Tak Berkategori

Modal Pejalan Kaki

Sebagai angkoters, otomatis saya juga pejalan kaki. Sebagai pejalan kaki, otomatis saya angkoters, eeeh😀

Intinya, sih karena ngangkot dan nggak selalu bisa langsung naik kendaraan ketika turun, saya harus banyak jalan kaki. Selain itu, berhubung bus, angkot dan kendaraan umum lain demen ngetem, kalau tidak terlalu jauh, saya milih jalan kaki.

Ketika SD-SMU, tanpa naik kendaraan apa pun, saya sampai ke sekolah. Di kompleks perumahan, banyak sekolah negeri. Waktu itu, belum ramai sekolah swasta. Saya dan kedua kakak saya disuruh sekolah yang dekat-dekat saja.

Lucunya, SD itu paling dekat; SMP agak jauh, nah SMU itu paling jauh…😀 Kalau capek, ya naik ojek atau nebeng kakak, hehe. Saya pertama kali pakai jilbab itu SMU kelas satu. Otomatis pakai rok panjang, donk. Nah, saya pun ‘mengukur rok’ sebelum berani-beraninya berangkat telat. Kalau pakai rok agak lebar, bisalah saya berangkat pukul 7 kurang 15  menit. Kalau pakai rok agak sempit, mesti jam setengah 7, hehe.

Sudah berapa rok yang robek lantaran saya merasa tidak leluasa. Beruntung buat anak SMU sekarang yang roknya nggak model sepan kayak saya dulu.

Back to topic.
Berdasar pengamatan selama ini, ada beberapa modal yang diperlukan sebagai pejalan kaki.
1. Sepatu atau sandal yang oke punya
Tentunya bukan model keren, lucu, tapi yang kokoh untuk melewati terjalnya perjalanan. Trotoar di Jakarta itu tidak ramah dengan pejalan kaki. Kalau nggak dijadikan lokasi warung dan tongkrongan, jalannya bolong-bolong, rusak, dan teksturnya nggak banget.

Selain itu, kadang trotoar bentuknya miring oleh karena pemilik gedung sengaja memiringkannya karena gedungnya lebih tinggi dari jalanan. Jadi, jangan pakai sandal licin kalau mau jalan miring, hehe. Eh ya, jangan bayangin trotoar yang lebar dan bagus kayak di jalan protokol, ya😛 Di Jakarta, justru banyak trotoar yang berubah fungsi hingga pejalan kaki kayak saya cuek aja jalan di jalan raya karena nggak kebagian lahan jalan😛

So, cari, deh sandal atau sepatu yang tahan banting. Dulu-dulu, saya suka pakai sepatu olahraga sampai-sampai diledekin teman kalau saya pakai sepatu bola ~_~. Atau paling nggak, sandal gunung, deh, hehe… Waktu di IBF Jogja, saya sempat nemu sandal gunung seharga 65.000, sayangnya ukurannya besar-besar ~_~

Jangan pakai sepatu yang alasnya tipis, itu bebatuan benaran berasa, deh di kaki😀

Sampai saat ini, saya masih hunting sepatu atau sandal karena tampaknya sandal jepit saya mulai ‘protes’.

2. Masker
Polusi asap kendaraan dan asap rokok di mana-mana. Benar-benar nggak sehat. Kalau asap sate, soto, dan duren, sih enak :p
Dulu, saya berkali-kali pakai masker, tapi sekarang seringnya lupa. Jadinya, sekarang lebih sering memanfaatkan jilbab. Saya benaran nggak rela menghirup asap kendaraan, apa lagi asap rokok.

3. Payung
Kalau lagi di jalan, bisa hujan dan bisa panas sangat terik. Jangan lupa bawa payung lipat di tas. Kulit muka saya sempat sensitif dan saya pun memakai payung tengah hari bolong. Apa lagi kalau hujan deras, jangan lupa bawa, ya.. walau seringnya hujan angin  yang walau udah pakai payung, eh kok masih basah, hehe. Tapi, kata ibu, paling tidak, kepala harus terlindungi. Pengennya sih hujan-hujanan, tapi kan perjalanan masih jauh, bisa masuk angin, donk😛

4. Uang receh
Eh kenapa? Kan abis jalan kaki naik angkot😛 Biar memudahkan abang sopirnya juga, kan? Selain itu, kalau di jalan ada aja yang ditemukan, jajanan misalnya, hehe

5. Jangan banyak-banyak bawa barang
Nah, berhubung jalan kaki, ya bawaannya jangan banyak-banyak. Repooot😀

Paling enak, sih pakai ransel, ya, asal barang-barang berharga nggak diletakkan sembarangan. Pernah lihat nggak orang pakai ransel eh ranselnya terbuka dengan lebar? Kemungkinan dia lupa menutup atau dia korban kejahatan.

6. Buku
Kalau capek, berhenti, duduk baca buku, hehe.. niat bener😛 Bisa juga pas di angkot, ya baca buku kan? Alhamdulillah, saya termasuk diberi kemudahan baca buku di atas kendaraan yang melaju. Jadi, setiap pergi walau dekat, saya selalu pegang buku ^_^

7. Pakai busana yang menyerap keringat
Rapi, sopan, dan tetap terjaga tentunya ^_^
Jakarta panas, Bung, hehe… kalau pakai yang tebal-tebal, mengucurlah keringat. Kalau pakai yang tipis-tipis, wew bahaya juga… Pokoknya yang wajar-wajar aja, hehe.

8. Parfum
Wew, perjalanan panjang membuatmu beraroma, hehe. Dari mulai aroma matahari, asap kendaraan dan asap rokok yang kebetulan lewat, bisa juga bau duren, yang nyicip aja nggak, eh kok malah dapat baunya doank :p Bisa juga bau ikan karena kebetulan kamu lewat pasar, hehehe… So, bawalah parfum yang paling nggak menyamarkan bau kamu, hehe

Ada yang mau kasih tambahan lagi? 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s