berpikir

Dari Minder, Jadi Mundur?

Topik belakangan ini adalah MINDER.

Soal Belajar

Entah kenapa, penyakit yang satu itu menggelayuti diriku. Ketika masuk kuliah pertama kalinya, aku langsung menciut di balik meja. Minder. Kenapa aku minder? Karena aku merasa tak punya apapun di sini. Kemampuanku bisa dibilang nol besar. Walau sebelumnya aku pernah kuliah di pesantren terbuka, ternyata sudah banyak yang hilang dari otak. Sudah banyak yang terlupakan.Sementara itu, aku bertemu dengan wajah-wajah yang konon sudah berpengalaman atau punya latar belakang ilmu yang cukup bagus.

Aku mengajar TPA. Kemampuan membaca Al-Qur’anku biasa saja, hingga akhirnya ada test di kampus, kalau masih banya kekurangan di sana-sini. Lalu akankah aku minder? Jujur, aku malu dan khawatir. Aku yang mengajar TPA ini ternyata punya kemampuan rendah di kelas. Aku juga khawatir, kalau-kalau apa yang aku ajarkan kurang dan salah-salah… Sampai aku memikirkannya terus.

Ada bagian dari diriku menuntut mundur, tapi ada bagian dari diriku bertoleransi atas kemampuanku. Masak sih aku tega ninggalin anak-anak bermata jernih hanya karena keegoisanku? Nggak, kan? Bukankah aku justru harus lebih banyak belajar agar aku bisa terus mengajar?

Yah, aku ga mau lari, karena aku ksatria 🙂

Biar kata kemampuanku masih seadanya, aku ga mau minder, aku harus belajar… dan mengajari mereka apa yang telah aku ketahui.

Soal Jodoh

Ada cerita soal ini.

Untuk yang kedua kalinya, sebut saja May, dia  bertemu dengan orang yang minder… Minder entah kenapa? Minder entah karena bertemu sosok May? Seorang wanita biasa.

May kecewa untuk hal yang satu ini.

Kasus pertama yang dialami May. Banyak kejanggalan, walau tetap, sih ada kata minder di situ. Sebut saja si Dewa, yang enggan menyatakan perasaan dan meminta May untuk taaruf karena minder. Padahal, kata Dewa, dia telah menyimpan perasaan kepada May cukup lama. Mereka berteman baik, seperti sahabat.

Tapi, Dewa minder untuk bilang perasaannya itu karena merasa dia bukan siapa-siapa… Lah, emangnya May siapa? pikir May saat itu. Kasus ini mirip Fahri kepada Nurul di AAC. Lalu, berbagai hal terjadi hingga ketika segalanya sudah terlambat. Kunci pertama yang menjadi pembuka banyak kejadian yang melelahkan bagi May dan Dewa adalah minder.

Oh, ya, lain soal kalau “minder” hanya dijadikan alasan atau kambing hitam, ya…

Kasus kedua, Arga tidak mengenali May, mungkin hanya tahu sedikit dari kawan yang menjodohkannya. Atau dari tulisan-tulisan May.  Tapi langsung minder ketika mengetahui identitas May. May identik dengan kata alim, fanatik, dll dengan tampilannya saat ini.

Kecewa lagi…

=============

Minder lawan dari tidak percaya diri.

Minder dengan efek yang baik akan membuat si penderita bangkit agar bisa mengalahkan penyakit yang satu itu.

Minder dengan efek tidak baik, memilih mundur dan tak berjuang… dan itu tidak ksatria…

Aku memilih berjuang, walau kemampuanku saat ini memang belum seberapa…

Bukankah dari angka nol akan bergulir jadi satu, dua, kemudian, tiga, empat dan seterusnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s