Tak Berkategori

[cerpen] Airmata

Sejenak aku terdiam mendengar ucapannya. Kata-kata yang tak biasa kudengar dari lisannya.

Aku mencoba mencerna kata-kata itu, tetapi aku tak mampu menahan untuk tidak bertanya.

“Ada apa dengan kematian?” tanyaku menatap matanya. Aku ingin menemukan jawaban yang jelas dan pasti dari mulutnya. Bukan kiasan bukan juga terlalu detail, tapi terus berputar-putar.

“Karena setiap kita pasti akan mati. Itu yang sudah pasti dari segala yang kita perjuangkan sekarang ini.” jawabnya lugas.

Hmm, masih terlalu samar, pikirku. Aku terdiam, berpura-pura seolah-olah aku sedang tidak menyelidikinya. Menyeruput capucino dan mengambil majalah yang ada di depanku.

Sempat kuperhatikan gerak-geriknya yang gelisah. Menatapku diam-diam dan kemudian bangkit, meninggalkanku. Aku tatap punggungnya dari belakang. Tanpa pamit seperti biasa meninggalkanku yang masih bimbang dan penasaran dengan perkataannya tadi, dengan sikapnya, dengan ajakannya minum kopi di kafe ini.

“Tolong, permudahlah aku untuk bisa mengungkapkan ini” ujarnya yang tiba-tiba sudah dihadapanku lagi. Tidak duduk, tetapi berdiri. Menatapku lekat dengan tatapan sedih.

“Bagaimana mungkin aku bisa mempermudah kalau kamu tak jujur. Silakan duduk.” ujarku berusaha bersikap tegas dan tetap tenang.

“Apakah setelah apa yang aku ungkapkan ini, kamu bisa tetap bersamaku? Hmm, paling tidak untuk sisa umurku” ujarnya lemah. Selemah kata-kata yang bisa aku tangkap. Kepasrahan seorang laki-laki yang entah bagaimana bisa demikian aku sayangi.

Aku diam masih mencoba bersikap tenang. Berharap tak perlu mengeluarkan airmata ataupun kesedihan. Aku tak mudah dibuat menangis, kecuali sejak bersama laki-laki ini. Konon, aku sering disebut sebagai perempuan kuat, pantang menangis dan tidak seharusnya bersanding dengan dia, laki-laki yang dipandang orang sebagai laki-laki melankolis. Tetapi, siapa yang tahu, dengannya aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku menjadi seorang perempuan yang akhirnya bisa menangis, tapi kumohon jangan saat ini.

“Aku berjanji. Bukankah kita akan menikah dua pekan lagi” ujarku tersenyum berusaha menenangkan dirinya, tapi lebih tepatnya juga menenangkan kegusaran diriku. Takut akan kekhawatiran yang sudah kuperkirakan sebelumnya.

“Aku sakit, Mel”

“Lalu?”

“Sakit ini bisa bikin aku mati”

“Apapun bisa membuat kamu mati” cecarku yang mulai malas dengan kelemahan laki-laki di hadapanku.

“Iya, tapi?”

“Saat ini, seperti kamu bilang, kita pasti mati, kan? Saat ini, kalau Dia berkehendak, kita bisa mati, kan?” ujarku marah. Entah marah kepada siapa. Kuharap dia tak bicara lagi soal kematian.

“Maaf, Mel… Maaf, aku tak pandai untuk bicara seperti kamu tahu. Aku baru saja ke dokter karena ada masalah dengan tubuhku kemarin…”

“dan?”

“Ginjal, aku butuh ginjal untuk bisa bertahan hidup, kalau tidak aku bisa mati”

Aku diam menatap pemandangan di luar jendela kafe. Hilir mudik orang dan suasana malam yang tampaknya sendu. Aaaah, kenapa aku jadi ketularan melow gini.

Terang sudah akhirnya. Aku cuma diam. Lima tahun bersamanya dan aku baru tahu dia sakit ginjal dua minggu jelang pernikahan kami. Bukan, bukannya aku menyesal, tetapi kenapa aku harus tahu sekarang?

So…

“Aku sudah berusaha mencari pengobatan dan yang bisa mencarikan donor ginjal, tapi aku masih berada dalam waiting list” ujarnya mencoba menjelaskan kepadaku yang lebih memilih diam.

So…

“Aku harap kamu mengerti, Mel”

So….

“Mengerti untuk?” tanyaku.

Sejak mengenalnya dan menjalin hubungan dengannya, aku masih saja sukar menebak arah pembicaraanya. Terkadang memang dia ingin diperhatikan, tapi kadang dia ingin dijauhi. Kadang aku masih bingung apa yang dia inginkan.

“Untuk masa depan kita”

Aaaaah, tak tahan rasanya aku untuk teriak dan meminta dia bicara dengan kadar yang jelas. Jujur, aku tak tahu apa yang dia mau. Aku tinggalkan atau aku tetap bersamanya sampai akhirnya aku mampu berkata,

“Kita tetap menikah” ujarku singkat dan lega. Entah datang dari mana. Mungkin keyakinan akan komitmen dan cinta.

Kini, dia menatapku lama, lama sekali. Titik bening hadir dari sudut matanya.

Aku hanya berpikir simpel, dia adalah pilihanku.

“Terima kasih, Mel…” ujarnya sambil mendongakan kepala agar butir-butir bening itu tidak jatuh.

Sementara itu, aku tak mampu mengeluarkan airmata sedikit pun. Aku tak menangis saat ini, thanks God karena aku paling malas untuk membereskan riasanku. Aaargh, konyol.

“Maafkan aku, aku pikir, yah aku sempat berpikir dan itu rasanya manusiawi saja kalau kamu memilih meninggalkanku atau apa” ujarnya berputar-putar tidak jelas.

Oh God, dia tidak memercayaiku.
dan kini ada alasanku untuk menangis.

“Apa kamu berpikir dengan teganya aku meninggalkan kamu. Apa kamu pikir, aku akan pergi karena kamu sakit. Apa aku bisa menjamin aku baik-baik saja hingga nanti dan apa kamu juga mau menerimaku lagi” ujarku menangis mengeluarkan butiran airmata yang menderas merusak riasanku.

“Eh… bukan itu maksudku. Maafkan aku. Tolong jangan menangis seperti itu. Aku nggak akan semudah itu meninggalkan kamu. Kita harus berusaha sama-sama, ya, kan?” ucapnya perlahan dan pasti.

Aku suka itu. Aku suka melihatnya.

Apapun itu kini aku yang menangis dan dia bisa lebih kuat menghadapi ini.

Aaah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s