berpikir

Pilihan

Setiap hari kita dihadapkan pada pilihan dan pilihan. Sederhana saja, aku yang sudah bersiap berangkat kursus, tergoda untuk tidak berangkat dengan berbagai alasan yang bisa saja dibenarkan. Padahal, kunci utamanya cuma malas, hehe.

Akan tetapi, aku coba menguatkan karena ini dan itu. Fuuh, ternyata istiqomah, konsisten, dan bersungguh-sungguh itu banyak godaannya, ya? Hehe. Entah karena aku bergolongan darah B? Atau karena aku sanguinis? Hehe.

Alhamdulillah, salah satunya dengan bantuan keponakanku, Fahimah yang menyegarkan suasana, aku pun mulai melangkah.

Alhamdulillah juga, aku mendapat banyak hal, selain pelajaran bahasa Arab tentunya. Seperti biasa, ada salah seorang ustadz yang suka bercerita, dan kami senang mendengar cerita darinya. Bukan sekadar cerita, tapi isi ceritanya benar-benar sangat berguna dan bermakna.

Kali ini tentang prioritas, pilihan, dan cerita ustadz itu benar-benar menggelitik. Ya, aku pribadi terkadang merasa lelah saat menjalani kuliah, sementara aku harus bekerja. Aku juga kadang enggan untuk berangkat kursus, karena lagi-lagi, keadaan otakku sedemikian penuh ketika menerima materi, jadinya bolak-balik lupa.

Tapi, bukankah justru kuliah dan kursus ini yang menjadi prioritas utama bagiku saat ini? Ya, memang. Walau keadaan memaksaku untuk juga bekerja. Alhamdulillah, pekerjaanku secara langsung dan tidak langsung terkait dengan kuliahku. Makin aku sadari, aku benar-benar urgent harus bisa berbahasa Arab dan menguasai studi Islam dengan sebaik-baiknya. Selain tentunya, semua hal ini tak hanya berguna untuk kepentingan dunia semata, tapi juga kepentingan akhirat.

Hmm, jadi seketika aku ingat, soal saran temanku untuk meninggalkan kuliah kalau aku ingin menikah. Saat itu, kami bicara tentang seseorang yang memang masih jauh tahapannya denganku terkait prosesi pernikahan.

“Kapan lagi datang laki-laki baik?”

Ya, memang benar, kapan lagi? Siapa tahu dia jodohku lewat proses perkenalan yang baik dan tanpa proses pacaran itu. Tapi, ‘paket’ dalam diriku ini adalah aku yang mahasiswa dan sedang belajar bahasa Arab, dan bekerja freelance dan sebagai manajer tim penerbitan yang baru terbentuk. Jadi, kalau aku harus bisa menerima si A apa adanya. Aku harap A pun menerima aku dengan apa yang melekat dalam diriku. Di luar itu, apabila ada kecocokan dilanjutkan. Apabila ada yang perlu dibicarakan, dikompromikan.

Aku dan temanku berdiskusi panjang lebar. Ketika menikah dengan siapa pun itu, aku harapkan dia adalah orang baik dari segi agama, bertanggung jawab, mapan, dan tidak main tangan, tidak merokok, dan mau sama-sama belajar, serta bisa menjadi partner dunia akhirat. Itulah kriteriaku. Insya Allah, aku berusaha berkompromi dengan hal lainnya. Insya Allah, ada kemantapan dalam hati ini untuk menjalani. Walau ternyata, tak semudah itu. Dalam proses yang masih teramat jauh itu, kami terbentur dengan masalah tempat. Ya, bicara nanti, secara ideal, suami-istri itu tinggal satu rumah. Sementara, aku masih kuliah, sangat tidak memungkinkan buatku untuk ikut orang tersebut ke tempat tinggalnya saat ini.

Ada saran dari temanku secara tersirat, “Kalau begitu, menikah saja, tinggalkan kuliah.” Aku merenungi itu. Apa memang harus seperti itu? Apa aku harus berkorban sejauh itu? Apa memang ini jalan yang harus dipilih. Kalau aku memang dalam proses memantapkan dan meyakinkan diri, apa aku harus juga melepas sesuatu yang sudah kurajut beberapa tahun belakangan ini? Aku ragu. Teramat sayang dua tahun yang sudah kujalani ini harus kutinggalkan. Sementara itu, masih dua tahun lagi, aku menganyam cita-cita dan asa untuk masa depan yang sedang kuukir.

Berbagai solusi ditawarkan selain solusi dari temanku itu hingga aku putuskan kalau aku memilih. Yah, aku mau menikah, tapi aku juga tetap kuliah. Mungkin bisa dijalani dengan hubungan jarak jauh selama aku menyelesaikan kuliah. Hal ini sebenarnya tak terbayang buatku sebelumnya. Tapi, kenapa nggak kalau ini untuk kebaikan. Pasti akan terasa berat, aku tahu. Entahlah, saat itu aku pikir itu solusi yang paling memungkinkan.

Aku pun menggambarkan dalam sebuah tulisan panjang soal kuliah dan kursus yang sedang kujalani. Hal tersebut juga terkait dengan visi dan misi yang aku miliki. Entah tulisan itu berguna, entah tidak. Yang jelas, aku merasa lega menuliskannya. Aku merasa memiliki sikap atas ini semua. Aku pasrah berlanjut atau tidak proses kebaikan ini. Karena ini pilihanku. Aku tak mengikuti saran temanku untuk meninggalkan kuliah untuk menikah.

Berjalannya waktu hingga akhirnya aku mendapat jawaban kalau proses disudahi. Yah, kalau begitu memang ini sudah jalannya. Toh, berbagai usaha untuk menuju kebaikan itu sudah dilakukan, dan tampaknya Allah sedang menunjukkan sesuatu yang penting buatku.

Makin hari aku makin menyadari, bahwa kuliah ini adalah jalanku, tak boleh ditinggalkan begitu saja. Selain itu, aku juga ditunjukkan oleh keadaan teman-temanku kalau kuliah bukanlah penghalang merenda hidup dalam masa depan dengan pasangan. Banyak di antara teman-temanku yang masih lanjut kuliah ketika sudah menikah. Ada juga teman kursusku yang malah sekelas dengan suaminya.

Jadi, apa yang perlu kurisaukan dengan pilihanku yang sudah kutetapkan. Yah, temanku boleh memberi saran dengan pola pikirnya sendiri, sementara tetap aku yang memutuskan karena aku juga yang menjalani. Dan ini semua terkait dengan memilih. Pilihan-pilihan hidup yang selalu hadir di dekat kita.

^_^

One thought on “Pilihan

  1. yang penting sudah memilih…
    jadi inget waktu membaca buku cerita yang jalan ceritanya dipilih sendiri oleh pembacanya
    jadi kalau abis membaca halaman 1 misalnya, akan disuruh milih lanjut ke halaman 2 atau ke halaman 3
    jadi ceritanya beragam
    kalau misalnya sudah memilih halaman 2, ntar juga pasti disuruh milih lagi, mau lanjut ke halaman 4 atau 6 ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s