Tak Berkategori

Sweet Ramadhan



Ramadhan kembali menyapa. Ramadhan hadir memberi warna. Aaaah, indahnya Ramadhan penuh cinta…




Ramadhan kali ini aku punya tekad. Aku harus bisa menjalani dengan optimal. Mengurangi kegiatan yang bisa membuat lelah fisik.

Masih jelas teringat Ramadhan tahun lalu, aku jatuh sakit. Menjalani setengah bulan Ramadhan di atas tempat tidur dan hanya sanggup berpuasa selama enam hari. Melewatkan banyak kegiatan yang sebelumnya sudah direncanakan. Sampai akhirnya saat lebaran, aku masih tak boleh makan aneka hidangan lebaran. Tak bisa ikut mudik ke kampung dan beberapa hal yang membuatku harus kapok fuuuuh

Selain memiliki target pribadi yang sudah direncanakan sebelumnya, aku juga harus pilah-pilah kegiatan. Seperti biasa, acara buka puasa ada di mana-mana. Dari mulai teman SMU, teman kuliah, teman organisasi, teman mengaji, teman A, B, C, D, klien, dll. Yang jelas tidak semua agenda buka puasa bisa diikuti. Selain itu, acara-acara yang diselenggarakan teman-teman pun juga harus ditimbang-timbang. Semuanya menarik, seru dan menyenangkan, tapi kudu sadar fisik. Aku sadar fisikku tak sekuat kakakku, misalnya. “Alarm” ketika masuk angin dan kelelahan harus menyadarkanku untuk mengurangi kegiatan.

Alhamdulillah, walau ada yang tidak terlalu direncanakan ada beberapa kegiatan yang tetap bisa aku ikuti tanpa harus memforsir tenaga dan waktu. Selama Ramadhan aku mengikuti kuliah tambahan bahasa Arab. Selama enam kali pertemuan pada Sabtu Ahad, aku belajar bahasa Arab yang awalnya menarik, lama-lama makin menarik. Maksudnya, menarik jaringan atau sel-sel di kepala yang membuat kepala nyut-nyutan, hehe Jujur, sih, aku merasa puas dan merasa mendapat banyak manfaat, tapi jujur juga, aku harus pelan-pelan mempelajarinya, sambil mengingat-ingat kuliah sebelumnya. Alhamdulillah, selama enam kali pertemuan, aku berusaha tidak telat dan tidak membolos dan menangkap ilmu-ilmu yang kudapat😀 ciat ciaaaaat (emangnya silat :P).

Acara lainnya, kegiatan Ramadhan untuk adik-adik TPA dan remaja sekitar masjid. Aku hanya bisa mengikuti kegitan pada tiga hari di pekan pertama karena bentrok dengan kegiatan lainnya. Bisa dibilang acara kali ini tak sesukses Sanlat tahun lalu. Tapi, aku tetap merasa senang, masih bisa berkumpul dengan mereka selama tiga hari. Merasakan kebersamaan dan keceriaan dengan mereka.🙂 Nonton bareng, main Games bareng sampai main internet bareng (pengenalan internet).

Acara yang menurutku paling seru adalah bagi-bagi takjil di jalan raya. Aku dan beberapa teman berkumpul membagi tugas membawa snack, air mineral, kurma sebanyak yang dibutuhkan. Lokasinya bisa di mana saja. Membagikannya juga bisa dengan cara apa saja. Saat itu yang terpikir adalah, masih banyak orang yang sedang dalam perjalanan tidak punya bekal untuk berbuka puasa. Jadi, ketika dibagikan takjil mereka pun sangat senangHal itu menjadi “hadiah” tersendiri bagi kami yang emang senang jalan-jalan, halah, hehe

Ada beberapa kali pembagian takjil dengan lokasi berbeda. Pertama, di sekitar Semanggi. Aku agak telat karena harus menunggu bus, jadinya harus ketinggalan dari teman-teman. Kedua, daerah Jakarta pusat. Kejadian yang lucu ketika kami nekat membagikan sisa takjil yang masih ada dari dalam mobil lewat jendela mobil ke pengendara motor, hehe Ketiga, aku lupa di mana, hehe. Keempat, di daerah pancoran yang sukses membuatku mengelilingi perempatan jalan seolah baru mengenal Jakarta. Merasa harus mencari patung pancoran sebelum yakin kalau memang benar-benar berada di Pancoran, halah😀.

Oleh karena seringnya kebagian membeli snack buka puasa untuk anak-anak TPA dan bagi-bagi takjil, aku jadi tertarik hunting makanan kecil dengan variasi jenis dan harganya. Sempat iseng-iseng, membungkus satu makanan, menambahkan dengan jelly. Mampir ke “pasar dadakan” dekat rumah untuk memborong pastel atau lemper, heheheh. Mampir ke toko kue dan supermarket dekat rumah sepulang kuliah. Duh, kok masih aja sih identik dengan makanan.😀

Sesi bagi-bagi takjil sebenarnya pelengkap dari rencana acara bagi-bagi bingkisan on the road bersama teman-teman. Jadi, ketika harus berkumpul untuk rapat setelah buka puasa, kami janjian sambil sebelumnya bagi-bagi takjil di jalan raya.

Acara bingkisan on the road sendiri merupakan bagian dari rangkaian acara baksos Multiply Indonesia. Selama pencarian dana terkumpul lebih dari 10 juta dan produk. Subhanallah, mendapatkan banyak banget manfaat sekaligus membuat haru. Haru ketika melihat wajah sumringah penerima bingkisan di jalan dan takjub karena begitu banyak donatur dan jumlah uang yang terkumpul.



Ada bapak tukang tambal ban, tukang cukur yang di sela-sela menunggu pelanggan tengah mengaji, tukang somay, tukang loak, ibu penjual minuman, petugas kebersihan dan lain-lain yang dipilih secara acak dengan rute yang telah dibagi dan ditentukan oleh penanggung jawab. Selain itu karena masih tersisa dana, bingkisan juga dibagikan ke bagian anak kelas 3 di RSCM.

Panitia juga mendapat bagian untuk membagikan ke warga yang sekiranya layak menerima di lingkungan rumah masing-masing. Aku masih ingat ketika pagi-pagi sekitar pukul 3-4, aku keluar rumah setelah mendengar suara pak Hansip memukul tiang listrik setiap satu jam sekali. Memanggil beliau dan memberikan dua bingkisan untuk dia dan temannya yang memang bertugas di kompleks kami. Awalnya, sih mau keluar pukul satu malam, tapi kayaknya kurang sopan, deh😛

Alhamdulillah, dari target pribadi, walau tak tercapai semuanya, aku masih bisa menikmati itikaf ngalong di masjid (datang malam, pulang pagi :D). Seperti biasa, sambil menikmati pemandangan kalimalang yang ramai dengan pemudik berkendaraan motor, aku berangkat ke masjid. Seru aja, memerhatikan para pejuang mudik itu. Sangat mudah mengenali mereka, dari mulai bawaan yang cukup banyak, konvoi bareng, sampai mengenakan aksesoris seperti lampu tambahan yang kelap-kelip, bendera dan lain sebagainya.

Hmmm, Ramadhan yang berbeda, menikmati setiap waktu seolah selalu berkesan. Menikmati kesendirian ketika sahur dan buka puasa dalam rangka menantang diri untuk bisa tetap tinggal di rumah dan mandiri. Menjalani kegiatan-kegiatan yang diusahakan tidak menguras fisik, mencoba untuk menyeimbangkan dengan pekerjaan, kuliah dan urusan rumah tangga. Tidak selamanya bisa diatasi, tapi paling tidak, ada banyak hal yang bisa menjadi pelajaran dan PR ke depan untuk bisa lebih baik lagi.



Sweet Ramadhan…
Moga kita kembali bertemu di tahun depan…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s