Tak Berkategori

Tantangan Ramadhan

Ramadhan kali ini berbeda. Aku coba menantang diriku untuk bisa tetap stand by di rumah sendiri. Memang, sih sudah lebih dari setahun aku menjadi penghuni tetap rumah ini. Ibu hanya sepekan atau dua pekan sekali pulang ke rumah ini. Abangku dan istrinya, yang sempat menghuni rumah ini, sedang tinggal di Kediri untuk sementara waktu. Keluarga kakak di Pondok Gede hanya sesekali menginap di rumah ini.

“Nanti, bulan Puasa tinggal di Pondok Gede aja, ya” ujar ibu suatu kali hingga sempat mengulang di kesempatan lain. Ibu tampaknya mengkhawatirkanku.

“Nggak, di rumah aja.” Berkali-kali juga aku menolak. Aku katakan kalau aku tetap akan bertandang ke Pondok Gede sesekali, tapi tidak untuk tinggal full selama sebulan. Ada banyak pertimbangan.

***

Akhirnya, ibu pun menyetujui. Aku sendiri coba menantang diriku untuk bisa mengatur semuanya. Dari mulai urusan bangun sahur, pekerjaan, kegiatan Ramadhan, targetan pribadi, sampai kuliah tambahan yang harus aku ikuti selama bulan Ramadhan. Aku juga harus bisa me-manage keadaan agar aku tak mengulang kisah Ramadhan tahun lalu. Bayangkan saja, aku hanya sanggup puasa enam hari dan terkapar karena sakit sekitar setengah bulan hingga akhirnya lebaran.

Sempat ibu menyarankanku untuk menyewa pembantu di rumah, tapi aku menolak. Tidak ada budget untuk bayar pembantu dan kebutuhannya. Selama ini, aku harus membayar kebutuhan rumah dan lain-lain. Untuk kebutuhan makan, ibu masih terus memberi asupan. Seperti membelikan beras sekarung dan kebutuhan lain yang juga disesuaikan dengan kondisi keuanganku yang naik turun😀

Selain itu, aku juga harus belajar disiplin. Kapan saatnya aku mencuci, mengepel, memasak, menyiram tanaman dan banyak lagi dengan keadaanku yang fleksibel. Beda sekali dengan kondisi di Pondok Gede yang tinggal makan, tinggal pakai baju, tinggal kerja karena semua kebutuhan sudah diurus ibu dan kedua pembantu di rumah itu.

“Aku harus bisa” itu tekadku. Insya Allah bisa. Aku ingin menjadikan momentum Ramadhan awal dari lembaran baru hidupku dengan berbagai komitmen yang harus aku jalani. Tahun ini telah memberi begitu banyak pelajaran padaku hingga aku harus mengkaji ulang berbagai hal dalam peta hidupku.

***

Jelang Ramadhan hadir, ibu mengajakku belanja. Belanja kebutuhan selama Ramadhan. Dari mulai susu, sereal, makanan siap goreng, seperti sosis, kentang, nugget sampai camilan-camilan berupa biskuit, dan lain-lain. Termasuk sabun cuci dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Hehe, segala kebutuhan telah terpenuhi. Aku insya Allah makin siap. Selain itu ibu juga mewanti-wanti banyak hal.

***

Dua hari pertama Ramadhan aku lewatkan bersama ibu dan keluarga kakak di Pondok Gede. Aku hanya ingin melewati sahur dan buka puasa bareng keluarga di awal Ramadhan itu. Pada Ahadnya aku pamit, berbekal kelengkeng seplastik dan memulai hari baru. Mengikuti tiga kegiatan di hari itu berlanjut menjalani hari-hari di bulan Ramadhan.

Mulai memasak nasi, menggoreng lauk, menikmati makan sahur dan tak lupa meminum susu juga meminum vitamin sambil ditemani TV ataupun laptop yang menyala. Hmm, rasanya sih sepi, tapi seru juga. Yang biasanya tinggal makan ketika sahur, aku harus masak nasi dulu, menggoreng apa yang bisa digoreng, membuat susu dan hal lain. Nggak jarang ada yang gosong atau kurang matang, tapi harus tetap dinikmati😀.

Ketika berbuka puasa pun nuansanya beda. Menyiapkan makanan-makanan pembuka yang dibeli dari dekat rumah. Memilih dari A-Z jenis makanan, tapi harus sadar dengan kondisi sendiri dan tidak saling berbagi. Hehehe, nggak enak deh buka puasa sendirian. Untungnya, ada beberapa kegiatan buka puasa bareng teman atau bareng adik-adik TPA yang mengikuti rangkaian acara Ramadhan. Jadinya, selalu ada suasana baru yang seru. Dari mulai tukeran jelly sampai nontonin adek-adek yang berebut sisa risol yang jadi favorit hari itu.

Berlanjut, aku musti mulai merapikan rumah, mencuci. Sempat kelelahan dan keadaan rumah tidak bertahan lama. Maksudnya, beberapa hari rapi, tapi ketika ada deadline, berantakan lagi. Akhirnya, cuma bisa loncat-loncatan ga keruan membereskan ini dan itu. Belum lagi akhirnya mulai bosan dengan menu yang ada. Mulai membeli hingga akhirnya mulai kangen dengan masakan ibu.

***

Apapun keadaanya, aku harus menikmati dan menjalani dengan senang hati. Bukankah segalanya berproses, hehe. Semoga Ramadhan kali ini bisa kupetik kembali berbagai pelajaran hidup. Menerima dengan bijak segala hal yang telah terjadi dan terus berusaha lebih baik lagi. Aamiin

SEMANGAT🙂

~~14 Ramadhan 1430 H
Bakda Sahur dengan menu makanan yang lagi-lagi agak gosong😛

2 thoughts on “Tantangan Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s