, hehe.. pengulangan, dllšŸ˜€. Ini satu-satunya puisi yang aku ketik, selebihnya tulisan tangan semua.
Selain menemukan puisi ini, aku juga menemukan surat-surat dari dia. Dulu belum ada HP, jadi kita surat-suratan. Aku punya boks yang berisi surat-surat, kartu lebaran dll dari saudara maupun teman)

=========

Puisi ini Tanpa judul

Aku butuh uluran tangan
mengajakku menuju jalan-Nya
bukan hanya sekadar ajakan mesra
aku butuh kata-kata
untaian hikmah dalam kalimat yang indah
untuk memberi setetes embun dahaga jiwa ini

aku hanya manusia satu
aku tak hidup sendiri
diri ini tak akan mampu
meraba, melangkahi tapak-tapak jalan kehidupan
aku tidak ingin sendiri

wahai teman,
aku sudah beratus bahkan beribu kilo
berjalan, berlari
mencari “sesuatu” yang mampu kugenggam
banyak manusia,
menyapa, menawarkan
kebahagiaan, kesenangan, cinta
tapi yang kudapat hanya sepi
diam, hampa, tak bernilai

aku ingin kau
jadi temanku, pendamping jiwaku
merapatkan barisan suci
menuju perjuangan abadi

(aku juga lupa kapan bikin ini, seingatku masih kuliah, seingatku waktu itu kan lagi aktif gituh, deh di ADK dan kemudian ada salah satu temanku yang baca yang meminta puisi ini. Aku baru sadar kalau ini ttg pasangan gitu ya kayaknya? aku juga ga ngerti kenapa bikin ini, hehee, kok penafsiranku rada aneh, ya, aku lagi kenapa ya saat itu, jangan-jangan terinspirasi alam bawah sadar, huehhehe )

==============

AKU

Pasir membentang di negeri Arafat
banyak jalan menuju ke selat
bolehkah kanda menumpang
di kapal pengaduan

Ku bertemu sang pemerhati
yang denganku membuka diri
perhatian dan dorongan
membuat suatu ikatan

Sering kau menyesali nasib
Jangan
Biarlah itu terjadi
sebab yang lama nusnah dan yang baru pasti datang

kau dengar kisahku
melukiskan jalan yang bercabang
persimpangan menghentikan jalanku
kudengar bunyi genderang

kau yang menabuhnya
petunjuk jalan itu
membenarkan langkahku
agar ku tidak terantuk

Maafkan aku wahai sahabat!
bantulah diriku yang kikir
kikir karena benih cinta

(Puisi ini bukan tulisanku, tapi tulisan salah satu sahabatku jaman kuliah. Ini balasan puisi yang aku kasih ke dia. Ditulis dengan tulisan script-nya, hehe dan ada tanggalnya 2 April 2001)

Lucu aja sih kadang kalau lagi beberes, suka menemukan “harta terpendam” gini. Apalagi kalau pas baca kok kayaknya jadi terkenang masa dulu, hehehešŸ˜€, sama lucu aja, kok bisa-bisanya aku melow atau norak gitu, hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s