Tak Berkategori

Masih tentang Mimpi dan Cita-Cita :)

Masa-masa kuliah saya jalani dengan menyenangkan. Kuliah, kerja di rumah membantu bapak, jualan boneka, hingga saatnya harus berjibaku dengan tugas akhir. Alhamdulillah, lulus tepat waktu, walau ikutan sidang kedua dan isi tugas akhir yang sempat dirombak sana sini.

Ketika lulus, yang ada di pikiran saya adalah, saya bekerja sebagai editor di sebuah penerbit. Alhamdulillah, sebelum diwisuda saya diterima sebagai sektretaris redaksi merangkap editor di penerbit buku sekolah. Di tempat ini juga saya melakukan praktik industri dan penelitian.

Seharusnya hal ini menjadi sesuatu yang menyenangkan. Lulus, bekerja dan menikmati karir saya. Tapi, ternyata tidak. Saya akui saya bisa menjadi sangat idealis, tapi juga spontan. Tanpa pikir panjang, saya resign. Kenapa? Karena yang ada di otak saya adalah, ketika saya keluar dari sebuah tempat, bukan karena dapat pekerjaan lain, tapi karena saya memang ingin keluar. Jadi, dengan terjun bebas, saya resign setelah sebelumnya mengikuti test di tempat lain. Padahal ya di tempat tersebut belum tentu saya diterima, hehe…


Tebak? Saya tidak diterima di tempat yang baru dan tak mungkin kembali ke tempat yang lama. Saya berpikir keras, kenapa saya tidak bisa bersabar sedikit saja dalam hal ini. Perasaan merasa bersalah saya makin merongrong mengingat bapak begitu bangganya saya bisa langsung diterima kerja.

Tidak berapa lama, awal tahun 2004 menjadi titik balik kehidupan saya. Bapak menghembuskan napasnya untuk yang terakhir kali di ruang IGD RSCM. Sebelumnya bapak sempat koma setelah mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Matraman. Hal ini menjadi pukulan berat bagi saya. Saya sempurna menjadi pengangguran. Saya merasa nggak sanggup menyelesaikan amanah mengetikan naskah terakhir bapak. Menangis dan menangis didera perasaan bersalah.

Pada tahun itu juga saya mengubah paradigma berpikir saya. Sedikit “menyebrang”, alhamdulillah, kemudian saya diterima di sebuah penerbit Islam sebagai layouter. Di kampus dulu memang dipelajari juga soal desain dan layout, tapi saya tidak begitu tertarik. Saya merasa saya lebih minat dan lebih mampu bekerja sebagai editor dibanding desainer atau layouter. Tapi, siapa sangka, perlahan tapi pasti saya pun melakoni semuanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s