Tak Berkategori

Friday the 13th

Saya tak percaya dengan tanggal sial, keramat, klenik dan hal lainnya. Jadi, tulisan ini tak ada hubungannya dengan bau-bau itu, hehe. Ini hanya pengalaman saya sepanjang tanggal 13 November. Salah satu hari yang tak terlupakan bagi saya.

Dari pagi saya memang sudah meniatkan mencuci baju, beres-beres rumah dan kemudian ke kantor dan kuliah. Hari sudah siang ketika saya berangkat ke kantor. Dasar norak kali, ya, saya mencuci baju yang banyak ditambah handuk-handuk, alat sholat, dll yang membuat saya kelelahan, padahal masih banyak agenda yang harus saya kerjakan. ~_~ Maklum mesin cuci baru, baru nyicil maksudnya *_*

Saya hanya mampir sebentar mengambil naskah dan menyerahkan CD dan segera meluncur, berangkat kuliah. Ujian tengah semester hari terakhir. Terpikir untuk praktis naik ojek, tapi mengingat jumlah rupiah dalam tas yang pas-pasan, saya coba-coba mencari alternatif angkutan sambil meng-SMS teman saya. Moga bisa telat ~_^

Gelisah pastinya, tegang juga hingga lupa makan. Sambil membaca bahan ujian berulang-ulang. Sudah diulang dari kemarin-kemarin, tapi ya tetap aja yang nyangkut nggak banyak,
hehe.

Saya perhatikan jalan terus, hingga masih jauh dari tujuan saya berdiri. Agak lupa kalau harus lewat jalan yang tak biasa. Hingga ketika saya turun dari Patas, dengan suksesnya saya menjatuhkan tas selempang saya ke jalan raya yang padat. Saat itu saya membawa dua tas. Satu tas selempang dan satunya kantong isi naskah. Kantong isi naskah aman, tas selempang melayang… “Kok dibuang,” ujar si kernet. Heh, bukan dibuang, Pak, tapi jatuh… jatuh nggak sengaja, karena saya lupa menyelempangkan tas saya ke bahu *_*

Saya cuma bisa memandangi tas saya meluncur ke bawah dan tergeletak di atas jalan raya. Melihatnya terlindas mobil. Saya segera turun dari bus, berlari dan menyetop mobil belakangnya dan memungut tas saya dan segera menyebrang. Hmmm, alhamdulillah kondisi jalan raya sedang merayap, kalau nggak, nggak tahu nasib tas saya beserta isinya. Lemas, pastinya, tapi saya masih bisa memeriksa isi tas yang kotor dan melihat HP saya terbuka. Alhamdulillah, tidak rusak… Baru saya ketahui kemudian, kancing tas rusak dan gantungan kunci yang ada dalam tas hancur. *_*

Sambil menenteng tas yang masih kotor, saya susuri jalan menuju kampus dengan perasaan beraneka ragam. Sempat membuat ‘rusuh’ kelas dengan cerita sedikit pengalaman saya. Teman-teman sempat mengkhawatirkan hingga kemudian kami kembali tenggelam dalam soal-soal ujian.

Ujian selesai, saya harus pulang. Sempat mengambil uang di sebuah ATM dan kembali menyusuri jalan. Belum hujan, masih rintik-tintik, tapi tak lama kemudian hujan deras mengguyur. Saya berlari ketika menyebrang jalan dan berteduh. Hujan makin deras hingga ketika ada patas, saya nekat berbasah kuyup agar bisa menaikinya. Hari itu memang hujan cukup deras, banyak air menggenang di mana-mana, dingin.

Dengan keadaan basah kuyup saya masih sempat mampir ke sebuah toko. Ada keperluan yang harus saya beli. Tak disangka di sana saya malah mendapat kenalan baru. Dian namanya, mahasiswa semester satu di sebuah kampus yang bekerja sampingan sebagai penjaga toko. Kami saling cerita banyak hal. Lucunya hal itu bermula dari bros angklung yang saya pakai. Dia tertarik dan ketika saya katakan tentang Sekolah Kehidupan, dia makin tertarik dan banyak bertanya.

Akhirnya, saya sampai rumah. Masih ada satu ember cucian yang harus saya bilas dan tentunya menjadi dua ember yang harus saya jemur. Lelah pastinya, hingga ketika ingin menjemur pakaian saya menemukan sebuah kenyataan baru *halah, lebay. Air menggenang di ruang tengah lantai atas rumah saya. Cukup banyak dan membuat basah kasur yang ada di atas lantai. Tugas menanti kembali, mengepel dan berusaha mengeringkan lantai ~_~. Aduh, mak… saya lupa, ada masalah dengan saluran air di balkon rumah. Kalau hujan deras kami harus antisipasi untuk membendung air kalau nggak mau air itu masuk ke dalam.

Fuuuuuuuuh… seolah tak selesai, tak lama kemudian, motor yang harusnya saya bawa ke toko tak jua mau nyala mesinnya. Mungkin karena jarang dipakai dan dia kedinginan, halah *_* Yang jelas malam itu, saya dan kakak saya terus men-starter motor, menggoes, ah entah istilahnya apa, tapi tak jua mesinnya menyala hingga tetangga saya menolong dan mesin motor pun menyala. Meluncur dengan indahnya menuju toko… masih tersisa gerimis malam itu.

Alhamdulillah, segalanya selesai. Setelah menaruh motor, saya dan kakak saya meluncur menuju Pondok Gede. Menyusuri malam tanpa bintang setelah hujan mengguyur dengan derasnya Jakarta dan sekitar. Saya hanya ingin tidur malam itu, hingga… saat pergantian hari sebuah kejutan istimewa datang… ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s