berpikir

P.I.L.I.H.A.N

Pernahkah kamu dihadapkan suatu pilihan. Saat itu, kamu harus memilih salah satunya, tidak boleh tidak. Di tiap pilihan itu, kamu harus ikhlas dan rela melepas yang lainnya. Kamu harus mau dan bisa.
Hidup itu terdiri dari berbagai macam pilihan. Makin dewasa usia, makin banyak yang akan kita pilih.

Ketika SMU, aku sempat dibuat bingung ketika harus memilih jurusan antara IPA dan IPS. Saran bapak dulu, kalau bisa aku masuk IPA. Sementara itu, aku merasa lemah di sana. Ketika psikotes, aku tidak mendapat saran yang lebih berat ke sana. Aku bisa memilih keduanya kalau mau. Kata-katanya seperti ini kira-kira, “Kamu bisa memilih IPA atau IPS”. Kenapa tidak seperti di lembaran hasil psikotes temanku yang isinya begini, “Sebaiknya kamu memilih IPS.”

Kenapa sampai psikotes juga aku masih harus memilih, ya? Haduh. Akhirnya, aku pilihkan sesuai ketetapan hatiku. Aku memilih IPS. Aku sadar aku merasa lemah di IPA dan cukup lumayan di IPS. Bapak ya tidak memaksakan.

Suatu hari, aku dihadapkan pada pilihan. Aku mau melanjutkan sesuatu atau berhenti dan beralih ke yang lebih aku sukai. Menimbang-nimbang, aku berhenti dan beralih. Aku persiapkan diriku semaksimal mungkin akan berbagai hal yang akan terjadi hingga tiba waktunya. Sesuatu yang aku sukai itu di luar dugaan dan sangat mengecewakan.

Hmmm, aku sempat terdiam beberapa lama mencari dan menggali hikmah. Akhirnya, aku kembali menyadarkan diriku. Itu adalah pilihanku, sesuatu yang nyaman aku jalani, ketika risikonya seperti itu, aku harus menerima.

Sekali dua kali hingga sering, aku dihadapkan pada pilihan-pilihan. Banyak orang yang memengaruhi dan memberi saran. Kadang juga ada rasa tak enakan. Tapi kemudian, aku lebih memilih jujur pada diriku sendiri. Aku meminta petunjuk kepada-Nya dan minta dikuatkan atas apa yang kupilih.

Bagaimana mungkin kita bisa duduk di atas 2 kursi atau bagaimana mungkin kita bisa duduk di atas dua perahu. Pilihlah… Yah, akhirnya aku memilih untuk duduk di kursiku yang ada di rumah. Aku melabuhkan perahuku dari rumahku. Tak lagi duduk di kursi sebuah kantor yang lumayan keren dengan ac (kantorku sekarang cuma pakai kipas angin, halah), bertemu banyak orang, dan memiliki jabatan asisten bos. Tidak harus bingung ketika ditanya, “Kerja di mana?” Hehehe. Nggak perlu jawaban iseng kayak “Di rumah, nyuci, ngepel :p”.

Itu 2007 saat aku memilih resign dan kembali kerja di rumah dengan job description: melayout, mengedit, mengantar naskah, menagih, mengepel, menyapu, dan sesekali momong keponakan, haha :p

Di tahun ketiga aku kuliah, aku kembali dihadapkan pilihan. Ujian keistiqomahan dipadu dengan impian, cita-cita, rencana hidup, keinginan, dan kebutuhan. Aku bisa sangat idealis dalam memilih, tapi aku juga berusaha mengompromikannya.

Hmmm, aku nggak ngerti dengan tahun ini. Berbagai hal terjadi begitu cepat hingga aku seperti tak dibiarkan berpikir. Aku harus jalani, memilih, jalani lagi, memilih. Terus begitu hingga aku mulai lelah.

Satu demi satu kejadian mengingatkanku akan banyak hal. Tak boleh menjadi egois, tak boleh terlalu idealis, lihat kondisi, kecewa itu biasa, pemikiran tiap orang itu berbeda, jangan menyerah, istiqomah dan banyak lagi.

Ternyata tak hanya sampai situ. Segala yang teknis tiba-tiba jadi ganjalan. Jadwal kuliah tiba-tiba berantakan gara-gara ada masalah dengan jadwal salah satu dosen, bentrok dengan jadwal program lain, ini bermasalah, itu menuntut deadline, dan plash…

Hei, apa yang sedang terjadi?
Setiap orang pasti punya solusi, saran, dan segala hal yang dimaksudkan untuk kebaikan. Tapi kembali lagi aku yang akan memutuskan….karena aku yang menjalani.

Aku hanya bisa meyakinkan diri semoga aku bisa istiqomah menjalani ini semua setelah 2 tahun berjalan hingga 2 tahun ke depan. Aamiin….

*ceracauan setelah kehebohan di kelas karena jadwal kuliah masih belum jelas.*

===

-bu, tiap orang itu punya kepentingan, tiap orang mungkin sama dan beda kepentingannya, itu kan yang harus kuhargai-

-bu, tiap orang punya sisi egois, masalahnya bagaimana berkompromi dengan sisi egois itu bila itu terkait kepentingan bersama-

-bu, terima kasih untuk segala dukungan selama ini… Berbagai peristiwa itu mengingatkanku untuk lebih memahami dirimu yang selalu mengedepankan kebahagiaan anak-anakmu, walau dengan berat hati…-

-bu, aku ingin bahagiamu benar-benar bahagiamu…-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s