Tak Berkategori

Maafin Nopi, ya, Bu

Kejadian itu begitu tiba-tiba hingga aku mungkin tak bisa terkejut. Mendapati ibu jatuh dalam posisi telentang ketika ingin menaiki bus kota. Aku dibantu calon penumpang lainnya membantu ibu untuk bangkit. Siang itu kami dalam perjalanan dari rumah bulikku. Aku lupa, ibu sudah lama tidak terbiasa menaiki angkutan umum dan kejar mengejar bus bukanlah sesuatu yang biasa baginya. Aku lupa, kaki ibu sudah lama sakit hingga tak mudah dari jatuh untuk kembali berdiri. Ya Allah, aku benar-benar lupa.

Sudah hampir sebulan ibu memintaku untuk mengantarkan ke rumah adiknya tiap akhir pekan. Tak banyak permintaan ibu yang bisa aku lakukan dan hal ini adalah sesuatu yang mudah bagiku. Aku memang gampang nyasar dan tidak tahu jalan, tetapi saat itu ibu bergantung kepadaku tentang arah perjalanan kami. Alhamdulillah, setiap  perjalanan lancar, walau aku sempat kebablasan, hehe.

Sejak menikah, ibu lebih sering bepergian bersama bapak dengan motornya. Dari motor GL keluaran tahun 80-an hingga ganti motor bebek, ibu dan bapak masih sering pergi bersama. Ibu sudah mulai lupa kalau harus naik angkot ke suatu tempat, mungkin bisa dihitung perjalanan ibu dengan angkutan umum. Ketika bapak meninggal hampir enam tahun lalu, kakak perempuanku menyicil mobil, kemudian ibu lebih sering diantar jemput kakak perempuanku dengan mobilnya.

Aku mungkin anak yang paling kere, hehe… cuma sanggup mengantar jemput ibu dengan angkutan umum. Dengan kakak laki-lakiku, ibu merasa aman menggunakan motor. Aku bukannya tidak bisa naik motor, tapi kejadian beberapa waktu lalu, mengerem mendadak saat memboncengi ibu menjadi kesan membekas tersendiri buat ibu… Sangatlah jarang ibu meminta tolong aku membonceng dengan motor, tentu saja salah satunya juga karena aku belum juga memiliki SIM.

Kini, aku hanya bisa memandangi ibu dari tempat duduk di belakang. Ibu jatuh dari bus karena terburu-buru akan naik. Aku benar-benar lupa kalau ibu pernah bilang dia tak mau berlari-lari ketika naik bus. Aku juga tahu kalau kaki ibu sakit dan tak mudah baginya untuk menaiki tangga satu demi satu.

Aku berpikir keras saat itu, terus memandangi ibu dari belakang. Mengingat kejadian yang begitu cepat. Bu, maafin nopi, ya… Ibu tidak pernah meminta apapun kepada aku. Hampir selalu menuruti apa yang aku inginkan. Dari mulai aktivitas yang aku jalani dan berbagai keinginan lainnya. Ibu selalu mendukung apa yang aku lakukan. Kepercayaan menjadi modal buatku kalau aku tidak akan berbuat macam-macam.

Setelah sekitar tiga puluh menit bus meluncur, aku pun bersiap. Aku menghampiri ibu yang duduk di depanku. “Dikit lagi, bu” Aku sempat khawatir kalau nanti harus turun dari bus itu, semoga ibu tidak jatuh lagi di jalan. Aku perhatikan jalan, terus dan terus hingga kami hampir sampai pada tujuan. Aku berdiri dan mengajak ibu juga berdiri. Ketika kernet berkata, “Kalimalang ada?” Aku pun spontan menjawab, “Ada”. Hehehe, jadi kayak diabsen di kelas aja.😀

Ketika bus berhenti aku turun terlebih dahulu, sementara rambu-rambu sudah menunjukkan lampu hijau. Ibu perlahan turun dan aku memegangi tangannya sambil menengok jalan di belakang. Alhamdulillah, sang sopir mau bersabar menanti sampai ibu selamat turun…. Fuuuh, lega… maafin Nopi, ya, bu😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s