ibu

Ibuku yang Romantis

Pada suatu malam, aku tengah bersama ibu. Malam ketika aku memang seharusnyamengucapkan lebih banyak terima kasih kepadanya atas segalanya yang dia berikan kepadaku selama ini🙂 Karena esoknya adalah hari saat ia berjuang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkanku.

Hari lahir bukan sesuatu yang istimewa di keluargaku. Bapak tak menyetujui perayaan bernama ‘ulang tahun’. Aku ingat, yang tertulis di agenda bapak tahun 1982 hanya tulisan seperti ini: 14 November: “Lahir anak ke-3”.

Kalaupun akhirnya ada syukuran, itu adalah rasa sayang ibu kepada kami. Kasihan anak pengen dibikinin acara, hehe.

Yang paling kuingat adalah nasi kuning special buatan ibu ketika aku masih SMP. Rasanya tuh enak banget. Beberapa temanku yang betah di rumah walau tak ada acara resmi, sampai nambah lho🙂

Di hari lahirku tahun ini, aku ingin mengungkapkan perasaanku ke ibu. Kalau cerita-cerita sih biasa, tapi buat bilang apresiasi rasa sayang, dan lain-lain agak sulit. Di keluarga kami, hal itu nggak dibiasakan. Kami saling mendukung dalam bentuk tindakan, bukan dengan kata-kata atau sebuah kecupan dan pelukan.

Malam itu, aku tiduran di sebelah ibu. Aku ingin katakan kalau aku sangat berterima kasih atas dukungannya selama ini. Hampir selalu keinginanku yang ibu anggap baik, dibolehkan, direstui, dan didukung. Tak jarang malah aku akan merepotkan beliau.

Dalam suasana haru, aku sudah menitikkan air mata ketika bilang, “Ibu tuh banyak nurutin keinginan aku.” Kalimatku masih menggantung. Eeeh, ibu malah nyahutnya gini, “Dibeliin ketoprak,” sambil kemudian dia bangkit dan meninggalkanku sendiri di kamar.

Gubraks :p
Iya, tadi pagi aku emang pengen ketoprak, dan ibu beliin, tapi bukan itu, -_-

Haduh, udah susah payah aku mau mengungkapkan isi hati ini, kok malah dipatahin. Aku pun cuma ketawa-tawa aja saat itu. Aku pun menyimpulkan kalau ibu tak romantis. Ibu sangat tak romantis :p

***

Aku berniat memberi kejutan ke ibu dan kakak-kakakku dengan memesan makanan dari Bandung dan mengirimkan ke alamat mereka hari itu. Emang sih aku udah bilang mau pesan makanan, tapi aku nggak bilang itu apaan. Sampai akhirnya, paket itu datang dialamatkan ke mereka. Ada kata-kata yang juga aku rikues ke si pengirim untuk diletakkan di dalam paket.

Tahukah apa yang terjadi, “Ini tuh paketnya buat Nopi,” kata abangku. Terlebih melihat sebuah tulisan di sana. Padahal, kata-kata di dalamnya itu, aku tujukan ke mereka.

Eaaa, gubraks
Ibu dan abangku emang nggak romantis.

Nah, masih ada paket ke rumah kakak perempuanku. Moga sukses, deh. Maksudnya sih aku kerja sama aja dengan mbak yang membantu di rumah. Eeeeh, gubraks lagi, ibu membocorkan ke kakak iparku yang lagi datang ke rumah. Katanya, ada kiriman paket makanan yang harus segera disimpan dalam kulkas, bla bla bla.

*tepokjidat*

Huaaa, kejutanku gagal, donk
Ibu nggak romantis :p halaaah

Tapi, kemudian…
Aku akan mengingat banyak hal tentang dirinya.

“Aku ingin bisa seperti ibu,” ungkapku suatu kali.
Ibu pun menjawab, “Jangan kayak saya,”
Ibu bilang dirinya cuma lulusan SMP. Aku seharusnya bisa lebih dari itu. Eh bukan soal itu, Ibu. Tapi, banyak hal lain. Banyak hal yang aku pelajari dari dirinya.

Karena menurutku, ibu paling cerdas di antara kami. Karena posisi dan sikap ibu, ibu bisa berperan menjadi konsultan, manajer, dan motivator bagi bapak dan kami.

Ibu yang mendorong bapak untuk terus berusaha keras ketika menyusun salah satu buku sekolah. Bapak terlihat lelah karena lagi-lagi harus revisi. Ibu bilang ke bapak, mungkin saja yang susah-susah kayak gini justru yang laku bukunya.
Ibu membelikan beberapa buku referensi biar semangat bapak tak padam.

Ibu terus memotivasi dan menjadi teman ketika bapak menulis di dekatnya.. Pemandangan di rumah yang biasa ketika bapak menghadap meja tulis, berkutat dengan buku-buku dan kertas, sementara ibu akan menemani sambil tiduran di sebuah kursi panjang di dekatnya.
Ibu akan siap ketika bapak bertanya ini-itu. Kemudian, menunggui bapak sampai akhirnya kelelahan dan akan kembali menulis lagi esoknya.

Alhamdulillah, buku pun terbit, dan cukup laku di pasaran. Royalti dari buku itu menutup biaya berangkat haji mereka 11 tahun lalu. Awalnya karena kekurangan dana, hampir saja uang di tabungan itu digabung, dan bapak berangkat sendiri dulu. Ibu nggak mau dan kekeh. Ibu ingin berhaji bersama bapak. Ibu nggak mau kalau ditinggal sendiri atau pergi sendiri nantinya.

Alhamdulillah ada jalan dan mereka pun berhaji bersama.🙂
Hmm, ternyata romantis juga, ya.

Bapak tak suka jajan di luar. Bapak cuma suka masakan ibu. Jadilah ibu hampir selalu masak di rumah. Masakan yang dibuat bukan selera ibu karena bapak tak bisa makan pedas. Bapak bilang, kalau beliau maunya dimasakin ibu seorang. Hehe.

Di lain kesempatan, hampir selalu mereka bersama hingga ketika bapak tak ada, aku melihat sesuatu yang hilang dalam diri ibu. Aku perhatikan mereka itu biasa saja. Aku lihat, mereka tak tampak romantis ketika bersama. Kalau bicara saja pakai kata ganti “saya”, “kamu”, “ibu”, “bapak”. Jadi, sekilas kalau mendengar obrolan mereka, seolah mereka bukan suami-istri.

Tapi, di balik itu, dengan segala kesungguhan dan kemampuan yang ia miliki, ibu selalu mendukung bapak. Ibu romantis dengan caranya. Ibu tampak romantis ketika kuingat mereka berdiskusi isi buku sekolah yang bapak susun. Ketika bapak bertanya ini-itu. Ibu tampak sangat romantis ketika menghidangkan makanan yang sesuai dengan selera bapak ataupun anak-anaknya.

Ibu lebih memilih untuk bertanya ketimbang memberi kejutan.
Ibu lebih memilih selalu berada di dekat kami ketika kami dalam kesulitan entah apa yang bisa ia perbuat
Ibu akan selalu menyediakan telinga mendengar segala cerita dari kami.
Ibu baru akan bicara ketika memang dia harus bicara dan atau ketika kami meminta.
Ibu punya cara-cara sendiri mengungkapkan kasih sayangnya lebih nyata.

Iya, itulah ibu…

Jadi, rasa-rasanya, kesimpulanku di awal itu salah :p

Ternyata ibuku romantis juga🙂

One thought on “Ibuku yang Romantis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s