Tak Berkategori

Semangkuk Bubur

Aku sudah tinggal bersama mereka sejak dua tahun lalu. Ketika itu, mereka tengah menanti kelahiran seorang buah hati. Kini, si buah hati sudah menjadi gadis cilik yang menggemaskan, gendut, keriting, dan tawanya yang ceria.

Sebagaimana pasangan muda pada umumnya, hidup mereka sederhana. Terlihat dari makanan yang tersaji ketika sarapan, makan siang dan makan malam. Dilihat juga dari berbagai kebutuhan hidup mereka yang apa adanya.

Hidup beradaptasi bersama mereka bukannya tak ada masalah. Aku sempat merasa tidak enak dengan orang baru dalam hidupku. Aku nggak enak dibantu, aku juga nggak enak tak bisa membantu. Yah, setahun sudah aku hidup sendiri di rumah ini, dan tiba-tiba mereka hadir. Ada sisi bahagia tak lagi sendiri, tapi sempat ada risih juga.

Berjalannya waktu, aku mulai membiasakan diri. Aku pun mengakrabkan diri dengan kakak iparku. Umur kami tak jauh berbeda, dan dirinya punya hobi yang sama seperti aku, yaitu membaca. Sudah berapa buku yang dia lahap ketika hamil, bahkan hingga sekarang sudah punya anak dan menanti anak kedua.

Kami suka membicarakan buku-buku yang telah kami baca. Aku pun mengusulkan bacaan apa lagi yang bagus atau di lain kesempatan, dia izin mengambil buku dari rak bukuku.

Dalam keadaan sedikit dan banyak, mereka selalu berbagi. Ketika suatu kali abangku membeli jajanan, dia akan memanggilku. Sepotong, dua potong, aku akan ikut mencicipi. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali.

Tak jarang abangku pulang membawa oleh-oleh. Walau hanya sedikit, aku pasti dibagi. Malahan ketika aku pernah pulang malam karena ada keperluan, nasi beserta lauk yang sederhana masih terhidang. “Makan, Nop.”

Seringnya aku pulang sudah dalam keadaan kenyang, tapi selagi masih ada makanan, mereka pasti menawarkan. Jumlah takaran nasi dan lauk pauk juga menyesuaikan kebutuhan makan kami bertiga. Jadi, makanan di rumah hampir selalu habis, alhamdulillah tak mubazir. Walau sederhana dan tak banyak macamnya, aku selalu bisa menikmatinya.

Malam ini, terhidang dua mangkuk bubur kacang hijau.
“Makan Nop,” ujar kakak iparku. Aku tahu, abangku hanya membeli dua bungkus saja. Mungkin dipikir abangku, aku sudah makan karena aku pulang lebih malam. Dia sudah bilang padaku tadi. “Maaf, ya,” katanya. Aku sih nggak apa-apa karena sudah sempat mengganjal perutku saat istirahat kursus tadi.

Aku diam saja saat kakak iparku menawarkan. Kakak iparku mulai menyendokkan buburnya, begitu juga abangku. Tapi, ada sesuatu yang aneh. Mereka menyendokkan bubur pada mangkuk yang sama.

Aku sempat berpikir, kalau mau dimakan bertiga, kenapa dua bungkus tidak diratakan untuk 3 mangkuk saja?

Aku sempat terkesiap melihatnya. Diam.

Mereka makan semangkuk berdua, dan merelakan satu mangkuk bubur buatku?
Aku tanyakan terus terang. Iya, semangkuk bubur itu untukku.

Jujur, aku masih lapar .

Aku ambil semangkuk bubur itu. Aku lahap bubur kacang hijau itu dan menyimpan momen indah ini dalam hatiku.

Makasi, yašŸ˜€
Semangkuk bubur yang nikmatnya mengalahkan makanan apa pun.

*aslinya, aku cuek aja depan mereka, tapi begitu selesai makan bubur dan kekenyangan, aku segera tulis jurnal ini, hehe

1. gambar bubur dari sini
2. gambar aku dan kinar ^_^