ibu · puisi

Berseteru

Ketika satu keinginan, dua, hingga tiga

semua berseteru meminta dikabulkan….

 

Siapakah hamba yang mampu

menyibak perseteruan itu?

 

Berharap pinta hamba yang terkabul

lirih, penuh kasih…

tapi lupa akan ikhlas

lupa akan segala makna dan kata

 

Kenapa dia terlihat biasa

ketika aku pilu dan merasa menderita

bukankah dia juga sama punya harap dan pinta

aah, apakah aku harus bertanya?

 

“Maaf, ananda

aku haru sekaligus pilu

hendak bagaimana kutahan rindu

bila kau pergi tinggalkan aku”

 

Tetes air mata yang dulu

yang kupikir haru, ternyata banyak pilu

aku hanya bisa merutuki….

inginku terlalu banyak inginku pada ibu

hingga aku lupa

ibu juga punya berjuta harap

 

Aku tatap langit…

bukankah karena dia, aku gelisah dan marah

tapi, karena restu bunda yang terlupa

aku cuma ingat punya pinta

tak hirau pinta bunda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s