Tak Berkategori

[cerpen] Tiga Perempuan

Rico Hendarwan menandai foto Anda

Rico Hendarwan mengomentari foto Anda

Salamah Dwi mengomentari foto Anda

Rien W mengomentari foto Anda

Agung mengomentari foto Anda

Lyn memerhatikan lima notifikasi di Facebook-nya. Banyak nama-nama yang tak dikenalnya di sana. Tak lama notifikasi terus bertambah dan bertambah. Hanya nama Rico yang dikenalinya. Teman Lyn semasa SMU dulu. Hmm, lebih dari sekadar teman tadinya, pikir Lyn, tapi semua harus selesai ketika ada sesuatu yang menghalangi mereka berdua untuk bersatu. Hal itu terjawab dalam sebuah foto yang Rico tandai juga untuk Lyn.

Sebuah foto bergambar seorang laki-laki dan perempuan berjilbab putih. Di tengahnya ada tulisan:

Insya Allah menikah

Rico Hendarwan

&

Wiena Mulia Sari

Gedung BKOW,

Jalan Raden Inten, Kali Malang

Jak-Tim

Lyn menutup foto itu dan menghapus notifikasi untuk foto dan sign out dari Facebook.

Di dua tempat yang berbeda dua perempuan menangis. Keduanya juga baru saja membuka Facebook dan menemukan foto tersebut. Bedanya satu perempuan menangis tersedu sedan, yang lainnya langsung mengusap air matanya dan nyaris membanting BB yang dipegangnya.

***

“Jalan Raden Inten di mana, Bu?” tanya seorang gadis dengan jilbab panjangnya berwarna biru tua.

“Naik aja, mikrolet 26, bilang abangnya raden Inten, biasanya kalau masih pagi gini ga lewat, jadi ntar naik ojek aja ke dalamnya. Emang mau ke mana, neng? Kondangan? Pagi bener?”

“Iya, bu.. mau datang ke akad nikahnya.”

“Dari mana, neng?”

“Bandung” ujar Tyas tersenyum. “Makasi, bu” Tyas berpamitan dan menyalami sang ibu. Si ibu tertegun sesaat, mengamati Tyas yang begitu sopan.

“Biar cepet dapat jodoh, neng ya. Ati-ati di jalan” ujar sang ibu.

“Makasi, bu” ujar Tyas tersenyum, sayangnya sang jodoh yang diharap akan menikah dengan orang lain…

***

aq udah sampe jkt. Lgsg ke lokasi. Begitu acara selesai, aq pulang. Ga usah bilang ibu. Thx, dek.

Lyn mengirim SMS ke adiknya di Medan. Lyn pergi pagi-pagi benar untuk mengejar penerbangan pukul 6.00 pagi. Tiket sudah didapat beberapa hari lalu. Lyn tak bisa berterus terang kepada ibu, untuk apa dia ke Jakarta. Apalagi, memberi tahu kalau Ricolah yang akan menikah. Ibu pasti akan marah besar.

Beberapa waktu lalu Rico beberapa kali pernah datang ke rumah Lyn saat tugas di Medan. Entah apa yang dilakukan Rico, tiba-tiba ibu dan bapak Lyn menyukai Rico dan kata mereka, Rico sudah bersedia melamar Lyn suatu saat nanti, tinggal tunggu waktu. Lyn hanya bisa terperangah. Tidak semudah itu meluluhkan hati ibu dan bapak. Apalagi, dengan Rico yang keturunan Jawa. Orangtua Lyn lebih senang dengan orang yang sukunya sama.

Lyn merasa segalanya berjalan lancar, mudah dan menyenangkan. Sejak pernyataan dari orangtua Lyn, Lyn pun makin ringan menjalani ‘persahabatan’ dengan Rico seolah masa depan sudah di depan mata. Entah kenapa, Rico sering berkelit ketika Lyn mengajak membicarakan soal masa depan dan lainnya hingga notifikasi foto tersebut.

***

Mata Dona nanar menatap jalan di depannya. Semua bagaikan sebuah film yang berkali ganti-ganti adegan. Di sana dilihat dirinya sedang tertawa, menangis, dan marah. Ada satu laki-laki yang berkali-kali juga ada di samping Dona. Makin mengingatnya, air matanya makin deras. Diusapnya asal karena tangannya terus memegang setir. Masih teringat kemarahan mamanya saat Dona nekat pergi hari itu.

“Kamu, tuh baru pulang, Don, masak langsung pergi lagi. Seberapa pentingnya orang itu buat kamu?” tanya mama.

Dona memang baru pulang dari Australia. Liburan panjang dari kampusnya ingin dimanfaatkan untuk refreshing di Indonesia. Selain itu, ada sebuah janji yang harus Dona tunaikan. Janji kepada seseorang yang menunggu Dona.

Sesampainya di bandara, Dona menyempatkan membuka facebook orang tersebut dan mendapati sebuah kabar yang sama sekali tidak mengenakkan. Rico menikah. Bagaimana dengan janjinya selama ini, menunggunya selesai studi dan kemudian menikah. Atau janjinya menyusul mencari beasiswa ke Australia. Kemarahan besar meliputi diri Dona. Begitu Pak Amin menjemput, Dona langsung ngotot mengambil alih mobil andai saja mama tak berkali-kali menghubungi Dona.

“Pulang dulu. Pulang…” perintah mama Dona.

“Oke, aku pulang, tapi dari rumah aku tetap berangkat ke sana”

“Terserah” ujar mama Dona.

Rrrrrriiit. Dona mengerem mobilnya. Kini dia sudah sampai ke sebuah Gedung di daerah kali malang. Diperhatikannya orang yang mulai banyak. Dilihatnya sosok dua wanita berjilbab yang sedang berbincang-bincang. Pikiran Dona kacau, betapa kehilangan yang ke sekian sangat menyakitkan. Betapa murkanya Dona pada sosok Rico yang sudah menjanjikan banyak hal pada Dona. Betapa bukan kabar yang seperti ini yang ingin Dona dapatkan sepulangnya ke Indonesia.

***

Suasana sudah cukup ramai ketika Tyas melangkahkan kakinya di sebuah gedung yang megah. Di gedung inilah, orang yang pernah Tyas harapkan melamarnya, akan menikah. Dibutuhkan kekuatan yang luar biasa untuk sekadar hadir. Untuk menunaikan janji kepada laki-laki yang entah karena kebodohannya tak pernah mengerti perasaan Tyas. Atau mungkin justru Tyas yang bodoh karena mau saja dijadikan ‘tempat sampah’ oleh laki-laki yang demen curhat dan mengadu pada Tyas. Ada titik bening yang tak malu muncul dari sudut mata Tyas. Masih teringat oleh Tyas obrolannya beberapa waktu lalu dengan Rico. Obrolan singkat via YM setelah penguman pernikahan Rico dan calonnya,

rico_oke: BUZZ

rico_oke: Datang, ya, Yas…

ukhti_tyas: hmm, ga tahu

rico_oke: yah, kamu kan sahabatku, kok ga datang

ukhti_tyas: eh, insya Allah. Af1, aku pamit, ya

Tak kuat menahan tangis, Tyas segera sign out dari YM. Kata ‘sahabat’ yang tak pernah Tyas mengerti.

“Eh, maaf.” Seorang wanita tak sengaja menubruk Tyas yang tengah melamun.

“Nggak apa-apa.” Ujar Tyas tersenyum.

“Hmm, eh ini gedung wanita, BKOW, kan ya?” ujar Lyn masih terengah-engah.

“Iya, mbak.”

“Eh, ya kenalin aku Evelyn, panggil aja Lyn” ujar Lyn menyalami Tyas. Di mata Lyn wanita di hadapannya begitu cantik, santun, dan ramah. Beda sekali dengan dirinya yang berantakan dan cuek.

“Aku Tyas. Aku juga mau ke pernikahan temanku, kok.” Ujar Tyas. Dalam hatinya Tyas seperti melihat seorang wanita yang enerjik, penuh semangat dan lucu. Bagaimana mungkin hadir pada pesta pernikahan dengan setelan batik, tapi sepatu sport. Tyas tersenyum menatap sepatu Lyn.

“Eh kenapa?” Lyn melihat kakinya. “Ya Allah… astaghfirullah, aku tadi buru-buru. Nih, aku pake ransel ke sini. Bawa selop, sih. Saat itu juga Lyn segera duduk dekat taman dan melepas sepatu sportnya, menggantinya dengan selop.

“Mbak Lyn lucu” ujar Tyas.

“Hehehe…” Lyn tertawa. Teringat perjalanan panjangnya dari Medan. Teringat begitu hebohnya ia mengganti pakaian di toilet bandara sampai lupa mengganti sepatu sportnya ketika turun dari taksi.

“Masuk, yuk.” Ujar Tyas mengajak Lyn.

***

Mata Tyas menerawang menatap sebuah tempat. Di sana ada meja kecil, sejumlah seserahan yang berjejer rapi. Seorang tua tengah duduk di tengah, lainnya duduk di pinggir-pinggir. Tak lama seorang laki-laki duduk di hadapan laki-laki tua itu. Rico. Tyas menatap laki-laki itu sambil mengingat pertama kali mereka bertemu di sebuah komunitas maya.

“Permisi” ujar Dona yang kini duduk di samping Tyas.

“Silakan” ujar Tyas.

“Hmm, udah mulai belum, mbak?” tanya Dona berbasa-basi.

“Belum, filmnya belum dimulai” celetuk Lyn yang ada di samping Tyas. Dona menengok ke arah suara itu dan menatap Lyn.

“Hehe, becanda, kenalin, aku Lyn” ujar Lyn sambil menyalami Dona.

“Hehe, basi banget ya aku, udah tahu belum mulai, ya. Maaf, ya soalnya aku ga kenal hampir semua orang di sini… SKSD boleh, donk, hehe” ujar Dona tersenyum pada Lyn.

“Aku Tyas” Tyas menyalami Dona.

Dona menatap Rico dari kejauhan. Hmm, laki-laki ini menikah. Padahal baru kemarin dia berjanji, aaargh, betapa bodohnya aku. Sudah jelas dia cuma pandai berjanji, tapi ga pernah mau berkorban dan berjuang… See, dia menikah sekarang. Di sini aku ingin membuktikan, apa aku baik-baik saja di sini…

Lyn merasa beruntung, jauh dari kotanya, bisa bertemu dengan Tyas dan Dona. Mereka wanita yang cantik, ramah dan punya ciri khas masing-masing. Kini matanya menerawang pada sosok Rico. Dengan setelan jas hitam dan sebuah peci yang kebesaran, Lyn semakin geram. Rasanya ingin melempar Rico dengan sepatu sportnya, tapi itu cuma imajinasi sesaat karena Dona mulai mengajak bicara lagi.

“Hmm, kalian temannya siapa?” tanya Dona penasaran.

Tyas terdiam. Tidak mungkin dia bicara kalau dia temannya Rico. Pasti sedemikian dekatnya hingga datang kemari pagi-pagi, apalagi kalau tahu dia dari Bandung. Lyn tak menyahut dan mengambil HP dari ranselnya. Dona kesal dan mengulang pertanyaannya lagi. Seorang ibu yang kesal karena terganggu dengan Dona yang berisik, mencubit pinggang Dona.

“aaaau” ujar Dona

“ssssst”

Tyas hanya tersenyum, sementara Lyn nyaris tertawa kalau saja Tyas tak mencolek tangannya.

Menit demi menit berlalu hingga tanpa terasa sudah hampir sejam, acara tak jua dimulai. Kaki Dona mulai kesemutan. Tyas dan Lyn sudah berkali-kali ganti posisi. Ada desas-desus dari ibu-ibu yang ikut duduk di dekat Tyas, Lyn dan Dona, kalau mempelai wanita dan keluarga belum juga datang. Aneh, pikir Lyn, bukannya biasanya yang mengadakan pesta adalah mempelai wanita, eh bisa-bisanya nggak datang. Pertanyaan Lyn terjawab ketika mendengar kedua ibu bergosip di sebelahnya.

“Dari awal bapaknya nggak setuju, tuh, jadinya, nggak datang-datang”

“Lah, ibunya gimana?”

“Tadinya udah setuju, nah nggak tahu, tadi pagi masih nggak masalah. Kayaknya si Wiena kabur juga, malulah keluarganya”

“Lha, kok bisa?”

Lyn yang gatal untuk berkomentar pun, tiba-tiba udah ikutan ngomong.

“Bu, gosip ye?”

“Ih, beneran, neng.”

Lagi-lagi Tyas mencubit pinggang Lyn. Lyn mendelik,

“Psst, ada gosip, nih” ujar Lyn menengok ke Tyas dan Dona.

***

Tak berapa lama, tampak seorang laki-laki berpakaian rapi mengumumkan sesuatu. Sang penghulu yang tadi duduk di tengah sudah beranjak dan berpamitan pergi. Lyn, Dona, dan Tyas saling berpandangan.

“Assalamu’alaykum Warahmatullahi wa barakatuh. Kami mohon maaf kepada hadirin, kami baru mendapat kabar kalau mempelai wanita sedang kurang sehat. Untuk itu, pernikahan ditunda, kami berterima kasih atas kehadiran saudara-sadaudara. Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh”

“Tuh, kan bener, si Wiena kabur” bisik ibu-ibu di sebelah Lyn.

***

Tyas memandang Rico yang tak juga bangkit dari tempat duduknya. Berdesir rasa kasihan dari diri Tyas. Biar bagaimana pun keadaan seperti ini sangat menyedihkan dan memalukan. Dona tersenyum penuh dengan kemenangan, seolah Dewi Fortuna tengah berpihak padanya. Kemarahan yang tadi mengendap di dadanya mulai terkikis. Terbalas sudah dendam membara dalam hati Dona. Pikir Dona, kalau saja calon istrinya meninggalkan, berarti memang Rico tak pernah cukup baik menjadi seorang suami.

Lyn menatap sejenak kedua teman barunya. Tyas dengan wajah murung dan Dona dengan senyum kemenangan. Entah kenapa ada sesuatu hal yang Lyn rasakan, tapi bukan sebuah kesedihan atau kesenangan. Ditatapnya Rico dari kejauhan. Tak juga ada rasa.

“Hmm, mau sampai kapan di sini?” tanya Dona pada Tyas dan Lyn

“Eh pulang aja, yuk,” ujar Tyas.

“Hmm, ga seru banget, sih…” timpal Lyn.

“Justru seru, Lyn, jarang-jarang ada pernikahan kayak gini.” Ujar Dona tersenyum licik seolah hal seperti itu bisa dijadikan becandaan.

Tyas menatap Dona.

“Eh, maksudku, kasian…” ujar Dona meralat ucapannya.

Dona, Tyas, dan Lyn beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruang akad nikah.

Rico menghela napas panjang. Banyak dari tamu menghampirinya, menepuk pundaknya. Mereka kasihan pada Rico. Bukan perjalanan yang mudah antara Wonogiri dan Jakarta untuk melangsungkan pernikahan. Perasaan ‘dibuang’ dan dipermalukan menghantui Rico. Orang tua Rico sudah dari tadi meninggalkan ruang akad, mereka syok. Mereka memilih untuk istirahat di ruang ganti.

Berjam-jam Wiena tak ada kabar. Wiena kabur dari rumah. Ayah Wiena kaget dan masuk rumah sakit pagi itu juga. Rico baru mendengar kabar setelah berjam-jam menunggu.

Rico menatap para tamu yang beranjak pergi. Tiba-tiba Rico melihat tiga wanita yang pernah ada dalam hidupnya, mereka bersama. Tyas yang cantik dan keibuan, Dona yang cerdas, wartawan, penulis, dan Lyn, seorang guru yang ramah, tapi tegas. Lyn, Tyas… mana mungkin mereka ada di sini. Lyn tinggal di Medan, Tyas di Bandung dan Dona di Ausie. Rico mencoba mengingat-ingat janjinya dengan Dona beberapa waktu lalu.

“Astaghfirullah”

“Kenapa, nak?”

“Eh, gapapa, Om”

“Sabar, ya” ujar omnya Rico.

***

“Kalian mau ke mana? Kita cari makan, yuk. Laper, nih. Udah datang pagi-pagi ga bisa makan. Pake acara nasi kotaknya ga dibagiin lagi.” Ujar Dona nyeplos.

“Makan di mana?” tanya Tyas.

“Aku tahu beberapa tempat enak daerah sini. Eh ngomong-ngomong kalian dari mana?”

Tyas terdiam.

Lyn juga diam.

“Aku dari Bandung,” jawab Tyas. Toh apa gunanya menyembunyikan identitas.

“Ow, jauh juga. Kamu temannya siapa? Rico atau is eh calon istrinya?” tanya Dona lagi

“Rico”

“Oh.” Ujar Lyn dan Dona bareng.

“Kalau kamu, Lyn?”

“Aku dari Medan.

Tyas dan Dona terkejut.

“Ya udah, jadinya kita makan di mana?” Lyn mengalihkan perhatian kedua teman barunya.

***

Mereka bertiga berjalan menuju tempat parkir. Banyak orang yang juga memilih pulang saat itu juga setelah mendapat kabar dari kerabat Rico. Setiap berpapasan dengan banyak orang, selalu terdengar desas-desus tak sedap.

“Aku udah siapin kotak tisu gini juga, kenapa akadnya ga jadi, sih” ujar Dona asal ceplos ketika memasuki mobilnya.

“Tisu.. untuk nangis?” tanya Lyn.

“Uupps… nggak aku lagi pilek” ujar Dona asal sambil berpura-pura menarik ingus di hidungnya.

Tyas menatap Dona, kini dia duduk di bangku depan sebelah Dona.

“Kayaknya mbak Dona nggak pilek, deh tadi”

“Hehehe. Iya untuk nangis, tapi nangis karena bodoh…” ujar Dona.

***

Burger Grill, Kalimalang, Jak-Tim

“Kamu dari Bandung, yas?” tanya Dona

“Iya.” Ujar Tyas singkat.

“Kamu… dekat banget, eh maksudku sahabatan dengan Rico?”

“Hm…. lumayan, sih… dia yang minta aku datang ke pernikahannya.” Ujar Tyas berusaha bersikap normal.

“Oooh… aku agak familiar aja sama wajah kamu, yas.. kayak pernah kenal.” Ujar Dona. Dona yang pernah kuliah di Psikolog seperti melihat ada yang Tyas sembunyikan.

Lyn baru saja dari kamar mandi mendatangi Tyas dan Dona yang memilih tempat duduk dekat jendela.

“Asyik juga, ya di sini… udah pesen apa, nih?” tanya Lyn.

“Aku pengen pesen lontong sayurnya, enak, deh, Lyn, mas mesen donk” ujar Dona memanggil pelayan.

Ketiganya memesan apa yang diinginkan.

Dona masih mengotak-atik BB-nya. Tyas sibuk dengan bukunya, dan Lyn menerawang menatap pemandangan di luar lewat jendela besar bening.

Ketiganya sibuk dengan urusan masing-masing hingga tanpa sadar Tyas menangis. Lyn yang berada di sebelah Tyas melihat dan memeluk Tyas.

“Kenapa, yas?” tanya Lyn.

“Aku ga tahan, mbak… aku ke sini ini benar-benar perjuangan, perjuangan berat. Aku sebenarnya suka sama Rico dan aku pikir Rico juga begitu, tapi dengan teganya dia men-tag aku di undangan nikahnya. Aku ke sini kayak orang bodoh, aku berusaha biasa bisa jadi sahabat aja, tapi aku tetap ga tahan, mbak.” Ujar Tyas terus menangis.

Dona yang berada di seberang meja Tyas dan Lyn menggenggam tangan Tyas.

“Sabar, ya sayang” ujar Dona.

“Makasi, ya…. aku senang, ada mbak Lyn dan mbak Dona di sini. Sebenarnya, kalau boleh milih aku lebih pengen di rumah, di kamar. Aku mau menghapus semua tentang Rico. Aku nekat aja ke sini, mbak.”

“Sama-sama Yas… sabar, ya”ujar Lyn. Lyn sudah menduga apa yang Tyas alami.

Ketiganya diam hingga pelayan meletakkan makanan dan minuman pesanan mereka.

Dona menatap Tyas.

“Yas… Rico tahu kalau kamu suka dia?” tanya Dona langsung.

“Hmmm, ga tahu, mbak, tapi aku pikir… dari sikapnya itu, dia perhatian, suka SMS dan nelpon, dan banyak lagi.” Ujar Tyas polos.

Diusap air matanya. Entah kenapa, Tyas berani menceritakan kisah hidupnya kepada dua orang yang baru dikenal, tapi keadaan yang membuat Tyas tidak tahan dan memilih menumpahkan semuanya. Tyas merasa teramat bodoh terkungkung dalam mimpinya sendiri tentang Rico. Rico yang santun, baik, perhatian, punya banyak prestasi, wawasan yang luas, ternyata tak lebih dari seorang yang senang tebar pesona. Memang tak pernah ada pernyataan dari Rico, tapi Tyas sudah terlanjur mengisi hatinya dengan sosok Rico.

Dona kembali mengotak-atik BB-nya.

“Pantes… aku familiar dengan kamu, sepanjang jalan dari bandara ke rumah, aku otak-atik FB Rico dan salah satu cewek yang paling sering ada di page Rico tuh kamu. Aku pikir nikahnya sama kamu.” Ujar Dona masih memegang BB-nya. “Kalau ada notes, kamu pasti tag Rico pertama kali, dan kalau Rico bikin notes kamu juga selalu komen… Hmm, sudah sebegitunya Rico ga sadar juga, ya” ujar Dona sambil menyeruput jus alpukat kesukannya. Pandangannya menerawang keluar jendela. Seharusnya kepulangannya ke Indonesia adalah untuk memastikan semuanya, tapi ternyata harus ini yang terjadi. Kehilangan lagi.

Lyn menatap Dona. Begitu mudahnya ceplas-ceplos dan spontan.

“Hehehehe… aku pada dasarnya pemalu, mbak. Cuma lewat FB aja aku bisa begitu.” Ujar Tyas. Air matanya sudah tak keluar, tapi terlihat jelas bengkak di matanya.

“Kamu kenal di mana?” tanya Dona. Entah kenapa saat itu feeling psikologinya yang lebih kuat dibanding sakit hatinya sendiri yang ia rasakan pada Rico. Dona merasa Tyas perlu bantuan, walau sempat beberapa kali Dona jengah dengan apa yang Tyas lakukan di FB Rico selama ini. Satu lagi, usia Tyas terpaut jauh dengan dirinya. Tyas masih muda, belum terlalu banyak pengalaman dengan sosok yang bernama lelaki dan sesuatu yang bernama cinta.

“Komunitas, mbak… kami satu komunitas. Dari awal dia yang menyapa aku dulu, terus kita makin akrab, tanpa sadar sahabatan… aku cuma merasa Rico butuh momen yang tepat untuk hmmm… melamar aku, aku milih untuk nunggu….” ujar Tyas malu-malu.

Polos benar dia, pikir Dona

Lyn mencoba mengingat-ingat perkataan Rico. Dia beberapa kali menceritakan soal komunitas maya yang dia ikuti. Yah, ada seorang wanita di sana. Wanita yang berkali-kali diceritakan pada Lyn, tapi wanita itu tidak seperti Tyas. Dia tidak sepolos, cantik, ayu, santun seperti Tyas. Wanita itu lebih kuat, punya komitmen dan tegas.

Lyn menatap Dona. Gambaran wanita di depannya seperti yang diceritakan pada Lyn. Wanita yang katanya harusnya menjadi istri Rico, tapi tak disetujui orangtuanya.

“Kamu sendiri, Lyn? Apa kamu juga punya hmmm, hubungan khusus dengan Rico?” tanya Dona.

Lyn tak kaget lagi dengan pertanyaan Dona. Lyn sudah menduga Dona juga akan mengorek-ngorek informasi dari Lyn.

“Hmmm… mungkin, tapi ternyata aku terlalu berharap banyak, mbak… sama halnya dengan Tyas, aku ga pernah menanyakan atau dapat pernyataan dari Rico. Aku jalani dengan let it flow sampai aku sadar, ternyata aku cuma dijadiin ‘tempat sampahnya’ dia… Butuh waktu yang lumayan lama untuk menyadari itu… tapi paling tidak aku tak berharap banyak… hanya… orangtuaku sudah terlanjur suka pada Rico”

“Maksudnya”

“Yah, mereka pikir Rico serius denganku. Aku juga ga ngerti, bisa-bisa Rico mencuri perhatian orangtuaku, hingga mereka sudah berpikir kalau kami akan segera menikah… padahal dari Riconya justru tak ada pernyataan apapun… aneh… setiap aku tanyakan soal itu, Rico justru mengelak dan berkelit…. dari situ aku mulai ngerti, malah belakangan dia cerita tentang seorang wanita… yang katanya dia sukai, tapi ga mungkin sama-sama. Aku pikir, kalau emang dia suka aku, ga mungkin donk dia menceritakan wanita lain…” ujar Lyn menatap Dona.

Dona masih menikmati burgernya sambil mendengarkan Lyn. Lyn tampak lebih tegar dan logis dibanding Tyas. Lyn tak terpenjara dengan imajinasinya, tapi Dona merasa Lyn sempat punya harapan pada Rico dan tak terbalas.

“Wanita itu aku pikir mbak Dona” ujar Lyn. Dona terperanjat. Tyas menjatuhkan sendok yang tadi digenggamnya.

“Eh, kenapa bisa mikir gitu?” ujar Dona

“Hehehe… di antara kita yang belum cerita kan mbak Dona.” Ujar Tyas polos “Iya, mbak… udah deh kita buka-buka semuanya… mumpung kita ketemu… aku udah pasrah… capek malah ngadepin semua ini”

Dona menatap kedua teman barunya. Tidak mudah baginya membuka diri, tapi ada sebuah chemistry untuk bisa dekat dengan keduanya.

“Hmmm… yah sama dengan kalian, aku cukup dekat dengan Rico. Aku saat ini kuliah S2 di Ausie. Aku pulang ke Indonesia juga ada janji dengan dia, tapi ternyata dia menikah… aku sendiri ga di-tag. Hmmm, aku sengaja siapin tisu, untuk nangis, pastinya… karena aku pikir… kenapa aku lagi-lagi harus bodoh dengan bertemu orang yang salah”

Lyn menatap Dona. Meyakinkan diri bahwa Donalah wanita yang selama ini menjadi objek puisi-puisi yang dibuat Rico.

“Hmmm… aku kenal dia di komunitas, tapi kayaknya beda komunitas dengan kamu, Yas… komunitasku tentang kepenulisan gitu… kami biasa saling menilai tulisan. Katanya, sih awalnya Rico kagum dengan tulisanku yang begitu mengharu biru, sampai akhirnya kami akrab.”

“Oh, mbak di komunitas Pena, ya?”

“Yup…”

“Aku pernah diajak Rico untuk gabung di Pena.” Ujar Tyas.

Dona terdiam. Bagaimanapun, sepolos apapun Tyas, Rico tetaplah salah mengumbar perhatian dan banyak hal ke banyak wanita. Baru dua orang yang ditemuinya, entah ada berapa wanita lagi yang terjerat dan merasa disukai Rico.

“Bedanya aku dengan kalian… ketika aku merasa Rico memberi perhatian lebih, aku tanyakan langsung… apa dia menyukaiku…?”

Tyas tersedak. Lyn tanpa sengaja menjatuhkan HP-nya.

“Aku pernah gagal, jadi aku nggak mau gagal lagi, walau pada akhirnya, Rico justru tidak lebih baik dengan mantan suamiku.” Ujar Dona.

Tyas kembali tersentak mendengar perkataan Dona. Mbak Dona janda? Tak terlihat sama sekali kalau Mbak Dona sudah menikah. Dia memang terlihat sudah berusia 25 ke atas, tapi sudah janda. Rasanya mustahil. Tyas tak berpikir sejauh itu. Mbak Dona menikah umur berapa?

“Aku menikah umur 19 tahun ketika masih kuliah S1. Pernikahan yang hanya berumur tiga tahun dan kami bercerai. Saat itu kami tak memiliki anak.” Pernyataan Dona seolah menjawab tanya Tyas.

Lyn menatap Dona. Memikirkan kembali curhat Rico di suatu malam, curhat yang secara tersirat menegaskan kalau Rico tak punya perasaaan apa-apa pada Lyn. Rico menceritakan ketidaksetujuan orangtua Rico atas calon yang ia tawarkan. Mungkin karena Dona janda.

“Aku bercerai karena ternyata suamiku itu menikahiku karena mengincar kekayaan papa… seperti sinetron, ya… tapi begitulah, yang jelas long story. Setahun perceraianku, aku bertemu dengan Rico, hmmm, adalah satu anugerah sendiri buatku. Dia mengajakku untuk melupakan masa lalu dan merenda masa depan. Banyak nasihat yang aku pegang… bisa dibilang Rico salah satu orang yang berpengaruh buatku.” Ujar Dona.

Tyas dan Lyn terdiam.

“Hmm, makanya aku tak pernah main-main saat Rico dengan sikapnya mendekatiku… ternyata gayung bersambut, Rico juga menyukaiku, tapi dia berdalih tak bisa memperjuangkanku.”

Suasana hening.

“Tidak disetujui orangtuanya?” ujar Lyn memecah keheningan.

“Iya, karena aku janda.” Ujar Dona. “Anehnya, dengan dalih sahabat, dia meminta masih bisa terus dihubungi dan bersikap biasa. Hmm, aku ga bisalah… masalah kami itu pengorbanan dan perjuangan dan kebersamaan. Katanya dia punya cinta, tapi dia tidak punya komitmen. Berkali-kali kami bertengkar sampai akhirnya… aku memilih untuk mengikuti alurnya, bersahabat… tapi dengan mengurangi frekuensi kedekatan kami…”

“Puisi-puisi di notes Rico itu?” tanya Lyn.

“Ah… ya… dasar laki-laki, dari puisi itu, berapa banyak wanita kecele, ya… sampai menduga-duga ditujukan untuk siapa? Yah, beberapa puisi itu dikirim japri ke aku.” Ujar Dona,

Tyas terdiam. Dirinya makin teramat bodoh. Istana imajinasinya perlahan hancur berkeping-keping mendengar kenyataan di depannya. Melihat Dona ada rasa pedih, sekaligus rasa miris. Ironis. Ternyata selama ini wanita yang selalu ditulis dalam puisi Rico adalah Dona.

“Aku sudah menduga, mbak. Aku melihat Rico begitu tersiksa pada puisinya, tapi juga begitu lemah karena tak bisa berbuat apa-apa.” Ujar Lyn.

“Bukan tidak bisa, tapi tidak mau” ujar Dona. Ada kristal bening keluar dari mata Dona. Sebuah tisu disodorkan Tyas kepada Dona. Ditatapnya wajah Tyas. Ternyata selama ini wanita yang disangkanya lebih dipilih Rico pun sama. Sama-sama kecewa dengan sikap Rico yang tidak tegas dan tukang tebar pesona.

“Seharusnya aku ada janji dengan Rico, tapi tampaknya dia lupa padaku… menikah saja dia tak mengundangku.”

“Janji?”

“Yah, biar gimana juga Rico akan kuliah S3 di Ausie, dan harusnya kami bertemu saat aku pulang ke Indonesia.” Ujar Dona. “Terlalu banyak yang Rico janjikan ke aku… aku merasa bodoh.” Ujar Dona.

Tyas menghampiri Dona dan memeluknya.

“Mbak… bukankah dengan mengetahui semua ini, mbak tidak lagi harus gagal.” Ujar Tyas. Tyas merasa persoalan Dona lebih berat.

“Terima kasih Tyas, maafin aku ya udah nyangka kamu macam-macam” ujar Dona. Kebencian pada Tyas luntur saat itu juga. Ditatapnya Lyn. Satu-satunya wanita yang tak menangis saat itu.

Lyn terdiam canggung. Ditatapnya dua wanita itu. Tyas yang polos, Dona yang tegas dan pernah terluka. Mereka sama-sama penuh cinta, sama-sama terjebak dengan seorang yang sama, yang juga melukai hati Lyn. Lyn tak ingin mempermasalahkah. Lyn hanya memikirkan orangtuanya. Biar bagaimanapun Rico sudah menjadi harapan orangtua Lyn. Begitu sulitnya bagi Lyn memberi tahu mereka kalau Rico tak lebih dari seorang teman.

“Rico bagaimana kabarnya, Lyn? Kapan ke sini lagi?”

“Baik, bu… ga tahu, sibuklah dia..”

“Masak datang ke rumah calon sibuk segala… cepat suruhlah melamar ke rumah dia” ujar mama Lyn beberapa waktu lalu.

Lyn menghela napas mengingat perbincangannya dengan mamanya beberapa waktu lalu. Tiba-tiba dirinya tersadar.

“Aku harus segera pulang, nih. Aku ngejar pesawat jam 2… hmmm, aku kabur dari rumah, hehe” ujar Lyn

“Haaaa, kamu serius Lyn?” tanya Dona tak percaya.

“Masak sih, mbak Lyn” Ujar Tyas kaget.

“Iyalah… kalau aku bilang-bilang, bisa-bisa orangtuaku minta ikut, dipenggallah Rico, hehehe” ujar Lyn berceloteh menghidupkan suasana yang tadinya begitu sendu.

Dona dan Tyas terkekeh.

***

Perjalanan menuju bandara dilalui dengan diam. Lyn tertidur di bangku belakang. Tyas masih sibuk membaca novel Kang Abik sambil sesekali mengusap air matanya. Dona konsentrasi dengan jalan di depannya. Pastilah Allah sudah menentukan takdir bertemu dengan kedua teman barunya. Pertemuan yang hanya beberapa jam saja, tetapi begitu berarti bagi ketiganya.

Tinit tinit..

Lyn terbangun mendengar bunyi sms dari HP-nya.

Dari Rico

Lyn, gimana kabar Medan?

Rasanya pengen makan roti cane, masakan ibumu,

dan jalan-jalan ke danau Toba😀

Kamu lagi ngapain? Aku ingin cerita banyak

Lyn membaca SMS itu dan memilih menutup kembali HP-nya, meletakkan kembali ke dalam tas dan meneruskan tidur. Terpikir di benaknya untuk menyatakan yang sebenarnya tentang Rico pada kedua orangtuanya. Menutup segala pintu “boleh curhat” kepada Rico.

Tak lama, ponsel Tyas berbunyi. Tyas segera menutup bukunya dan mengambil HP dari kantongnya.

Dari Rico

Hidup tak selamanya indah, ya…

Tapi, sangat indah ketika masih bersahabat dengan kamu…

Apa kabar Tyas?

Tyas membacanya dengan wajah mendelik. Sesekali menatap Dona yang masih berkonsentrasi dengan pemandangan di depan. Dihapusnya SMS dari Rico. Dimasukkan kembali HP-nya ke dalam tas.

“Seru, yas ceritanya?” tanya Dona

“Iyah… akhirnya Anna menikah dengan Azzam…” ujar Tyas polos.

“Jangan kebanyakan baca yang kayak gituan, sekali-kali baca tuh cerita tentang kekerasan rumah tangga, hehehe. Biar di otak kamu ga hanya yang indah-indah tentang pernikahan” ujar Dona asal nyeplos.

“Iiiih, mbak Dona jahil.” Tyas merasa makin dekat dengan Dona. Baru diketahui kemudian usianya terpaut lima tahun. Tyas seperti menemukan sosok ‘kakak’ dalam diri Dona.

“Becanda, neng”

Nut nut

Giliran HP Dona berbunyi.

Serentak Lyn dan Tyas berkata

“Pasti dari Rico”

“Eh, kenapa jadi kompakan gini? Mau bikin grup lawak bareng, ya” celoteh Dona sambil membayar uang tol ke loket. Dicek Hp-nya sambil membaca keras-keras SMS dari Rico.

Seharusnya aku menuruti nuraniku…

Memperjuangkanmu dan memenuhi janji-janjiku

Masih adakah tempat buatku untuk ada di sisimu

***

Terinspirasi dari berbagai hal, terutama begitu banyaknya ‘sandiwara’ di dunia maya, khususnya Facebook😀. Terinspirasi juga dari seorang teman dengan cerita serunya😛. Thank u inspirasinya, neng, hehehe…😀

Sepenuhnya cerita ini fiksi, kalau merasa ada kisah yang sama dan tokohnya mirip, sueeer, itu cuma kebetulan aja😀

2 thoughts on “[cerpen] Tiga Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s