kehidupan

Menyiasati Pulang Malam

Paling tidak dalam sepekan itu, aku akan pulang malam 3 kali. Kursus Bahasa Arab itu dimulai pukul 5 sore dan selesai pukul 8 malam. Itu belum termasuk kalau mau shalat berjamaah bakda kursus atau kelaparan, hehe.

Kalau benar-benar keluar pukul 8 malam atau lebih sedikit, aku akan pulang lewat jalur biasa. Dari Utan Kayu, aku naik metromini menuju terminal. Dari terminal, aku akan naik angkot menuju Kalimalang. Aku akan turun tidak jauh dari penghabisan (Kalimalang). Rute ini cukup lama dan muter-muter, tapi karena tidak pindah-pindah, aku memilih rute ini.

Tapi kalau sudah malam, angkot ini jarang atau malah habis atau cenderung sepi penumpang. Jadi, kalau sudah pukul 8.30 lebih keluar dari kampus, aku tak lagi memilih rute dan angkot ini.

Dulu, aku sempatkan mengajak ngobrol sopir angkotnya. Tanya-tanya, kira-kira angkot tersebut habis jam berapa dan sebagainya. Sebenarnya, sih sampai pukul 9 malam atau 9.30, angkot ini masih ada, tapi jarang. Udah jarang, sepi penumpang pula.

Jadi, kalau pulang sekitar pukul setengah sembilan malam, aku memilih naik bustrans dari halte Rawamangun sampai halte Kalimalang. Jalanan di Kalimalang itu relatif ramai walau sudah malam. Nah, dari Kalimalang baru naik angkot sampai depan kompleks. Dari kompleks bisa aja naik ojek atau jalan kaki sekitar satu kilometer. Sudah dua kali, aku lebih memilih berjalan kaki sampai rumah.

Enaknya jalan kaki di dalam kompleks itu, ada dua jalan yang dipisahkan taman hutan kota. Sebelah kanan, lebih sepi dan banyak yang berjalan kaki di sini walau siang sekalipun. Karena, banyak pepohonan di taman dan jarang kendaraan lalu lalang di sini. Di sebelah kiri, lebih diperuntukan untuk kendaraan-kendaraan. Jalannya lebih lancar dan jarang polisi tidur.

Kapan-kapan pengen cerita seputaran kompleks yang sudah kuhuni lebih dari 28 tahun ini. Wew😀

Selain mengatur angkutan yang aku naiki, aku sempat rikues ke abangku untuk minta jemput, hehe. Sampai sekarang sih belum pernah, baru minta anterin aja😀 Abangku sebenarnya menyarankan aku agar mulai menyicil motor. Kalau helm sih udah punya :@

Hmm, gimana ya? Aku tuh agak tegang kalau naik motor, apa lagi jauh, apa lagi kalau ketemu polisi :p Aku pernah beberapa kali naik motor ke kampus, dan tanpa bilang ibu, hehe. Saat itu, abangku dan istrinya tinggal di Kediri, jadi motornya nganggur. Sedangkan, ibu di rumah kakak, dan aku tinggal sendiri. Jadi, aku yang biasanya laporan, diam-diaman, hehe.

Tapi, akhirnya aku tetap laporan ke ibu setelah sampai rumah. Dengan naik motor, lumayan efektif ketika aku masih mengajar TPA, karena aku sampai di rumah masih sore.

Hingga suatu hari, aku kena tilang :p Dasar anak baik, aku ceritakan ke ibu. Kemudian, izin bermotor ria pun dilarang. Jadinya, sampai sekarang aku ngangkot. Selain bisa tidur, bisa baca, bisa mencari inspirasi, aku merasa lebih nyaman.

Tapiiii, karena berita-berita yang ramai belakangan ini, membuat izin tidurku di angkot dilarang, halaaah :p Keluarga lebih mewanti-wanti agar ekstra hati-hati. Jadilah aku mulai mencari berbagai alternatif pulang ke rumah.

Hmm, gitu deh, sebenarnya nggak nyaman banget pulang malam-malam sendirian. Tapi, mau bagaimana lagi🙂 Moga kursus segera selesai, aamiin🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s