belajar · renungan

Tentang Pilihan

Tentang Belajar

Orang yang paling menginspirasi saya untuk terus menuntut ilmu adalah bapak. Secara langsung dan tidak langsung, bapak mengajarkan kami pentingnya ilmu pengetahuan, pentingnya belajar sampai kapan pun. Beliau mengajarkan kami banyak hal. Dari mulai pelajaran secara umum hingga nilai-nilai yang berkaitan agama. Selain menyekolahkan kami di sekolah umum, beliau juga memasukkan kami ke madrasah atau TPA. Profesi bapak sendiri memang guru SD sejak tahun 1974 hingga akhir hayat hidupnya (Januari 2004). Selain itu, bapak juga seorang penulis dan penyusun buku sekolah.

Bapak mencamkan, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, sudah seharusnya kami mengerti dan sekolah di tempat yang terjangkau biayanya. Soal belajar memang bisa dari mana saja, dan sekolah atau kuliah merupakan salah satu sarana. Kalau bisa terus belajar dengan jenjang gelar kenapa nggak.

Bapak sendiri masih kuliah saat kami sudah lumayan besar. Bahkan, beliau mendapat gelar S1 saat saya sudah duduk di bangku SMP. Hingga akhir hayatnya, bapak masih terlihat ikut belajar di suatu tempat, juga belajar bahasa Arab. Bapak juga aktif di TPA sebagai pengajar dan akhirnya kepala sekolah dan pengurus wilayah. Bapak meninggal dunia sepulang piket di tempat kepengurusan wilayah TPA-BKPRMI. Saya melihat sosok bapak yang selalu belajar dan kemudian membaginya dengan mengajarkan ke orang lain.

Selain bapak sebagai inspirasi bagi saya, ada sebuah kejadian yang menuntun saya untuk terus belajar. Pada Ramadhan 2004, saya diberi kesempatan untuk berangkat umrah (dibiayai oleh provider ponsel). Saat itu, saya merasa semakin kecil dan bukan apa-apa. Banyak kejadian yang menunjukkan kalau ilmu saya masih teramat kurang. Saya ingin bisa belajar hingga akhirnya di tahun 2005, saya berkuliah di Pesantren Terbuka. Alhamdulillah, banyak manfaat yang saya dapatkan hingga 2007 kuliah saya selesai, tapi saya tidak menyelesaikan tugas akhir.

Saya masih ingin belajar, saya masih tetap merasa kurang, terutama dalam hal ilmu agama. Hingga akhirnya pada Juli 2009, saya diberi kesempatan untuk kembali belajar di Sekolah Tinggi Imu Dakwah (STIDA) Al-Manar di Utan Kayu, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam dengan jenjang S1.

Alhamdulillah, sejak 2005 hingga sekarang, pekerjaan saya cukup fleksibel sehingga saya bisa mengatur antara pekerjaan dan kuliah, walau tak jarang keduanya saling berbenturan.

Entah kebetulan entah inilah jalan dari-Nya. Saya begitu mudah mendapatkan banyak buku-buku yang saya butuhkan dari lemari almarhum bapak saya. Waah, ternyata, begitu banyak ‘harta karun’ di lemari bapak saya, dan lucunya, kenapa saya baru menemukannya dan hal itu benar-benar banyak berguna bagi saya ketika saya kuliah. Saya jadi mikir, selama ini ke mana aja? Hehe…. Atau ini mungkin cara Allah menunjukkan kepada saya agar memanfaatkan ‘warisan’ dari bapak.

Berjalannya waktu, saya makin merasakan manfaat dari kuliah ini, terutama untuk saya pribadi dan orang-orang terdekat saya. Banyak ilmu yang baru yang saya temui dan hal itu juga banyak mengubah pola pikir saya. Di tahun yang sama, saya kemudian diberi kesempatan untuk mengedit buku-buku yang berkaitan dengan agama Islam (saya bertugas sebagai proofreader atau penyelaras aksara). Lalu, saya pun mulai tertarik dengan bahasa Arab selain karena saat kuliah, saya hanya mendapat 1 kali dalam sepekan mata kuliah bahasa Arab.

Saya mulai berpikir, ini tak hanya berguna bagi saya dan orang-orang terdekat saya, tapi ini juga berguna bagi aktivitas saya. Saya bisa membagi ilmu ini ketika saya misalnya mengisi sebuah kajian (kadang saya mengisi kajian untuk anak remaja atau anak-anak). Saya juga bisa memanfaatkan ilmu ini untuk membaginya lewat tulisan, saya juga bisa membaginya buat adik-adik mentoring atau adik-adik TPA saya (saya sempat memegang mentoring untuk anak SMU di almamater dan menjadi guru TPA secara suka rela di masjid dekat rumah).

Yah, apa yang saya jalani sekarang ini adalah investasi buat saya, kelak untuk keluarga kecil saya, kelak untuk mendidik anak saya, untuk lingkungan sekitar saya dan lebih luasnya untuk umat, semoga. Oh ya, saya punya cita-cita sebagai guru. Saya pikir dengan menjadi guru, saya makin bisa belajar karena di sana tertantang untuk terus belajar. Maksud guru di sini bisa guru secara umum atau guru secara suka rela.

 

Tentang Mimpi dan Cita-cita

Saya pernah ditanya oleh seorang pewawancara saat interview pekerjaan. Kira-kira isinya begini, “Sepuluh tahun lagi kamu ingin jadi apa?” “Saya ingin jadi editor, penulis, punya toko buku, punya rumah baca.” Padahal, saat itu saya diwawancara untuk pekerjaan sebagai layouter di tim kreatif pracetak sebuah penerbit, hehe. Tapi, yah emang itu cita-cita saya🙂 Alhamdulillah, saat itu saya diterima bekerja di sana dan saya belajar banyak hal ilmu tersebut. Dan pertanyaan itu sudah tujuh tahun berlalu.

Segalanya makin berkembang. Saya makin memimpikan sebuah keadaan yang menyenangkan bagi saya. Saya bekerja dari rumah sebagai editor dan penulis di sebuah ruangan yang penuh buku. Di sana, ada sekat antara tempat ruang kerja saya dan ruangan membaca buku. Ruang kerja menghadap jendela. Ruang membaca buku akan dibuat senyaman mungkin untuk membaca dan juga berbagai aktivitas.

Yah ruangan itu adalah pusat aktivitas untuk keluarga kecil saya. Saya ingin mengenalkan banyak ilmu kepada anak saya kelak. Saya ingin punya anak yang sudah akrab dengan berbagai ilmu pengetahuan. Saya ingin belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak-anak.

Selain itu, bisa juga ruangan tersebut berguna buat orang lain, bisa menjadi tempat untuk aktivitas mengajar, belajar, mengaji, bermain games, dan lain-lain. Dari sekarang, saya sudah mengoleksi berbagai macam buku, termasuk buku untuk anak-anak. Saya juga mengoleksi permainan anak-anak, alat tulis, alat mewarnai dan sampai saat ini bisa dimanfaatkan keponakan-keponakan saya.

Hm, hehe, kenapa jadi panjang gini…

Kalau bicara mimpi dan cita-cita ya jadi begini.

Semoga catatan ini bisa menjadi gambaran kenapa saya memilih untuk kuliah saat ini. Bagi saya, ilmu dan buku adalah investasi dalam kehidupan saya dan untuk akhirat kelak….

 

 

 

23 Agustus 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s