Tak Berkategori

Tentang Sebuah Mimpi dan Cita-Cita

Tersenyum-senyum saya membaca dua tulisan sahabat di sebuah milis yang saya ikuti. Ini tentang mimpi, cinta-cita, dan pilihan.

Menengok sebentar ke belakang, apa saja yang sedang dan kemarin saya lakukan. Apa saja mimpi dan cita-cita saya. Dinamis, melompat-lompat, meledak, dan penuh kejutan.

Entah sejak kapan, saya sudah memproklamirkan diri saya untuk menjadi seorang guru. Yah, saya ingin sekali menjadi guru sebagaimana halnya profesi bapak saya. Dari SD, SMP hingga SMU saya masih ingin jadi guru. Di SMU lebih spesifik lagi, guru ekonomi. Yah, saya suka akuntansi dan ekonomi. Nilainya juga lumayan. Untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu saya memilih jurusan Pendidikan Ekonomi dan Akuntansi di UNJ dan UNS pada UMPTN (entah namanya apa sekarang :D). Saya gagal UMPTN. Saat kuliah di Politeknik, sempat ingin dobel di PGTK-SD. Berpikir ulang, aaah ga jadi, aaah…

Ketika bekerja di 2004, sempat terpikir untuk lanjut S1. Ekonomi Syariah, entah kenapa tertarik saja😉 . Waktu kuliah diprediksi 4 tahun dengan waktu Sabtu-Ahad. Saya memilih mundur. Hingga pada tahun yang sama, entahlah, saya sempat ingin melirik STEI di Rawamangun, tapi lagi-lagi saya mundur. Kali ini lebih ke soal biaya.

Kuliah di Politeknik tak pernah benar-benar saya inginkan. Bisa dibilang saya cuma ingin belajar, atau daripada nganggur. Saya lupa, persisnya. Yang jelas ini hal baru buat saya. Dari dulu saya tak berminat kuliah di Depok, lingkup UI atau apalah, tapi justru di sini saya menemukan banyak hal.

Saya kemudian menikmati semuanya. Kuliahnya, organisasinya hingga usaha sampingan saya, berjualan boneka. Lingkungan kampus yang sepi, memang. (dulu: kampus satu area dengan kantor Pusgrafin), tapi entah kenapa sedikitnya populasi mahasiswa TGP saat itu membuat saya nyaman, solid, dan senang. Kalaupun ingin keramaian dan keindahan bisa ke UI. Toh, saya kos di dekat UI. Kampus utama Politeknik juga di dalam UI, walau saya ke sana jarang sekali. Seingat saya, saya ke sana hanya untuk ambil beasiswa, mengajukan keringanan. demo, hehe, dll🙂. Kuliah saya saat itu paling mahal dibanding kedua kakak saya. Selalu coba cari info kalau-kalau ada beasiswa, mengajukan keringanan sampai kudu jualan sana-sini, hehe… Tugas kuliah yang bejibun, belum lagi biaya desain yang ga murah atau tugas makalah yang selalu ada.

Semua benar-benar berubah sekaligus membuka mata saya lebih lebar. Bukankah saya sudah teramat dekat dengan dunia buku. Sejak saya masih SD, selain mengajar, bapak berjualan buku sekolah, bisa dibilang agen, hingga akhirnya harus gulung tikar Aaah, kalau mengingat ini, mungkin tak bisa dilupakan masa jaya berjualan buku sekolah, tak bersisa sedikit pun buku-buku sekolah saat ini. Persaingan yang ketat dan perang diskon saat itu memang “meruntuhkan” banyak toko buku sekolah.

Selain berjualan buku, bapak mulai menulis. Oooh, tidak, bapak telah menulis sejak lama, bahkan sejak saya belum lahir. Yah, tampaknya bapak makin rajin menulis, menyusun buku, hingga bukunya lahir setelah berjibaku dengan naskah ditolak, gagal, dan banyak lagi… Hal ini tak akan terlupa karena, dari sanalah sebagian besar dana yang digunakan bapak dan ibu naik haji pada tahun 2001.

Perlahan tapi pasti ilmu yang saya dapatkan sangat-sangat berguna sebelum saya lulus kuliah. Menjadi asisten penulis adalah profesi yang saya jalani di samping jualan boneka. Penulis itu adalah bapak saya sendiri.🙂

Tanpa sadar saat itu saya merajut mimpi baru. Menjadi seorang penulis dan bekerja di dunia perbukuan. Mencintai sebuah profesi yang hingga kini sangat saya sukai.

Untuk bapak yang selalu menginspirasi

2 thoughts on “Tentang Sebuah Mimpi dan Cita-Cita

  1. Komen di sini ah… ^_^

    Salam kenal, ya…. Sebenarnya sering lihat tulisan mbak novi di milis, tapi saya baru berkunjung ke ‘rumah’ mbak yang di sini. Bagus2 isinya!

    Dan saya justru ngiri, deh, soalnya saya dari dulu pengen banget kerja di dunia perbukuan, tulis-menulis dan grafis. Tapi, di manapun kita ditempatkan oleh-Nya, semoga tetap konsisten melakukan yg terbaik dan makin bertambah rasa syukur kita ya. Amin.

    Tetep smangattt! ^_^

    Oh btw, saya izin link ya!

  2. halo mida🙂
    kita udah kontakan ya di FB😉

    Aku juga udah tengok-tengok blognya Mida🙂

    yup, kita harus sering bersyukur kepada Allah🙂

    Silakan

    SEMANGAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s