fiksi

[Fiksi] Cause I’ll be There

Kamu pernah mengajarkanku makna hidup
Hingga tiba masanya di hari itu…
Kamu pernah berjuta kali hadir di dekatku
Memelukku, mengusap air mataku, hingga saat itu.

***

Arin masih saja melemparkan kerikil ke sungai.
Pandangannya kosong, dapat kulihat itu di matanya.
Aku memeluk kakiku, rasanya makin sore, semakin dingin saja.

“Karena kutahu, aku sebenarnya teramat sangat lelah,” ujar Arin tiba-tiba. “Berapa banyak air mata terkuras dan betapa sakitnya aku merasakan ini.”

Kini, bisa kulihat matanya berkaca-kaca.
Aku masih diam, tak hentinya kutatap wajahnya yang sendu.
Sebenarnya Arin cantik, tapi kalau kau melihatnya bersamaku saat ini, dia terlihat kelam, kusut masai. Aah, ternyata benar, perasaan itu bisa berpengaruh ke wajah, sebanyak apa pun pakai kosmetik. Pancaran hati terlihat di air muka. Dan, itu tak bisa disembunyikan.

“Hmm, 2 tahun, 3 tahun… sampai kapan, ya?” tanya Arin. Pandangannya masih sama. Kosong. Tangannya masih sibuk memainkan kerikil-kerikil itu dan kemudian melemparkannya. Tak kulihat air mata mengalir, karena berkali-kali Arin seperti mencegahnya.

Kurapatkan jaketku. Aku tidak kuat dingin, air dingin, udara dingin, dan semuanya yang ‘berbau dingin’. Bahkan, untuk minum es limun saja, aku harus memakai sapu tangan kalau tidak ingin tanganku merah. Aku masih kuat dengan terik matahari, keringatan, tapi ketika dingin, aku benar-benar lemah… Sepertinya aku memang tidak bisa tinggal di kutub utara. Yah, untung saja aku tinggal di sini.

“Aku lelah… San, sampai kapan terus begini? Kenapa kehadirannya terus mengganggu hidupku.”

Aku tatap lagi wajah Arin. Kehilangan, yah wajah kehilangan. Kesedihan, terlupakan, tidak diperjuangkan, kemarahan, dan… harapan.

Aah, aku bukan peramal, ya sehingga aku bisa ‘melihat’ itu semua. Hanya saja, aku ini paranormal, hehe… nggak deng. Bagaimana mungkin aku tidak tahu, Arin pasti ke sini ketika dia mulai ‘lelah’ dengan ‘derita’ yang dibuatnya sendiri.

Ketika dia mulai capai menyandang status jomblo yang membuatnya terus kena gosip, fitnah, dan segala macam terjangan dari pasukan jomblo lainnya.

Ketika dia mulai mengingat masa lalu yang pernah menjadi tumpuan harapannya. Ketika dia seolah menjadi manusia paling menderita sedunia, ngalahin Meggi Z, deh😀

Yah, dia pasti ke sini, berjanji denganku, menemuiku…
Karena di sini, Arin merasa mendapat pencerahan…🙂

Aku tak pernah bicara banyak.
Toh, dia hanya ingin didengarkan….
Didukung
Diberi harapan akan terwujudnya mimpi-mimpi.

“Apa kamu nggak pernah sakit hati, San?” tanyanya masih terus melempar batu-batu ke sungai.
Aku masih diam. Yah, saama, dia masih tak membutuhkan jawabanku.

Sementara itu, aku terus merapatkan tubuhku yang makin kedinginan. Aah demi sahabat, aku rela kedinginan begini. Siapa lagi yang dia punya selain aku… Siapa lagi yang bersedia mendengar keluh kesahnya kalau bukan aku. Siapa lagi?

“Kemarin, aku dapat bingkisan. Indah, deh… sebuah pajangan ukir kayu berbentuk biola. Ada jam dan tempat pulpennya,” ujar Arin tersenyum terkenang.

Aaah, akhirnya aku lihat lagi senyuman itu. Arin senyumlah, kamu terlihat cantik kalau tersenyum. Aku jadi ikut tersenyum, walau lagi-lagi dingin makin menusuk tubuhku.

“Aku letakkan itu di atas meja kerjaku di kantor. Pasti orang yang mengirimkan bingkisan itu, sangat mengenalku.” Lagi-lagi Arin tersenyum.

Arin selalu tersenyum ketika menyebut biola. Arin suka bermain biola, dia sudah mampu memainkan beberapa lagu dari biolanya. Kalau ke tempat ini, dia juga selalu memainkan biola untukku. Arin paling senang memainkan, “A Shoulder To Cry On.”

And when you need a shoulder to cry on,
When you need a friend to rely on,
When the whole world is gone,
You won’t be alone, cause I’ll be there,

Aku bersenandung ketika Arin mulai memainkan lagu itu.

“Tapi, aku kaget…. Ternyata pengirimnya adalah laki-laki itu.” Terlihat kegeraman amat sangat dari wajah Arin. Sendu lagi… Aaah, aku benci. Pasti laki-laki yang dulu pernah meninggalkan Arin itu.

“Aku bingung, San… kenapa dia hadir lagi setelah bertahun-tahun menghilang. Anehnya lagi, dia mengirim sebuah kartu ucapan yang berisi permintaan maaf….” Arin terdiam sesaat. Aku pandangin rimbunan pohon di sekelilingku.

Tak banyak orang yang mau mendatangi tempat ini. Katanya tidak asyik. Aah, jangan salah… justru karena hening, tenang, dan sepi seperti ini jadi asyik.

Arin sering berlatih biola di sini, dan aku selalu senang mendengarkannya. Tak ada yang mengganggu atau merasa terganggu di tempat ini.

“Hmmm… dia akan pergi lagi, San. Kamu mengerti kan?” Arin tersenyum lirih menatapku.
Aku masih saja diam. Aku harap Arin tidak menangis. Itu saja harapanku.

“Bertahun-tahun aku sudah lupakan dia, karena kami jarang berinteraksi. Aku sudah lupakan janji-janjinya yang tak mau aku turuti. Aku mantapkan diriku untuk tidak menunggunya karena ketidakjelasan itu… Tapi, tiba-tiba dia hadir.” Kali ini, Arin tak menangis, tapi marah. Entah marah kepada siapa, sepertinya bukan kepada laki-laki itu, tapi…. kepada dirinya sendiri.  Yah, aku sangat mengenal Arin.

Beberapa saat, kami diam.
Sunyi.
Angin sepoi-sepoi membelai rambut Arin yang hitam lebat.

I’ll be your shoulder to cry on,
I’ll be there,
I’ll be a friend to rely on,
When the whole world is gone,
you won’t be alone, cause I’ll be there.

Arin kembali sibuk dengan kerikil-kerikil itu.
Dan…
Berjam-jam aku menahan dingin yang amat sangat…

Aaah, ternyata Arin tak menangis.

“Aaaah, kalau cuma karena itu, kenapa juga aku harus terkenang? Betapa bodohnya aku kan?” ujar Arin tertawa.

Benar, kan? Arin marah pada dirinya sendiri.

“Seperti yang kaubilang, San… aku dan dia berhak bahagia….”
Aku tersenyum mendengar Arin mengulang kata-kataku dua tahun lalu.

“Mungkin bahagianya dia adalah saat itu, dan bahagianya aku yah… saat ini dan suatu saat nanti.”

Aku selalu suka dengan cara Arin. Dia tak terlalu lama bersedih. Dia akan menyadari dan mengingatkan dirinya sendiri. Aku percaya, Arin bukanlah wanita yang lemah. Aku percaya itu sejak mengenalnya bertahun-tahun lalu.

Arin mengambil biolanya. Kali ini, aku mendengarkan lantunan indah lagu “My heart will go on.”

Aku tersenyum….

Moga setelah ini hatimu bisa terbebas, ya, Rin…
Kembali jadi Arin yang ceria dan berbahagia…

Aku masih juga tersenyum ketika Arin membereskan biolanya.

“Makasi ya, San…” ujar Arin tersenyum. Dan kulihat wajah kelam itu telah pergi. Aku lihat Arin begitu ceria. Tersenyum sangat manis.

Aku masih tersenyum menatap punggung Arin yang pergi meninggalkanku.

Semoga suatu saat ketika dia kembali, dia tak lagi sedang sakit hati…🙂

Dan kuharap, dia memainkan lagu kami…
dan aku akan selalu menunggunya di sini…

… seperti ketika pemakamanku setahun yang lalu.

Life is full of lots of up and downs,
And the distance feels further when you’re headed for the ground,
And there is nothing more painful than to let you’re feelings take
you down,
It’s so hard to know the way you feel inside,
When there’s many thoughts and feelings that you hide,
But you might feel better if you let me walk with you
by your side,

And when you need a shoulder to cry on,
When you need a friend to rely on,
When the whole world is gone,
You won’t be alone, cause I’ll be there,
I’ll be your shoulder to cry on,
I’ll be there,
I’ll be a friend to rely on,
When the whole world is gone,
you won’t be alone, cause I’ll be there.

All of the times when everything is wrong
And you’re feeling like
There’s no use going on
You can’t give it up
I hope you work it out and carry on
Side by side,
With you till the end
I’ll always be the one to firmly hold your hand
no matter what is said or done
our love will always continue on

Everyone needs a shoulder to cry on
everyone needs a friend to rely on
When the whole world is gone
you won’t be alone cause I’ll be there
I’ll be your shoulder to cry on
I’ll be there
I’ll be the one you rely on
when the whole world’s gone
you won’t be alone
cause I’ll be there!

And when the whole world is gone
You’ll always have my shoulder to cry on..

*gambar dari sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s