Tak Berkategori

[MERAPI] Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Mereka?

Kabar meletus Gunung Merapi menjadi keseharian kita. Dari televisi, koran, ataupun media online. Gunung Merapi yang meletus, mengeluarkan lahar panasnya. Hingga kota, debu menutupi jalan, gedung, dan lain-lain. Para pengungsi pun kembali dievakuasi ke tempat yang lebih aman.

================================

Pada 28 Oktober lalu, saya diberi kesempatan untuk langsung berada di daerah sekitar Merapi bersama beberapa anggota dewan, para relawan NGO-NGO, seperti Rumah Zakat, Rumah Kebajikan Indonesia, PKPU, BSMI, Qatar Charity, Ar Rahmah (Ra’sul Khaimah – UAE), WAMY, Muhammad bin Rasyid Al Maktoum, Salimah, Adara, serta dari media, seperti Sabili dan Arrahman.com.

Keberangkatan kami sempat tertunda karena tidak bisa landing di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. Kami baru sampai di bandara sekitar pukul 13.00 siang dan kemudian dijemput untuk koordinasi dengan teman-teman dari relawan setempat. Mereka mempresentasikan keadaan saat itu. Jumlah korban sampai tanggal 28 Oktober sejumlah 32 orang meninggal.

Menurut berita terakhir (2 November, Sumber Pusdalops BNPB) dari teman di sana, jumlah Meninggal Dunia 42 orang (DIY:39; Jateng:3), Luka-luka 1712 orang (DIY:13; Jateng:1699).

Perwakilan dari Arrahman.com menyatakan akan membantu perbaikan masjid yang rusak akibat lahar merapi. Setiap NGO akan mengambil peran sesuai kompetensi masing-masing yang dibutuhkan oleh para pengungsi. Untuk di daerah Yogyakarta, para pengungsi tersebar di 3 kecamatan , yaitu Cangkringan, Pakem, dan Turi.

Ada beberapa program yang akan dilakukan untuk para pengungsi, baik program jangka pendek atau jangka panjang. Selain program penanganan secara medis, penyediaan tempat pengungsian, serta kebutuhan sehari-hari, ada program lainnya. Di antaranya adalah recovery mental bagi pengungsi, traumatic healing untuk anak berupa sekolah merapi ceria, kurban di tempat pengungsian, paket sekolah, tabligh akbar, dan taklim. Oleh karena itu, dibutuhkan banyak relawan untuk psikologi dan edukasi anak, medis, dapur umum, dan lain-lain. Untuk program jangka menengah salah satunya adalah wajib latih emergency merapi.

Selain itu, yang sering terlewatkan adalah kebutuhan khusus untuk wanita, balita, dan anak-anak. Rescue balita berupa, susu, popok, dan pakaian balita. Rescue perempuan berupa pembalut wanita, pakaian dalam, dan lain-lain, serta rescue anak berupa bahan-bahan untuk edukasi dan bahan fasilitas pengajaran.

Sekitar pukul 15.00 sore, kami pun bertakziah ke rumah salah satu anak Mbah Maridjan di Serunen, Glagaharjo, Sleman. Mbah Maridjan dikenal sebagai juru kunci Merapi. Di berbagai media, banyak yang menggambarkan Mbah Maridjan sebagai sosok yang berbau mistis dan klenik. Pada kenyataanya, beliau adalah sosok yang religius. Entah karena bangsa Indonesia yang lebih tertarik dengan hal mistis, entah ini hanya menjadi pengaburan wacana saja. Mbah Maridjan ditemukan tewas dalam keadaan sujud di rumahnya. Mbah Maridjan kemungkinan sedang melaksanakan shalat saat terjadi erupsi merapi. Tulisan berkaitan dengan Mbah Maridjan bisa dilihat di http://www.indonesiaoptimis.com/2010/11/membela-mbah-maridjan-mikul-dhuwur.html

Setelah dari kediaman anak Mbah Maridjan, kami segera menuju Pusat Vulkanologi Nitimigasi Bencana di Dusun Ngepos. Di halaman depan kantor itu, terdapat menara pandang atau pos pengamatan merapi.

Jelang malam, kami segera menuju Magelang. Selama perjalanan, kami sempat melewati tempat-tempat pengungsian. Salah satunya pengungsian bagi sapi-sapi milik penduduk. Beberapa waktu kemudian, kami sampai di Sawangan. Tempat pengungsian berupa lapangan rumput yang cukup luas ini saat itu sudah menampung sekitar 800 pengungsi, padahal tenda itu baru dibangun pada rabu (27 oktober).

Beginilah rasanya langsung berada di tempat bencana. Tidak dari televisi ataupun dari koran. Orangtua, anak-anak, tua, muda, laki-laki dan perempuan saling berbagi di tenda-tenda pengungsian. Hanya beralas tikar dan makan seadanya, para pengungsi berbaur. Tak ada yang mengira akan ada hal ini… Rumah yang biasanya ditempati harus ditinggalkan. Aktivitas yang biasa dilakukan harus terhenti sesaat.

Esoknya, 29 Oktober 2010, kami kembali mendatangi barak pengungsian di balai desa di Wonokerto, Sleman. Suasana pagi yang cerah. Kepulan asap belum tampak saat itu. Anak-anak kecil memanfaatkan waktu mereka dengan membaca buku dan majalah. Kami juga berpapasan dengan berapa ibu menggendong anak-anak. Dari mobil yang saya tumpangi, saya sempat melihat semburan awan panas dari merapi.

Sekitar pukul 7.34, kami tiba di Keraton untuk bersilaturahmi dengan Sultan Hamengkubuwono X. Banyak hal yang dibicarakan oleh salah satu anggota dewan mengenai penanganganan bencana. Sultan sempat mengatakan kalau kebutuhan wanita dan anak yang terkadang tidak terpikirkan karena banyak sumbangan berupa makanan sehari-hari. Selain itu, dari salah satu anggota dewan juga mengungkapkan beberapa rencana yang akan dilakukan di posko pengungsian.

Kami harus kembali ke bandara karena jadwal penerbangan makin dekat. Sekitar Pukul 10.00, kami pun kembali ke Jakarta.

Ada banyak PR bagi kami yang harus dilakukan. Masih teringat jelas wajah-wajah para pengungsi di sana. Bagaimana kehidupan mereka kelak di sana? Apa yang mereka butuhkan di sana? Apa yang kami lakukan? Hidup terus berjalan dan ini adalah ujian. Saatnya kita memberikan yang terbaik. Entah itu dana, bantuan sebagai relawan, dan banyak lagi.

oleh: Novi Khansa (Relawan MP4Palestine)

===========================================================

Let’s join with  MP 4 Palestine

Dibutuhkan relawan untuk bagian traumatic healing anak, dapur umum, dan atau akan diperbantukan ke bagian lain, kontak Novi Khansa di 08121894517 (FB: facebook.com/noviyanti.utaminingsih)

Donasi dana bisa disalurkan ke:

Rekening Donasi

  • BSM 009 710 6654 a/n Inna Putri
  • BCA 1640311017 a/n Noviyanti Utaminingsih
  • Mandiri 102.00.0460060.4 a/n Aryani Adami.

Konfirmasi ke Yusi (08128021395).

Alhamdulillah..donasi tahap I (minggu 1) dari donatur teman-teman MP 4 Palestine sebesar Rp.10.609.000 untuk Wasior, Mentawai dan Merapi telah kami sampaikan ke RUMAH ZAKAT (3/11/2010).



foto 1: Gunung Merapi kembali meletus sekitar pukul 10.05 pada 01 nov 2010, taken by: Mas DUDI ISKANDAR
foto 2: Pos Pengamatan Merapi di Dusun NGepos
foto 3: Tempat pengungsian di Sawangan, Magelang
foto 4: Barak pengungsian di Wonokerto, Sleman
foto 5: Merapi dari kejauhan (29 Oktober 2010)

One thought on “[MERAPI] Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Mereka?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s