Tak Berkategori

Akad Nikah Setelah Resepsi

Wanita itu sahabatku. Aku mengenalnya cukup baik sebagai pribadi yang ceria, ramah dan suka menolong. Sebuah kabar yang menyenangkan hati ketika dia akan menikah. Berbagai rencana di kepala lengkap dengan kekhawatiran demi kekhawatiran akan persiapan pernikahan. Aku tak banyak membantu saat itu. Hanya menjadi pendengar dan berusaha menenangkan dirinya yang terkadang gusar. Selebihnya, tidak ada, walau pada awalnya ada banyak niat untuk menjadi salah satu panitia dalam pernikahannya. Akan tetapi hingga detik terakhir menjelang pernikahan, aku sama sekali tak bisa banyak membantu.

Awalnya, aku ingin menghadiri akad nikahnya pagi itu. Tetapi, karena sahabatku itu juga mengundang ibu dan kedua kakakku beserta keluarga, aku bermaksud pergi bareng salah satu kakakku atau ibuku. Yah, sahabatku yang satu itu cukup kenal dekat dengan keluargaku.

Akhirnya, aku datang ke lokasi sekitar pukul satu bersama abangku dan Fikri, keponakanku. Dari kejauhan, aku melihat sahabatku sendirian di pelaminan. Aku hanya berpikir, mungkin sang suami tengah sholat hingga kuhampiri dia. Wajahnya tampak tenang ketika mengucapkan, “Akadnya belum” Aku yang mendengarnya cuma bisa bengong… Lho, belum? Saat itu juga, temanku menjawab kalau baru tadi pagi nenek si mempelai laki-laki meninggal dunia. “Aku kasihan, mbak” ujarnya. Sahabatku itu sempat mengatakan saat itu rombongan keluarga mempelai tengah dalam perjalanan dan akad akan dilaksanakan pukul satu sambil menyebutkan lokasi mereka saat itu. Aku spontan berkata, “Sekarang jam berapa?” sambil menegok ponsel dan menunjukkan jam sudah pukul satu lewat.

Tak lama, tamu-tamu lain mulai bersalaman dengan sahabatku. Aku mengambil makan dan mencoba menikmatinya. Sambil menatap sahabatku itu, aku tak bisa begitu menikmati makanku. Rasanya gelisah, deg-degan, khawatir dan banyak lagi. Ada perasaan cemas dengan berbagai ketakutan yang hadir. Kalau aku saja sedemikian resah, bagaimana dengan dia. Tamu-tamu sudah banyak yang berdatangan. Mereka tampaknya juga menunggu prosesi yang entah kapan akan mulai.

Masih dari tempat dudukku, kulihat dirinya mulai tampak gelisah, tetapi selalu berusaha tersenyum ketika para tamu menyalami dan menghampirinya hingga terdengar kabar sang mempelai pria sudah tiba sekitar pukul dua siang. Alhamdulillah. Aku tatap dia yang beriringan menuju masjid. Waktu semakin lamban berjalan ketika sambutan demi sambutan belum juga selesai. Rasanya, aku ingin berada di dekatnya, tetapi sudah banyak sahabat dan kerabat yang ada bersamanya hingga tiba saatnya ijab kabul… Alhamdulillah.

Yah, manusia hanya bisa berencana. Tidak ada yang pernah menyangka, kalau akad nikah berlangsung sore hari setelah tamu berdatangan dan menikmati jamuan resepsi. Peristiwa apapun bisa terjadi dan kami hanya bisa bertawakal. Lega sekaligus terharu.

Barokallahu laka wa baroka’alayka wa jama’a baynakuma fii khoir….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s