kenangan · merapi · MP 4 Palestine · MP4P

Setelah Hampir Setahun Lalu

Sekitar setahun lalu setelah merapi meletus
Hari sudah mulai malam kala itu ketika sebuah SMS masuk. Isinya kurang lebih begini, “Siap ke Jogja besok? Pulang di hari yang sama atau besoknya.”
Eh, ini serius? Aku pikir, kami hanya bisa menggalang dana saja. Belum lama setelah meletus merapi, MP4Palestine melakukan penggalangan dana secara online dan offline.

Aku pikirkan dan kemudian menelepon ibu. ACC ibu alhamdulillah begitu mudah, yang penting aku sehat saja. Ok, setelah dipikir-pikir, aku siap berangkat. Bolos satu-dua hari kursus dan kuliah nggak apa-apa kan?🙂

Aku jalan pagi-pagi karena pesawat berangkat sekitar pukul 7.00. Aku tiba sangat cepat di Bandara Halim. Tiba-tiba, aku dapat kabar kalau diundur pukul 11.Aku tak menemukan siapa pun di sana. Aku pun pulang ke rumah kakak di Pondok Gede.
Setelah dipikir-pikir kalau pesawat delay, mana ada penumpangnya pulang ke rumah? Hehe. Tapi, ini kan Halim, tak jauh jaraknya ke Pondok Gede atau Kalimalang. Memang mungkin aku harus pamit dulu secara langsung ke ibu di Pondok Gede.

Sahabatku mengontak, sekitar pukul 9 pagi berangkat. Ow, ok Insya Allah, bisa. Aku bisa naik ojek, kok ^_^ Aku bertemu ibu, sarapan dulu, dan kemudian kembali pamit.
Sampai di bandara, aku bertemu kaum bapak dari berbagai NGO dan media. Ditawarkan makan, aku menolak. Aku cukup kenyang. Aku minum secangkir teh atau kopi. Aku lupa. Tak berapa lama, aku dapat kabar, ada teman wanita sepantaran yang akan ikut. Syukurlah.
Kami berbincang berbagai hal. Sempat diminta untuk praktik bahasa Arab dengan salah satu relawan dari media luar. Eh, kok aku nggak pede, ya.
Hari itu sampai besok, NGO-NGO akan observasi di lokasi pengungsian. Aku cukup tahu sampai situ hingga wajah-wajah tak asing itu. Ternyata, kami berangkat bareng dengan beberapa anggota dewan, aku yang kurang hafal nama cuma bisa mengingat kalau beliau pernah ada di TV.
Di sana, juga ada Ustadzah Yoyoh Yusroh. Beliau belum lama kembali dari Gaza. Aku ingat, beliau memakai selendang yang ada bordiran bendera Palestina.
Kami menaiki pesawat kecil dengan kapasitas 40 orang. Sepertinya, hanya aku dan temanku yang ‘anak kecil’, yang lainnya ya bapak-bapak dan ibu-ibu. Aku lebih banyak mengamati dan berusaha adaptasi.
Tak berapa lama, kami diminta turun karena ada masalah dengan pesawat. Akhirnya, sekitar pukul 11 siang kami kembali naik dan berangkat. Agak berbeda dengan pesawat pada umumnya. Kursinya 2-1. Aku sendiri duduk di kursi 1. Rata-rata kaum hawa duduk di kursi 1. Jumlah wanita hanya ada 6 atau 7 orang dari sekitar 30an penumpang.
Perjalanan agak lama dan berbeda. Tiba-tiba, berkali-kali pesawat menabrak awan dan turun naik. Konon hingga ketinggian sekian puluh meter naik-turun. Aku yang sempat tertidur, akhirnya terbangun. Takbir dan istighfar pun bergema di mana-mana. Beberapa di antara kami mulai muntah. Aku pun mau nggak mau juga ikut muntah.
Pernah naik kora-kora? Kurang lebih begitu rasanya. Ketika muntah, ustazah Yoyoh yang ternyata duduk di depanku memberika aroma terapi dan tisu, di belakang, temanku memijitku.
Tapi beberapa di antara kami juga ada yang tenang, membaca Al-Qur’an, membaca koran, dan lain-lain. Aku nggak berani menengok ke belakang. Suara muntahnya sangat keras dan malah bikin eneg. Sebagian besar penumpang mengakui kalau penerbangan kali ini benar-benar menguras energi.
Kami sampai Bandara Adisucipto, Jogja sekitar pukul 1 siang. Lebih lama dari biasanya. Pengalaman naik pesawat kecil dengan keadaan saat itu benar-benar luar biasa. Banyak yang muntah-muntah itu ternyata kaum lelaki. Beberapa ibu mengeluhkan pusing dan mual, tapi tak bisa muntah.
Kalau ditanya bagaimana rasanya? Aaah, pengalaman berharga banget, deh. Di udara dengan pesawat yang seperti itu, ya Allah…
Para ibu sempat rikues kalau pulang tak lagi naik pesawat, tapi kereta api. Kata Ustadz Luthfi tidak bisa, karena ternyata pesawat sudah dicarter pergi-pulang.
Selanjutnya, kami pun menuju ke beberapa tempat, tempat pertemuan, lokasi pengungsian, dan lain-lain hingga kemudian kembali ke penginapan. Esoknya masih ke lokasi pengungsian dan ke rumah sultan. Sekitar pukul 10 pagi kembali ke bandara.
Kami sepakat untuk doa bersama sebelum tinggal landas dipimpin seorang ustadz yang lagi-lagi wajahnya tidak asing, tapi aku tetap nggak ingat namanya ~_~. Alhamdulillah, ketika pulang perjalanan lebih lancar. Sempat merasakan naik-turun, tapi tidak setinggi dan sesering saat berangkat. Alhamdulillah, sampai dengan selamat di Jakarta.
Di hari yang sama, letusan merapi kembali hadir. Menyusul beberapa hari kemudian merapi meletus cukup hebat. Tempat-tempat yang pernah kami datangi sudah menjadi kawasan yang tak boleh didatangi dan ditinggali. Beberapa mungkin sudah hancur. Tak berapa lama, Bandara Adisucipto pun ditutup hingga berhari-hari kemudian.
Dua pekan setelahnya (15 November) ketika aku libur kuliah, aku dan seorang teman kembali berangkat ke daerah pengungsian yang sudah tersebar di mana-mana. Kali ini, kami tak bisa masuk Bandara Adisucipto, tapi Bandara Adi Sumarmo, Solo. Oh, ya, untuk kedua kalinya aku berlebaran Idul Adha tidak bersama keluarga.

Sekitar sepekan, kami keliling dari satu pengungsian ke pengungsian lain bersama beberapa NGO (ATA, Rumah Kebajikan, Mathlaul Anwar, dll) mewakili
 MP4Palestine untuk menjalankan program trauma healing anak. Lengkapnya ada di sini: http://akunovi.multiply.com/journal/item/1318/Laporan_Kegiatan_Relawan_MP_4_Palestine
Kami masih mempunyai program, Rumah Baca Merapi. Lokasi yang awalnya untuk membangun rumah baca bekerja sama dengan NGO lain masih terkena lahar dingin hingga buku-buku dan dana yang terkumpul masih kami pegang. Akhirnya, kami pun memilih lokasi lain.

Alhamdulillah, sabtu lalu (1 Oktober 2011),  aku mewakili MP4Palestine sudah menyalurkannya ke Mushala Maulana di shelter pengungsian di Cangkringan dan Masjid Al-Ma’un di Jogja.

Pemandangan yang cukup mengesankan ketika berada di shelter pengungsian. Tempatnya rapi dan terawat. Walau  bangunan sementara, tampaknya terasa nyaman dan sedap dipandang. Nama-nama jalannya juga unik, seperti Jalan Senyum Selalu dan Jalan Selalu Bahagia.

Beberapa warga di sana sudah memiliki usaha, seperti menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari dan tambal ban.

Kami sempat mengunjungi lokasi yang terkena lahar panas. Sudah tak ada permukiman lagi di sana. Sejauh mata memandang gunung merapi tertutup awan. Udaranya begitu dingin dan menyegarkan.

Keterangan Foto
1. Tulisan dan gambar anak-anak di pengungsian
2 dan 3. Pesawat ini, nih yang bikin jetlag😀 dan latihan di udara.
4. Di salah satu tempat pengungsian
5. Shelter pengungsian di Cangkringan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s