Tak Berkategori

Ada Harapan dan Waktu

Setiap sedang menunggu bus di pinggir jalan, saya selalu berpikir dan berharap bus yang saya tunggu akan hadir, walau saya mesti berlama-lama menanti. Saya terus menatap kejauhan mobil-mobil yang berlalu lalang, terus melihat dan terus… sampai akhirnya saya melihat di kejauhan sebuah angkot/bus yang akan saya naiki. Kadang, angkot itu sudah terisi penuh sehingga ga jadi saya naiki.

Sewaktu di terminal pun sama, saya menatap terus jalur bus… lama menunggu. Akhirnya, saya coba mencari alternatif angkutan umum. Kalau yang saya tunggu tak kunjung hadir, kenapa terus menunggu. Saya kan bisa mendapatkan angkutan lain yang sama-sama membawa saya ke tempat tujuan. Kemudian,  saya mencoba mencari alternatif bus dengan bertanya kepada teman saya.

Atau ketika saya ingin membeli 1 rim kertas di tempat foto kopi. Ketika saya datang, tempat itu lumayan ramai, yang melayani hanya 2 orang. Mereka sibuk memfoto kopi. Sementara saat itu saya hanya ingin membeli kertas 1 rim dan spidol. Saya melihat di sana tidak ada harapan untuk dilayani cepat, karena begitu banyak foto kopian yang sedang dikerjakan dan tak ada gelagat dari pegawai foto kopi  untuk bertanya keperluan saya. Dan saya sendiri enggan untuk mulai memesan. Saya ga mau menyelak sebelum dipersilakan. Setelah beberapa waktu saya memilih pergi dan mencari tempat lain dari pada menunggu. Mungkin saya akan mendapatkan kertas dan spidol itu, tapi sampai berapa lama menunggu dan itu tidak pasti, padahal saya bisa mengerjakan banyak hal lain.

Sama halnya ketika saya mencoba sesuatu yang baru, di sana ada sebuah harapan sehingga saya mencobanya.

Seperti halnya ketika saya mencoba untuk ikut UMPTN, saya memprediksi diri saya bisa diterima di UNJ atau UNS. Ada harapan yang saya tanamkan dan keyakinan untuk meraihnya. Apalagi, ketika saya menghitung passing grade, nilai saya tercapai. Tapi, siapa yang menyangka, saya tak diterima. Harapan itu pupus.

Coba saya tahu terlebih dahulu kalau saya ga bakal diterima SPMB, saya pasti enggan mencoba, tapi saya ga tahu dan saya punya harapan dan tentunya saya tak menyesali hal itu.

Saya belajar dan menilai langkah-langkah saya ketika mencoba suatu hal. Kadang saya berhasil, kadang saya gagal. Tapi, dari sana saya belajar untuk mencoba dan terus mencoba karena ada harapan di sana. Lain halnya ketika saya melihat tak mungkin lagi menemukan harapan di sana. Saya memilih untuk mundur. Tentunya dengan berbagai perhitungan dengan mencari tahu.

Di setiap hal ada harapan…

Semua hal bisa juga diperhitungkan.

Tapi, segalanya kembali kepada-Nya

Mohon yang terbaik dari-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s