berpikir

Makna Sebuah Panggilan

“Hai kamu lagi ngapain?” Heh? ‘kamu’. Sapa, nih kenal juga nggak manggil-manggil ‘kamu’.
*
“Mbak, saya mau tanya,” ujar seseorang
“Nggak usah panggil mbak, deh. Kita kan seumuran.
“Ok.”
“Jadi gini, Mbak.”
“Dibilang nggak usah panggil mbak.”
“Maaf, kebiasaan.
*
“Nyantai aja sama aku, paling beda umur kita cuma berapa tahun, panggil nama aja juga nggak apa-apa.”
*
“Iiiih, siapa sih nih nggak sopan banget, nggak tahu apa kalau aku itu jauuuuh lebih tua.”
“Kenapa emang?”
“Manggil nama aja gitu, padahal angkatan juga beda.”
“Nggak tahu kali. Ada lagi lo harusnya bersyukur, berarti lo dianggep seumuran sama tu bocah. Lo awet muda, donk.”
“Iya juga, ya.”
*dasar nggak konsisten :p*

***

Apa sih makna panggilan buat kamu. Embel-embel ‘mbak’, ‘mas’, ‘om’, ‘kang’, ‘cak’, ‘pak’, ‘bu’, dll yang sering kita baca dan dengar di sekeliling kita.

Kalau aku belum kenal dan belum akrab dengan orang, aku biasanya memakai embel-embel, ‘mas’ atau ‘mbak’. Jadi, ketika suatu hari tahu dia lebih tua, ya nggak masalah. Kalau lebih muda, ya bisa aja tetap manggil dengan embel-embel itu atau manggil nama aja.

Memang kadang embel-embel ‘mbak’ dan ‘mas’ itu bisa membatasi, walau bisa juga mengakrabi.

Seorang sahabat lebih senang menyapa dengan menyebutkan nama. Bukan ‘kamu’ atau ‘Anda’. Kalau seumuran tinggal sebut nama aja, tapi kalau lebih tua, ya pakai sapaan yang diinginkan.

Aku pribadi sempat mempermasalahkan soal panggilan ini dulu. Intinya, kalau yang lebih tua, ya manggil, ‘mbak’ atau ‘mas’ karena aku kan orang Jawa *ngaku-ngaku* Maksudnya, ortu ngajarin kami untuk manggil orang yang lebih tua, saudara yang lebih tua, saudara dari bude pakde, dll dengan panggilan ‘mbak’ atau ‘mas’. Malah ada yang lebih halus lagi kalau sama yang lebih muda dengan memanggil, ‘dek’.

Jadi, penting banget menurutku saat itu soal umur.

Namun lama kelamaan, ya biasa aja. Karena ada teman-teman lebih muda dan lebih akrab memanggil nama. Aku pun mulai tahu ada panggilan akrab lainnya. Ada teman yang lebih nyaman atau dirinya sendiri menyebut, ‘kang’, ‘teteh’, ‘cak’, ‘mas’, ‘mbak’, dan lain-lain. So, aku pun mulai mengikuti itu. Mengikuti kalau dirinya ingin dipanggil dengan sebutan itu atau mengikuti apa yang ada di sekitarku.

Kata seorang sahabat, panggilan itu bisa juga penegasan status. Maksudnya, kalau dia dipanggil ‘kakak’ berarti yang memanggilnya akan dianggap sebagaik ‘adik-adik’-nya. Eeh, bisa juga itu kayak batasan ya, hehe :p

Lingkungan juga berpengaruh. Seorang teman di milis, enggan banget menyebut kawan perempuannya, ‘ukhti’. Katanya ada getar yang aneh di sana. Padahal secara bahasa artinya, ‘saudariku’, sebagaimana ‘akhi’ yang artinya, ‘saudaraku’. Mungkin terdengar mesra? Padahal kan sama aja kayak, ‘bro’ dan ‘sister’. Tapi, ya itu hak dia ya, hehe.

Di tempat kuliahku, panggilan, ‘ukhti’, ‘akhi’, ‘anta’, ‘anti’ biasa terdengar, boro-boro ada getar, itu malah panggilan paling ‘aman’ plus kalau sambil belajar, pakai sapaan bahasa arab lainnya. Kalau nggak ngerti ya tinggal nanya atau pura-pura ngerti aja, halaah, hehe.

Dengan beberapa teman akrab, sapaan ‘gue-elo’ adalah hal biasa. Walau akan dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang menganggap sapaan tersebut tidak sopan. Aku punya adik kelasku di SMU yang lumayan akrab. Dia biasa dengan cueknya misalnya bilang, “Gue kan ketemu sama dia, Mbak,” atau “Kalau lo gimana, Mbak.”. Aku nggak masalah, tapi ternyata hal itu jadi masalah ketika dia nggak sengaja menyapa temannya di kampus dengan kata-kata “gue-elo”.

Hmm, panjang juga :p
Jurnal ini lagi-lagi terinspirasi dari SMS-an dengan seorang sahabat, adik, ukhti di ujung sana :p

Endingnya:
Jadinya teman-teman MP-ku yang baik hati, maunya dipanggil apa?šŸ˜€

3 thoughts on “Makna Sebuah Panggilan

  1. kalo dipanggil mbak sama orang sebenarnya saya merasa kurang sreg jadi mungkin cuma orang yang ga deket aja.. okeh.. kalo sudah dekat biasanya sama yang lebih muda saya minta dipanggil Teteh.. lebih nyaman di kuping.. yang paling netral panggilan kaka masih okeh2 saja…
    kalo pake elo-gue itu simbol keakraban sesama temen.. pake aku-kamu lebayyyyyyyyyyyy bgd buat saya yang ga make aku tapi saya-kamu.. itu sih tergantung orangnya.. buat saya embel2 Teh itu ciri khas kalo saya orang Banten hehe.. (saya mencintai budaya daerah dan berusaha untuk melestarikannya sehingga akan tetap dipakai sampai generasi berikutnya hehehe)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s