fiksi · terinspirasi

Sebuah Kisah

4 tahun kemudian

Sebuah kisah lama bangkit di sela-sela musim berganti. Jakarta, ibu kota yang unik dengan seribu satu kisahnya mempertemukan Rama dan Maya dalam sebuah situasi, waktu, dan tempat tak terduga.

Situasi, waktu, dan tempat yang akan jadi kambing hitam memutar dari awal berbagai kisah. Merombak kisah-kisah baru dan menyibak kisah lama yang tersimpan rapi di sudut kerinduan sepasang insan.


Aku dan kamu
Diam membisu
Menafsirkan suaraku yang serak

Aku dan kamu marah
Kemarahan entah pada siapa

Karena ternyata
Benih cinta sama-sama kita rasa

Bertahun-tahun lamanya
Dan kemudian
Bangkit lagi…
Bangkit tanpa malu
Membuncah
Tapi tak membahagiakan…



Ini potongan cerbung seri 5 yang aku tulis di MyQuran. Sampai sekarang belum selesai juga, padahal udah seri ke-12 dan harusnya udah ke-13, tapi belum selesai dan masih tersimpan di file komputer dan itu udah 2 tahun, hehe.
Terakhir, ambil latar di Jogja, Klaten, dan lain-lain. Selain itu, juga ambil latar di Jakarta dan Bandung.
Ending-nya masih meraba-raba dan niatnya mau aku kembangin di setiap serinya. Wew, dua tahun untuk bisa nerusin. Lama bener diendapkannya😀
Kenapa tiba-tiba pengen posting….
Karena kepikir untuk iseng pas dengan momen pulang kampung beberapa hari lalu. Ingat salah satu adegan beringin kembar bareng Desi dan Mbak Ovis yang juga aku masukin di cerita ini.
Dirga menatap adiknya lekat. Mencoba menelusuri pikiran Maya. Seorang perempuan yang sedang jatuh cinta sekaligus dilanda patah hati. Kecintaan dan kemarahan yang menyatu dan ditujukan untuk seorang Rama. Laki-laki yang entah berada di mana dan tak mampu memberikan apapun kecuali harapan dan janji palsu. 

   “Main, yuk…”

   “Main?”

   “Iya, beringin kembar. Udah pernah coba?”

   “Hmm, belum sih… waktu diajakin teman, aku cuma nonton… Kenapa, ya, kok jarak sedekat itu susah banget lurus sampe ke sana” ujar Maya menunjuk beringin kembar di sisi-sisi sebuah jalan. 

   “Hmmm, mau coba?”

   “Abang percaya mitos?”

   “Nggak, abang ga percaya, cuma abang pernah coba, dan abang menemukan kuncinya…”

   “Apa bang?”

   “Yah, harus coba dulu, baru tahu…”

   Maya menatap keramaian di sekitarnya. Semua orang tampak menikmati Yogya malam itu di tengah kesederhanaan angkringan, nasi kucing, lesehan, beringin kembar. Semua penuh tawa, senyum… akankah Maya mampu tenggelam di sana di tengah berbagai pertanyaan yang terus mengetuk hatinya. 

   “Boleh…” ujar Maya kemudian. 

   Kini mereka berdua sudah berada di tengah lapang. Berbaur bersama orang-orang yang juga sedang bermain beringin kembar. 
   Dirga memakaikan slayer yang diikatkan untuk menutupi mata Maya. 

   “Ntar kalau nabrak orang-orang gimana?” tanya Maya yang sudah tak bisa melihat apapun

   “Ntar, kan ada abang, dek… pokoknya kamu jalan aja, ya”

   “Ok, bang”

   Suasana ramai dengan hirup pikuk anak muda yang sedang main beringin kembar, berbincang-bincang ataupun sekadar iseng menjahili teman mereka yang ditutupi matanya… Petunjuk, kanan, kiri, belok, lurus, awas… dan lain sebagainya. 

Link: http://myquran.org/forum/index.php/topic,64040.0.html


foto bersama Desi😀
Makasi, Desi dan mba Sovi atas beringin kembarnya, hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s