Tak Berkategori

[Cerpen] Berubah untuk Siapa

Aku tatap jam di atas meja, pukul tujuh malam
dan aku masih di sini bersama tumpukan naskah dan segelas kopi carebian nut.

Hujan deras masih mengguyur Jakarta, tak memungkinkan aku untuk pulang dan aku memang tak ingin pulang. Aku ingin tetap di sini.

Sebuah email baru saja aku terima. Tidak mengejutkan memang, tapi cukup menyadarkanku kalau aku lagi-lagi harus menepis harapan papa dan mama.

Lagi-lagi, aku gagal untuk merenda hari esok. Dia yang aku pikir bisa menerima aku apa adanya mengajukan syarat yang tak bisa aku lakukan. Putus. Putus lagi untuk ke sekian kalinya ikatan yang nyaris kami resmikan itu.

Hmm, apa sedemikian susahnya menjalin hubungan ikatan pernikahan? Apakah karena makin matang usiaku atau memang aku yang seperti batu, tidak mau mengubah pola pikirku.

Saat ini, karirku sedang menanjak. Aktivitasku di luaran juga tak kalah banyak, tapi aku mampu memanajemen ini semua. Kenapa dia harus mengajukan syarat, aku tidak boleh bekerja sama sekali. Kami terbilang cocok, aku mengagumi sepak terjangnya, tetapi kenapa dia harus sepicik itu menilai sebuah pernikahan.

Bukankah ada kompromi. Aku pikir dia mengerti dengan apa yang dia jalani selama ini. Bukankah aku juga akan menyadari kodratku sebagai istri dan ibu, tapi tidak dengan melarang semua itu.

Kubaca ulang email dari dianya:

Kalau memang, kamu mempertahankan diri untuk bekerja di agen naskah dengan jam kerja yang tak menentu. Kalau memang kamu akan selalu disibukkan dengan aktivitas sosial yang sedemikian banyak…. aku memilih mundur. Sekarang daripada aku menyesal.

Picik mungkin bagi kamu, ketika aku mengharap seorang istri yang selalu ada ketika aku sampai di rumah. Menyambutku dan menyiapkaan semua keperluanku, bukan pergi kerja bareng dan saling sibuk memegang ponsel masing-masing.

Tidak ada sesuatu yang kurang darimu, tapi itu impianku. Aku pikir, kamu mau seperti yang aku inginkan. Aku pikir, hal ini bisa dikompromikan. Tapi, sudahlah… aku yang salah mengharapkan kamu berubah sesuai keinginanku. Tapi, justru saat ini aku utarakan daripada nanti aku tak bisa menjalaninya…

Maafkan aku

Aku terdiam sesaaat. Terlampau jauh proses yang aku jalani dengannya, tanpa diduga harus tersandung pada satu hal yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Berbulan-bulan kami komunikasi setelah perkenalan aku dengannya lewat seorang teman, ternyata harus memiliki akhir seperti ini.

Aku bukannya tak mengerti tugas perempuan, tapi jelas-jelas aku takkan bisa berlaku persis seperti apa yang dia inginkan. Pantas saja, dia berkali-kali menyanjung ibunya. Wanita impiannya seperti ibunya. Berada di rumah. Yah berada di rumah.

Aku mengerti, mama walau mengajar, tapi masih bisa tetap mengurus rumah dan pernikahan mereka langgeng hingga kini.

Aku juga ingin menghabiskan waktu lebih banyak di rumah.. makanya aku ambil kuliah S2, biar kelak aku jadi dosen dan waktu luangku lebih banyak, tapi itu nanti… Ini semua berproses… tak bisakah dia menunggu dan bersabar akan proses itu?

“Maafkan aku, pernikahan ideal di mataku masih seperti itu…
Aku akan bekerja keras untuk anak dan istriku,” ujarnya sore itu

“Tapi, kamu hanya perlu menunggu sebentar saja. Aku tak mungkin melepas semua amanah-amanah ini,”

“Entahlah…”
Kini, kamu memandang jendela kedai menerawang.

Berhari-hari, aku mencoba mengelola perasaanku atas email dan pembicaraan panjang dengannya. Berusaha memungkinkan aku bisa seperti apa yang dia inginkan. Aku merasa sudah terlanjur menikmati kebersamaan dengannya. Mungkin aku juga sudah terlalu mencintainya.

Entahlah, aku merasa ini bukan diriku. Aku cukup tahu diri sebagai wanita, tapi dengan mengekangku sedemikian rupa, aku tak bisa… tapi…

sepertinya memang keputusanku benar…
aku tak perlu berubah untuk siapapun
aku harusnya berubah untuk diriku sendiri…

karena…
akhirnya aku menemukan jawaban dari profil dirinya yang kini tak sendiri
Foto dalam sebuah situs internet dengan caption: Aku dan IstrikušŸ™‚

2 thoughts on “[Cerpen] Berubah untuk Siapa

  1. Carrebian nut, heuheu…. Pilihan kopi bisa menunjukkan karakter peminumnya, ga? ^_^

    Btw, komen cerpenku juga ya, agak malu sih, maklum jam terbangnya belom sebanyak novi, hehe… *hormat murid pada guru* ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s